Disguise Of A Girl Into A Boy

Disguise Of A Girl Into A Boy
Bab 5



"Berani-beraninya menyakiti orangku"


Sesampainya di apartemen milik Ashley, dia melepas kancing kemejanya satu persatu lalu meletakkannya di sofa.


Melihat Ashley yang hanya memakai kaos putih lengang pendek itu membuat Mary terpesona, Ashley sangat tinggi, bertubuh ramping, berbadan tegak, ditambah dengan wajahnya yang putih halus itu, gadis manapun pasti tergila-gila padanya.


Tidak ada yang akan percaya jika dia memberitahu mereka jika pemuda didepannya ini seorang gadis. Cara berjalannya yang santai seperti model profesional, mata biru laut itu sangat dingin namun namun sangat menawan, bila menatap lebih lama terasa seperti mereka dihipnotis.


Ashley tidak lebih buruk dari aktor yang tampil di televisi, "dia sempurna" hanya dua kata itu yang bisa menggambarkan Ashley.


"Hei, Mary kecil, apa yang kamu pikirkan?" Tanya Ashley sambil menunduk menyamakan tinggi mereka.


Mary yang terkejut oleh suara Ashley pun melebarkan matanya 'kakaknya sangat tampan'


Merasa malu dengan pikirannya, Mary memandang ke lain arah namun matanya menangkap bekas luka panjang di pinggang kakaknya.


Ashley lemas melihat itu, dia takut bekas itu pasti dihasilkan dari luka yang sangat parah "kakak"


Mary mengulurkan tangannya dengan gemetar dan menarik ujung baju Ashley ke atas, dia kembali di kejutkan dengan bekas luka yang lebih besar dan banyak lagi bekas kecil.


Matanya menelusuri Legan Ashley yang terdapat luka yang belum sepenuhnya mengering, dan ya air matanya segera tumpah membasahi wajahnya.


Mary terduduk di lantai "kakak... kakak... Kenapa luka..." dengan kedua tangan menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu, semua tubuhnya bergetar, kakinya melemah.


Hatinya sangat sakit, kakaknya yang baik hati, kakaknya yang penyayang, kenapa dia yang harus menanggung semua ini.


Ashley mengangkat Mary dan memapahnya ke sofa, dia menarik Mary dalam pelukannya "Mary kecil, ini bukan apa-apa, tidak sakit"


Justru Ashley yang merasa bersalah, merasa sangat tidak berguna. Kejadian tadi membuatnya sangat merasa bersalah, takut, cemas, gelisah. 'Dan bajingan itu, jangan berharap dia akan lolos setelah apa yang telah dia lakukan.'


"Ayolah Mary kecil, kenapa setelah melihatku kamu jadi sangat banyak menangis? Kakak kembali saja" ucap Ashley dengan bercanda.


"Kakak, jangan coba-coba meninggalkan aku lagi" teriak Mary kencang di wajah Ashley.


Ashley terkejut sesaat lalu tertawa "hahaha baiklah, baiklah. Ayo bantu masak, kakak sudah lapar"


Setelah selesai makan, Ashley masuk ke sebuah kamar dan diikuti oleh Mary.


"Mulai sekarang, ini akan menjadi kamar kamu" ucap Ashley lalu mengusap lembut rambut Mary.


Mary mengangguk dan memeluk Ashley "kakak, jangan melakukan hal yang akan melukaimu lagi, aku sangat takut"


Ashley tersenyum lembut "baiklah, buka bajumu dan tunjukan pada kakak, biarkan Kaka memeriksa jika ada yang terluka"


"Ug kakak, payudara dan selangkanganku sakit" ucap Mary dengan menahan air matanya.


Saat di club' malam dia tidak menyadarinya, ternyata pria itu telah melukai ************ Mary hingga terluka.


Mary tertidur setelah diobati. Ashley keluar apartemen dengan wajah dingin dan niat membunuh. Dia memakai pakaian yang sangat kontras dengan warna kulitnya, celana jeans hitam, Hoodie hitam, dan sepatu hitam.


Menggunakan skateboard dia meluncur dengan cepat, pejalan kaki tidak bisa tidak melihatnya hingga menghilang dari pandangan.


"Tampan" gumam seorang gadis tanpa mengedipkan mata.


"Sangat tampan" tambah gadis disebelah dengan kedua tangan memegang pipinya yang merah.


Yang lain mengangguk "apakah kamu mengenalnya? Siapa namanya?"


"Entahlah, kuharap bisa bertemu lagi dengannya" ucap gadis itu dan diangguki yang lain.


Disebuah warnet seorang pemuda sedang menekan sangat cepat tombol komputer dengan senyum menakutkan.


Barisan angka muncul lalu menampilkan pengawasan seluruh rumah besar itu, terlihat seorang pria yang kaki dan tangannya di gips, perban hampir di seluruh tubuhnya serta wajah lebam. Bersandar pada mobil lalu seorang pria kekar meletakkannya kursi roda dan memapah pria itu untuk duduk diatasnya.


Ashley yang sedari menonton itu tersenyum dingin dan bergumam "beraninya melecehkan adik Perempuanku, cari mati."


Setelah selesai dengan kamera pengawas itu, Ashley mendorong skateboard ke rumah pria itu.


Jam satu pagi, pria ditempat tidur itu membuka mata dengan terkejut ketika mendapati seseorang berada didalam kamar sedang berdiri dihadarapannya dan menatapnya dengan niat membunuh.


Saat pria itu ingin berteriak memanggil bodyguard, dia merasa sakit yang amat sangat menyengat di sebelas kiri pipinya dan terjatuh dilantai. Jangan ditanya, itu pukulan berat yang sangat menyakitkan hingga membuatnya merasa pusing sesaat.


Ashley menarik rambut pria itu dengan kuat hingga membuatnya mendongak kesakitan.


"Brengsek, berani-beraninya menyakiti orangku. Ini untuk apa yang sudah kamu lakukan padanya"


Ucapnya menggertakan gigi.


Pria itu meronta-ronta namun dengan kondisinya saat ini semuanya sia-sia, ingin berteriak namun rahangnya bergeser dan itu sangat sakit. Dia tidak menyangka jika orang lain mendahului mencari dia, pada awalnya berpikir untuk memerintah bodyguard-nya memberi pelajaran pada gadis itu dan membunuh pemuda yang telah memukulnya.


Ashley menyeretnya kedalam kamar mandi dan mengisi air di bak hingga penuh. Pria itu meronta minta di lepaskan namun Ashley menekan kuat kepalanya masuk kedalam air.


Ashley menekan masuk kepalanya dalam air lalu setelah beberapa menit dia menariknya kembali, Ashley melakukannya berulang kali hingga pria itu berhenti meronta.


Pria itu telah mati kehabisan nafas didalam air, Ashley hanya menatap dingin tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


***


Ug pengen juga punya kakak kayak Ashley, Mary kecil sangat beruntung.😍