
Ashley sangat kedinginan hingga hidung, telinga dan seluruh wajahnya memerah.
Louis Wilson melirik anak nakal itu, kulitnya sangat pucat hingga kemerahan mungkin karena udara yang sangat dingin.
Ashley bersin lalu menggosok hidungnya yang terasa geli hingga terlihat sangat merah.
Louis Wilson mengerutkan kening tidak senang saat melihat kulit Ashley yang telah memerah seperti udang rebus.
Dia melangkah mendekat lalu meraih jaket anak nakal itu dan melemparkan pada tubuhnya.
"Pakai" perintah Louis Wilson dengan suara rendah kedengaran marah.
Ashley refleks menangkapnya lalu memakai dengan tergesa-gesa, tubuhnya terasa kaku karena kedinginan.
Melihat Ashley yang masih sibuk dengan laptop dan rujaknya membuat Louis Wilson menatapnya dengan tatapan dingin.
' apa dia tidak waras? Dia memakan rujak dimalam yang begitu dingin'
"Berhenti makan ini disaat cuaca dingin, itu tidak sehat untuk pertumbuhan mu" ucapnya sembari merebut nampan berisi rujak itu dari tangan Ashley.
Ashley melebarkan matanya "kakak, rujak ini enak, sangat segar. Kalau tidak percaya cobalah"
"Aku tidak makan makanan aneh seperti ini" ucapnya sembari menatap pemuda itu dengan dingin.
"Bangun, kembali ke kamar mu" perintahnya dengan santai lalu melangkah pergi dengan nampan itu.
Ashley hanya menatap punggungnya tanpa berniat bangun mengikutinya, Louis Wilson menghela nafas tanpa daya.
Dia berbalik lalu melangkah kembali mendekati anak tidak patuh itu.
"Ingin aku mengangkat mu seperti kucing?" Tanya sembari menaikan alisnya.
Ashley menatapnya dengan tatapan penuh teka-teki, Louis Wilson balas menatapnya dengan mata yang sedalam jurang.
Kedua saling menatap beberapa saat hingga tiba-tiba Ashley melambai tangan pada Louis Wilson memberi isyarat agar mendekat.
Louis Wilson mendekat "anak nakal, apa yang...." Namun sebelum ucapannya selesai, Ashley telah melompat keatas punggungnya.
Louis Wilson sangat terkejut hingga kemudian tubuhnya menegang lalu kaku, dia sangat terkejut sampai hampir menarik anak mudah itu.
Terdengar suara sekecil suara kucing datang dari belakangnya "kakak, kakiku kebas"
Louis Wilson berdiri mematung, ini pertama kalinya dia melakukan kontak fisik dengan seseorang, ini merupakan suatu hal yang baru baginya.
Dia bisa mencium aroma tubuh pemuda itu, wangi bunga mawar, sangat lembut dan manis.
Tiba-tiba Louis Wilson menegang kembali saat merasakan detakan jantungnya yang tidak biasa, berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Dia menelan ludahnya untuk menghilangkan perasaan itu, namun saat matanya menangkap tangan putih lembut di bahunya, dia kembali merasakan perasaan yang muncul hanya sesaat itu.
"Turun" ucapnya dengan dingin.
Ashley mencengkeram bahu Louis Wilson dengan kuat, takut-takut dia menjatuhkannya.
"Tidak, kakak aku benar-benar tidak bisa berjalan" ucapnya dengan nada frustasi.
Louis Wilson ingin sekali memukul anak nakal ini namun dia tahan karena dia adalah anak ayahnya, tetapi lain kali dia tidak akan mengampuninya, dia harus memotong ekor anak nakal ini sebelum semakin panjang.
Louis Wilson berjalan dengan satu tangan memegang nampan rujak sementara tangan lainnya memang laptop anak nakal itu.
Sedangkan kedua tangan Ashley memegang bahu Louis Wilson dan kedua kakinya melingkar pinggang Louis Wilson agar tidak terjatuh namun dia menjaga jarak aman supaya seluruh tubuhnya tidak terlalu menempel padanya.
Ashley menahan jarak tetap aman, takut-takut jika terlalu dekat Louis Wilson akan menyadari gendernya.
Louis Wilson berjalan dengan Ashley yang menggantung ditubuhnya seperti Kuala.
