
*Banyak mengandung adegan dewasa dan kata-kata kotor. Harap pembaca lebih bijak*
*****
Abimana memasuki kamar hotel yang ia pesan beberapa jam yang lalu. Laki-laki itu tampak lelah dengan kegiatannya. Hal itu terpancar dari raut wajahnya. Menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang. Perlahan memejamkan mata sebelum dering ponselnya kembali merenggut lelapnya.
"Hari ini mereka ketemuan lagi di apartemen yang mereka sewa bersama. Bim, maaf ya gue ngabarin lo yang jelek-jelek. Gue cuma kasihan sama lo."
Begitulah isi pesannya. Abimana memijat pangkal hidungnya. seakan lelah fisik saja tidak cukup. Kini ia harus kembali merasakan beban atas perbuatan istrinya. Abimana memang mengetahui soal perselingkuhan Shela dengan Dimas.
Apakah hati Abimana tidak terluka? Tentu saja. Tapi itu dulu, untuk saat ini Abimana tidak lagi membebankan pikirnya pada Shela. Biarlah wanita itu menikmati hidup seperti yang ia mau.
"Biarkan saja seperti itu." balas Abimana pada sang pengirim pesan.
Ia lantas kembali memejamkan matanya berniat pergi tidur untuk melepaskan beban pikiran dan juga lelahnya. Menutup mata dan langsung terlelap dengan damai.
*****
Tok ... Tok ... Tok
Suara ketukan itu mampu membuyarkan konsentrasi Anggita dari setumpuk berkas yang ada di hadapanya. Gadis itu tengah sibuk dengan kertas, angka dan kalkulatornya.
Dea berjalan memasuki ruangan bossnya itu, "Bu Anggita, sudah waktunya tutup. Kami juga sudah selesai bebersih." lapor Dea.
Anggita menggulir jam tangan yang ada di tangan kanannya. "Loh? Sudah jam 10 ternyata. Ya sudah kamu sama yang lain pulang duluan saja ya. Saya masih harus mengurus pembukuan." ujar Anggita di hiasi senyuman pada akhir kalimatnya.
Dea yang melihat raut wajah lelah pada sosok yang sudah 2 tahun ini menjadi bossnya itu hanya mampu menatap sendu.
Dengan diliputi rasa takut Dea berjalan mendekat pada Anggita. "Bu. Ibu dari kemarin sudah lembur loh. Hari ini pulang bareng kami ya," pinta Dea pada Anggita.
Anggita tersenyum sendu pada Dea. Gadis asal Solo yang ia temui sewaktu kecopetan saat pertama kali datang ke Jakarta. Gadis kecil yang menangis di halte karena dompetnya di curi oleh pencopet membuat hati Anggita iba. Lantas ia membawa gadis ke cafe untuk di beri makan dan pekerjaan.
Anggita kembali teringat akan pengalaman pertemuannya dengan Dea. "Sudah, saya sebentar lagi pulang Dea. Hanya tinggal menjumlah semua saja. Kamu lekas pulang ke asrama dengan yang lain. Saya tidak mau kalian terlambat besok pagi ya."
Dea tidak dapat membantah ucapan Anggita. Dengan langkah gontai Dea keluar dari ruangan tersebut menemui teman-temannya yang sudah menunggunya di depan cafe.
"Gimana De?" tanya Angga salah satu karyawan Anggita.
"Bu Anggi lembur lagi Ngga," jawabnya parau.
Rahma menghela nafas, lantas ia menepuk pundak Dea. "Ya sudah, kita pulang aja yuk. Biarin Bu Anggita fokus sama kerjaannya biar beliau cepet pulang." Teman-teman Dea tau sedekat apa Dea dengan Anggita.
Bagi Dea Anggita adalah dewa penyelamatnya. Jika tidak ada Anggita mungkin saat ini ia akan menjadi gelandangan. Bagaimana tidak, ia datang ke Jakarta dengan modal nekat karena keadaan ekonomi keluarga yanng tengah kacau. Membawa uang saku yang pas pas siapa sangka ia malah di copet sewaktu menapakan kakinya di ibukota.
Beruntung hari itu mobil Anggita tengah mogok dan membuatnya harus berjalan ke arah halte dan menemukannya yang tengah menangis sendu.
Dea mengangguk menyetujui ucapan Rahma. Mereka bersepuluh berjalan bersama melewati gang kecil menuju asrama yang Anggita sediakan sebagai fasilitas untuk para karyawannya.
******
Di tempat lain Dimas tengah di sibukan dengan hasil diagnosa pasiennya hari ini. Dimas dokter tampan asal Indonesia itu menjadi dokter idola di salah satu rumah sakit ternama di Singapura. Paras tampannya dengan mata teduhnya mampu menyihir siapa yang berada di dekatnya.
