
Jadi, author tuh lagi sibuk, mau ujian akhir, jadi upnnya lama, dan jarang banget, soalnnya mau fokus belajar, lagian juga nulis novel ini tuh cuma mau numpahin apa yg ada dipikiran author, setelah baca beberapa karya, jadi, setellah author baca beberapa karya, itu tuh kaya, ada yg nggk sreg gitu, makannya author bikin novel sendiri aja, nyatannya author nggk pernah puas dengan karya author, udah ya curhatnnya,
......................
Sampai sebuah notif mengalihkan perhatianku. Dan membuatku menentukan keputusan. Jika aku akan bertanya pada vano. Sekarang atau kapan itulah pertanyaannya.
"kania, besok gw jemput," aku mengerutkan kening. Aku bahkan tidak dekat dengan vano selama ini. Baru akhir akhir ini. Sebenarnya ini sama mencurigakannya dengan rey tapi entah kenapa aku sama sekali tidak merasa waspada.
"jam berapa?" aku mencoba berbasa basi agar kami setidaknya punya riwayat chat yang agak panjang. Aku tiba tiba mengkhayal jika si cuek itu jadi pacarku. Astagaa kania apa yang kamu pikirin.
agak lama hingga aku bosan menunggunya. Chatku sudah didiamkan selama 2 menit. Ini bukan aku yang biasanya. Aku tidak pernah peduli bahkan jika chatku hanya diread saja. Tapi aku peduli inii 2 menit belum dibalas. Rasanya setahun menunggu.
Lebih baik aku makan. Iya makan dari pada pusing memikirkan ini. Astaga kania kamu ga pernah berurusan dengan laki laki dalam percintaan. Bahkan dalam urusan cinta kania sama sekali tidak peduli dan tidak akan jatuh cinta.
Aku hampir meninggalkan kamarku ketika ada notif. Segera aku berlari dan membuka hpku. Sayang sekali, aku harus menelan kekecewaan, bukan darinya tapi dari temanku eliza, sialan.
"beb, besok sekolah kan ? Bareng mau gak ? Nglewatin juga kan ?" tumben ini anak.
"ga deh, mungkin besok aja kali ya," balasku cepat.
Aku ga perlu kecewa. Aku ga punya hubungan apapun dengan vano. Jangan kecewa. untuk apa kecewa. Aku terus terusan meyakinkan diriiku sendiri namun tidak bisa, hatiku sakit pesanku tidak dibalas. Mungkin dia sibuk. Aku berusaha positif thingking. Tapi ini sudah 10 menit, aku jembali merasa lemas.
Aku hanya harus berpikir positif, kania plisss. Aku turun dari tangga dan berjalan keruang makan. "tumben malem malem turun ? Ga begadang kan ? Udah jam 9 ini " ucap ayah.
"engga, aku lagi haus aja pengin minum," balasku setelah menandaskan air minum yang ada ditanganku. Sebenarnya kalau boleh jujur aku agak takut kepergok didapur malam malam begini. Bisa bisa hp ku disita karena mengira aku bergadang karena main hp.
"habis ini langsung tidur, jangan tidur malem malem ga baik buat kesehatan," setelah mengatakan itu ayah langsung naik kekamarnya.
aku membuka notif dan seketika senyumku melebar melihat notif darinya. "jam setengah 7"
Astaga sekarang matpik. Haruskah aku mengatakan oke dan berakhir diread oleh vano. Jangan. lagi lagi bukan aku, biasanya aku tidak masalah dengan inii.
Haruskan aku bertanya sedang apa dia? Jangannn cegah otakku. Itu memalukan apalagi jika tifak dibalas. Jangan kepd an dulu kania. Stop berpikir yang tidak tidak, misal vano suka padamu. konyol. Makhluk sekaku itu mana mungkin bisa jatuh cinta, apalagi padamu. Jangan berpikir cinta lagi bahkan hubunganmu akan kandas tanpa dimuali walaupun kalian saling mencintai.
Tidur kania tidurrr tapi ga bisa. Terngiang ngiang, kalau kaya gini salah siapa coba. Asalah vano lah yang menari nari dipikiranku. Jadi ga bisa tidur kan.
Sekali lagi hpku bergetar. "tidur" akhhh inginku berteriak kegirangan. Eh tapi kok bisa tau aku belom tidur.
"kok tau ?" tanyaku harap harap cemas. Sekarang sedang mengetik, okey sabar kania jangan gegabah jangan dilihat. Astaga motifnya masuk. Jangan langsung dibalas nanti dia tau kalau kamu nungguin notif dari dia. Biarin dulu deh. Ehh tapi ga bisa.
"masih online," oalahh aku mengangguk. Eh dia tidak bisa melihatku kan ya. Aku segera mengetikkan pesan balasan lalu segera tidur tanpa melihat notif terakhir yang dikirimnya.
...----------------...
Aku sekarang sedag berguling guling dikasur dan melakukan roll depan. Salting aa. Kalian tau notifnyaa apa ? Notif terakhir dari vano apa ? Dia mengucapkan selamat malam karena sebelumnya aku membalas "ini baru mau tidur, ngantuk"
"oke, malam," uhh salah ga sih salting. Kania jangan baper. Cuman gitu doang.
"Kania buruan bangunn" teriak nyonya rumah dari arah bawah.
"iya mamahku sayang, aku udah bangun," balasku tak kalah kencang. untung rumah kami jauh dari tetangga. Atau tetangga kami harus ke THT setiap bulan untuk memeriksakan telingannya.
...----------------...
Saat aku turun kebawah aku melihat ayah ibu yang bersidekap didepan vano. Astaga aku lupa bagaimana bisa aku melupakan ini.
"kami berangkat dulu ya," selaku. Entah mereka membicarakan apa sebelumnya. Aku menyalimi ayah dan ibu lalu menarik vano pergi.
"kamu ga diapa apain kan?" tanyaku khawatir. vano mengangkat satu alisnya bingung.
"orang tuaku ga nanya aneh aneh kekamu kan?" tanyaku sekali lagi. vano menggeleng lalu aku mengehla nafas lega. Vano ga mungkin bohong.
"ya udah ayo berangkat," aku menariknya pergi menjauhi pintu rumah.