
*Banyak adegan dewasa dan kata-kata kasar. Harap pembaca lebih bijak.*
*****
Setelah menunggu beberapa jam akhirnya Anggita tersadar dan membuka matanya. Hal pertama yang di lihatnya adalah langit-langit yang putih dan aroma anestesi yang sangat kuat. Di alihkannya tatapannya ke arah samping nampak wajah lelah Abimana yang tengah tertidur dengan posisi terduduk di sebelahnya sembari menggengam tangannya dengan sangat erat. Perlahan dengan tubuh lemasnya Anggita mengarahkan tangannya ke atas kepala Abimana, di usapnya surai hitam laki-laki yang setia menemani dirinya itu.
Merasakan sentuhan lembut pada pucuk kepalanya Abimana pun sontak membuka matamya. Betapa terkejutnya ia melihat Anggita di depannya sudah sadarkan diri dan sedang tersenyum lembut menyambutnya. "Anggita? Kamu sejak kapan sadar? Saya panggilkan dokter dulu ya," ucap Abimana.
Baru saja Abimana hendak menekan tombol pemanggil dokter Anggita sudah menahan tangannya. "Aku gapapa ya mas Bima. Mas ngga usah panik gitu ya," kata Anggita menenangkan Abimana.
Anggita melakukan semua itu karena ia melihat jelas pada wajah Abimana tercetak guratan kecemasan. Anggita tersenyum lirih di depan Abimana sembari terus mengusap punggung tangan sang kekasih agar ia kembali tenang. Entah bumbu apa yang ada pada senyum Anggita, nyatanya sepanik dan semarah apapun Abimana pasti akan luluh saat melihat senyuman Anggita. Seperti saat ini, ia kembali mendudukan dirinya di atas kursi di samping ranjang Anggita sesuai permintaan sosok di depannya itu.
"Gi, saya panggilkan dokter saja ya?" tanya Abimana yang ingin memastikan kondisi Anggita.
Anggita kembali tersenyum, "Aku gapapa Mas, ini udah lebih baik kok. Mas Bima nanti-nanti aja panggil dokternya," pinta Anggita.
Kini keduanya tengah saling memandang dan melempar senyum sampai tiba-tiba Abimana bertanya pada Anggita, "Sebenarnya tadi apa yang terjadi?"
"Maksudnya Mas?"
"Kamu, apa yang terjadi sama kamu sampai-sampai tiba-tiba sambungan telfonnya terputus."
Anggita mengangguk pelan dan ia pun mulai bercerita.
*Flashback on*
Tadi pagi sewaktu Anggita masih tertidur ia mendengar getaran yang berasal dari ponselnya yang ada di atas ranjang di samping tubuhnya. Dengan malas dan kepala yang sedikit pusing ia mengangkat telfonnya karena di pikir Dimas lah yang menghubunginya, karena biasanya laki-laki itu yang akan menelfon dirinya di pagi hari untuk sekedar mengucapkan selamat pagi. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat nama Abimana yang terterah jelas di ponselnya. Sambil tersenyum walau pusing melanda kepalanya ia tetap mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Assalamu'alaikum mas Bima?" ucap Anggita.
"Gi, kamu baik-baik saja kan? suaramu sedkit berbeda."
"Engga Mas, saya kurang enak badan jadi mungkin agak sorean ke kafenya,"
Sedari membuka mata tadi Anggita merasakan sakit pada perut dan juga kepalaya. Ia menduga bahwa ini akibat dari asam lambunya yang naik karena pola makannya yang sangat kacau akhir-akhir ini. Ia terlalu sibuk saat memasuki akhir bula karena banyak hal yang harus ia lakukan di kafenya.
"Kirim alamat kamu Gi."
Anggita mengernyit saat mendengar permintaan Abimana. Untuk apa ia meminta alamatnya? Apakah Abimana akan datang ke rumahnya?
"untuk apa Mas?" tanyanya.
"Kirimkan saja Gi."
"Anu Mas ...."
Tiba-tiba rasa sakit di kepala Anggita semakin menjadi-jadi sampai ia pun pingsan dan tak sadarkan diri. Bahkan ponsel yang ia pegang sedari tadi terjatuh ke atas lantai yang dingin. Hal itulah yang menyebabkan sambungan telfonnya dengan Abimana terputus karena ponsel Anggita yang memang mati sesudah bertemu sapa dengan dinginnya keramik. Setelah itu Anggita tidak tau apa-apa sampai ia merasakan seseorang tengah mengangkat tubuhnya dan sosok itu adalah Abimana dengan wajah paniknya.
*Flashback off*
"Jadi gitu Mas," kata Anggita sesudah bercerita.
Di tengah-tengah cerita Anggita diam-diam Abimana menekan tombol pemanggil dokter. Tepat saat Anggita selesai bercerita sang dokter pun datang membawa 2 perawat di belakangnya.
"Permisi tuan Abimana," sapa dokter Ibram.
Abimana hanya mengangguk saja.
"Saya periksa keadaan ibu dulu ya," kata dokter Ibram.
Sang dokter langsung mengarahkan stetoskopnya pada dada Anggita, tidak lupa di ukur tensi darahnya dan juga pada pemeriksaan pada perutnya.
"Permisi ya," ucap dokter Ibram meminta ijin untuk menekan perut Anggita, "Ini sakit?" tanya dokter Ibram.
Saat perutnya di beri sedikit tekan oleh tangan keriput dokter Ibram, Anggita mendesis dan meringis pelan. Karena itulah Anggita mengangguk atas pertanyaan dokter Ibram, "Ya Dok, agak nyeri di sana." Dokter Ibram pun mengangguk.
