Disguise Of A Girl Into A Boy

Disguise Of A Girl Into A Boy
Bab 14



Dua hari berlalu...


Mereka semua telah menerima kenyataan pahit itu dan kembali tenang seperti sebelumnya.


Saat ini Mary sedang bersiap-siap di kamar, memakai dress yang sederhana namun tidak bisa menutupi keindahan wajahnya.


Tidak berapa lama Emily Wilson menjemput Mary di kamarnya.


Setelah melihat penampilan Mary dan riasan tipis di wajahnya, Emily Wilson berhenti berjalan.


"Bibi, apakah baju ini tidak cocok di tubuhku?" Tanya Mary dengan wajah gelisah.


Emily tersenyum lembut lalu bergegas ke arah Mary yang sedang di depan meja rias.


"Tentu saja cocok, Mary kecil sangat cantik" ucap Emily Wilson sembari memegang kedua bahu Mary.


Mary menjadi malu saat mendengar pujian dari Emily Wilson "terimakasih bibi" ucapnya dengan malu-malu.


Kemudian mereka berdua bergegas turun ke bawa.


Saat melihat Ashley di luar, Mary berpamitan padanya.


"Hati-hati, Mary kecil hari ini sangat cantik. Kamu harus patuh pada bibi" ucap Ashley dengan senyuman dan mengelus pipi Mary.


"Em, em baiklah" ucap Mary sembari mengangguk seperti anak kecil.


Emily Wilson tersenyum melihat interaksi keduanya. Dia sangat bahagia karena dari yang dia lihat beberapa hari ini, Sean sangat menyayangi Mary dan sebaliknya.


"Baiklah Sean, ada yang kamu inginkan? Bibi akan membelinya untukmu" ucap Emily Wilson sembari memegang lengan Ashley.


"Ah tidak bibi, sekarang tidak ada yang aku butuhkan"


"Baiklah, jika kamu bosan carilah Kakakmu Louis" ucap Emily Wilson dan Ashley hanya mengangguk.


Setelah mobil yang ditumpangi Emily Wilson dan Mary sudah terlihat lagi, Ashley bergegas masuk kedalam rumah dan berjalan ke dapur untuk mengambil air es karena cuaca yang sangat panas.


Saat sedang minum air, Louis Wilson masuk ke dapur. Mereka bertatapan lalu Louis berjalan ke arah kulkas dan mengambil air es.


"Kakak Louis, tidak pergi bekerja?" Tanya Ashley dengan santai.


"Sedang libur" dua kata yang diucapkan Louis Wilson lalu meminum airnya.


Ashley yang melihat postur pria didepannya menaikan alis sebelah.


Tuhan sangat tidak adil pada yang lain, pria di ini begitu sempurna. Sangat tampan seperti dewa Yunani. Apa Tuhan tidak merasa bersalah saat menciptakan makhluk yang sempurna ini?


Bahkan saat meminum air pun posturnya sangat anggun dan elegan, ditambah aura kuatnya yang tidak berkurang saat memakai pakaian kasual.


Louis Wilson bergegas keluar rumah menuju taman luas di samping rumah, sementara Ashley mengikutinya dan duduk bersama Louis bangku taman.


Melihat Louis Wilson yang asih terlihat keren saat sedang sibuk dengan tabletnya, Ashley tidak bisa menahan suatu pertanyaan dalam pikirannya beberapa hari lalu.


"Kakak, apakah kamu sudah punya kekasih?" Tanya Ashley sembari mencondongkan tubuhnya mendekat pada Louis Wilson.


Dia mencium wangi mint dan Cendana yang kuat darinya, apalagi aroma tubuhnya yang sangat membuat nyaman.


Tangan Louis Wilson berhenti di atas tablet dan melirik pemuda yang membuat ulah disampingnya "tidak perlu" ucapnya dengan suara rendah lalu melanjutkan kegiatannya.


"Kakak Louis, kamu sedang tidak menipuku kan?" Tanya Ashley dengan nada menuduh.