"Kakak, kamu begitu kuat? Olahraga apa yang kamu lakukan?" Tanya Ashley dengan senyum nakal.
"Olahraga memukul orang" jawab Louis Wilson dengan suara rendah.
Ashley berpura-pura terkejut "oh, benarkah? Bolehkan aku ikut?" Tanyanya sedikit jahat.
"Baiklah, aku akan membiarkanmu dipukul" ucap Louis Wilson dengan wajah datar.
Ashley ingin memukul Louis tapi untung dia sedang di gendong dan takut terjatuh, dan alasan lainnya mungkin karena dia begitu tampan.
Mary ingin pergi ke dapur untuk mengambil air panas dibuat terkejut dengan pemandangan didepannya, dia terkejut karena dari yang dia tahu selama ini Ashley bukanlah seseorang yang akan bertindak seperti ini, Mary selalu berpikir jika dia sangat mandiri hingga tidak membutuhkan bantuan orang lain namun pemandangan didepannya membuktikan jika pikirannya itu salah.
Ternyata kakaknya ini bisa bersikap seperti ini juga, entah dia manja atau sengaja ingin menyusahkan Louis namun ini sungguh diluar karakternya.
Sedangkan Louis Wilson terlihat seperti bukanlah seseorang yang akan melakukan hal itu, Mary bingung dengan kedua orang itu. Dia hanya berjalan ke lantai bawah sembari menggaruk bingguk wajahnya yang tidak gatal.
Louis Wilson sempat melihat Mary yang menarik pintu kamarnya terbuka namun Ashley tidak menyadari sebab matanya selalu menatap jarak tubuh mereka.
Setelah sampai kamar Ashley, Louis Wilson terkejut dengan kamar bersih Ashley bahkan tidak ada satupun pajangan.
Kamar luas itu hanya terdapat tempat tidur, meja belajar dan kursi. Namu di atas meja belajar itu ada komputer, laptop, notebook, ponsel, dan beberapa flashdisk.
Louis Wilson menurunkan Ashley di tempat tidurnya lalu segera bergegas keluar dengan nampan rujak.
Ashley dibuat bingung "apa dia begitu tidak senangnya berada di kamarku?" Gumamnya sembari mengangkat selimut lalu merebahkan tubuhnya.
Tidak lama pintu kamarnya kembali terbuka, terlihat Louis Wilson masuk dengan tangan memegang segelas air panas.
"Minumlah, jangan sampai kamu masuk angin dan menyusahkan orang lain" ucapnya sembari meletakkan gelas berisi air panas di atas meja.
Ashley duduk bersandar pada kepala tempat tidur lalu menyesap air perlahan-lahan.
Bibir dan hidungnya sangat merah, bahkan jari-jarinya pun sangat merah. Louis Wilson menatapnya dengan matanya dalamnya tanpa berkedip.
Menurutnya anak nakal ini terlihat sangat feminim, kulitnya sangat putih hingga pucat kemerahan. Telinga dan hidungnya begitu kecil, matanya indah, buluh matanya lentik, bahkan bibirnya merah jambu yang sangat menawan.
"Ikutlah bersamaku bermain ke pantai, kamu terlihat begitu feminim" ucapnya dengan suara rendah.
"Hah, kakak bagaimana aku terlihat feminim? Aku sangat tampan, oleh?" Ucapnya tidak terima.
"Kulitmu sangat putih, berjemur lah di pantai agar kamu maskulin seperti pria pada umumnya" ucap Louis Wilson tanpa rasa bersalah.
Ashley menatap Louis dengan mata lebar, bibirnya berkedut ' bagaimana bisa aku terlihat maskulin? Sedangkan aku seorang gadis, haiss itu juga bukan hal yang kuinginkan. Aku memang benar-benar seorang gadis, apa yang bisa ku ubah dengan itu?'
"Baiklah, istirahat dan jangan tidur tengah malam karena itu bisa menghambat pertumbuhan mu" ucap Louis Wilson sembari menjauhkan laptop dari Ashley lalu bergegas pergi.
Ashley merebahkan tubuhnya dengan patuh karena dia juga merasa tidak nyaman, mungkin dia masuk angin? Entahlah, dia juga kurang tahu karena tidak pernah mengalaminya.