
"hati-hati, Mary kecil harus patuh" ucap Robert Wilson sembari mengusap kepala Mary, lalu menatap Ashley dengan mata tegas "Sean, jaga adikmu"
"Baiklah kakek" jawab keduanya.
Ashley melirik 10 pengawal yang berdiri didepannya "tapi kami sepertinya hanya akan membawa beberapa dari mereka"
"Tidak, kali ini kalian berdua akan pergi jauh jadi bawalah mereka semua"
Robert Wilson memeluk Mary dengan kasih sayang, Mary kecilnya adalah gadis yang baik, sangat rajin dan perhatian, siapapun yang bersamanya pasti akan begitu menyayanginya, namun itu juga mungkin karena ikatan darah mereka.
Beberapa hari ini Mary kecilnya selalu menyiapkan teh hijau favoritnya setelah melihat kendaraannya tiba pintu gerbang.
Mary memeluk kakeknya, dia juga sangat menyayanginya. Kakeknya adalah kakek paling baik di dunia, dia selalu memanjakan Mary. Setelah pulang dari perusahaan, dia selalu menyempatkan diri membeli sendiri hadiah untuk Mary.
Dan akhirnya mereka pergi dengan dikawal oleh 10 pengawal. Setelah sampai di kota B mereka membuat orang-orang di bandara berpikir jika mereka selebriti yang yang sedang dikawal untuk pergi syuting.
"Astaga, sangat tampan. Oh gadis kecil itu juga manis"
"Apakah mereka selebriti yang baru debut?"
"Pemuda itu selebriti dari agensi mana?"
"Ah jika itu benar, setelah pulang aku harus mencarinya di internet"
"Cepat, ambil fotonya"
Beberapa gadis mengangkat ponsel mereka namun sebelum mengambil foto, beberapa pengawal mengelilingi Ashley dan Mary untuk memblokirnya.
Akhirnya setelah beberapa mobil yang membawa mobil itu pergi pun gadis-gadis itu tidak mendapatkan apa-apa.
Mereka sampai apartemen tanpa gangguan, Ashley dan Mary hanya mengambil beberapa barang penting dan barang yang mereka butuhkan.
Ashley keluar dari dalam kamarnya dengan menarik koper kecil sedangkan tangan satunya menggenggam sebuah flashdisk hitam kecil.
"Kakak, ibu memintaku memberikan ini padamu setelah kamu kembali" ucap Mary sembari memberikan flashdisk itu pada Ashley.
Ashley meriamnya dengan tenang, seakan dia sudah menduga ini. Sebenarnya dia samar2 telah menduga ini setelah tadi malam Mary meminta untuk mengambil beberapa barangnya di apartemen.
Jika beberapa barang yang tidak terlalu penting, dia bisa meminta orang lain mengambil untuk nya.
Ashley menyimpan flashdisk itu di saku jaketnya lalu mengulurkan tangannya menepuk kepala Mary "Mary kecil, terimakasih" ucapnya dengan senyum kecil.
Mary mengangguk dengan gemas namun tiba-tiba perutnya berbunyi, wajah Mary memerah karena malu sedangkan Ashley menatapnya dalam diam lalu tertawa nyaring.
"Mary kecil pasti begitu kelaparan, ayo pergi makan, hari ini kakak akan memberimu makan sepuasnya" ucapnya sembari merangkul pundak Mary dengan satu tangan dan tangan lainnya menarik koper lalu berjalan keluar.
Pengawal membawa Ashley dan Mary ke sebuah hotel bintang lima, restoran di sana menyajikan berbagai makanan mewah barat maupun makanan lokal.
"Ayo kita semua makan" ajak Ashley dengan ramah.
Pengawal itu sangat sopan pada Ashley setelah mendapat perhatian yang ramah dari tuan muda mereka.
Mary dengan keras kepala membawa mereka ikut makan, mereka akhirnya ikut tanpa daya dengan gadis manis itu.
"Pesan apapun yang kalian inginkan" ucap Ashley dengan ramah.
Setelah makan Ashley pergi ke toilet, namun sebelum sampai dia melihat beberapa pria menarik-narik seorang gadis seumuran dengannya.
Dia mengawasi tanpa berniat membantunya, gadis itu menampar laki-laki itu dan terus berteriak untuk dilepaskan.
