Dragon Hunter's Online

Dragon Hunter's Online
Game I: Kehidupan Keseharian



Dunia nyata, saat ini seorang pria terbangun dengan sebuah Ether Maxy yang masih dikenakan tadi. Kini dia mulai melepaskan Ether maxy yang ada dikepalanya sebelumnya dan mulai berjalan kearah kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Selang beberapa menit, pria tersebut keluar dengan handuk kecil yang ada diatas kepalanya.


“Ah… Sudah kuduga, mandi setelah bermain game itu benar-benar yang terbaik!” ucapnya sambil berjalan menuju kasurnya, tapi dia dikejutkan dengan sebuah pesan dari Handphone miliknya yang bergetar diatas meja belajarnya dengan sebuah notifikasi yang muncul.


“Oh, dari Ka Marry yah? Apa pesannya yah? Mungkinkah, dia akan pulang terlambat hari ini? Jika, iya… Lagi-lagi aku yang harus membuat makan malam, ‘kah?” keluhnya sambil membuka kunci layar Handphone miliknya, dan melihat isi pesannya.


Keita, maaf. Malam ini sepertinya aku akan terlambat. Jadi, bisakah kau membuatkan makan malam kali ini, kumohon! Marry.


“Sudah kuduga. Huft…Yah, apa boleh buat. Dia memang selalu sibuk.” ucap Keita menghela nafas sambil mengirim pesan balasan kepada Marry dan mulai keluar dari kamarnya untuk turun kebawah menuju dapur, dan mulai memasak disana.


“Baiklah, sekarang apa yang akan ku masak yah? Hmm, Reina! Kau ingin makan apa malam ini!” teriak Keita memanggil adiknya yang berada didalam kamarnya.


“AKU INGIN MIE DENGAN TELUR DADAR DIATASNYA!!” jawab Reina dari dalam kamar, tidak lama kemudian seorang gadis keluar dari sebuah kamar. Yup, itu adalah Reina adik dari Keita.


Upss, hampir lupa! Pertama aku mungkin harus memperkenalkan mereka pada pembaca dengan jelas! Keita Amano, seorang pria berusia 17 tahun dengan tinggi 179 cm sekaligus Main Character dalam Novel ini! Keita Amano atau biasa dipanggil Keita, dia tinggal bersama Kakak perempuan dan juga Adik perempuannya. Walaupun namanya seperti nama orang Jepang, tapi sebenarnya dia tinggal di Indonesia. Tepatnya di daerah Tangerang, dia bersekolah di SMAN 48 Tangerang atau lebih dikenal dengan SMAN Taraya (Tangerang Raya). Saat ini dia berada dikelas 1 yang sebentar lagi akan naik ke kelas 2. Keita sendiri termasuk murid yang pandai, dia selalu mendapatkan Peringkat 10 besar dikelasnya pada Semester 1, dan pada Semester 2 mendapatkan Peringkat ke-3 dalam kelasnya.


Selanjutnya Reina Mariana, seorang gadis berusia 14 tahun dengan tinggi 138 cm dia adalah adik dari Keita, Reina bersekolah di SMPN Taraya yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Reina saat ini berada dikelas 2 di sekolahnya, dia juga memiliki prestasi yang cukup bagus disekolahnya. Walaupun bukan dibidang Akademis, tapi dia sangat bagus dalam Olahraga, contohnya Badminton. Reina banyak sekali menjuarai Tournament yang diadakan di dalam sekolah, maupun di luar sekolah.


Dan yang terakhir, Marry Sabila Anjani. Dia adalah seorang kakak sekaligus tulang punggung dalam keluarganya, dia bekerja disebuah Restaurant Cepat Saji yang dikelola oleh temannya, dan dipercaya untuk menangani semua yang ada didalam Restaurant tersebut.


“Kalau Kak Kei yang memasak, itu artinya Kak Marry pulang terlambat hari ini?” tanya Reina pada Keita yang sedang memasak didapur, dan duduk disalah satu kursi meja makan serta menuangkan air putih kedalam sebuah gelas kaca.


