
*Banyak adegan dewasa dan kata-kata kasar. Harap pembaca lebih bijak.*
*****
Abimana bergegas pergi meninggalkan kantor tempatnya rapat sedari pagi tadi. Ternyata yang sebenarnya terjadi adalah mata-mata yang ia kirim untuk memperhatikan istrinya baru saja memberikan informasi bahwa, pagi ini Dimas menjemput istrinya di klub. Nampaknya wanita itu sudah melupakan dirinya yang ada disana.
Dengan tergesa Abimana memacu kendaraanya menuju unit yang di tinggali oleh mereka berdua. Ia memang menyewa apartemen tepat di sebelah unit yang keduanya sewa untuk bercinta. Di sanalah ia menempatkan sang mata-mata.
Tok .... Tok .... Tok
Abimana mengetuk pintu di hadapannya. Seorang pria dengan perawakan cukup tegap dengan setelan kasual dan wajah yang cukup teduh membukakan pintu.
"Masuk Bim," Hendra mempersilakan Abimana memasuki unitnya.
Abimana melangkahkan tungkainya memasuki apartemen tersebut. Hal pertama yang menyambutnya adalah suara-suara laknat yang di ciptakan oleh Dimas dan Shela yang merupakan istrinya sendiri.
"Apartemen disini tidak kedap suara?" ucap Abimana sambil mengetuk-ngetuk dindingnya.
Hendra tersenyum kikuk, ia merasa kasihan pada Abimana. Bagaimana bisa Shela menyelingkuhi laki-laki tampan di hadapannya. Siapa yang tidak kenal dengan Abimana Restu Bramantyo? Seorang CEO perusahan ternama di Indonesia. Cucu kebanggaan sang kakek yang merupakan pemilik berbagai bisnis di negeri ini.
"Kalau kedap suara gue ngga bisa tau kalau ada bini lo disini," ujar Hendra dengan kekehan di ujungnya.
Abimana mengangguk tipis, "Apa mereka sering datang kesini?" tanya Abimana. Langkahnya di bawa menjauhi dinding yang terus mengeluarkan suara berdosa itu.
"Ya seperti yang gue bilang, hampir tiap hari mereka kesini. Lo mau minum apa Bim?" Tanya Hendra dari arah dapur.
"Tidak perlu sungkan Hen. Apa yang ada saja." Abimana menutup matanya. Entah menikmati hiburannya atau memikirkan hal lain. Namun tiba-tiba ia kembali mendekati dinding tersebut dan mengeluarkan ponselnya. Tampaknya ia tengah merekam sesuatu disana.
Ia menggulir aplikasi bertukar pesan dan mengirim suara yang baru saja ia rekam. Selesai mengirim pesannya Abimana kembali mendudukkan dirinya pada sofa yang tadi ia duduki. Tak lama Hendra kembali datang membawa secangkir teh panas sebagai teman mengobrolnya.
"Semingguan ini mereka nginep disini. Hampir tiap malam gue denger teriakan istri lo yang gue sendiri ngga tau dia di apain aja sama selingkuhannya itu." Ujar Hendra, Ia pun meletakkan tehnya di hadapan tamunya. "Minum dulu Bim," tawar Hendra.
"Hahaha, kamu pasti hidup dengan sangat keras disini ya," ledek Abimana. Sosok berbalut jas itu meminum tehnya dengan sangat berkelas.
Hendra terkekeh, "Susah ngga susah Bim, lo bayar gue mahal banget buat ngawasin istri lo," balas Hendra.
Hendra nampak menimang kata-kata yang akan ia lontarkan, "Bim sebelum gue mau minta maaf nih ya. Lo apa ngga mau balas perbuatan istri lo gitu?" Hendra menjeda ucapannya, "Maksud gue, lo ini Seorang Abimana Restu Bramantyo gitu, siapa sih yang ngga kenal lo? Lo seorang CEO kaya raya yang ngga perlu di ragukan lagi kekayaannya. Di tambah lagi wajah lo ini kelewat tampan anjir. Kalau gue homo kayak gue bakal ngejar lo deh." Hendra melanjutkan ucapannya.
Abimana yang mendengar penuturan dari temannya itu hanya mampu tersenyum simpul. " Kamu ini teman saya dari kecil, apa kamu lupa tabiat saya seperti apa? Saya diam bukan berarti saya membiarkan apalagi pasrah dengan keadaan. Saya hanya sedang menantikan waktu yang pas untuk turut andil dan bermain bersama mereka saja." Jawab Abimana setelah menandaskan isi cangkirnya.
"Saya kembali kekantor dulu ya, setelah urusan ini selesai kamu kembalilah kekantor. Kasihan Keanu, dia harus sering lembur dan mengomel, saya takut dia akan mengalami penuaan dini." Abimana melenggang keluar meninggalkan kediaman Hendra. Mendengar guyonan Abimana, Hendra hanya mampu tertawa lebar. Ia membayangkan si boncel Keanu mengamuk sambil berkacak pinggang, sungguh itu pemandangan yang sangat menggelitik.
