
Tatapan Robert Wilson tertuju pada Mary yang sedang tersenyum dengan malu-malu dengan mata cerah, dia tersenyum sebab Mary sangat cantik dan imut dan wajahnya sangat mirip dengan putra keduanya terutama warna bola mata cokelat dan bibir serta hidungnya.
Tatapan beralih pada pemuda yang tenang itu, pemuda itu sangat tampan, dia memiliki wajah berdarah campuran namun rambutnya hitam seperti milik putra keduanya.
Pemuda itu memiliki profil yang sangat bagus, alis indah, buluh mata lentik, warna bola mata biru cerah, hidung tinggi, bibir tipis merah merona, bentuk wajahnya juga sangat bagus, kulit lembut seputih salju. Robert menatap pemuda yang memiliki fitur indah itu, dia menarik nafas ' wajahnya sangat indah, tidak mirip putra keduanya ataupun wanita itu, dia hanya memiliki bola mata berwarna biru cerah seperti ibunya"
Ashley sangat tenang, mata tajam Robert tidak membuatnya takut sedikitpun. Namun di kedalaman matanya terdapat sesuatu yang sangat dingin.
Kemudian Robert Wilson melihat ada sedikit senyum pemuda itu, entah bagaimana dia merasa senyum itu sangat dingin tanpa kehangatan.
"Namamu panggilanmu Sean?" Tanya Robert Wilson dengan menatap tepat pada mata Ashley.
Ashley berdiri lalu menunduk sedikit dengan sedikit senyum lalu menjawab "benar, namaku Sean?"
Robert berdiri seraya merentangkan kedua tangannya "kemarilah Sean, Mary kecil" ucapnya dengan suara lembut.
Mary melirik Ashley dan setelah mendapat anggukan dari Ashley, mereka berdua pergi dan menyambut ribet Wilson.
Mereka bertiga berpelukan dan Robert terlihat sangat bahagia dengan kedua cucunya dalam pelukannya.
Emily menatap pemandangan didepannya dengan senyum yang sangat indah sedangkan pria itu hanya menatap dengan tatapan dalamnya.
Setelah beberapa saat mereka mengobrol dengan santai Robert memperkenalkan diri juga pria yang bersama mereka.
"Namaku Robert Wilson, mulai sekarang panggil kakek. Pria di depanku adalah putra pertama dari ayah dan ibu kalian bernama Louis Wilson, dia adalah kakak laki-laki tertua kalian jadi mulai sekarang panggil dia kakak Louis" setelah Robert memperkenalkan Sean dan Mary menatap pria bernama Louis dengan tatapan terkejut namun Ashley tidak menunjukan di wajahnya dan menutupi dengan wajah tenangnya.
"Hello kakak Louis" sapa Ashley dan Mary dengan sopan.
Louis hanya mengangguk ringan dengan wajah tanpa ekspresi "hello" ucapnya satu kata.
Robert tersenyum puas "bagus, Louis memang seperti ini, dia tidak banyak berbicara namun di tidak membenci kalian berdua" ucapnya lalu menatap Ashley dan bertanya "Sean, dua Minggu belakangan kamu kemana?"
Pertanyaan Robert Wilson membuat Ashley menunduk sehingga tidak ada yang melihat ekspresi di wajahnya.
Kembali pada dua Minggu lalu....
Ashley mendapat informasi jika seseorang yang dia cari selama beberapa tahun ini muncul di sebuah club malam termewah negara A.
Ashley pergi dengan beralasan pada Mary bahwa jika dia memiliki urusan yang harus diselesaikan beberapa waktu.
13 hari di negara A berlalu dan Ashley akhirnya mendapatkan mereka setelah menunggu begitu lama.
Saat ini Ashley berbaring tengkurap di balkon kamar hotel dan mengarahkan teropong pada beberapa mobil mobil yang memasuki tempat parkir bawah tanah.
Menghitung waktu, Ashley sekali lagi memeriksa senjata sniper itu dan lalu mengarahkan ke sebuah ruangan di bangunan di seberang jalan hotel tempatnya berada.
Ashley tahu persis di ruangan mana orang-orang itu pergi sebab sehari sebelumnya dia telah mendapat informasinya namun dia tidak mengetahui tujuan mereka ke sana.
Tempat parkir bawah tanah club malam termewah di kota A, beberapa pria berjas bergegas ke dalam club dan menuju sebuah ruang VIP.
Di ruangan VIP itu mereka mendiskusikan sesuatu.
"Aku sudah membawa barang itu" ucap seorang pria botak berotot dengan bekas luka panjang menakutkan di wajahnya, panjang bekas luka dari alis hingga rahang.
Pria botak itu mengeluarkan sebuah tas jinjing penuh dengan bubuk putih, kemudia seorang pria paruh baya yang terlihat halus mengambil satu bungkus dan mengendusnya lalu tersenyum.
"ah tentu, kamu selalu membawa barang dengan kualitas tinggi" ucapnya lalu meletakkan sebuah koper sedang yang penuh dengan uang "silahkan dihitung"
"Tidak perlu, kami akan pergi. Lalu ucapkan terimakasih ku pada bos" ucapnya meraih koper berisi uang itu dan memberikan pada bawahannya.
Pria paruh baya itu tersenyum lalu berjabat tangan dengan pria itu "tentu, senang bekerjasama denganmu"
Semua orang dalam ruangan dibuat terkejut dengan pecahnya kaca jendela lalu segera mengangkat senjata dan mengarahkan pada bangunan di seberang jalan, sementara pria botak itu hanya berdiri kaku lalu darah segar mengalir dari mulut dan hidungnya.
Semua orang terkejut dengan keadaan pria botak itu, bawahannya segera memapah tubuh pria itu keluar ruangan.
Ashley sangat puas dengan hasil bidikannya, dia yakin pria itu mati dengan peluru yang bersarang tepat di jantungnya.
Dia mengemasi barangnya dan segera turun menggunakan tangga darurat, tida lama dia sudah mencapai pintu hotel namun beberapa pria yang bergegas ke sana untuk menangkap dia tidak mengenalinya.
Siapa yang akan mencurigai seorang gadis yang sangat manis itu, Ashley memakai wig pirang panjang, kemeja putih, rok pendek biru tua di atas lutut dan sepatu sneaker putih.
Ashley sangat cantik berpakaian seperti itu ditambah dengan wajah berdarah campurannya, maka dari itu tidak ada yang akan curiga jika dia menggunakan wig berwarna pirang.
Beberapa pria garang berotot itu berjalan melewatinya dan bergegas ke atas menggunakan lift.
Ashley berjalan santai dengan senyum miring ' dasar bodoh'
Dan Ashley kembali ke negara B tanpa gangguan.