Dirty Marriage

Dirty Marriage
06



*Banyak adegan dewasa dan kata-kata kasar. Harap pembaca lebih bijak.*


*****


Abimana berjalan memasuki ruangan Anggita, laki-laki itu menatap lembut wanita yang ada di hadapannya. Sedangkan Anggita yang di tatap sedemikian rupa oleh Abimana hanya mampu tersenyum lembut dan berjalan menemui suami dari selingkuhan suaminya.


"Apa kabar Mas Bima?" Senyum manis yang tak luput dari wajah Anggita nyata mampu menimbulkan senyum lain di wajah Abimana.


Tatap yang sulit di artikan pada mata Abimana kini telah berubah menjadi tatapan lembut. "Kamu benar benar memanggil nama saya Bima ya Gi," ujar Abimana sembari mengusap pucuk kepala Anggita.


(Anggita yang di usap tapi aku yang malu)


"Kamu juga memanggil aku Anggi, sama kayak ibu mertua ku," sambung Anggita tak lupa dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya.


Anggita kembali duduk di kursinya menatap Abimana yang tengah melepas kancing jasnya. "Jadi, Mas Bima dapat apa selama di Singapura?" tanya Anggita.


Tanpa menjawab ucapan pertanyaan Anggita. Abimana lantas merogoh saku jas dalamnya dan lalu mengeluarkan ponselnya. Menggulir beberapa saat sampai akhirnya ia mendengar suara seseorang yang amat sangat ia kenal.


Anggita tertawa sumbang menatap Abimana yang tak mengucapkan sepatah kata pun. Laki-laki itu terus menatapnya yang tengah berusaha menetralkan perasaannya sendiri.


"Beberapa hari sebelum saya pulang Shela pergi ke sebuah klub atau bar ternama di Singapura. Waktu itu setelah meeting dengan klien seseorang memberi saya kabar bawa Dimas pergi menjemputnya di bar tersebut. Saya tidak tau bagaimana Dimas bisa tau jika Shela ada disana. Setelah menjemputnya di bar tersebut mereka melanjutkannya di apartemen yang mereka sewa. Untuk detailnya lebih baik kamu tidak tau," begitulah penjelasan yang di berikan oleh Abimana.


Anggita yang sedari tadi menunduk kini memberanikan diri menatap mata Abimana dengan sendu, "Sakit?" tanyanya.


"Masih perlu di pertanyakan?" jawab Abimana membalas pertanyaan Anggita dengan sebuah pertanyaan sarkas.


"Mau membalasnya dengan saya?" tanya Abimana.


Anggita yang tak tau maksud Abimana pun hanya mampu memiringkan kepalanya seakan bertanya, "Maksudnya apa?"


Abimana pun memajukan badannya mendekati sosok di seberang meja untuk memperjelas ucapannya, "Mari berselingkuh dengan saya!"


*flashback beberapa minggu yang lalu*


Shela tengah melakukan panggilan telefon dengannya malam itu. Wanita itu merengek meminta agar ia mengangkat telfon darinya dengan dalih ia merindukan suaminya, padahal kenyataannya ia hanya menginginkan bantuan untuk masturbasi.


"Shela saya sedang sibuk memikirkan klien saya, kamu bisa dia dulu tidak?" Abimana memijat keningnya karena tingkah Shela yang benar-benar membuatnya dongkol.


Terdengar suara decakan dari ujung telfon, "Ck, klienmu kenapa lagi sih Bim? Aku ini kangen kamu kenapa yang kamu bahas klien, klien, klien, dan klien terus sih, bete tau!" tukas Shela.


Abimana mengepalkan tangannya, "Kamu lihat ini jam berapa? Ini jam satu siang Shela. Masih jam kerja saya wajar yang saya bahas klien. Saya pegawai kantoran bukan dokter seperti kamu yang sibuk saat ada pasien." Geram. Abimana sudah berada di puncak emosinya tapi ia berusaha menahannya agar tidak meledak meluap-luap.


"Apa kamu tau saat ini saya sedang di pusingkan oleh klien saya yang meminta jamuan makan malam esok hari?" Tanya Abimana.


Dengan nada kasar Shela menjawab, "Cuma jamuan makan malam kan? Kenapa ngga kamu bawa aja ke restoran bintang 5 kayak klienmu yang lain? Oh, apa jangan-jangan klienmu ini perempuan cantik makanya kamu treat mereka secara spesial?"


"Jaga ucapanmu Shela!" Bentaknya. "Jika memang bisa seperti itu saya sudah melakukannya dengan mudah. Tapi yang mereka minta makan malam di cafe kecil dan sederhana agar bisa membantu usahawan kecil," ujar Abimana menggebu-gebu. Nafasnya bahkan tersengal karena begitu marahnya pada sang istri. Ah, masih pantaskah ia di panggil istri?


Shela pun ikut terdiam disana, kini panggilan itu hanya terdengar nafas satu sama lain. Kemudian ia mengingat suatu hal, "Bim, kenapa kamu ngga bawa mereka ke cafenya Anggita? Ingetkan istri dari temenku?" kata Shela dengan nada lebih lembut.


"Teman katanya, cih." Batin Abimana.


Namun tidak dapat di pungkiri bahwa ia tengah tergoda oleh saran oleh Shela, "Saya akan memikirkannya. saya tutup dulu telfonnya ada meeting sebentar lagi dan Shela tolong kamu camkan ini. Saya tidak semurahan kamu." Abimana pun memutuskan panggilan tanpa mendengarkan respon dari sosok di ujung sana.


