
Abimana dan Anggita sama-sama terdiam di dalam kamar. Keduanya telah menyelesaikan makan malamnya beberapa saat yang lalu. Mereka sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. Anggita menatap Abimana yang menatap kosong televisi yang tadi ia nyalakan.
"Mas Bima," panggil Anggita.
Abimana yang terkejut namanya di panggil maka dengan refleks yang cukup cepat langsung menolehkan kepalanya menatap Anggita sambil berkata, "Ya?"
"Mas aku takut," ucap Anggita.
Abimana menarik tubuh Anggita ke dalam pelukannya, di usapnya punggung Anggita dengan lembut.
"Kamu tenang saja, saya akan berhati-hati agar hubungan kita tidak tercium oleh mereka."
"Tapi Mas," Anggita menjeda ucapannya. "Mas, apakah yang kita lakukan ini benar? Aku bingung Mas," lanjutnya.
"Bingung kenapa?"
"Mas Bima tau Mbak Shela dan Mas Dimas selingkuh dan itu bukan hal yang baik. Lalu apa bedanya kita saat ini dengan mereka Mas?"
Abimana menangkup kedua pipi Anggita dan menatapnya dengan lembut, "Kita berbeda Gi, kita melakukannya karena mereka juga melakukannya. Mereka berdua melakukannya atas dasar nafsu mereka, dan ketahui lah kita melakukan itu hanya untuk membalas apa perbuatan mereka," kata Abimana.
"Tapi Mas, menurut aku kita gada bedanya sama mereka berdua," balas Anggita.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Karena kita sama-sama berhubungan tanpa di ketahui oleh mereka Mas. Entah atas dasar apa tapi apa yang kita lakukan ini memang salah Mas."
Abimana termenung mendengar ucapan Anggita, tidak memungkiri apa yang kini ia lakukan bersama dengan Anggita saat ini salah dan tidak benar. Tapi mau di apakah lagi keadaan yang membuat mereka seperti ini. Tak dapat membantah ucapan Anggita, Abimana memilih menarik tubuh Anggita masuk ke dalam pelukan hangat. Di kecupnya pucuk kepala Anggita dengan sangat lembut.
"Memang benar kita salah, lalu apakah kamu ingin menyudahi hubungan ini?"
Anggita sedikit terhenyak mendengarnya, "Apakah aku siapĀ meninggalkan semua afeksi yang di berikan oleh Mas Bima?" Batin Anggita.
Dengan lemah Anggita menggeleng, "Aku belum siap Mas, aku masih pengen di sebelah Mas Bima."
Abimana menarik dagu Anggita untuk di kecupnya bibir Anggita. Anggita sendiri tidak menolak perlakuan yang di berikan oleh Abimana. Berawal dari kecupan kini telah berubah menjadi *******-******* lembut, sangat lembut sampai sampai tanpa sadar Anggita sudah memejamkan mata karena terbuai yang di berikan oleh Abimana.
Anggita pun mengalungkan tangannya di leher sang pujaan hati. Melihat Anggita yang sudah terbuai dengan perlakuannya maka ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Tangan kekarnya untuk membuka piama Anggita satu persatu. Tak sampai di sana kini lidah tanpa tulangnya masuk ke dalam mulut Anggita.Puas bermain pada gua hangat Anggita Abimana menurunkan ciuman di leher jenjang Anggita, menjilat dan menghisap dengan sangat kuat. Tak lupa Abimana meninggalkan jejak keunguan di leher putih mulus milik Anggita sebagai tanda kepemilikan.
Suara laknat yang keluar dari mulut Anggita membuat sesuatu yang ada di balik celana Abimana menjadi tegak berdiri layaknya sebuah kebenaran. Kegiatan pun semakin panas dengan Abimana yang entah sejak kapan sudah melepas seluruh pakaiannya. Dan kita pasti tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di tengah-tengah kegiatan panas itu tiba-tiba ponsel Abimana berdering nyaring.
"Ma - mass ... itu a - ada telfon," ucap Anggita dengan terbata-bata.
Abimana yang melihat ponselnya berdering lebih memilih mengabaikan panggilan tersebut dan memilih mencari puncak kenikmatan yang sedari tadi tengah ia kejar. Namun lambat laun iya berasa risih dengan dering yang semakin menjadi. Dengan cepat ia meraih ponsel yang ia geletakan di ujung ranjang, di tekannya ikon telfon hijau untuk menjawabnya, samar-samar terdengar suara Shela.
"Sayaaaaaang."
"Haahhhhh, ke-kenapa?"
