
“Dalam dua jam level milikku telah mencapai empat puluh dua? Benar-benar mengerikan…” ucap Natasha ketika mengetahui berapa lama dia didalam Dragon Hunter’s Online, rasio perbandingan hari dalam Dragon Hunter’s Online dengan dunia nyata adalah 1:24 atau setara dengan 1 hari didalam game, setara dengan 1 jam didunia nyata.
“Tapi jika bukan karena dia… mungkin aku harus berterimakasih padanya disekolah. Ah, benar! Aku harus menyiapkan makan malam!” Natasha pun segera pergi ke lantai bawah untuk menyiapkan makan malam. Sedangkan ditempat lain, Keita saat ini telah turun ke lantai bawah untuk mengambil minum. Saat sampai diruang tamu, dia melihat Reina tengah memasak makan malam didapur.
“Oh, Kak Kei! Apa kau sudah selesai bermainnya?” tanya Reina saat melihat kakaknya sedang menuangkan air putih kedalam gelas dan hendak meminumnya.
“Yah, begitulah,” ucapnya yang kemudian meminum air yang telah ia tuang sebelumnya. “Kau tahu, dikelas ku terdapat murid baru lho! Selain itu dia juga sepertinya memainkan Dragon Hunter’s Online. Aku bahkan terkejut karena melihat sisi lain darinya yang berbeda saat dia disekolah,” lanjut Keita menjelaskan hal yang terjadi saat berada disekolah.
“Hee~ begitu ‘kah? Apa dia perempuan?”
“Tentu, dia itu seorang gadis dengan rambut berwarna biru safir yang sangat indah. Selain itu kau tahu…” Keita pun mulai menceritakan segala hal tentang Natasha. Entah mengapa Reina yang mendengarkannya hanya menggembungkan pipinya dan terlihat kesal.
‘Kenapa kau malah terlihat senang saat menceritakan seorang gadis padaku!’ pikir Reina. “Kak Kei bodoh,” gerutunya pelan.
“Apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Keita saat sekilas mendengar suara dari adiknya. Karena suara tersebut sedikit pelan, Reina pun menggelengkan kepalanya dan beralasan kalau dia tidak mengatakan apapun, mungkin saja Keita salah dengar.
“Aneh, padahal tadi aku mendengarmu mengatakan sesuatu?” ucap Keita bingung.
“Fufufu~ Reina selalu tidak bisa jujur dengan diri sendiri yah!” sahut Marry menggoda Reina dengan sedikit mengintip dari balik sofa, dan itu membuatnya hanya memperlihatkan kepalanya dengan tangan menutupi mulutnya.
“Berisik! Cepatlah pergi ke kamar mandi, dan bersihkan dirimu sana! Bau tahu!!” balas Reina melemparkan handuk putih kearah orang yang menggodanya tersebut. Marry tidak bisa mengelak karena itu terjadi sangat cepat. Itu terjadi karena Keita sempat menunduk untuk menghindari jalur lemparan handuk tersebut. Marry hanya bisa menuruti kata-kata Reina, sedangkan Keita sendiri saat ini tengah memperhatikan Handphone miliknya.
“Tunggu, kau tidak bekerja?” tanya Keita terkejut saat melihat kakaknya ada dirumah.
“Hehe, aku salah lihat hari dan ternyata hari ini adalah hari liburku,” ucap Marry dengan tawa canggung.
“Lalu untuk apa kau meminta uang saku milikku?”
“Hehe, akan ku kembalikan besok.” balas Marry dan langsung bergegas menuju kamar mandi. Setelah selesai makan malam Keita pun memutuskan untuk pergi membeli persediaan bahan makanan, sebelumnya Keita sempat menolaknya. Namun Reina dan Marry bilang kalau hari ini adalah gilirannya untuk membeli bahan makanan, dengan terpaksa dia pun pergi setelah menerima data bahan makanan yang harus dibeli.
“Kenapa harus aku yang melakukannya?” ucapnya menghela nafas panjang. “Padahal aku berniat untuk menyelesaikan Four Star Dungeon dengan tingkat Expert untuk menaikkan level ku.” lanjutnya menggembungkan pipinya. Setelah beberapa lama, akhirnya dia pun telah sampai di mini market dan Keita pun segera membeli bahan-bahan yang ada didata tersebut.
“Telur sudah, gula sudah, garam sudah, daging, sayuran, dan mie instan juga sudah. Berarti tinggal minyak saja yah?” ucapnya sambil membawa beberapa bahan ditroli miliknya. “Kalau tidak salah letaknya disi…” lanjutnya, namun saat dia sedang menuju letak dimana barang yang dia cari, Keita sedang melihat pemandangan seorang anak kecil sedang mencoba mengambil barang yang berada paling atas. Hal itu membuatnya berpikir, ‘Sedang apa seorang anak kecil berada di mini market tanpa ditemani kedua orang tuanya?’ itulah yang ia pikirkan saat melihat anak tersebut mencoba meraihnya dengan melompat-lompat, namun tidak sampai. Merasa kasihan, Keita pun memutuskan untuk membantunya dengan cara mengangkat tubuhnya keatas, setelah mengambil bahan terakhir yang dia cari yaitu minyak.
