Dirty Marriage

Dirty Marriage
17



******


Setelah melakukan perdebatan dengan Abimana akhirnya Anggita pun menurut dan ikut tinggal di apartemen mewah yang di siapkan oleh Abimana untuk mereka berdua. Anggita pikir apartemen sederhana yang di beli oleh Abimana adalah apartemen yang biasa, tapi nyatanya apartemen tersebut adalah apartemen mewah yang tengah naik daun di kalangan para pembisnis di Indonesia.


"Mas, ini namanya Mas Bima bohongi aku nih," protes Anggita. Ia berkacak pinggang di depan Abimana sambil memasang ekspresi kesalnya. Ingin hatinya membuat Abimana takut karena amarahnya.


"Saya? Saya menipu kamu di bagian mana ya?"


"Mas bilang apartemen sederhana. Ini mah apartemen mewah Mas."


Abimana terkekeh mendengar mendengar ucapan Abimana. "Ya ini menurut saya sederhana, di sini tidak ada kolam renang untuk kamu berenang dan hanya ada dua kamar saja."


"Tapi Mas," Anggita berkacak pinggang di depan Abimana.


"Tapi apa cantik?"


"Kamu lihat interior yang ada di sini? Mas sumpah ya ini itu apartemen mewah namanya bukan sederhana lagi."


"Sudah sudah, lebih baik kamu masuk dan bersih-bersih, kamu pergilah mandi dan berdandan yang cantik. saya akan siapkan makanan untuk kamu. Baju kamu sudah saya siapkan di dalam lemari ya. "


Tidak mau berdebat lebih lama lagi maka Abimana mendorong tubuh Anggita masuk ke kamar utama dan menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang ada di sudut ruangan. "Kamu mandilah di sana, saya ke dapur dulu ya."


Abimana meninggalkan Anggita yang masih termangu menatap betapa megahnya kamar utama yang baru saja ia masuki. Ia berjalan pelan sambil memandang menjelajahi seisi kamar. "Mas Bima ini ya, kamarnya aja semewah ini masa katanya sederhana. Sebenarnya mas Bima ini sekaya apa sih ya Tuhan," batin Anggita.


Setelah mengatar Anggita masuk kamar Abimana lantas berjalan ke arah dapur. Menengok isi kulkas yang cukup lengkap. Ia merasa puas dengan apa yang sudah di kerjakan oleh anak buahnya untuk merombak apartemen baru menjadi apartemen yang langsung siap ia tinggali hari ini juga. Di dapur ia sibuk menyiapkan makanan yang akan di santap oleh keduanya. Dengan apron pink-nya kini Abimana berdiri di depan kulkas. Di ambilnya beberapa sayuran seperti kol, wortel, kentang, buncis dan daun bawang. Ia juga tidak lupa mengambil dada ayam tanpa tulang dari dalam freezer.


Dengan telaten kedua tangannya mengupas dan memotong sayuran di depannya, tak lupa di cuci sebelum ia merebusnya. Sambil menunggu air mendidih, ia memutuskan untuk menghaluskan bawang putih dan bawang merah di tambah sedikit jahe lalu di tumis degan sedikit minyak. Setelah airnya mendidih ia pun masukan potongan sayur yang sudah di siapkan bersama dengan bumbunya. Sambil menunggu sayurnya empuk dan matang Abimana memilih untuk mencuci dada ayam yang sudah di keluarkan dari pembungkusnya. Di cuci hingga bersih dan tidak ada lendir di sana. Di panggangnya daging ayam tersebut di atas pan dengan sedikit margarin hingga kecoklatan.


Disisi dapur lainnya sayur sop buatan koki Abimana sudah  mulai mendidih di tengoknya sekilas dan di tambahkan garam dan kaldu bubuk sebelum di cek rasa. "Oke sudah cukup." Di tuangkannya sayur sop panas itu ke dalam mangkuk kaca dan di taburi bawang goreng sebelum ia bawa ke atas meja makan. Setelah berkutat di dengan menu menu masakan sehat untuk Anggita akhirnya pekerjaan Abimana sebagai koki malam itu terselesaikan.


Di dalam kamar setelah mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang sudah di siapkan di kamarnya. Anggita mencium aroma yang sangat harum dari masakan Abimana. Aroma dari masakannya memenuhi seluruh ruangan. Di langkahkan kakinya keluar kamar untuk menghampiri Abimana yang sibuk menata masakannya.


"Mas masak apa?"


Abimana menoleh sekilas sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya, "Saya hanya membuat sayur sop dengan ayam panggang." Ucapan Abimana terhenti karena suara mesin penanak nasi yang ikut mengimbangi obrolan mereka. "Nah pas sekali, nasinya sudah matang kita bisa langsung makan. Kemarilah mari kita makan bersama."


"Loh Mas lupa ya? Aku kan baru aja makan sebelum kita pulang tadi."


