Dirty Marriage

Dirty Marriage
09



*Banyak adegan dewasa dan kata-kata kasar. Harap pembaca lebih bijak*


*****


Mobil Abimana memasuki sebuah rumah mewah dengan pagar putih bergaya Eropa. Rumah yang di gadang-gadang berharga milyaran rupiah itu sangatlah luas dan megah. Melihat mobil mewah sang tuan telah tiba membuat beberapa petugas penjaga berlari-lari dengan tergopoh-gopoh untuk membukkan pintu pagar tersebut. Saat memasuki gerbang Abimana tak lupa memberikan klakson tanda terima kasih dan menganggukan kepalanya. Di parkirkannya mobil itu di sebelah koleksi mobil mewah lainnya.


Dengan langkah tegap Abimana memasuki rumahnya yang langsung di sambut oleh jejeran maid yang entah berapa jumlahnya.


"Selamat datang Tuan Abimana." Sapa para maid tersebut.


Abimana mengangguk sekilas. "Malam." balasnya.


"Tuan ingin makan malam dulu atau mandi lebih dulu?" tanya maid kepala yang bernama bu Sari.


"Malam ini tidak perlu menyiapkan makan malam karena saya sudah selsai makan di tempat mama. Kalian masak untuk diri kalian sendiri saja," kata Abimana.


Bu Sari pun lekas mengangguk dan membubarkan maid yang lain saat Abimana sudah menaiki tangga menuju kamarnya.


"Seperti yang di perintahkan tuan kalian bisa memasak untuk diri kalian sendiri. Setelah makan malam kalian bisa beristirahat. Selamat malam dan selamat beristirahat." ucap Bu Sari yang langsung di angguki oleh maid yang lain.


Di sisi lain, Abimana yang sudah terduduk di dalam kamar langsung bergegas merogoh ponsel yang ada di sakunya. Memencet nomor panggilan dengan nama Anggita lalu tersenyum seperti anak muda yang sedang kasmaran.


Tak lama panggilannya pun bersambut.


"Halo Gi."


"Iya? Halo Mas Bima?"


Mendengar suara Anggita membuat Abimana tersenyum simpul penuh kebahagiaan.


"Kamu sudah di rumah?"


"Belum Mas, masih ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di cafe."


"Gi, pulanglah sekarang. Ini sudah larut malam pekerjaanmu lakukan lagi esok hari," pinta Abimana.


"Ngga bisa Mas Bima, ini harus secepatnya di selesaikan."


Anggita mendengar helaan nafas yang cukup panjang.


"Saya tidak ingin kamu sakit Gi."


Anggita terkekeh, "Ngga bakal sakit Mas, ini sebentar lagi selesai kok. Mas Bima sudah sampai rumah ya?" tanya Anggita.


"Ya, baru saja saya masuk kamar."


"Mas Bima aku ijin matiin telfon dulu ya. Aku mau selesaikan laporan ini biar cepat pulang. Nanti saat saya sudah sampai rumah kita lanjut lagi."


"Baiklah kalau begitu, jangan terlalu di paksakan ya. Kesehatan kamu yang utama, laporannya bisa di kerjakan besok lagi."


"Iya Mas Bima iya. Ya sudah, selamat malam Mas Bima sayang."


Sambungan telfon pun terputus dengan keadaan Abimana yang terteguk akibat kata 'sayang' yang keluar dari mulut Anggita.


Setelah melakukan panggilan dengan Abimana. Anggita lantas kembali melanjutkan kegiataannya dengan beberapa laporan keuangan dan slip gaji para karyawannya. Sesekali ia akan memijat pangkal hidungnya karena merasah lelah dengan banyaknya laporannya harus di kerjakan. Tak butuh waktu lama bagi Anggita untuk menyelesaikan semua tugasnya. Selepas semuanya selesai di gunakan Anggita lalu membereskan semua barang-barangnya. Meraih kunci mobil dan bergegas pulang setelah memastikan semua pintu terkunci dengan benar.


