
Rumah sakit kota B.
Ashley dan Patricia diobati lukanya, tetapi Ashley mendapat operasi kecil pada luka tembaknya.
"Kau baik-baik saja? Apakah sakit sekali?" Patricia bertanya dengan penuh kekhawatiran.
Ashley tersenyum kecil "tida sakit"
Melihat ekspresi santainya, Patricia memanyunkan bibirnya "tida sakit bagaimana? Itu luka... Tembak" ucapnya dengan lirih.
Ashley menahan tawanya. Setelah menyakinkan Patricia, mereka kini menunggu taksi di lobi rumah sakit. Patricia ingin mengantar Ashley tetapi dia menolak, alasannya letak rumahnya sangat jauh dan ditambah sekarang sudah larut malam.
Saat meninggalkan rumah sakit menggunakan taksi. Sebuah mobil yang tidak jauh dari sana mengikutinya, Ashley yang sedari tadi mengetahuinya memerintahkan supir untuk mengambil jalan memutar untuk membingungkan pengikut itu.
"Bos, sepertinya dia sadar diikuti" ucap seorang pria setelah menekan earphone di telinganya.
"Lanjut ikuti" ucap seorang pria di balik earphone dengan nada suara dingin.
Pria pengendara mobil mengiyakan lalu menginjak pedal gas dan mengikuti mobil didepannya.
Aksi kejar-mengejar itu berlangsung lama hingga mereka menyingkirkan mobil itu.
Ashley memasuki apartemen dengan santai, begitu sepi dan benar dugaannya Mary menunggunya hingga tertidur di sofa ruang tamu.
Membelai rambut Mary, lalu memindahkannya ke dalam kamar.
Keesokan harinya, Ashley mengajak untuk berbelanja terkait keperluan Mary.
Karena pindah dalam keadaan seperti itu, hanya satu pakaian pun dia tidak kembali untuk mengambilnya.
Saat melangkah memasuki pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, wajah keduanya menjadi pusat perhatian, Berpakaian sederhana namun tidak bisa menutupi wajahnya menawannya.
Ashley hanya memakai kaos oblong warna putih, celana jeans hitam dan sneaker putih.
Sedangkan Mary memakai dress di atas lutut berwarna putih dengan motif bunga, tas selempang kecil dan sepatu sneaker putih.
Terdengar bisik-bisik dari pengunjung disekitarnya.
"Ug kenapa pemuda itu harus memakai masker? Aku ingin melihat wajah tampannya"
"Dilihat dari bentuk wajahnya dia pasti pemuda yang tampan"
"Aku ingin menjadi pacarnya"
"Ayo, minta nomor handphone"
"Tapi sayang, dia bersama kekasihnya"
"Aiss andai saja dia masih lajang, jika ku jodohkan dengan anakku dia pasti sangat bahagia"
Wajah Ashley berkedut saat mendengar kalimat 'melahirkan bayi'
Mary yang juga mendengar menutup mulut dengan kedua telapak tangan agar tawanya tidak pecah.
Ashley melirik Mary "Mary kecil, apa yang kau tertawakan?"
Mary menstabilkan raut wajahnya lalu menjawab Ashley tanpa menatapnya "ehem kakak cukup populer dikalangan remaja maupun dewasa"
"Ambil apapun yang kamu inginkan" ucap Ashley yang sedang duduk santai di sofa.
Setelah melihat harga pakaian itu Mary ragu-ragu "em aku ingin mencari yang lain"
Ashley menatap kasir "bungkus apa saja yg tadi dia sentuh"
Kasir terkejut lalu mengangguk dengan semangat "ah baiklah tuan, akan kami siapkan"
Bibir Mary berkedut 'apa yang sedang kakak lakukan?'
Mary tahu Ashley sangat hebat dan mungkin pekerjaannya menghasilkan banyak uang.
Ashley yang dulu Mary kenal sangat lembut dan baik hati, sangat dengan Ashley yang sekarang. Mata biru yang dulu penuh kelembutan kini hanya menyisakan kedinginan.
Dari kejauhan terdengar suara obrolan beberapa wanita paruh baya dan dua pemuda berusia 18 yang mengekor dibelakangnya.
Mary awalnya sedang menertawakan Ashley yang didekati oleh beberapa gadis, saat matanya bertabrakan dengan salah satu pemuda pun terdiam.
Seorang wanita paruh baya menatap Mary dengan tidak ramah.
Berdiri tepat di depan Mary lalu dia mencibir "kamu.. sedang apa gadis miskin sepertimu berada di tempat mahal ini?"
"Ibu" terdengar suara pemuda itu untuk menghentikan ibunya dari perbuatannya.
Sedangkan beberapa wanita paruh itu hanya diam menyaksikan.