Dragon Hunter's Online

Dragon Hunter's Online
Game II: Dua Sahabat Rasa Pacar??



Keita pun mengayuh sepedanya dengan cepat, dan dalam waktu 20 menit dia telah sampai disekolahnya. Ia pun memarkirkan sepedanya ditempat parkir, serta tidak lupa ia menyapa guru dan orang-orang yang ia kenal selama diperjalanan menuju gedung sekolah. Lalu saat sampai didalam gedung sekolah dia segera meletakkan sepatunya dalam loker yang disediakan dan menggantinya dengan sepatu yang telah disediakan. Saat dia menutup loker miliknya, ada seseorang yang menyapa dirinya.


“Yo, Keita!” sapa orang tersebut.


“Oh, Zrag. Selamat pagi,” sahut Keita.


“Hah, kau selalu saja menyapaku dengan nama dalam game. Mungkinkah, kau lupa dengan namaku,” keluh orang tadi, karena Keita memanggilnya dengan nama Character dalam Game miliknya.


"Tidak, aku ingat kok… Siapa yah?” ucap Keita berpikir nama orang yang ada didepannya saat ini, namun tidak dapat mengingatnya.


“Tuh, kan. Kau melupakannya, Harris! Harris Maulana!” ucap Harris dengan kesal pada Keita.


Harris Maulana, seorang teman sekaligus sahabat Keita. Mereka saling mengenal saat berada di SMP, semenjak saat itu mereka terus berdua hingga SMA. Oh, yah. Harris adalah salah satu orang yang mengetahui identitas “Blood Gun”, Keita sendiri tidak mau orang lain mengetahui identitasnya sebagai “Blood Gun” karena akan menimbulkan kegaduhan disekolahnya. Karena disekolahnya hampir seluruh murid yang ada disana memaikan Game Dragon Hunter’s Online.


“Ah, Maafkan aku. Bukan maksudku untuk melupakannya, aku hanya sedikit meledekmu,” jelas Keita.


“Yah, terserah kau saja. Oh, ngomong-ngomong. Selamat atas penaklukan Expert Dungeon yang kau lakukan yah!” sahut Harris yang disambut dengan ucapan selamat kepada Keita.


“Begitulah, semua berjalan sesuai keinginanku. Ah, iya. Aku mendapatkan item ini saat mengalahkan Dungeon Boss. Sebenarnya, aku ingin meleburkannya untuk bahan Upgrade Bloodra Dual Magnum milik ku. Tapi kupikir, kau akan tertarik dengannya,” ucap Keita sambil memberikan Handphone miliknya pada Harris. Harris yang melihat Handphone milik Keita, langsung terkejut dibuatnya. Bagaimana tidak? Item yang ditunjukkan oleh Keita adalah Item yang dia dapatkan saat melawan Halibard Dragon sebelumnya.


Name: Dragon Halibard Sword (Broad Sword)


LV Req (Specialize): 120 (Swordsman, Striker, All Specialize Mage Class)


Status Req: STR +840, AGI +720, INT +480


DPS: 35000/Second


Durability: 28460


Extra Attribute: STR (+520), AGI (+320), DEX (+400), INT (+240)


Rank Item: Epic


Passive Ability:


[Lordragonic I


Setiap 30 detik, meningkatkan Str sebesar 150% selama 5 detik. Memberikan 40% Extra Physical Penetration, dan memulihkan 30% HP dari Total Damage yang dihasilkan.]


Active Ability :


[Blazing Flame I


Saat digunakan, memberikan (80% DPS*Level Ability) Magical Damage selama 20 detik. Menggunakannya akan menkonsumsi 5000 Mana/Slash. Cooldown 75 detik.]


[Soul of Slash I


Saat digunakan, memberikan 10000+(180% DPS*Level Ability) Physical Damage/Magical Damage (Tergantung Class). Menggunakannya akan mengkonsumsi 7000 Mana. Cooldown 90 detik.]


“Ini! Keita, berapa harganya. Aku akan membelinya!” ucap Harris dengan mata yang terbinar-binar saat melihat Item yang ditunjukkan oleh Keita.


“Hehe, sudah kuduga kau akan mengatakannya. Aku menjualnya seharga 150.000 Gold, bagaimana? Kau tertarik?” tawar Keita pada Harris.


“Setuju!!” jawab Harris menjabat tangan Keita. Mereka pun berjalan menuju koridor kelas, dan bertemu dengan seorang gadis yang sepertinya sudah menanti mereka berdua.


“Oh, selamat pagi Catherine. Apa kau sudah lama menunggu?” sapa Keita.


“Oh, Keita. Selamat pagi, tidak aku baru saja sampai. Lalu, ada apa dengannya? Dia terlihat sangat senang?” sahut Catherine yang langung bertanya melihat wajah Harris.


“Dia baru saja membeli Item, yang dia inginkan selama ini dari ku,” jawab Keita.


“Item? Oh, DHO ‘kah? Kalian masih memainkannya? Memangnya kalian berdua tidak bosan memainkan game itu?” ucap Catherine.


Catherine Meilany, seorang gadis dengan tinggi 157 cm berusia 17 tahun. Dia adalah teman sekelas Keita, dan teman masa kecil Harris. Mereka berdua (Harris dan Catherine) selalu bersama disaat istirahat, mau pun pulang sekolah. Terkadang mereka juga sering berjanji untuk pergi bersama, misalnya berbelanja kebutuhan bulanan. Mereka terlihat seperti orang yang berpacaran sekilas. Namun yang merasakan hal tersebut hanyalah dirinya sendiri, sedangkan Harris? Dia sama sekali tidak menyadari perasaan yang dimiliki Chaterine.


