
Mary menahan tawa lalu bertanya dengan terbata-bata "apa... A-pa yang kakak perbuat? Sehingga mendapat hukuman seperti itu dari... kakak Louis. Tapi aku selalu berpikir jika kakak Louis itu bukan orang yang akan melakukan hal seperti ini"
Emily Wilson tersenyum kecil penuh arti "biarkan saja, jarang bagi Louis melakukan hal yang seperti itu pada orang baru"
Melihat seorang pelayan menyapa dengan hormat, Emily Wilson tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Apa yang terjadi dengan keduanya?"
Pelayan itu menahan tawa, lalu menceritakan singkat dengan penuh senyum "tuan muda kedua membuat masalah, sehingga mendapat hukuman berlari keliling taman 20 putaran, lalu setelahnya seperti yang nyonya lihat sekarang"
Emily Wilson dan Mary sangat terkejut "apa yang Sean katakan sehingga membuat Louis murka seperti ini?" Tanyanya dengan suara bergetar menahan tawa.
"Tuan muda kedua menganggu tuan muda pertama saat sedang bekerja dengan tabletnya"
Emily Wilson menghela nafas tanpa daya "ada-ada saja kelakuan Sean. Biarkan saja mereka, ayo masuk Mary kecil"
Setelah selesai dengan pekerjaannya, Louis menatap pemuda didepannya yang penuh dengan keringat.
Dia selalu merasa pemuda ini sangat lembut, lihat saja keringat berkilau pada wajah merahnya.
Bahkan kulitnya lebih bagus dari seorang gadis, begitu putih dan lembut. Tubuhnya ramping dan tinggi ditambah dengan wajahnya cantiknya, incaran gadis-gadis kebanyakan.
Tetapi sikap buruk dan nakal itu harus diperbaiki, apalagi mulut jahatnya itu, benar-benar harus mengajari anak ayahnya ini. Tiba-tiba Louis Wilson merasa kedepannya tidak akan berjalan mulus, tetapi tidak ada salahnya dia mendisiplinkan anak ini.
"Duduk" perintah Louis Wilson.
Ashley menghembuskan nafas lelah "kakak, aku takut gadis yang melihat perbuatan mu ini akan lari"
"Aapkah kamu ingin berlari lagi? Apa salahnya menghukum anak yang nakal?" Tanya Louis dengan suara rendah.
Ashley menatapnya dengan mata lebar "kakak, bagaimana bisa aku nakal? Aku membicarakan kebenaran"
"Omong kosong" ucapnya lalu berdiri namun dia menatap pemuda yang duduk tanpa niat untuk bergerak itu "apa yang kamu lakukan? Ayo masuk"
Ashley roboh pada kursi panjang itu lalu menutup matanya.
"Hah, aku tidak bisa bergerak"
Louis Wilson menatapnya dengan dingin, hari sudah malam dan rumput di taman basah karena embun tetapi pemuda itu berbaring di kursi seperti ini.
Louis Wilson menarik nafas lalu menyeret pemuda yang enggan berjalan itu dengan cepat kedalam rumah.
Dia melempar pemuda tidak patuh itu ke sofa ruang tamu, dia berbaring tengkurap dan menutup mata tanpa suara.
Saat Robert Wilson masuk, pemandangan itu yang dia lihat.
Louis menyodok lengan Ashley dengan tabletnya "hei, jika ingin tidur masuklah ke kamar" ucapnya.
"Aku lelah" Ashley bergumam dengan lemah. Sungguh dia begitu lelah karena menstruasi, dia tidak mau bergerak sedikitpun.
Louis Wilson berbalik hendak ke atas "kakek, sudah pulang?"
Robert Wilson tersenyum kecil lalu menghampiri mereka "ada apa dengan Sean?"
"Sean, habis berolahraga" ucap Louis Wilson dengan bibir bergetar.
Ashley membuka matanya lebar-lebar dan menatapnya dengan tidak percaya "kakak, bagaimana bisa kamu begitu jahat padaku?"
Louis Wilson menatapnya dengan menuduh "jangan menuduhku seperti itu" ucapnya dengan dengan sedikit candaan. Dia juga merasa sedikit terhibur dengan kemalangan pemuda ini.
Robert Wilson terkejut, karena Louis Wilson bukanlah orang yang cepat akrab dengan orang baru, terapi yang mengejutkan hanya beberapa hari saja Wilson telah akrab dengan Sean, bahkan membuat lelucon yang tidak pernah dia tunjukan pada orang terdekatnya sekalipun.