Pria itu tertawa "hahaha heii, aku tahu kamu juga menginginkannya. Ayo aku akan membuatmu puas dan menikmatinya"
"Ah tidak, lepaskan aku, lepaskan" teriak gadis itu dengan suara lemah.
Ashley menatap sekeliling dan tidak menemukan cctv, akan merepotkan jika menghajar mereka di lorong karena dia datang bersama Mary.
"Ayo sayang, setelah aku menabur benihku kamu pasti menikah denganku" pria itu menyeringai dengan mata rakus.
"Tidak, lepaskan aku, aku mohon. Aku akan beri apapun yang kamu minta" ucap gadis itu memohon dengan mata merah menahan tangis.
"Sayang, kamu pikir aku bodoh. Tapi tenang saja semu temanku juga akan memuaskan mu" ucapnya dengan tawa mesum bersama teman-temannya.
Mereka membawa masuk gadis itu kedalam ruang pribadi, Ashley mengikutinya.
Ashley mendorong pintu kuat hingga terbuka, namun pria yang sedang mencium dan meraba-raba tubuh gadis itu tidak menyadari kedatangannya sehingga terus melanjutkan dengan paksa penolakan gadis itu.
Gadis itu hanya menangis dengan ketakutan dan pasrah, tubuhnya telah melemah karena efek obat perangsang itu, dia hanya berharap seseorang datang menolongnya.
Tiba-tiba terdengar suara marah teman pria itu "siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di sini bajingan? Apa kamu mencari kematian?"
Melihat wajah pemuda tampan dan cantik Ashley membuat pria itu berfantasi liar dengan tubuhnya, tidak masalah dia pria atau wanita itu baik-baik saja selama pemuda itu secantik dia.
"Heii manis, mau bermain-main dengan kakak? Aku seorang ahli di ranjang" ucapnya dengan senyum mesum.
Ashley hanya menatap mereka dengan santai, dia tersenyum kecil dan itu membuat mereka marah.
"Heii nak, pergi dari sini sebelum kami meng..."
Ucapannya kalah cepat dengan kaki Ashley, dia mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi lalu menendang wajah pria itu dengan kuat hingga meninggalkan bekas sepatu di wajahnya.
Pria itu terbang dan badannya membentur sofa hingga terbalik. Melihat temannya dipukul seperti itu, beberapa diantaranya menyerang secara bersamaan.
Pria yang sedang mencium gadis itu meremas *********** sembari menonton perkelahian mereka.
Salah satu pria melayangkan tinjunya ke arah wajah Ashley namun hanya beberapa inci Ashley menangkap tangannya, memutarnya hingga terdengar bunyi patah tulang.
Pria itu berteriak dengan menyakitkan, Ashley menonjok perutnya lalu mendorong pria itu dengan kuat ke salah satu temannya hingga mereka berdua terjatuh terbentur tembok.
Salah satu memeluk Ashley dari belakang agar temannya bisa leluasa memukulnya, Ashley memanfaatkan dengan mengangkat kedua kakinya dengan berat badan bertumpu pada pria yang memeluknya lalu menendang dada pria didepannya hingga dia terbang beberapa meter.
Ashley mematahkan jari pria yang memeluknya hingga patah lalu memukulnya bertubi-tubi, dia berhenti setelah pria itu tidak sadarkan diri.
Pria yang duduk di sofa menatapnya dengan wajah pucat, sungguh dia baru pertama kali melihat seorang pemuda yang memukul orang begitu brutal.
Melihat teman-temannya yang tergeletak di lantai tidak sadarkan diri membuatnya bergidik ketakutan, dia kembali menatap pemuda tampan yang tangannya berlumuran darah didepannya.
"Si-siapa kamu?"
Sementara gadis disampingnya menggerakkan tubuhnya dengan tidak nyaman, wajahnya memerah seperti udang rebus, nafasnya tersengal-sengal, berkeringat begitu banyak. Ashley langsung tahu jika itu pengaruh obat perangsang.
"Ak-aku akan pergi jadi... jadi jangan pu-kul aku" ucapnya terbata-bata.
Saat pria itu ingin melarikan diri, Ashley mengangkat kakinya dan memberikan tendangan berat pada pinggangnya.
Ashley mendekat lalu menendang dadanya tanpa ampun "akh ug ak-u mo-mohon jangan pukul aku" pria itu memohon sembari meringis kesakitan.
Ashley meraih kedua tangannya lalu mematahkannya "Arg sakit-sakit"