Banyak teman seprofesi dengannya yang berusaha dekat dengannya dalam artian romantisme. Hanya saja niat mereka urung saat melihat cincin nikah yang tersemat di jari dokter tampan itu. Namun itu semua tidak berlaku untuk Shela.
Dokter cantik yang juga berasal dari Indonesia itu tetap menerjang batas yang sudah jelas di depan mata. Dokter syaraf kebanggaan devisinya itu tampak lugas dengan semua orang. Hal itu membuat orang orang tidak pernah curiga akan kedekatan kedua dokter tersebut.
Seperti malam ini, Shela tiba-tiba menemui Dimas dengan langkah tergesa. Muka masam dan aura yang sangat menyeramkan. Menggebrak kasar pintu ruangan itu dan mendudukkan dirinya di depan Dimas.
Dimas terlonjak atas kegaduhan yang di ciptakan oleh Shela. "Kamu apa-apaan sih Shel?" Hardik Dimas. "Ini di rumah sakit bukan apartemen kamu." Lanjut Dimas.
Shela merenggut, "Dim. Kamu tau ngga sih? Masa aku tadi di prank sama Abimana." Shela mulai bercerita dengan nada menggebu-gebu.
Dimas menatap Shela sekilas sebelum gadis itu kembali berujar, "Kamu taukan kalau tadi dia telfon dan bilang mau ke unit aku. Ternyata apa? DIA NGGA ADA DISANA!" Shela terlihat sangat marah hal itu terbukti dari seberapa meradang wajahnya.
Namun Dimas tetap saja acuh pada dirinya, hal itu mampu membuat Shela kembali marah dan meluapkan emosinya.
"Dim!! Kamu denger aku ngga sih? Aku ini lagi marah loh!" pernyataan protes di layangkan oleh Shela tanpa sungkan..
"Kamu terlalu berisik. Kalau ngga ada urusan yang penting silakan keluar. Aku masih ada jadwal operasi beberapa jam lagi," balas Dimas yang masi fokus pada tabel data pasiennya.
Shela berdecak, ia lantas berkacak pinggang di depan Dimas. Menunjuk nunjuknya dengan kasar. "Kamu! Beraninya kamu nyuekin aku!"
Melihat perlakuan tersebut membuat Dimas akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Berjalan mendekati sosok di hadapannya ini. Di cengkeramnya dagu shela dengan kuat lalu berujar dengan tatapan yang menghunus tajam, "Lo kalau ngga bisa ngehargai gue mending lo keluar dari ruangan gue. Gue udah bilang kalau gue mau fokus sama operasi gue malam ini. Jadi silakan keluar Nyonya Shela Cantika istri dari Bapak Abimana sebelum saya menyeret anda keluar." Dimas sudah tidak peduli lagi dengan manner. Yang terpenting adalah ia harus mengusir keluar wanita ini dari hadapannya.
Shela yang di tatap dengan tajam oleh Dimas kini merasa sangat ketakutan. Di tambah dengan sikap kasar yang di tunjukan dimas kepadanya. Belum selesai dengan ketakutannya. Kini ia harus melebarkan kedua bola matanya karena Dimas dengan gamblang memanggilnya dengan nama lengkap serta nama suaminya. Ini pertanda kalau Dimas benar-benar muka terhadapnya.
"Keluar!" Bentak Dimas. Laki-laki itu menghempaskan tubuh Shela kesamping membuat wanita itu jatuh terkulai dan membentur dinginnya lantai rumah sakit.
Baru saja Shela ingin melayangkan protes terhadap Dimas. Namun yang ia lihat adalah tatapan siap membunuh yang di layangkan oleh tempat ranjangnya tersebut.
Selepas kepergian gadis muda tadi, Dimas lantas menggapai ponsel pintarnya. Ponsel keluaran terbaru dengan merek samsuri (sensor karena ngga di endorse) menggulir dengan cepat mencari kontak seseorang dan memanggilnya.
"Halo istri cantiknya Mas," sapa Dimas saat sambungan telfonnya berhubung.
"Iya Mas, halo. Selamat malam Mas sayang. Ada yang bisa Adek bantu?" Tanya sosok di seberang sana.
"Mas rindu Adek. Cafe udah tutupkan Dek?" tanya Dimas dengan suara yang amat sangat lembut.
Terdengar kekeh dari dalam ponselnya, "Ya sudah tho Mas. Ini loh sudah jam 10 lebih kalau disini. Mas disana sudah jam 11 malam kan? Kok belum bobo?"
"Adek kangen sama Mas, tapi Adek tau ini udah keputusan Mas. Mas harus fokus sama tanggung jawab disana biar bisa cepet-cepet selesaiin kontrak biar bisa pulang ke Indonesia."
Tampaknya ucapan Anggita dari seberang itu mampu membuat batin Dimas sedikit terguncang ada rasa hangat tapi juga guratan sakit di dalamnya. Bagaimana bisa ia menyakiti istrinya ini dengan perselingkuhannya dengan Shela.