Louis Wilson menoleh dan menatapnya dengan mata yang dalam "apa untungnya bagiku?" Tanyanya dengan suara rendah.


"Mereka merepotkan" ucapnya sembari mengerutkan alisnya dalam-dalam.


Ashley terkejut dengan pertanyaan ' pria aneh'


"Kakak, jika kamu selalu bersikap dingin seperti ini, kamu akan melajang seumur hidup" ucapnya dengan sedikit tawa.


Louis Wilson menarik nafas panjang lalu menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin. Rasanya dia ingin memukul pemuda ini, mulutnya sangat jahat dan senyum itu meminta pukulan.


Ashley yang mendapat tatapan membunuh dari Louis Wilson tidak sedikitpun terganggu, dia justru merasa sangat menyenangkan menjahili pria dingin ini.


Sembari menahan tawa, Ashley kembali melontarkan pertanyaan yang membuat suasana semakin dingin "bagaimana tipe gadis ideal kakak?


Tidak mendapat jawaban dari Louis Wilson, dia memberi pertanyaan yang membuat suasana dingin jatuh ke titik beku.


"Apakah kakak gay? Menyukai sesama pria?"


Louis Wilson merasa ingin mencabik-cabik anak ini, tetapi karena mengingat pemuda nakal ini putra dari ayahnya dia tidak melakukan.


"Berdiri" perintah Louis Wilson.


Ashley menatapnya dengan tanda tanya.


"Berdiri" dia mengulanginya lagi.


Ashley pun berdiri santai dengan kedua tangan dibelakang kepalanya.


Louis Wilson kini terlihat seperti iblis " berdiri dengan benar" ucapnya dengan suara yang sangat rendah.


Ashley menurutinya namun ucapan Louis Wilson selanjutnya membuatnya ingin muntah darah.


"Lari keliling taman 10 putaran sekarang" ucapnya sembari menekan kata terakhir.


"Kakak, bagaimana kamu bisa melakukan ini pada adik laki-lakimu sendiri?" Tanya Ashley dengan tidak percaya.


"15 putaran, jika kamu masih berbicara aku akan mengambil skateboard yang kemarin kakek belikan padamu" ancamnya.


"Baiklah, baiklah, aku berlari sekarang" ucap Ashley dengan menggertakkan giginya.


Louis mengawasi berlari memutari taman yang luas itu, matanya selalu mengikutinya tanpa mengalihkan pandang darinya.


Setelah 9 putaran, dia mendengar suara teriakan pemuda itu dari kejauhan.


"Kakak yang tidak memiliki hati nurani, kamu akan melajang seumur hidup"


Beberapa pelayan yang membersihkan taman dan halaman sekitarnya, para pengawal berbadan kekar dan berwajah lurus itu bahu mereka sampai bergetar karena menahan tawa, bibir dan wajahnya bergerak-gerak.


Sungguh ini pertama kali, tuan muda Louis Wilson dikatai dan dikutuk sedemikian rupa, mereka mendapat pengetahuan baru kalau putra kedua pemimpin yang baru tiba ini sangat berani.


Louis Wilson sangat ingin memukul pemuda itu namun yang dia lakukan hanya mengeraskan rahangnya.


"5 putaran lagi" perintahnya tanpa rasa kasian sedikitpun.


Ashley menggertakkan giginya dan terus berlalu dengan kemauan yang kuat sebab dia sangat malas untuk bergerak, dia sedang menstruasi dan nanti itu akan sangat menyakitkan.


Saat Emily Wilson dan Mary kembali, mereka dihadapkan pada pemandangan di taman yang sangat lucu menurut mereka.


Ashley berdiri didepan Louis Wilson memegang tablet menghadap Louis Wilson dengan hanya satu kaki.


Mary tertawa sampai air matanya merembes keluar, sedangkan Emily yang anggun dan elegan tidak bisa menahan posturnya, sungguh pemandangan yang sangat menggelitik.