
"Tunggu kakak kembali"
Di taman hiburan terlihat seorang pria tampan tinggi berotot ber setelan jas dan wanita yang sangat cantik duduk bersama seraya menata dua gadis kecil yang sedang bermain.
"Helen, apa kamu yakin ingin aku membawanya ketempat itu?" Tanya pria itu mengalihkan pandangannya dari kedua kecil itu dan menatap mata wanita itu, dia ibunya Ashley dan Mary, Helen.
Mata Helen tidak sedetikpun terali dari kedua putrinya "bagaimana aku bisa melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak yakini?!"
Melihat mata Helen yang memerah, pria itu menghela nafas "dia sangat menggemaskan, wajahnya sangat mirip dengan ayahnya" ucap pria itu.
Wajah kecil itu memang sangat menggemaskan, sekarang pun tetap menggemaskan walaupun dia tidak lagi memiliki rambut panjang dan merubah gaya berpakaian seperti anak laki-laki.
Mata wanita itu memerah "aku tahu, tubuhku tidak bisa lama lagi bertahan untuk selalu melindungi mereka, ini satu-satunya jalan karena kedepannya saat aku pergi mereka bisa menjaga diri mereka sendiri" ucapnya dengan berurai air mata.
Dia menyentuh wajahn basahnya, matanya menatap sendu pada gadis kecil yang berpakaian anak laki-laki itu, hatinya hancur. Dia masih sangat kecil, dia seharusnya dibesarkan di rumah kaca seperti gadis kecil yang lain.
"Adam, aku benci diriku sendiri yang lemah, benci diriku yang tidak bisa menjaga mereka. Mereka masih sangat kecil...." Ucapnya tertahan oleh isak tangisnya.
Pria itu memegang bahu Helen lalu menghela nafas "ini pasti sulit bagimu. Jangan khawatir, aku akan menjaganya"
Helen mengangguk lalu menghapus semua air matanya, hanya tersisa matanya yang Semerah darah.
"Ashley, Mary, kemari sayang" panggil Helen dengan melambai pada kedua putrinya.
Keduanya berlari ke arah Helen "ibu" lalu Ashley menatap pria tampan di samping ibunya "ini paman Adam teman ibu, ayo beri salam kepada paman Adam!"
Ucap Helen dengan lembut seraya mengelus kepala kedua putrinya.
Adam tersenyum lembut lalu menjawab "hai gadis kecil yang cantik"
Helen mengangkat Mary dan meletakkannya di samping pria itu. Helen berlutut dihadapan Ashley lalu mengulurkan tangan dan memegang kedua tangannya "ini paman Adam, orang yang akan membawa kamu pergi, seterusnya kamu harus mendengarkannya" Helen menatap mata biru cerah putrinya, mata sama persis dengan ayahnya.
Ashley mengangguk lalu tersenyum sangat manis "emm Ashley akan mendengarkan paman Adam, ibu jangan khawatir"
Helen memeluknya erat, jantungnya serasa diremas-remas, sangat sakit "Ashley, sayangku, kamu anak yang baik tetapi setelah sampai di sana ibu harap jangan pernah mengurus urusan orang lain. Dan satu pesan ibu, kembalilah hidup-hidup. Ibu menunggumu" ucapnya dengan air mata yang membendung di sudut matanya.
Ashley mengangguk berulangkali dan menepuk punggung Helen untuk menyakinkan dia. Adam yang melihat kejadian itu jadi tahu mengapa Helen berani mengirim putrinya ketempat itu. Ashley gadis kecil yang cerdas, peka, dan memiliki mental melebihi orang dewasa. Tiba-tiba Adam tersenyum lembut 'sungguh gadis kecil yang spesial'
"Dan ingat, mulai hari ini dan seterusnya kamu seorang pria, kedepannya orang-orang akan mengenal dan menyebut nama kamu Sean Wilson" ucapnya dengan berurai air mata, Helen semakin mengeratkan pelukannya.
Kini tiba saatnya Ashley pergi "Mary kecil jangan nakal, Mery kecil harus jaga di rumah. Tunggu kakak kembali" ucap Ashley lalu mereka berdua Mery berpelukan erat. Ashley kembali menatap ibunya lalu melambai padanya dan Mary kecilnya. Helen yang melihat itu melambai dan tersenyum, dia berusaha mati-matian menahan keinginannya untuk mengambil kembali Ashley-Nya.
Ashley terus melihat di kejauhan ibunya dan Mary kecil hingga tidak terlihat lagi barulah dia duduk tenang tanpa mengeluarkan suara. Adam masih bisa bisa melihat kesedihan, ketegasan dalam mata Ashley.
Helen pun memeluk Mary dan menangis dalam diam ketika sudah tidak melihat mobil yang membawa Ashley.
Tidak ada ibu di dunia ini yang mau berpisah dengan anaknya, tidak ada ibu yang merasa baik-baik saja dan merelakan kepergian anaknya.
Mery sangat sedih namun Helena berbohong jika kakaknya pergi bersekolah ditempat yang jauh dan jika sekolahnya telah selesai barulah Ashley kembali kepada mereka. Karena Mary masih kecil jadi mudah dibohongi, namun yang tidak akan Mery tau adalah saudara perempuannya tidak kembali selama bertahun-tahun.
Helen mengajak Mary pulang ke rumah karena hari sudah larut dan Mery perlu istirahat. Namun malam itu Mary menangis mencari Ashley untuk mencaritakan dongeng. Helen hanya memeluk, menemaninya dan menangis dalam diam.