
Kedua tangan gadis itu mencengkeram jaketnya sangat kuat hingga jarinya memutih, dia menggertakkan giginya sembari menunduk dalam-dalam.
Ashley mendekat berdiri tepat didepannya, gadis itu hanya melihat kaki jenjang itu dan tidak berniat mengangkat kepalanya.
Dia sangat kesakitan, sangat tersiksa menahan gejolak dalam dirinya.
Ashley menatapnya lama lalu mengangkat dagu gadis itu dengan jari-jarinya "siapa namamu?"
"Sa...rah, Sarah Johnson" ucapnya lalu mengangkat kepalanya.
Jari-jarinya yang menarik-narik jaket itu berhenti, dia terkejut saat mata mereka bertemu, walaupun dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya namun akal sehatnya masih ada dan wajah pemuda di Caffe itu masih sangat segar dalam ingatannya. ( Chapter 11)
Benar, ternyata pemuda di Caffe itu, dia tidak menyangka akan bertemu dengan pemuda itu dengan cara seperti ini.
Saat itu dia mengangumi nya pemuda ini karena sangat tampan namun tidak sampai melebihi itu, namun saat ini dia sepertinya benar-benar mencintainya.
Ya, saat pertama kali melihatnya dia hanya mengangumi nya namun pada saat kedua kalinya dia mencintainya.
"Kuantar ke rumah sakit ?" Tanya Ashley dengan ramah namun Sarah hanya menatapnya.
Setelah beberapa saat tidak mendapat respon darinya, Ashley menunduk mensejajarkan tinggi mereka "apa kamu mendengar ku?"
Sarah Jhonson mengangguk dengan malu "iya, ma-maaf merepotkan"
Ashley merangkul Sarah Jhonson lalu pergi keluar.
Ashley menelpon Mary, memberitahu jika dia masih memiliki urusan dan memintanya bersama pengawal menunggunya di hotel karena penerbangan mereka 3 jam lagi.
Ashley menunggu diluar ruang pemeriksaan, dokter keluar dan memberitahu jika pasien sedang tidur, akan sadar beberapa jam lagi setelah diobati.
Ashley tidak bisa menunggu sebab tidak lama lagi jam menunjukan pukul 4 sore, Ashley membayar administrasi lalu pergi.
Rombongan Ashley telah sampai di rumah dan melakukan kegiatannya masing-masing.
Sedangkan di rumah sakit kota B pria bernama Brian Lewis yang dipukul oleh Ashley sedang memerintahkan anak buahnya untuk mencari informasi tentang Ashley, dia bersumpah akan membalas orang gila itu.
Sarah Johnson yang sadarkan diri bertanya-tanya dimana pemuda itu.
Saat dokter memeriksa keadaannya Sarah bertanya pada dokter di mana pemuda yang membawanya ke rumah sakit, namun jawaban dokter membuat Sarah Johnson kecewa, pemuda itu tidak lama pergi setelah membawanya ke rumah sakit tetapi dia juga membayar biaya rumah sakit.
Bagaimana bisa pemuda itu pergi bahkan sebelum dia berterimakasih, dia juga tidak tahu namanya. Bagaimana dia akan mencari pemuda itu? Dan di mana? Namanya saja dia tidak tahu.
Sarah Johnson sedih untuk beberapa saat, namun keluarganya telah datang menjemputnya dan dia tidak punya pilihan selain pergi bersama keluarganya ke kota A.
Sarah Johnson hanya bisa berharap semoga Tuhan mempertemukan kembali dia dan pemuda itu.
Jam 7 malam di keluarga Wilson, Ashley yang sampai 30 menit lalu mencari-cari di mana Kakak laki-lakinya yang dingin itu.
"Dimana kakak Louis?" Tanya Ashley dengan ramah pada seorang pelayan yang lewat.
Pelayan itu tersenyum "tuan muda pertama sedang berada di ruang kerjanya"
Ashley mengucapkan terimakasih lalu berjalan ke dapur dan mengambil nampan penuh rujak, dia sangat suka makan rujak walaupun udara sangat dingin sekalipun.
Ashley bergegas ke ruang kerja Louis Wilson yang berada di lantai dua, mengetuk beberapa kali lalu masuk setelah mendengar suara Louis dari dalam.
"Kakak" panggil Ashley dengan suara nakal.
Tanpa mengangkat kepala pun dia tahu siapa itu jadi Louis Wilson terus melanjutkan membaca dokumen-dokumen itu.
Ashley yang tidak mendapat respon dari Louis Wilson memilih duduk di sofa, dia meletakkan nampan di meja lalu membuka laptopnya.