"Kamu lagi ngapain kok terengah-engah kayak gitu?"
"Kamu bener-bener olahraga kan? soalnya suara kamu kay-"
"Akhhhh ..."
Suara merdu Anggita lolos bersamaan dengan geramaan Abimana tanda kepuasan yang sedari tadi mereka kejar telah tercapai. Baru saja Shela ingin menjawab kembali ucapan Abimana tapi Abimana lebih memilih mematikan sambungan telfonnya. Tubuhnya ambruk di atas tubuh polos Anggita, nafasnya memburu dengan keringat yang bercucuran.
"Mas," panggil Anggita. "Tadi siapa yang telfon?" tanyanya.
"Shela," jawab Abimana dengan entengnya.
Dengan kondisi tubuh yang tak beda jauh dengan Abimana yang bernafas dengan tersengal-sengal, menatap wajah lelah Abimana dengan tatapan terkejut. Tubuhnya kini di dekap erat oleh tangan kekar Abimana. Laki-laki yang baru saja membuatnya terbang ke atas awan kenikmatan kini mulai memejamkan mata karena terlalu lelah. Di sentuhnya lengan itu dengan perlahan, "Mas, ininya di lepasin dulu ya." kata Anggita sambil menggerakkan bagian bawahnya.
Abimana pun terkekeh mendengar ucapan Anggitnya, ia pun dengan perlahan mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi berada di 'dalam' Anggita. Setelahnya di kecup kening Anggita dengan sangat lembut. Tak lupa di usapnya pipi gembul Anggita yang basah oleh kegiatan keduanya.
"Terima kasih ya sayang. Saya sangat bahagia bisa melakukan ini bersama kamu," ungkap Abimana.
"Sama-sama Mas, tapi Mas," Anggita menjeda ucapannya. "Mas bukan karena ingin bercinta dengan ku makanya Mas deketin aku kan?" tanya Anggita.
Abimana yang mendengar ucapan Anggita sedikit terhenyak, bagaimana bisa gadis itu berpikir bahwa ia hanya menginginkan tubuhnya semata. Namun naik pitam Abimana hanya tersenyum sambil mengecup bibir pink Anggita, "Jika memang saya hanya menginginkan tubuhmu kenapa saya akan menidurimu dari kemarin?" tanya Abimana. Anggita yang di tanya seperti itu hanya bisa terdiam tanpa menjawab sepatah kata pun.
"Sudah-sudah kamu kayaknya lagi capek aja itu."
Pada akhirnya keduanya sama-sama memejamkan mata dengan keadaan saling berpelukan.
*****
Namun di tempat lain ada Shela yang tengah uring-uringan. Gadis itu mengacak-acak rambutnya dengan sangat ganas karena sedari tadi ia mencoba menghubungi sang suami tapi malah suara merdu sang operator yang di dengar olehnya.
"Aaarrrrghhhhh kenapa ngga di angkat sih?" keluhnya frustasi. Ia bahkan mengabaikan intensitas Dimas yang tengah berbaring sambil bertelanjang dada. Dimas pun sama sekali tidak ingin tau apa yang sedang di alami oleh Shela. Ia tengah fokus dengan perasaannya yang dari tidak terasa tidak tenang. Sedari tadi ia terus-terusan terbayang wajah manis Anggita.
"Anj*ng kamu Abim!! kamu kenapa sih bisa-bisa ngga bisa di hubungi kayak gini." Gerutu Shela.
Shela pun melempar ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Melihat hal itu Dimas akhirnya tertarik untuk mengetahui apa yang terjadi pada Shela. Ia pun menarik dirinya hingga terduduk sambil bersandar pada kepala ranjang.
"Kamu kenapa sih Shel?"
Shela memutar tubuhnya menatap Dimas sambil mencebik, "Ini loh Dim, Abimana aku telfon ngga di angkat."
"Bukannya tadi kamu habis telfonan sama dia?"
"Iya ..." Shela menghela nafas panjang, "Tapi pas telfon tadi aku denger suara geraman sama ******* cewek. Aku takutnya Abimana ada main ama orang lain," ujar Shela.
Dimas pun terdiam saat Shela mengatakan '******* cewek' entah bagaimana Dimas seketika terbayang wajah erotis Anggita sewaktu bercinta dengan istrinya sewaktu masih di Indonesia. Ia segera mengecek ponselnya berharap Anggita membalas pesan yang ia kirim beberapa jam lalu.
Dalam batinnya ia berulang kali menyebut nama Anggita, "Gita kamu kenapa belum balas aku? Jangan bikin aku khawatir Git."
*****