Abimana nampak tengah mempertimbangkan sesuatu. Bagaimana ia bisa melupakan soal cafe milik dari selingkuhan istrinya itu. Ia sempat mencicipi menu disana saat datang pada pesta yang entah untuk apa karena ia dulu tidak peduli akan hal itu. Dan menu disana tidak buruk khas masakan rumahan tapi dikemas dengan sangat berkelas. Ia akhirnya memutuskan untuk visit survei ke cafe Anggita.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya Anggita sopan saat di hadapan Abimana.


"Anggita kan? Bisa kita mengobrol sebentar?" Jawabnya.


Anggita mengangguk sekilas lalu memanggil Alan yang tidak jauh darinya. Ia di minta menggantikan dirinya yang akan segera menyusul Abimana disudut temaram di bawah lampu neon.


Sebelum ia sampai disana tampak Maya tengah berdiri di sebelah Abimana sambil membawa notes kecil untuk mencatat pesanan dan daftar menu yang di belikan pada Abimana. Nampaknya laki-laki itu sudah selesai memesan buktinya Maya sudah pergi kembali ke dapur untuk menyerahkan pesanan pada pihak dapur.


"Permisi." Ucap Anggita saat akan duduk di depan Abimana. Hal itu memberi poin plus untuk Anggita di mata Abimana.


Ia pun mengulum senyum dan mempersilakan Anggita untuk duduk, "Silakan Nona Anggita."


Anggita pun terkekeh, "Tuan ini suaminya itukan ya?" Pertanyaan yang lucu bagi Abimana.


"Ya, saya suami selingkuhan suamimu," jawab Abimana dengan santai. Anggita pun menimpali ucapan Abimana tak kalah santainya, "Yeah, dan saya ini istri dari selingkuhan istri anda, haha." Sumbang. Tawa yang keluar dari mulut Anggita terdengar sumbang di telinga Abimana.


"Kamu pasti sangat membenci Shela, saat ini suaminya ada di hadapanmu apa kamu tidak ingin memaki saya?" Pertanyaan yang di lempar Abimana semua itu adalah pancingan. Ia ingin tau seperti apa karakter Anggita ini.


Anggita sendiri dengan santai menjawab ucapan Abimana setelah menarik nafas cukup dalam. "jika suami saya sendiri juga mau apa saya masih bisa menyalahkan istri Tuan? Pada dasarnya perselingkuhan sama dengan orang yang tengah bertamu. Jika pemilik rumah tidak membukakan pintu lalu bagaimana si orang ini bisa masuk dan berkunjung di dalam rumah?" jawabnya.


Mendengar hak itu Abimana lantas tersenyum kecil bahkan ia yakin Anggita tak akan menyadari senyum itu, "Baiklah, mari kita pergi sejak dari obrolan perselingkuhan ini. Jangan panggil saya tuan ya panggil Abimana saja," ucap Abimana.


Anggita nampak menimbang, "Haruskah saya memanggil anda, Pak Bima? atau Mas Bima? bagaimana dengan Kak Bima? saya yakin usia anda jauh di atas saya."


"Kenapa Bima?" tanya Abimana.


"Entah kenapa nama Tuan mengingatkan saya pada tokoh wayang Bima. Apa ada keberatan?" Anggita merasa tak enak hati karena seenaknya mengubah nama panggilan sosok di depannya.


"Kenapa saya harus keberatan? Saya tidak menggendong mu saat kamu memanggilku dengan nama Bima bukan? Silakan panggil saya Mas Bima saja, agak sedikit mesra tapi saya menyukainya."


Anggita tersenyum sungguh sangat manis untuk Abimana. Ia yang biasanya di kelilingi oleh wanita wanita genit, gatal, dan panas entah kenapa merasa sedikit kikuk saat di hadapkan dengan Anggita.


"*Saya kemari karena ingin berbisnis dengan kamu Gi," ucap Abimana atau Bima yang kini mendapatkan nama baru.


"Gi?" Anggita nampak bingung.


"Anggi, saya akan memanggilmu Anggi." Seketika Anggita tersenyum. Ia teringat akan ibu mertuanya karena beliaulah satu satunya orang yang masih memanggilnya Anggi setelah kedua orang tuanya meninggal.


"Baiklah, baiklah. Jadi, Mas Bima mau berbisnis apa dengan saya?" tanya Anggita setelah puas tertawa.


Atmosfer pun kini berubah yang tadinya santai kini menjadi serius. Beberapa karyawan yang melewati mereka saja merasa takut apalagi melihat aura tegas dari Abimana. Namun mereka tidak memungkiri bahwa di balik aura tegas itu wajah Abimana sangat tampan dan sedikit 'hot.'


"Jadi Mas Bima mau bawa klien Mas kesini untuk makan malam?"


Abimana mengangguk. "Saya ada request beberapa menu yang harus kamu hidangkan di besok malam. Kamu tidak perlu menutup cafemu ini karena saya hanya akan meminta meja yang spotnya paling cantik."


Kini berganti Anggita yang mengangguk paham, "Mas ingin menu tambahan apa?" tanya Anggita.


"Nanti akan saya kirim daftar menu yang saya inginkan agar kamu bisa menyiapkannya esok hari. Untuk urusan esok saya serahkan pada kamu ya Gi, saya percaya kamu pasti bisa mengurusnya," ungkap Abimana. Laki-laki itu kini tengah menyeruput kopi yang sudah dingin karena keduanya sendiri tidak tau kapan minuman itu di atar di meja mereka.


"Walau saya sedikit ragu tapi saya akan memastikan esok malam akan menjadi malam yang paling bagus selama Mas dan klien Mas makan disini," tegas Anggita. Satu lagi sifat Anggita yang membuat Abimana semakin menyukainya*.


*****