‘Heh? Kenapa lompatanku setinggi ini?’ itulah yang dipikir anak tersebut yang ternyata adalah Arisa. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, dia pun melihat kebelakang tapi sayang orang tersebut telah pergi menuju kasir. Setelah membayar semua bahan miliknya di kasir, Keita pun segera kembali ke rumah. Terkadang dia bertemu beberapa orang yang dikenal, seperti teman sekelas ataupun tetangganya. Setelah beberapa menit, akhirnya Keita pun sampai dirumah dan menaruh bahan-bahan yang baru ia beli kedalam kulkas. Jam menunjukkan pukul 21:38 WIB ketika memeriksa Handphone miliknya. Karena tidak ingin terlambat datang ke sekolah, Keita pun memutuskan untuk tidur lebih awal.
Keesokan paginya, Keita pun bangun lebih awal dan segera menuju kekamar mandi lalu mengenakan seragam miliknya. Kemudian dia pun segera turun kebawah untuk sarapan, saat sudah berada dibawah, Keita hanya menemukan Reina yang sedang duduk disofa dengan roti dengan selai diatas meja, beserta segelas susu.
“Owh, Kwak Kwei swudwah bwangwun? Selamat pagi,” sapa Reina setelah menelan makanan dimulutnya.
“Kak Marry sudah berangkat?”
“Yah, dia bilang padaku kalau dia mendapatkan sift pagi dan akan pulang siang nanti,”
“Begitu yah,” balas Keita mengambil roti yang telah disiapkan oleh Marry diatas meja makan, dan membawanya ketempat Reina berada. Mereka duduk sebelahan disofa, merasa canggung Reina pun mulai bicara.
“Kak Kei,”
“Yah, ada apa?”
“Apa yang akan kau lakukan jika aku memiliki seorang pacar?” Mendengar pernyataan tersebut, Keita pun tersedak dan langsung meminum susu miliknya.
‘Pacar!! Reina… sudah memiliki pacar!?’ batin Keita.
“Apa kau baik-baik saja Kak Kei?” tanya Reina khawatir.
“Ah, maaf. Aku baik-baik saja, selain itu yang lebih penting,” sahut Keita kemudian melanjutkan perkataannya dengan serius. “Kau sudah memilikinya? Seorang pacar?”
“Yah, sebenarnya cukup banyak sih yang mendekati ku. Tapi…” balas Reina dengan sedikit enggan untuk melanjutkan perkataannya.
“Tapi?”
“Aku… menolak mereka semua, hehe.”
“Sudah kuduga.” sahut Keita bingung. “Kenapa kau menolak mereka semua? Apa ada orang yang sedang kau sukai?” lanjut Keita mendekatkan wajahnya pada Reina. Hal ini membuat wajah milik Reina menjadi merah, menyadari hal tersebut dia pun mengalihkan pandangannya.
“Tidak ada kok! Sebaiknya Kak Kei harus cepat, karena akulah yang memegang kunci rumah!” ucap Reina yang langsung berlari meninggalkan Keita setelah memakan habis roti miliknya dan meminum susu miliknya.
“Tunggu!” Mereka pun berangkat kesekolah dan mengambil jalan berbeda saat berada diluar rumah.
“Kalau begitu Kak Kei, sampai jumpa!” pamit Reina melambaikan tangannya dan berjalan kearah kanan dari rumahnya.
“Yah sampai jumpa,” balas Keita melambaikan tangannya juga dan mengayuh sepeda miliknya menuju kearah sekolahnya. Setelah beberapa menit akhirnya dia pun sampai didepan sekolah, Keita meletakkan sepedanya ditempat yang telah disediakan.
“Eh, kalau tidak salah hari ini ada pelajaran Astronomi yah?” gumam Keita sembari berjalan menuju loker tempat sepatunya.
“Keita selamat pagi,” sapa seseorang yang ternyata adalah Natasha.
“Oh, Natasha selamat pagi. Kau baru datang?” sahut Keita.
“Tidak, saya baru ingin pergi keluar karena ada yang tertinggal dirumah.” balas Natasha membuka loker sepatu miliknya dan mengganti sepatu yang disediakan oleh sekolah dengan sepatu miliknya.
“Biar kutebak… Lauk mu tertinggal?” tebak Keita dan rupanya tebakannya benar. Dia sedikit terkejut dengan tebakannya tadi dan Keita langsung meminta maaf karena merasa tidak sopan.
“Tidak masalah, ini adalah kelalaian saya sendiri kok,” ucap Natasha dengan terseyum. “Kalau begitu, saya permisi dulu yah,” lanjutnya pamit dengan menunjukkan senyumnya. Keita pun membalas ucapannya, selang beberapa lama semenjak Natasha pamit, dia merasakan tatapan menusuk dari belakang dirinya. Keita tahu kalau tatapan tersebut adalah tatapan iri yang ditunjukkan oleh murid laki-laki dibelakangnya, hingga seseorang menyapa dirinya yang tidak lain adalah Harris.