"Sesuai degaanku," batin Anggita.
"Saya akan meresepkan beberapa obat yang bisa di tebus nanti di apotik rumah sakit ini ya, tolong di minum secara teratur agar anda lekas sembuh." Dokter Ibram pun menulis beberapa resep di atas notes dan memberikannya pada Abimana. "Saya berikan pada Tuan karena anda walinya. Tidak mungkin saya menyuruh pasien berjalan sendiri untuk menebus obatnyakan," gurau dokter Ibram.
"Baik biar saya yang menebusnya."
Setelahnya dokter Ibram pun pamit undur diri karena harus memeriksa pasien yang lainnya. Selepas kepergiaan sang dokter dan kedua perawat tadi Abimana merogoh ponselnya jari panjangnya menari indah di atas benda pipih tersebut. Tak lama benda tersebut beralih ke telinganya, "Kamu boleh masuk sekarang."
Tok ... Tok ... Tok
Munculah sosok laki-laki seumuran dengan Abimana dengan rambut sedikit panjang, tapi sosok itu lebih pendek dari Abimana dan nampak lebih imut dengan mata sipitnya.
"Ada perlu apa Boss?" tanya Keanu.
Keanu lah yang baru saja memasuki ruangan dimana Anggita di rawat. Laki-laki itu sedari tadi menunggu di depan ruangan VVIP itu di temani oleh beberapa bodyguard yang telah di siapkan oleh Abimana unrtuk menjada sosok yang ia sayang.
Anggita pun tersenyum ramah saat melihat Keanu masuk, Ia merasa antara kenal dan tidak kenal dengan Keanu tapi ia mengabaikan perasaannya. Abimana menyerahkan kertas yang di serahkan oleh dokter Ibram pada Keanu, "Tolong kamu tebus obat-obat ini lalu bawa kemari," perintah Abimana. Keanu pun mengangguk dan lekas pergi dari kamar tersebut meninggalkan temannya si kaku dengan gadis cantik yang memiliki senyuman semanis madu.
TRING!
Ponsel Abimana berdering menampilkan pesan dari Keanu. "CANTIK BANGET ANJ*R!!! GUE RESTUIN LO SAMA YANG INI!!"
*****
Sejak kejadian saat itu hubungan Dimas dan Shela berasur membaik. Keduanya kembali tinggal berdua sampai mereka benar-benar nyaris melupakan pasangan masing masing. Kedekatan keduanya bahkan lebih intens dari sebelum-sebelumnya. Sampai tiba-tiba suatu kabar terdengar oleh telinga Shela. Saat ini Shela tengah berlari mencari dimana keberadaan Dimas. Wajah cantiknya tampak kalut dan di penuhi dengan kecemasan. Sampai ia berhasil menemukan sosok yang ia cari-cari sedari tadi.
"Dimas!!" dengan nafas tersengal.
Dimas yang di panggil langsung menoleh ke arah sosok yang memanggilnya, "Ya?" Shela pun menarik tangan Dimas untuk menepi ke tempat yang lebih sepi untuk mengobrol. Di bawanya laki-laki itu di toilet ujung koridor.
"Aku barusan denger sesuatu yang gak mengenakan soal kamu," kata Shela.
Dimas menaikan sebelah alisnya, "Kabar apa?"
"Apa bener 3 bulan lagi kamu bakal balik Indo Dim?" tanya Shela dengan cemas. Bahkan degup jantungnya berjalan lebih cepat dari biasanya. Ia juga yakin pasti saat ini Dimas mampu mendengar degup jantungnya yang sangat kencang itu.
"Iya."
DUAR!!
Bak di sambar ribuan volt sengatan listrik Shela tampat membulatkan mata. Apa maksud dari jawaban dimas tadi? Sungguhkah laki-laki yang baru saja ia perjuangkan beberapa hari yang lalu ini akan pergi meninggalkan dirinya sendirian di negeri orang ini? Pikirannya seketika berkecamuk dan di penuhi dengan pertanyaan pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan pada Dimas.
"Dim, kenapa? Kamu mau balik ke Indo?"
"Gue mau kerja disana aja."
"Lalu aku gimana Dim? Kamu mau ninggalin aku disini?"
"Lo kan punya banyak temen disini Shel, lo masih bisa nyari orang lain buat muasin lo."
Shela mendekati tubuh Dimas dan langsung memeluk tubuh tegap itu. Shela mengusap punggung Dimas. Namun Dimas tidak membalas pelukan dari Shela. "Tapi aku cuma mau sama kamu Dim, ngga ada yang seenak kamu." Di usapnya area privasi Dimas dengan cukup kuat. "Ngga ada yang sebesar punya kamu Dim," kata Shela.
"Tapi sejujurnya masih gedean punya suami aku sih Dim," batin Shela.
Dimas menahan nafasnya saat kejant*nnya di remas oleh Shela. Kepalanya mendongak dan di remasnya lengan Shela. Tak tahan karena ulah Shela\, Dimas mendorong tubuh Shela masuk ke dalam salah satu bilik di dalam toilet dam mencumb* ranum kembar Shela. Mereka pun kembali melakukan adegan penuh keringat dan menyehatkan.
"Nikmati permainan kita Shela karena setelah ini gue bakal pergi dari lo, semoga lo bahagia disini dan bisa lepasin gue. Gue mau balik ke istri gue dan pengen memperbaiki diri gue," batin Dimas.
"Aku ngga akan biarin kamu lepas dari aku gitu aja Dim," batin Shela.
*****