“Yah, begitulah. Kau tahu sendiri bukan sesibuk apa dia?” jawab Keita yang sedang memotong sayuran dan juga menyiapkan bahan lainnya.


“Hee~ Oh, yah. Apa kau masih memainkan Game itu?” sahutnya sambil meminum air yang dia tuangkan sebelumnya.


“Oh, maksudmu DHO? Tentu saja aku masih memainkannya, memangnya kenapa?” balas Keita pada Reina yang kini sedang membalikkan telur yang sedang dia masak, serta mengangkat mie yang dia rebus sebelumnya.


“Tidak hanya saja, bukankah kau terlalu sering memainkannya akhir-akhir ini? Apa itu tidak akan berpengaruh dengan kegiatan pelajaranmu, Kak?” tanya Reina kembali pada Keita.


“Hmm, menurutku tidak. Lagi pula besok sekolahku belum mempunyai pelajaran, kau tahu bukan kegiatan apa saja yang dilakukan setiap kali datang awal tahun pelajaran baru?” jelas Keita yang kini telah menyiapkan semuanya dalam piring dan menyajikannya di meja makan.


“Yah, kau benar sih. Wah… Selamat makan!” sahut Reina yang langsung memakan makanan yang telah dibuat oleh Keita.


“Selamat makan!” ucap Keita yang juga langsung memakan makanannya.


“Seperti biasa, masakanmu benar-benar EEENAAK!! Kak Kei!” puji Reina sambil mengacungkan jempolnya pada Keita.


“Sudah, kalau makan itu tidak usah banyak bicara! Tapi, terimakasih atas pujiannya,” sahut Keita sambil memperingati adiknya. Mereka pun makan dengan lahap, setelah makan Reina segera mengambil piring kotor dan membawanya ke daour untuk dicuci. Sedangkan Keita, saat ini menuju sofa dan mulai bersantai sambil menonton acara yang ada di TV.


Berita hari ini, memasuki tahun pelajaran baru…


“Oh, ya. Kudengar kau berhasil menjuarai Turnament antar Kabupaten yah, Reina! Selamat yah, aku bangga memiliki adik seperti dirimu!” puji Keita pada adiknya yang sedang mencuci piring.


“Hehe, teruslah puji diriku kak! Aku senang kau memuji diriku yang hebat ini!” sahut Reina dengan sombong.


“Kalau begitu kutarik kata-kata ku barusan!” ledek Keita.


“Hee~ Kak Kei jahat!” balas Reina.


Tidak lama kemudian, mereka berdua tertawa dengan keras karena salin ledek tadi. Setelah puas tertawa, terdengar suara pintu yang terbuka.


“Aku pulang!” ucap seseorang yang memasuki ruang tamu dan duduk di sebuah sofa yang khusus untuk satu orang.


“Selamat datang!” sahut Keita dan Reina bersamaan.


“Huh, hari ini benar-benar melelahkan. Kau tahu, tadi ada pelanggan yang sengaja menumpahkan minumannya disaat salah satu karyawan ada didekat dirinya, dan dia berniat menuntut Restaurant. Untungnya ada salah satu pelanggan yang membantu, jadi dia merasakan malunya sendiri,” jelas Marry.


“Sepertinya itu merepotkan. Aku bahkan tidak tahu, apa aku bisa mengatasi pelanggan seperti itu!” sahut Reina dengan muka yang cemberut.


“Reina, kenapa malah kau yang kesal?” tanya Keita pada Reina.


“Kenapa? Tidak boleh? Memangnya kau tidak kesal, Kak Kei?” sahut Reina dengan tatapan datar pada Keita.


“Untuk apa? Lagi pula yang bekerja disana kan, Ka Marry. Jadi, buat apa aku kesal?” jelas Keita.


“Hah… Seperti biasa kau benar-benar jahat padaku, Keita. Setidaknya kasihani aku satu kali saja,” ucap Marry. Keita pun bangun dari duduknya dan mulai menaiki tangga, sebelum sampai ditangga dia mengatakan sesuatu pada Marry.