“Harris, kau sudah menunggu lama?”
“Tidak, aku baru saja sampai. Lagipula aku tidak ingin mengganggu waktu kalian berdua tadi hehe,”
“Apa yang kau katakan tadi? Bisa kau ulangi?”
“Tidak, bukan hal yang penting. Oh ya, bagaimana kemarin? Apa kau telah menyelesaikan Dungeon lain?”
“Tidak, aku hanya melatih seorang pemula saja. Yang lebih penting Harris, apa nanti malam kau punya waktu?”
“Tentu, apa kau mau mengajakku menyelesaikan sebuah Dungeon?”
“Yah, begitulah. Tapi kali ini sedikit berbeda, kita akan mengikuti sebuah Raid nanti.”
Raid adalah salah satu fitur Dragon Hunter’s Online. Kebanyakan player akan melakukan Raid untuk menjelajahi Dungeon baru, memecahkan waktu, ataupun sekedar membantu leveling. Raid sendiri terdiri dari 5-6 buah Party, sedangkan Party terdiri dari 2-7 Player.
“Raid ‘kah? Baiklah aku akan ikut. Jadi, apa hanya kita berdua saja?” tanya Harris, mereka pun berhenti sejenak.
“Mungkin aku akan mengajaknya juga.” gumam Keita.
“Keita, ada apa?” ucap Harris yang membuat Keita tersadar dari lamunannya. Ia pun menceritakan kejadian yang dia alami kemarin, Harris berdecak kesal karena tidak bisa login kemarin.
“Tapi, aku tidak menyangka kalau dia memainkan DHO juga.” ucap Harris tidak percaya setelah mendengar penjelasan Keita tadi.
“Yah, begitulah. Oh ya, jika kau ingin login gunakanlah mode Practice yah.” sahut Keita. Tanpa disadari oleh mereka, ternyata mereka berdua telah sampai diteras yang berada didekat lapangan Futsal. Karena masih ada waktu sebelum bel, mereka pun memutuskan untuk duduk santai disana sembari melihat beberapa orang yang tengah menggunakan lapangan Futsal tersebut.
“Bicara tentang DHO, kudengar nanti mereka akan melakukan update yah?” tanya Harris.
“Yah, sepertinya begitu. Semoga saja fitur yang kuinginkan rilis juga,” balas Keita pelan.
“Fitur?” ucap Harris yang bingung dengan perkataan Keita barusan.
“Tidak, lebih baik lupakan saja haha,” sahut Keita.
Setelah mendengar bel, mereka pun berpamitan dan menuju kekelas mereka masing-masing. Tidak ada banyak hal yang dilakukan oleh Keita, dia hanya memaikan game yang ada di Hanphon miliknya, membaca buku pelajaran, berinteraksi dengan teman-temannya, dan hal-hal biasa lainnya sampai bel pulang untuk kelas XI dan XII berbunyi.
“Natasha, jangan lupa nanti yah. Aku akan memberikan lokasi bertemunya saat kau sudah login nanti, sampai jumpa,” ucap Keita yang kemudian berpamitan dengan Natasha, dan segera keluar dari kelas.
“Yah, tentu. Saya akan mengusahakannya nanti,” balas Natasha.
Singkat waktu, Keita kini sampai dirumahnya. Setelah menaruh sepedanya, Keita pun masuk kedalam. Karena tidak ada yang menjawab, Keita pun menuju ruang keluarga. Disana dia melihat kakaknya Marry sedang tertidur pulas disofa, tidak ingin mengganggu, Keita pun membatalkan niatnya dan segera menuju lantai dua. Namun dia bertemu dengan Reina yang keluar dari kamarya dengan sebuah selimut tebal.
“Oh, Kak Kei sudah pulang yah,” sapa Reina menutup pintu kamarnya.
“Yah, aku baru saja sampai. Apa selimut itu untuknya?” balas Keita mengalihkan pandangannya pada Marry yang sedang tertidur disana.
“Hmm, saat aku sampai rumah dia sudah seperti itu. Jadi aku memutuskan untuk memberinya selimut,” sahut Reina mengangguk pelan.
“Reina memang sangat baik yah,” ucap Keita mengusap kepala Reina.
“Hehe, terus usap kepalaku dan pujilah aku hehehehe,” sahut Reina kegirangan.
“Kalau begitu aku akan kekamar, dan akan turun dalam dua jam,” ucap Keita menuju kamarnya.
“Baiklah, aku mengerti,” sahut Reina yang langsung turun kebawah dan menyelimuti Marry, Keita yang melihatnya sebelum menutup pintu kamarnya tersenyum.
“Langsung saja ‘kah?” ucap Keita mengambil Ether Maxy miliknya dan berbaring diatas kasurnya yang langsung mengenakan Ether Maxy tersebut dikepalanya.
“Ether Maxy, ON!”