
Samar-samar Ashley mendengar suara Louis Wilson di kejauhan, mungkin dia sedang menelpon.
Ashley menundukkan kepala sehingga tidak diketahui ekspresi macan apa di wajahnya, sementara itu terlihat darah menetes tanpa henti yang menyebabkan kaos berwarna putih telah basah dengan darah segar dan tempatnya berdiri pun terdapat banyak tetesan darah.
Louis Wilson bergegas mendekati Ashley, dia bisa mencium aroma darah segar yang sangat pekat.
Ashley menutup mata untuk menyembunyikan warna bola mata dan aura membunuh di matanya.
Louis Wilson memegang dagu Ashley lalu memutar menghadapnya "apa yang kamu lakukan disini? Dan kenapa kamu berurusan dengan orang seperti itu?" Tanyanya dengan suara rendah yang sangat dingin.
Ashley membuka kelopak matanya lalu menatap Louis Wilson dengan menyelidik.
Melihat darah yang masih mengalir deras di pelipisnya membuat Louis Wilson mengerutkan alisnya, karena kehilangan banyak darah wajah Ashley begitu pucat.
Ashley tersenyum main-main "aku tadi membantu bibi di butiknya" jawabnya lalu menyeringai dengan nakal sembari menunjuk pelipisnya "ini luka yang didapat remaja berani kebanyakan"
Loui menatapnya dalam diam, dia geram dengan pemuda didepannya, wajahnya begitu pucat dan dia masih mau bermain-main.
"Kakak, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Ashley mengalihkan pembicaraan dengan mulus "bukankah di jam kamu di kantor?"
"Diam" perintah Louis Wilson lalu menyeret menyeret pemuda nakal itu bergegas ke arah mobil diparkir.
Ashley tidak tahu harus tertawa atau menangis, dia menampilkan ekspresi cemberut "kakak, bagaimana bisa kamu membawaku seperti ini?! Aku bukan seekor kucing"
Mendengar keluh ketidakpuasannya, Loui Wilson menahan amarah agar tidak memukul anak ini.
Namun saat melihat wajah pucat nya yang berlumuran darah membuat Louis Wilson merasa lebih tidak nyaman, dia mempercepat langkahnya lalu melemparnya ke kursi penumpang belakang.
Sekertaris Keith yang mengendarai mobil terkejut melihat keadaan pemuda yang dibawa tuan muda Wilson, dia segera memberi tisu untuk menghentikan pendarahan.
Ashley mengucapkan Terimakasih lalu mengambil beberapa lembar untuk menekan luka dan membersihkan wajahnya.
"Kotak p3k" ucap Louis Wilson dengan wajah gelap.
Sekertaris Keith dengan gugup menyerahkan kotak p3k pada Louis Wilson.
Louis Wilson memutar wajah Ashley untuk membantunya untuk mengobati lukanya, namun Ashley terkejut lalu menarik menarik wajahnya kebelakang.
Louis Wilson menatapnya dengan tatapan dingin, Ashley menelan ludahnya dengan susah payah "kakak, ini bukan luka serius, hanya goresan kecil. Aku sendiri bisa melakukannya"
"Konyol, jangan membuat masalah, duduklah dengan benar" ucap Louis Wilson dari sela-sela giginya, jika pemuda nakal ini tidak terluka dia pasti telah memberi pelajaran pada anak tidak patuh ini.
Ashley mendekat dan bersandar dengan santai, sementara sekertaris Keith hampir mati ketakutan.
Sungguh versi baru bosnya yang ini sangat mengejutkan hingga menakutkan, bagaimana bisa dia merawat seseorang dengan begitu sabar.
Ashley meringis saat Louis Wilson menekan pelipisnya dengan sedikit kekuatan "kakak, bisakah kamu sedikit lembut?" Dia mengeluh dengan mata lebar.
"Disini anak nakal tidak punya suara untuk berbicara, kalau kamu bersuara lagi aku akan memberi garam pada lukamu" ancam Louis Wilson.
Ashley tidak percaya dengan apa yang dia dengar "kakak, bagaimana kamu bisa melakukan itu padaku? Oh tunggu, aku bukan anak nakal" kalimat terakhirnya terdapat nada tidak berdaya.
Louis Wilson sekali lagi membekas dengan kuat "Sean Wilson, kalau kamu berbicara lagi aku akan mematahkan kakimu"
"Uh" Ashley terdiam.
Namun sekertaris Keith dibuat terkejut sekali lagi mendengar nama belakang pemuda yang di bawa tuannya. Selama ini yang semua orang tahu, Louis Wilson seorang anak tunggal, bagaimana bisa tiba-tiba seorang adik laki-laki muncul.
Setelah lukanya diobati, Ashley telah berganti pakaian dan saat ini mereka telah sampai didepan restoran mewah.
Seperti biasa, Ashley tersenyum pada beberapa gadis yang mentalnya. Gadis-gadis itu tidak tahan dengan pesonanya, pria yang lebih tinggi terlihat sangat dingin, sementara yang sedikit pendek darinya sangat manis, tampan, cantik.
Louis Wilson dibuat geram dengan kegenitan anak di sampingnya, kebiasaan buruk ini harus dirubah maka setelah pulang harus menghukumnya.
Mereka memesan tempat di ruang VIP dengan sekertaris Keith juga bersama mereka.
Saat pelayan masuk untuk menanyakan pesanan mereka, Ashley tersenyum manis padanya. Semua itu tidak luput dari penglihatan Louis Wilson, dia semakin geram dengan kegenitannya.
Saat makanan disajikan, Ashley tidak melihat ikan dan lobster yang dipesannya, semua didominasi oleh sayur dan daging namun satu yang membuatnya menatap horor, depannya semuanya sayuran dan wortel.
Ashley menatap Louis Wilson dengan curiga "kakak, dimana ikan pesanku?"
Louis Wilson menatapnya dengan acuh tak acuh "mana kutahu, makan saja yang ada. Perbanyaklah makan sayuran, itu bagus untuk pertumbuhan mu" ucapnya tanpa dosa.
Ashley memakan sayuran yang terdapat wortel dengan wajahnya frustasi, sekertaris Keith menatapnya dengan heran sementara Louis Wilson tetap dingin namun dalam hatinya dia begitu puas dengan ekspresinya itu.
Namun Louis Wilson menatapnya dengan curiga saat Ashley menatap daging-daging itu dengan tatapan jijik, selama beberapa hari ini dia melihat kalau pemuda ini begitu membenci daging. Lain kali dia akan bertanya padanya.
Setelah makan mereka pulang, Ashley menghela nafas lega karena setelah sampai rumah, Louis Wilson tidak menanyakan apapun padanya.
Saat makan malam, Mary dan Robert Wilson terlihat khawatir dengan luka di pelipis Ashley, namun Ashley menenangkan mereka dengan memberitahu jika itu hanya luka gores kecil.
Setelah makan malam, mereka pergi ke ruang keluarga untuk mengobrol.
Robert memberitahu Ashley dan Mary kalau 4 hari lagi mereka akan mulai masuk sekolah, Mary sangat gembira sementara Ashley terlihat biasa saja.
Mary tiba-tiba teringat barang-barangnya yang masih di apartemen kota B, dia meminta ijin Robert Wilson agar besok bersama Ashley pergi mengambilnya.
Robert Wilson setuju tetapi dengan syarat mereka pergi ditemani beberapa pengawal.