“Sudahlah, aku mau tidur. Besok aku harus berangkat sekolah, dan untuk Ka Marry makananmu ada diatas meja,”


“Heh, benarkah? Terimakasih Keita! Hari ini apa menunya?” ucap Marry dengan bersemangat dan langsung menuju kearah meja makan. Keita pun dengan segera masuk kedalam kamarnya dan berniat langsung tidur. Belum beberapa lama setelah ia merebahkan badannya diatas kasur, dia pun sudah tertidur pulas.


Keesokan paginya, Keita terbangun dari tidurnya karena suara alarm yang dipasang olehnya saat tidur. Keita yang masih setengah sadar itu berusaha mengumpulkan selururh kekuatannya kembali dan secara tiba-tiba jendela dikamarnya mulai menerangi wajahnya.


“Oyy, Keita! Sampai kapan kau ingin tidur? Bukankah kau harus sekolah hari ini?” ucap Marry memarahi Keita yang masih terbaring di kasurnya.


“Lima menit lagi… Kumohon…” pinta Keita dengan lesu.


“Apamya yang lima menit? Ini sudah hampir jam delapan lho!” ucap Marry memperingati Keita. Sontak Keita yang sedang dalam tidurnya langsung membuka matanya dengan lebar dan berlari menuju kamar mandi.


“Heh! Kau serius? Gawat, gawat, gawat!” itulah yang ia ucapkan saat menuju kamar mandi. Selepas mandi dia pun memakai seragam sekolahnya dan turun dengan cepat ke lantai bawah setelah mengambil tas dan Handphone miliknya. Saat berada di lantai bawah, Keita segera ke ruang makan dan mengambil salah satu Roti yang telah disiapkan oleh Reina.


“Oh, Kak Kei. Apa kau ingin sara… pan? Kak Kei! Kenapa kau terburu-buru?” tanya Reina bingung, saat hendak menaruh segelas susu di meja makan.


“Akwu Swudwah Twerwambwat!” ucap Keita dengan roti lapis dimulutnya.


“Heh? Bukankah sekolah mu dimulai jam delapan?” tanya Reina kembali karena bingung, atas perkataan Keita barusan.


“Bukankah sekarang jam delapan? Memangnya kau tidak sekolah hari ini, Reina?” ucap Keita melepaskan roti lapis dari mulutnya, dan bertanya pada Reina. Reina yang mendengar perkataan dari Keita hanya menghela napas dan memberitahu Keita jika dia dikerjai oleh Marry.


“Huft… Kak Kei, sepertinya kau baru saja dikerjai oleh Kak Marry. Ini baru saja jam tujuh, bukan jam delapan!” jelas Reina dengan menghela nafas. Marry yang mendengar itupun hanya tertawa dengan keras dan turun kelantai bawah.


“HAHAHAHA! Kau memang paling gampang dikerjai saat masih setengah tidur, apalagi… A-A-AW, sakit Kei.” Belum selesai mengucapkan perkataannya Keita pun langsung memberikan cubitan pada kedua pipi kakaknya tersebut, dan mengancamnya.


“Sekali lagi kau melakukannya… Kuberitahu semuanya pada Reina!” ancam Keita pada Marry, sambil menunjukkan wajah seramnya.


“B-baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji.” Marry hanya menurut dengan kedua tangan yang terangkat.


“Aku tidak tahu apa yang kalian bisikkan, tapi cepatlah makan sarapan kalian.” ucap Reina sambil memukul pelan kepala kedua kakaknya tersebut. Akhirnya mereka pun sarapan dengan tenang, setelah sarapan Keita dan Reina langsung menuju depan dan memakai sepatu sekolah mereka.


“Keita, Reina. Ini uang saku kalian. Hati-hati dijalan yah!” ucap Marry memberikan uang pada adik-adiknya.


“Terimakasih!” sahut mereka berdua bersamaan.


“Kalau begitu, kami berangkat!” pamit Reina sambil membuka pintu dan keluar, yang kemudian disusul oleh Keita.


“Aku berangkat!” ucap Keita sambil meraih sepedanya yang diparkir didepan rumah. Marry hanya melihat kedua adiknya dengan senyum kecil, dan mulai masuk kedalam saat kedua adiknya sudah menjauh dari pandangannya.