
siang itu aku meminta vano untuk mengantarkanku pulang kan ? Aku benar benar memintanya untuk mengantarkanku. sekama seharian aku tidak bertemu dengan rey entah kemana dia. Tapi baguslah dia tidak menggangguku. Aku risih tapi aku juga belum terbiasa jika dia tidak menggangguku.
"jangan deket deket sama rey, kamu ga tau kenapa dia deketin kamu secara tiba tiba," ucap vano tiba tiba.
"iya aku tau. Tumben peduli," aku menaikkan sebelah alisku.
"rey ga sebaik itu. Jangan bego," aku membuang nafas kasar. Sialan baru aja mau baikkan dia malam mengataiku.
"aku tau aku tau ga usah ngatain juga kali," sahutku kesal. Aku menatap kesekeliling restoran ini. Tidak begitu ramai. Tapi pemandangannya bagus. Apalagi kalau hujan pasti lebih indah lagi. debu kota ini bahkan bertebaran kemana mana.
"hati hati sama rey." peringat vano. Aku memutar bola mataku. Kapan aku meraaa dia jadi seperti mengaturku atau menasehatiku. Dia terlihat seperti pacar posesif sekarang.
"iya iya, aku ga deket deket sama dia kok. Aku juga aneh aja masa masih satu bulanan tiba tiba suka." aku menyerukan pemikiranku beberapa minggu terakhir.
"iya aneh," singkatnya. wahh liat responnya sangat menyebalkan bukan. sah sah aja kalau diceburin kelaut biar dimakan hiu.
"kamu juga aneh, kita ga biasanya sedeket ini," aku tersenyum kecil. kali ini aku menyerukan yang ada dipikiranku. Astaga apa yang aku pikirkan ini benar benar kek woah bisa berbincang sedeket ini sama vano yang notabenenya paling cuek sekelas.
vano hanya mengangguk angguk kecil.
"emang biasanya kita kaya gimana?" wahh nantangin nih. Mana nanya balik, sengaja biar aku malu kayaknya.
"ya diem dieman, bahkan kita udah sekelas terus 2 tahun. Ga pernah bicara sedekat ini," aku berusaha menjawab dengan walaupun dalam ati deg deg serr.
Kapan lagi bisa bicara sedekat ini sama vano. Liat cara dia makan, ngobrol ringan, diboncengin sama dia. Bahkan merhatiin pahatan tuhan yang begitu sempurna dalan jarak kurang dari 50 cm.
"emang kita dekat ?" ekspektasiku langsung buyar dan menatapnya dengan kesal. Aku mendengus keras bodo amat jika dia menganggapku tak sopan.
Dia terkekeh pelan. "ga usah marah. Gitu doang juga," aku memaksakan tawaku.
"hahaha astaga apa ini, baru pertama liat seorang vano tertawa. Biasa juga pasang wajah cool bukan maen," aku menggeleng gelengkan kepalaku berkali kali.
sesegera mungkin vano mengembalikan wajahnya kesetelan awal. Datar.
"udah ayo pulang. Makannya udah selesai kan ? inget pesanku tadi hati hati sama rey,"
aku berdecak. "iya iya bawel,"
"tadi yang ngatain duluan siapa ya ? Dikatain balik ga mau, dasar aneh,"
"aku ngatain sekali kamu udah dua kali," balasnya. Pinter juga ini anak. Eh emang dia pinter deh, kan selalu jadi yang peringkat 1.
"iya iya, minta nomermu dong," aku menebalkan muka saat memintanya, dan dengan hati yang sangat lapang dia menolakku.
"buat apa, nomer ku itu privasi," balasnya.
"si paling privasi," balasku.
"Kan emang" dia mengacak acak tatanan rambutku. Namun bukannya marah aku justru merasa senang. Aneh. Aneh banget aku hari ini.
...****************...
"kali ini dianter siapa lagi ?" sindir mama diruang tamu.
Herann nonton tv kok bisa tau aku dianter pulang sama vano. Bahkan ada camilan diatas tangannya yang masih setengah. Kok bisaa ?
"sama temen," aku segera berlari menaiki tangga dan masuk kekamar dengan nuansa abu abu. Agar aku tidak dicecar dengan berbagai pertanyaan.
Aku sudah memutuskan jika aku akan menemui kakakku besok. Panti kan ? Ku harap dia ada disana. Siapa tau saja.
Pasti dia dipanti itu. Entah kenapa feelingku mengatakan begitu. Aku merasa jika sania disana. Pasti benar. Tidak lama ponselku berdering dengan nomor saja berarti belum kusimpan.
Vano
Begitu isi chat tersebut. Maksudnya ? Owh astaga jangan jangan ini nomernya vano. Segera aku mendial nomer tersebut.
"halo?" sapaku.
"hm" balasnya. Tidak salah lahi walaupun berdeham aku tau itu dia.
"beneran vano kan ?" tanyaku memastikan.
"ga buta kan?" lalau telfon dimatikan begitu saja. Inginku mengumpat tapi tidak apa apa. ternyata dia gengsi untuk memberiku nomernya. Padahal kan aku sendiri sudah menurunkan gengsiku untuk meminta nomernya. Dasar aneh.