Ashley menatap Louis Wilson yang sedang sibuk "kakak, makan rujak?" tanyanya dengan main-main.
Louis Wilson menghentikan kegiatan membalik dokumen lalu menatapnya dalam-dalam "hanya orang tidak normal yang makan rujak pada malam hari yang dingin ini" ucapnya lalu mengangkat dagunya menunjuk rujak di meja.
Louis Wilson menatap senyum menjengkelkan pemuda itu lalu menurunkan kelopak matanya pada jaket tebalnya "oh, kalau kamu begitu panas lepaskan jaket mu"
"Hehe kakak jangan bercanda, aku baru membeli ini tadi jadi aku ingin mencobanya" Ashley menyangkal dengan senyum jahat.
"Lepas" perintah Louis Wilson dengan suara rendah, udara dalam ruangan seakan membeku.
Dia benar-benar harus menghukum anak nakal ini, jika tidak ekornya akan tubuh semakin panjang.
"Kakak, kamu akan melajang seumur hidup" ucap Ashley dengan raut wajah frustasi namun tetep melepas jaketnya.
"Aku juga tidak berniat menempatkan seseorang yang merepotkan di sisiku" ucapnya dengan dingin dan matanya menatap Ashley tanpa berkedip.
Sungguh dia sangat terhibur membuat anak ini frustasi, itu suatu kesenangan tersendiri untuknya.
Ashley lebih memilih mengerjakan laptopnya dan memakan rujak sembari berbaring di sofa empuk itu.
Ashley memasang flashdisk yang diberikan Mary padanya, lalu melihat file-file itu satu persatu.
Semakin dia membaca semakin pula juga dingin matanya, sungguh mencari kematian.
Ashley menutup laptopnya dengan tenang, gerakannya santai namun tatapannya yg dingin sangat tidak nyaman dilihat.
Louis Wilson yang dari awal memerhatikan perubahan ekspresi anak itu pun sedikit terkejut, karena dia sangat mengenal tatapan itu, itu tatapan seorang pembunuh.
Dia bertanya-tanya, apa yang menyebabkan pemuda itu begitu marah? Apa isi dari file yang dia baca?
Sepertinya harus menggali lebih jauh tentang pemuda didepannya, sejauh ini semua informasi pemudaitu yang mereka dapat sangat aneh.
Seorang pemuda yang hidupnya sangat baik, sangat rukun dengan orang-orang namun tidak memiliki seorangpun teman dekat dan memiliki orang tua angkat tunggal yang sangat baik padanya, seolah semua kehidupannya sengaja dirancang demikian sempurna.
Huh? Sangat baik pada semua orang namun tidak memiliki orang terdekat? Bagaimana mungkin anak yang begitu baik tidak didekati oleh anak lainnya.
Memang dari awal semua informasi tentangnya sangat aneh.
"Setelah sekolah di mulai kamu akan belajar dariku di perusahaan" ucap Louis Wilson.
Ashley mengangkat kepalanya dan tersenyum nakal "kakak, aku tidak tertarik pada perusahaan" ucapnya dengan santai seakan pemuda yang kedinginan tadi bukan dia.
"Oh, beri aku alasan" ucapnya Louis Wilson dengan suara rendah dan wajah datarnya.
Ashley menatap Louis Wilson dengan wajah serius "aku ingin serius belajar karena tidak lama lagi aku akan mengikuti banyak ujian"
Louis Wilson mengangkat alisnya "baiklah" ucapnya dengan tenang.
Mata Ashley cerah setalah mendengar jawaban tidak terduga itu "saudaraku yang baik, aku tahu kamu yang terbaik"
Namun ucapannya Louis Wilson selanjutnya membuat Ashley hampir jatuh dari sofa.
"Sama-sama. Setelah sekolah kamu pergi ke kantor dan pada malam hari aku akan mengajarimu diruang kerja"
"Kakak, aku tidak mau" Ashley menjawab dengan suara keras.
Louis Wilson mengerutkan alisnya "membantah orang dewasa, kamu anak nakal"
Ashley menjawab dengan wajah frustasi "aku bukan anak nakal"
"Jika kamu bukan anak nakal ikuti perintah kakakmu" ucap Louis Wilson dengan santai.
Ashley menarik nafas panjang, sungguh kakaknya ini bisa saja menggunakan kata-katanya sendiri untuk melawannya.
Louis Wilson melirik pemuda yang sedang frustasi di sofa, bahkan rujak yang tidak bersalah pun Ashley tusuk-tusuk menggunakan garpu hingga hancur.
Louis Wilson merasa anak ayahnya ini sangat lucu, tapi satu kekurangannya yang harus diajarkan yaitu nakal dan genit.