Abimana menaik sebelah alisnya, "Maksud kamu makan tadi siang yang kamu saya suapin itu? Ini sudah berapa jam dari waktu kamu makan Anggita? Saya tidak mau tau kamu harus makan."


Abimana pun mendorong tubuh Anggita untuk duduk di salah satu kursi. Anggita hanya bisa menatap Abimana sambil menggeleng-gelengkan kepala saat Abimana dengan cepat menyambar piring dan menaruh nasi dan ayam panggang di atasnya sebelum di tuang dengan sayur sop. "Makan Gi, saya tidak ingin kamu kembali sakit."


"Baiklah Mas akan aku makan, dasar tukang memaksa kamu ini Mas."


Anggita pun menyantap masakan Abimana dengan penuh nikmat, "Aku ngga tau Mas Bima bisa masak seenak ini," kata Anggita.


"Saya jarang memasak untuk orang lain jadi tidak ada yang tau jika saya bisa memasak."


"Istri Mas pasti tau kan kalau Mas Bima bisa masak?" tanya Anggita sebelum kembali memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


Abimana menggeleng, "Tidak, saya bahkan tidak pernah memasak di depan dia. Jangankan Shela, ibu saya saja tidak tau jika saya bisa memasak."


"Hah? jangan bilang ini pertama kalinya Mas masak buat orang lain." Abimana hanya menjawab pertanyaan dari Anggita dengan sebuah Anggukan pelan.


"Mas kenapa mau repot repot masak buat aku?" tanya Anggita penasaran.


Mendengar ucapan Abimana yang begitu manis hanya bisa membuat pipi Anggita bersemu malu. Ia pun lantas membuang muka menghindari tatapan dari sosok yang kini tengah memandanginya penuh puja.


"Kamu tampak menggemaskan saat malu seperti ini Git."


"Mas, ih jangan gitu dong aku malu loh." Abimana terkekeh mendengar ucapan dari selingkuhannya tersebut, ingat selingkuhannya ya.


Di tengah-tengah acara makannya tiba-tiba ponsel Anggita berbunyi, tampak nama 'Mas Dimas' disana. Ia pun melirik ke arah Abimana yang sama-sama tengah memandang pada layar ponsel Anggita. Tampak wajahnya yang mulai mengeras dan tatapan yang sangat menusuk membuat Anggita ragu untuk mengangkat panggilan telfon dari sang suami.


"Angkat saja," perintah Abimana.


Anggita menatap Abimana sebentar lalu menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab panggilan Dimas.


"Halo Mas, assalamu'alaikum," jawab Anggita. Ia bahkan harus memejamkan mata saat mengucapkan salam. Jantungnya berdebar lebih kencang.


"Kamu sedang apa Dek?" tanya Dimas di seberang sana.


"Aku lagi makan Mas," jawab Anggita.


"Makan yang banyak ya Dek. Oh ya, gimana keadaan kamu hari ini?"


"Alhamdulilah udah baikan kok Mas."


"Kapan kamu boleh keluar dari rumah sakit Dek? Nanti biar aku suruh ibu nginep di rumah biar kamu ada temennya."


"Mati aku," batin Anggita.


Bingung, takut dan cemas itulah yang di rasakan oleh Anggita saat ini. Rasanya tiba-tiba udara di sekitarnya di rampas sehingga ia merasa sesak. Ini pertama kalinya ia harus berbohong pada orang terdekatnya. Ia pun menatap Abimana meminta bantuan tapi yang Anggita lihat adalah Abimana dengan wajah masam tengah sibuk dengan ponselnya, tampaknya ia tengah mengirim pesan entah dengan siapa.


Dengan berat Anggita pun menjawab sambil memejamkan mata. "Anu ngga usah Mas nanti aku malah ngerepotin mama lagi."


"Loh ngga papa Dek, mama Mas kan mama kamu juga."


"Tetep aja loh Mas aku ngga enak sama mama. Ngga usah ya, nanti aku minta temenin salah satu karyawan aku aja ya," pinta Anggita.


"Ya sudah kalau begitu. Aku kangen kamu Dek."


Uhuk ...uhuk!!


Anggita tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Dimas yang sangat tiba-tiba tersebut. Dengan tergesa ia menenggang gelas yang di sodorkan padanya. Di liriknya Abimana yang tengah menatap tajam ke arahnya demngan rahang tegasnya yang tampak sangat mendominasi.


"Dek? kamu kenapa?" tanya Dimas dengan suara yang terdengar sangat cemas.


"A-aku ngga papa kok Mas, cuma keselek dikit aja kok."


"Syukurlah kalau kamu ngga papa. Oh ya Dek, Mas ada kabar bahagia buat Adek."


"Kabar apa Mas?" tanya Anggita sambil terus menatap Abimana.


"Mas mau pulang ke Indonesia," kata Dimas.


"Hah?!"


******