“Kenapa kami harus bosan? Lagi pula kau juga pernah memainkannya bukan? Lalu kenapa kau malah tidak pernah login lagi? Padahal aku selalu menunggu mu?” balas Harris.


‘Catherine karakter aslimu keluar lho!’ batin Keita. “Ngomong-ngomong, kalian kira-kira ingin adik kelas seperti apa?” ucap Keita, mengalihkan topik pembicaraan dengan wajah yang terkekeh sehabis melihat ekspresi milik Catherine.


“Adik kelas yah? Kalau aku lebih ingin dengan adik kelas yang ramah serta sopan terhadap kakak kelasnya,” jawab Chaterine sambil memulai langkah menuju kelas.


“Tunggu, apa bedanya ramah dengan sopan? Bukankah maknanya sama?” tanya Harris.


“Ramah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah baik hati dan menarik budi bahasanya, manis tutur kata dan sikapnya. Sedangkan, untuk sopan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hormat dan takzim akan tata tertib menurut adat yang baik. Jadi, sudah jelas berbeda bukan?” jelas Catherine.


“Oh, begitu. Aku paham sekarang!” ucap Harris dengan mata yang berbinar-binar yang mengatakan kalau dia mengerti.


‘Tidak kau sama sekali tidak paham bukan!’ batin Keita yang mengetahui kalau Harris hanya berpura-pura mengerti. “Kalau kau Harris? Adik kelas seperti apa yang kau inginkan?” tanya Keita kali ini kepada Harris.


“Kalau aku sih, pendek, cantik, dan im--” Belum selesai Harris bicara, Chaterine dengan cepat memukul perut milik Harris. “Untuk apa itu tadi, Cathy?” tanya Harris sambil memegang perutnya.


“Hmph! Pikirkan saja sendiri!” ucap Catherine meninggalkan Keita dan Harris.


‘Oy, oy Catherine! Bukankah kau tidak mau memukulnya lagi?’ batin Keita kembali setelah melihat perbuatan Catherine tadi. “Kalau begitu kita berpisah disini yah, Harris. Oy! Catherine tunggu aku!” pamit Keita pada Harris dan berlari menuju Catherine. Harris saat ini masih bingung dengan perbuatan Catherine tadi, dan mulai berjalan menuju kelasnya sambil memegang perutnya.


Keita masih berlari mengejar Catherine, namun niatnya kini berubah saat melihat Catherine menghentikan langkahnya dan berlari kearahnya ‘Gawat!!’ pikirnya.


“Keita!!”


“Uwaah!! Hentikan Catherine!! Salah kau sendiri bukan, memukulnya? Padahal kau sudah berjanji untuk tidak lagi memukulnya padaku? Dan sekarang kau menangis?” bentak Keita.


“Itu benar sih. Tapi, Lana mengatakan sesuatu yang membuatku kesal!” elak Catherine sambil menangis, Keita hanya pasrah dan hanya menunggunya tenang. Setelah tenang mereka kembali berjalan dan Keita memberitahu Catherine untuk menahan amarahnya.


“Kau mengerti!”


“Iya, aku tidak akan melakukannya. Aku akan mencoba menahan amarahku sedikit.”


“Tidak, kau harus menahan semua amarah mu itu tahu!”


“Kalau itu mustahil! Keita, bantu aku.”


“Aku sudah memberitahumu bu--“ Sebelum Keita melanjutkan perkataanya, dia tidak sengaja menabrak seorang gadis dengan tinggi 40 cm lebih rendah darinya.


“Ma-maafkan aku,” ucap gadis tersebut, sembari mengambil barang-barangnya yang terjatuh.


“Ah, biar ku bantu,” sahut Keita ikut membantu mengambi barang-barang gadis tersebut. Setelah beres, mereka pun berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya masing-masing.


“Mungkinkah kau murid tahun ajaran baru? Perkenalkan nama ku Keita, Keita Amano. Lalu dia,” ucap Keita memperkenalkan diri dan melirik kearah Catherine.


“Catherine, Catherine Meilany,” sahut Catherine menatap kosong pada gadis tersebut.


“Ah, maafkan aku. Nama ku Arisa Keyla, panggil saja Risa. Ngomong-ngomong, senior Keita,” balas Risa memperkenalkan diri.


“Iya, ada apa?”


“Ada apa dengan senior Catherine? Sejak tadi dia terus menatapku,” tanya Risa sambil menunjuk Catherine.


“Oh! Boleh aku memelukmu? Ku mohon!” sahut Catherine saat mengetahui dirinya dipanggil, secara refleks tangan Keita memukul kepala Catherine dengan pelan.


“Kau ini, padahal kau tidak menyukai kriteria adik kelas yang di inginkan oleh Harris! Tapi kau sendiri malah ingin memeluknya?” ucap Keita.


“Habisnya, dia sangat imut tahu!” balas Catherine dengan tatapan penuh gairah pada Risa.


“Harris?” ucap Risa bingung dengan memiringkan kepalanya.


“Oh, dia salah satu temanku! Jika ada waktu aku akan memperkenalkannya padamu!” ucap Keita.


“Ya!” sahut Risa dengan semangat.


“Bicara tentang waktu, bukankah ini sudah saatnya kau pergi ketempat MOS? Teman-teman mu sudah menunggu mu lho!” ingat Keita pada Risa.


“Oh! Maafkan aku. Sekali lagi terimakasih telah membantu ku, senior!” sahut Risa meninggalkan Keita dan Catherine menuju teman-temannya. Saat berada didekat teman-temannya, Risa melambaikan tangannya sebagai tanda pamitnya. Tentu saja, mereka berdua membalas lambaian tangan Risa.