Baru saja ia sampai di rumah ponselnya tiba-tiba kembali berdering. Di kiranyapanggilan itu berasal dari Abimana ternyata dugaannya salah. Panggilan tersebut berasal dari Dimas, sang suaminya.


"Adek." panggil Dimas dari ujung sana.


"Kamu darimana saja? Tadi Mas telfon kamu kok ngga bisa? Sekalinya bisa tapi kamu sedang berada di panggilan lainnya. Kamu telfonan sama siapa Git? Kamu ngga lagi jalan sama laki-laki lain kan? Kamu ngga ada aneh-anehkan Git?" Tanya Dimas. Laki-laki itu langsung mencecar Anggita dengan berbagai pertanyaan yang terkesan menyudutkan Anggita.


Namun bukannya marah, Anggta malah membalasnya dengan penuh kelembutan. "Mas ... aku seharian ada di cafe, aku lagi ngerjain laporan keuangan di tambah urus gaji karyawan. Aku bahkan ngga sempet pulang kemarin Mas. Mas Dimas kalau ngga percaya bisa tanya ke mama." Anggita menjeda ucapannya, "Maaf kalau kesibukan Adek disini malah bikin Mas Dimas khawatir dan mikir yang aneh aneh." Anggita kembali berujar dengan penuh kelembutan.


Mendengar jawaban dari sang istri yang sangat lembut membuat Dimas berfikir bahwa wanitanya ini sungguh sosok yang sangat sempurna. Dalam keadaan yang lelah saja Anggita masih mampu bertutur dengan lembut sangat berbeda dengan sikap Shella. Wanita itu bahkan tak segan untuk membentaknya di tempat bekerja sungguh memalukan.


"Maaf Dek, maafin Mas ya sayang. Ngga tau kenapa dari semalam Mas kepikiran sama kamu terus. Rasanya Mas pengen pulang dan peluk kamu."


Anggita terkekeh, "Bukannya sudah enak di peluk Shela setiap malam ya Mas?" batin Anggita.


"Ya pulang dong Mas. Gaji Mas ngga akan habis cuma buat beli tiket pesawat dari Singapura ke Indonesia kok," sambung Anggita.


"Hahaha, memang ngga akan habis. Tapi kita kan juga perlu menabung untuk buah hati kita nanti."


Anggita kembali terkekeh. Untuknya suaminya ini sungguh lucu. Ia membicarakan soal anak saat dirinya saja masih tidak bisa lepas dari selingkuhannya itu. Akan seperti apa nasib anaknya jika ayahnya saja masih menjadi laki-laki baj*ngan seperti ini? Sungguuh Anggita tidak habis pikir.


"Iya Mas. Mas sudah makan? Ini sudah malam loh? Adek mau mandi dulu, soalnya Mas telfon pas banget adek baru masuk rumah," kata Anggita.


"Mau sambil video call ngga dek?"


"Ih Maaass! Ngga boleh gitu ya. Udah ah, Adek mandi dulu ya Mas, paypay Mas." Anggita lantas memutuskan telfonnya tanpa menunggu jawaban dari Dimas.


Anggita menghela nafas cukup panjang sebelum berjalan menuju kamar mandi. Membuka pintu dengan malas, di lepaskannya seluruh fabrik yang menutup tubuhnya dan mulai berendam dalam bathup. Pikirannya kembali melayang pada keputusannya untuk menerima Abimana sebagai sosok kedua setelah suaminya.


"Apakah keputusanku ini udah benar?" batin Anggita bertanya-tanya.


"Entahlah." pungkasnya.


Anggita menenggelamkan tubuhnya hingga batas hidung dan mulai memejamkan matanya. Membiarkan busa busa sabun perlahan menutupi tubuh indahnya.


