Disguise Of A Girl Into A Boy

Disguise Of A Girl Into A Boy
Bab 4



Mata biru laut itu sama persis, tidak mungkin suatu kebetulan.


2 tahun kemudian...


Di sebuah club' malam, dua orang pria besar berotot menyeret seorang gadis remaja ke sebuah kamar.


Gadis itu memukul,menendang itu, dia berteriak sekuat tenaga berharap seseorang mendengar dan menolongnya.


Tiba-tiba seorang pria bertubuh kekar mendorong pintu masuk lalu mengunci pintu dari dalam. Gadis remaja itu terkejut lalu menatap pria itu dengan ketakutan, dia melangkah mundur ketika pria itu mendekatinya.


Badannya sudah menempel pada tembok, pria itu mendekat dan menatapnya dengan mata cabul "ayo sayang, puaskan aku dan akan kuberikan apapun yang kamu mau"


Gadis itu berteriak tepat didepan wajah pria itu "tidak akan brengsek, biarkan aku pergi" setelah meneriaki pria itu, dia berlari ke arah pintu.


Namun sebelum tangannya berhasil meraih gagang pintu, pria itu bergegas dan menariknya dengan kasar dan dengan kekuatan yang besar dia melempar gadis itu ke tempat tidur.


Sebelum dia bergerak, pria itu telah menindih tubuh gadis itu. Dengan kasar pria itu menarik bajunya hingga robek, gadis itu berontak namun pria itu tidak menghiraukannya. Kini tangan pria itu dengan tidak sopan meremas payudara besar berisi itu menjadi bentuk yang berbeda.


Satu tangan digunakan untuk memegang tangan gadis itu di atas kepalanya dan tangannya yang lain merobek ****** ***** gadis itu.


Seluruh tubuh gadis itu dipenuhi air liur, tangan pria itu kini mulai memasuki lubang gadis itu.


Ketika pria itu telah mengarahkan miliknya ke kewanitaan gadis itu, pintu terbanting dengan suara keras.


Tiba-tiba seorang pemuda bergegas cepat ke ranjang dan menarik tubuh pria itu lalu memukulinya bertubi-tubi sebelum pria itu mengeluarkan suara.


Gadis itu sudah memakai pakaiannya yang masih layak dipakai biarpun sudah robek di mana-mana, setelah mengenakan baju gadis itu terduduk lemas di sudut ruangan, sungguh sedikit tenaga terakhirnya telah digunakan untuk memakai pakaian.


Setelah puas pemuda itu melepaskan pria yang wajahnya tidak lagi memiliki bentuk itu. Melangkah perlahan ke arah gadis itu, lalu berjongkok dan mengangkat wajah ketakutan gadis itu agar menatapnya. Awalnya gadis itu mengalihkan pandangannya, dia sangat takut bertatap muka dengan pemuda yang tadi telah dengan brutal memukul pria itu.


"Tatap aku" ucap pemuda itu mengejutkannya.


Pemuda itu membungkus tubuhnya dengan jas panjang miliknya, lalu menggendongnya dan bergegas keluar.


Selama perjalanan, pandangan gadis itu tidak pernah lepas dari manik mata pemuda itu. Bagaimana mungkin ini kebetulan? Manik mata biru laut dan tahi lalat di batang hidungnya sama persis, dan tidak ada ada orang di negara B yang memiliki manik mata seperti ini, ini tidak mungkin suatu kebetulan.


Pemuda itu meletakkan Mary di bangku taman dekat club' malam. Saat pemuda itu baru berbalik, tubuhnya dipeluk erat dari belakang.


Baju di bagian punggungnya telah basah oleh air mata Mary, pemuda itu bisa merasakan tangan dan seluruh tubuh gadis itu bergetar hebat.


Pemuda itu melepas tangan Mary pada perutnya, dia berbalik lalu berlutut di rumput taman. Menggenggam kedua tangan Mary lalu meremasnya.


Membelai pipinya, menghapus air matanya lalu melepas masker wajahnya "hai Mary kecil, apa kabar?"


Mary yang sudah mendapatkan jawaban kini air matanya mengalir sangat deras tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pemuda itu adalah Ashley yang selama ini dia tunggu.


Ashley menarik Mary kedalam pelukannya, Mary terduduk dalam pelukan Ashley. Memukul dada Ashley berkali-kali dan menangis dengan suara keras "kamu jahat... kamu tega... Tega meninggalkanku dan membuatku... membuatku menunggu begitu lama" kalimat terakhir diucapkan dengan suara pelan dan disusul dengan tangisan yang menyakitkan.


Ashley semakin mengeratkan pelukannya "Mary, Mary kecil, maafkan aku, maafkan aku, tahukan kamu selama ini aku juga sangat tersiksa merindukan kalian" ucapnya dengan suara tercekat dan mengucapkan kata maaf berulangkali.


Mary hanya menangis keras menanggapi ucapan Ashley.


Satu jam kemudian Mary yang menangis telah tenang dalam pelukannya.


Hati Ashley sakit saat melihat tubuh Mary yang begitu kurus, terutama saat mengingat kejadian tadi di club', rasanya dia ingin menghancurkan club' serta orang-orang mati itu.


Tiba-tiba Mary yang masih memeluk Ashley mendongak dan menatap langsung mata Ashley "ibu.. kakak.. ibu telah.." sebelum ucapnya selesai Ashley menutup mulut Mary dan mencium dalam keningnya "Kaka sudah tahu" ucapnya dengan suara serak seraya menarik Mary kembali kedalam pelukannya.


Mary membenamkan wajahnya di leher Ashley. Mary gadis yang mandiri dan tidak pernah mengeluh ataupun menangis, tetapi hari ini dia menumpahkan semua kesedihannya selama ini. Dan Mary juga akan sangat manja pada ibu dan kakaknya Ashley.