*****
Pagi ini Dimas baru saja memasuki apartemennya. Semalaman berdinas di rumah sakit dan menjalani operasi jantung itu sangat melelahkan. Setiap inci dari tubuhnya merasa sangat lelah. Namun baru saja merebahkan tubuhnya tiba-tiba ponselnya berdering. Tanpa menatap layar ia langsung mengangkat panggilan itu, mungkin efek karena terlampau lelah.
"Halo dengan tuan Dimas disana?" Suara seorang lelaki di seberang sana.
Ia kembali memeriksa nama pada panggilan tersebut, tertera nama 'Shela' disana. Namun batinnya bertanya-tanya siapa yang berbicara padanya. Karena setahunya suara suami shela tidak seperti ini.
"Ya, saya Dimas. Ada yang bisa saya bantu? Lalu dimana pemilik ponsel ini?" Tanya Dimas. Ia merasa jengkel karena berpikir bahwa Shela pasti membuat ulah kembali di suatu tempat.
"Saya pemilik humba bar, ini kekasih bapak sedang mabuk sedari semalam. Dan ini ia terus meracau memanggil nama tuan. Dia juga sempat membuat kegaduhan disini. Jadi sebelum kembali membuat kegaduhan saya merampas ponselnya dan mencari panggilan paling banyak."
percakapan dengan bahasa Inggris bersama pemilik klub itu berjalan cukup lama sampai akhirnya Dimas memilih untuk menjemput Shela saja. Sumpah serapah ia ucapakan dalam batinnya. Tubuh lelahnya ia paksa keluar kembali dengan raut wajah yang sungguh tidak bersahabat.
Tanpa memperdulikan pengendara jalan lainnya ia terus melajukan mobilnya. Kini sampailah ia di bar tempat biasa ia dan Shela melepaskan penat. Menghilangkan akal sehat dan berujung bercinta sampai fajar menjemput.
Berjalan dengan tergesa dan segera mencari dimana keberadaan wanita tersebut. Akhirnya ia menemukan tubuh lunglai Shela tengah terduduk di sudut ruangan ditemani beberapa pria disana. Ada 3 orang pria yang menjamah tubuh . Entah kenapa melihat hal itu Dimas menjadi geram sendiri. Dengan langkah cepat ia menghampiri Shela dan menarik tubuh sempoyongan itu. Pria bule yang duduk bersama Shela tadi merasa terkejut dan menatap nyalang pada Dimas.
Dengan wajah pongah Dimas berujar, "Jauhkan tangan kotormu dari wajahku atau kau akan ku suntik dengan potasium klorida. Namun tindakan Shela yang sangat tiba-tiba itu cukup membekukan suasana dalam beberapa detik. Gadis itu meraih tengkuk Dimas yang tengah merangkul pinggangnya. Menarik kepala prianya dan membawanya dalam ci*man panjang.
Kecapan demi kecapan mereka lakukan. Dimas masih sangat sadar saat ia samar samar merasakan getarnya alkohol pada mulut Shela. Tidak nyaman dengan tempat mereka berada Dimas lantas menggendong Shela ala bridal style keluar dari bar tersebut. Melanjutkan kegiatan silaturahmi bibir di dalam mobil yang masih terparkir di lingkungan bar.
Setelah puas bercumb* Dimas membawa Shela kembali pada apartemen sewaan mereka. Saat sampai disana ternyata Dimas kembali melanjutkan aksi menyiksa wanita yang tengah terbaring tak sadarkan diri di hadapanya ini. Di lepasnya ikat pinggang yang terbuat dari kulit sintetis yang harganya cukup mahal.
Menatap nyalang pada wanita itu, di lepaskannya segala fabrik yang menutupi tubuh polosnya. Diayunkan denga cukup keras sabuk yang sedari tadi ia genggang dengan kuat.
"Lo kurang sama gue Shela iya, hm?" Ujarnya.
CTAAAAS!
AKHH ....!
Sekali lagi benda keras itu bertemu dengan kulit putih Shela. Bak seseorang yang tengah kesetanan Dimas tak henti-hentinya menyiksa Shela. Puas mencambuknya. Kini di cengkramanya dagu wanita itu dengan cukup kuat.
"Lo jal*ng, Lo itu jal*ng yang ngga akan pernah puas sampai kapanpun," sarkas Dimas.
Dalam keadaan setengah sadar karena rasa sakit yang menarik kembali kesadarannya Shela menatap berani kearah Dimas, "Iya, gue jal*ngnya lo."
Sumpah mati Shela tengah bermain-main dengan iblis yang sedang mengamuk. Berharap ia masih bisa berjalan di hari brikutnya. Karena setelah mendengar ucapanya Dimas bersumpah tidak akan memberi ampun pada Shela. Kegiatan panas mereka berlangsung cukup lama seakan tiada hari esok. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang tengah menguping kegiatan panas keduanya.