*****


Sudah dua malam Shela tidur sendirian di apartementnya. Hal itu terjadi karena pertengkarannya dengan Dimas tempo lalu. Nampaknya Dimas sangat marah akan perlakuan Shela saat itu hingga membuat laki-laki itu enggan menyambanginya. Jangankan menyambangi, ia bahkan tidak mengangkat telfon atau sekedar membalas pesan singkat dari wanita dengan gelar simpanannya selama (entah berapa lama authornya lupa, hehe.) Bahkan Dimas meminta cuti kepada pihak rumah sakit dengan alasan sedang tidak sehat. Hal tersebut semakin membuat Shela geram, ia merasa bahwa Dimas sedang menghindar darinya.


Tak putus asa Shela kembali mencoba menghubungi Dimas akan tetapi seperti yang kita duga Dimas kembali tidak meresponnya. Dengan perasaan geram Shela berjalan keluar dari apartement mewahnya. Dengan langkah tergesa menuju basement untuk mengambil mobil pemberian suami kayanya.


"Awas saja kamu Dimas, aku bakal bikin perhitungan sama kamu. Enak aja kamu cuekin aku kayak gini," batin Shela geram.


Akhirnya Shela pun sampai di apartement Dimas. Di karenakan dia sudah tau password apartement tersebut sehingga ia bisa dengan mudah mengakses tempat tinggal dari rekan kerjanya itu. Betapa terkejutnya Shela saat pintu kokoh di depannya berhasil ia buka. Hal pertama yang menyambutnya adalah aroma alkohol yang cukup menyengat. Dia yang sudah biasa mencium aroma minuman haram tersebut terpaksa harus menutup hidung karena kuatnya zat tak berwujud yang menerobos indra penciumannya.


Perlahan ia melangkah menuju ruang tamu yang, oh sungguh tak layak di sebut tempat tinggal. Sampah makanan dan juga kaleng bir bertebaran di lantai. Tak jauh dari ruang tamu ada seonggok tubuh yang terkulai lemas di atas lantai. Siapa lagi kalau bukan Dimas. Laki-laki itu tergeletak begitu saja di atas lantai dengan tangan yang masih memegang sebotol wine di tangannya. Samar-samar Shela mendengar gumaman yang keluar dari mulut Dimas.


"Anggita, maafin Mas ya. Mas sudah jahat sama kamu. Jangan tinggalin Mas, Mas sayang kamu Git," gumam Dimas.


Setelah mendengar ucapan Dimas dengan jelas, Sela merasa panas. Hatinya terbakar karena cemburu dengan Anggita. Kenapa sosok di depannya ini terus memanggil nama Anggita, Anggita, dan Anggita bahkan di saat dia tidak sadar? Sungguh hal itu sangat menjengkelkan untuk Shela. Diam-diam ia mengepalkan kedua tangannya berjongkok di depan tubuh Dimas. Di belainya rambut Dimas yang menutupi keningnya.


Kemudian ia pun berbisik, "Mas Dimas, Adek disini Mas. Mas apa ngga mau bangun?" bisik Shella.


Dimas yang terpengaruh oleh alkohol pun lantas mencoba bangun dengan kesadaran yang sudah hilang. Ia pun meraih tangan yang membelai rambutnya. Menariknya dengan cukup kasar dan memeluk tubuh itu dengan sangat erat.


"Dek! Kamu kesini? Mas kangen banget sama kamu. Mas mau jujur sama kamu. Maafin Mas dek, mas selama ini ada main dengan temen Mas," Dimas menjeda ucapannya, perlahan air matanya mulai turun membasahi kedua pipinya. "Maaf Sayang. Mas tau mas sudah jahat sama kamu tapi Mas mohon kamu jangan tinggalin Mas ya." ucap Dimas memohon agar ia tidak di tinggalkan.


Shela pun semakin geram karenanya, "Kamu rela mengemis seperti ini hanya untuk perempuan buruk rupa itu Dim? Apa keunggulan Shela daripada aku? Jelas aku lebih baik ratusan kali dari Anggita buruk rupamu itu," batin Shela. Diam-diam wanita ular itu menyeringai entah akal busuk apa yang ada di dalam otak mungilnya itu.


******