"Baiklah, baiklah. Louis berhenti mengganggunya, paman pertamamu sedang dalam perjalanan kesini. Sean, sangat berkeringat, pergilah mandi di kamarmu dan kembali"
Louis kembali menyeret Ashley ke atas seperti seekor kucing.
Pelayan "..."
Pengawal "..."
Robert Wilson kemudian tertawa terbahak-bahak, sungguh pemandangan yang begitu lucu.
Jam 7 malam...
Stanley Wilson dan istri serta kedua anaknya telah tiba kediaman utama keluarga Wilson.
Mereka berempat menatap serentak pada Ashley dan Mary.
Memang ada kesamaan antara keduanya dan orang tua mereka.
Gadis itu memiliki rambut hitam dan wajah imutnya begitu mirip dengan ayahnya, sangat cantik, mereka berdua seperti satu cetakan. Sementara pemuda itu sangat berbeda dari mereka semua, hanya bola mata warna biru cerah itu yang sama seperti ibunya. Pemuda berdarah campuran yang begitu tampan dan cantik.
"Ayah, mereka adalah putra dan putri dari Joseph?" Tanya Stanley Wilson padahal dia sudah tahu jawabannya.
"Iya, mereka anak Joseph dan Helen" ucap Robert Wilson sembari tersenyum lembut pada Sean dan Mary.
"Hello paman pertama, bibi" sapa keduanya bersamaan.
Stanley Wilson tersenyum penuh kasih sayang "anak baik"
Sophia istri dari Stanley Wilson tersenyum lalu memperkenalkan kedua anaknya "Sean, Mary, ini sepupu kalian berdua Kenneth dan Jenner"
Mereka saling menyapa kemudian orang dewasa mengobrol, sementara mereka pergi ke pondok kecil di tepi taman sedikit jauh dari rumah.
"Kakak, kata ibu orang tua Mary telah tiada?" Tanya Jenner dengan wajah polos.
Mary menundukkan kepala dengan sedih, tiba-tiba Ashley menariknya kedalam pelukannya,lalu mengusap punggungnya untuk menyalurkan kenyamanan dan mengelus rambut panjangnya dalam diam.
"Maafkan Jenner, dia masih kecil" ucap Kenneth meminta maaf namun Ashley tahu jika Jenner Wilson melakukannya dengan sengaja.
"Bagaimana bisa gadis berusia 16 dibilang masih kecil?" Tanya Ashley dengan santai namun Kenneth maupun Jenner dapat mengetahui kata-kata mengejeknya.
"Maafkan aku" ucapnya dengan wajah sedih, matanya sudah memerah. Kenneth memeluknya dan menenangkannya.
"Saudara Sean tidak bermaksud seperti itu" Kenneth Wilson tersenyum tanpa perubahan pada wajahnya, bahkan saat adiknya perempuannya diejek.
"Siapa yang saudaranya?" Tanya Ashley dengan wajah lurus dan suasana pun menjadi sangat kaku namun Kenneth Wilson hanya tersenyum dan menghibur Jenner Wilson.
Ashley telah banyak bertemu dengan orang seperti Kenneth dan Jenner, jadi bagaimana mungkin dia bisa tertipu.
Louis Wilson hanya menatap dengan tenang di samping, dia paling tahu kelicikan kedua saudara itu, sebelumnya dia tidak pernah menaruh mereka pada pasangannya namun hari ini keduanya membuat dia sedikit kesal.
"Kembali pada kedua orang tuamu" perintahnya dengan suara rendah tanpa belas kasih, dia memberi mereka berdua wajah dingin.
Mereka membenci Louis Wilson namun mereka lebih takut padanya, aura kuat yang dia keluarkan sangat menakutkan.
Setelah mereka pergi, Ashley menarik ujung bibirnya dan menatap Louis Wilson dengan senyuman "kakak, mereka saudaramu"
"Katamu mereka bukan saudaramu, sementara aku kakakmu, lalu apakah kamu tidak merasa ada yang salah dengan ucapan mu?"
Artinya sangat jelas, dia saudaranya otomatis kedua anak itu bukan saudaranya juga.
Ucapannya mengenai tepat di pada ucapan Ashley sebelumnya "Kakak, aku tidak menyangka jika kamu begitu pandai berkata-kata" ucap Ashley dengan santai.
"Jika Mary telah tenang ayo masuk kedalam, hari semakin dingin" ucap Louis Wilson dengan suara rendah.
Mereka bergegas kedalam rumah dan Stanley Wilson dan keluarganya telah pergi.