"Baik. Mas akan fokus sama pekerjaan Mas disini. Kamu disana jangan nakal ya, jangan jalan sama yang lain. Jangan selingkuh juga," pinta Dimas dengan suara yang bergetar.
"Hey ... hey, bukannya Mas yang seharusnya jangan nakal dan jangan selingkuh, hm?" mendengar kalimat tersebut nyatanya mampu membuat nafas Dimas tercekat beberapa saat.
"Adek ...." Suara Dimas mendayu.
"Lo? Aku benerkan Mas? Mas disana di kelilingi sama wanita-wanita cantik, beda sama aku. Aku disini tiap hari yang di lihat Angga, Yanuar dan kawan-kawannya. Masa aku mau selingkuh sama meraka. Tapi aku yakin suamiku ini setia. Suamiku ngga mungkin selingkuh dari istrinya yang ada disini."
Sekali lagi Dimas di buat tercekat oleh ucapan lugas istrinya. Rasa bersalah kembali menyelimutinya.Tak sanggup ia membayangkan jika istri kecilnya ini mengetahui perbuatan bejatnya itu. Maka ia memilih berdalih untuk mematikan sambungan telfonnya ini.
"Adek sayang, Mas matiin ya. Ini mas sudah harus siap-siap buat operasi." dalihnya.
"Oh? Boleh Mas boleh. Mas matikan saja, semangat ya Mas. Ayo kumpulkan uang yang banyak biar aku bisa shoping, hihhi."
Dimas terkekeh pelan, "Siap tuan putri. Mas kerja dulu ya. See you sayang, love you, muach." Setelah mendapat balasan dari istrinya Dimas lantas mematikan ponselnya.
Laki-laki itu kembali memikirkan apa saja luka yang sudah ia perbuat untuk Anggita. Belum selesai dengan acara melamunnya, tiba-tiba pintu ruanganya di ketuk oleh seorang suster cantik bername tag 'yasmine'.
"Dokter Dimas sudah di tunggu Dokter Richard di ruang operasi," ucap Yasmine dalam bahasa Inggris.
Dimas mengangguk, " Baik Yasmin, terima kasih banyak."
Dimas bergegas keluar ruangannya bersama dengan Yasmine. Sepanjang jalan mereka sempat bertukar candaan. Tanpa disadari hal tersebut mampu memancing tatapan marah oleh seseorang di balik tiang penyangga rumah sakit.
Shela menggigit kuku jarinya dengan sangat kuat saat melihat Dimas berjalan bersama dengan Yasmine. Seorang suster dengan rambut pirang dan mata hazel yang sangat cantik. Di tambah dengan tubuh ramping yang mampu membuat iri para kaum hawa itu.
"Tadi aja kamu ngamuk-ngamuk sama aku Dim, tapi apa yang ku lihat sekarang?" batin Shela bergemuruh.
Gadis berusia 28 tahun itu berjalan keluar rumah sakit dengan langkah tergesa tanpa memperdulikan sapaan teman-temannya.
Mengendarai kuda besinya dengan cara ugal-ugalan. Memacunya dalam kecepatan tinggi dan berjalan menuju salah satu tempat maksiat yang paling terkenal di Singapura. Setelah 10 menit perjalanan Shela akhirnya sampai pada sebuah bangunan besar dengan lampu kelap-kelip. Apalagi kalau bukan klub malam.
Dengan langkah pongah ia berjalan memasuki klub tersebut. Baru melangkah masuk Ia sudah di sambut dengan suara musik yang memekakan telinga. Aroma alkohol langsung menyeruak pada indra penciuamnya.
Berjalan menuju bar tander dan memesan sebuah minuman dengan kadar alkohol cukup tinggi. Minuman dengan perpaduan warna biru dan kuning itu di tenggak habis dalam satu kali tegukan.
Selepas menandaskan gelas anggurnya ia berjalan dengan langkah terseok menuju gerombolan manusia yang tengah menari dengan erotis. Melepas blezzer yang membalut tubuh apiknya. Membuat semua laki-laki yang ada disana menatap lapar kearahnya. Bagaimana tidak, kini gadis itu hanya menggunaka rok mini dan tangtop hitam meliak-liukan tubuhnya pada sebuah tiang.
Di sudut ruangan seseorang tengah terperajat melihat sosok yang ia kenal tengah menjadi sorotan para laki-laki lapar. Tanpa banyak berpikir ia lantas menghubungi seseorang yang mungkin saja akan membuatnya kembali terkejut.
"Halo, lo dimana bro?" tanya Keanu dengan keadaan setengah sadar.
"Saya di hotel Ken, ada apa? Kamu mabuk lagi?" sambung Abimana dengan suara serak khas orang yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Gue lihat bini lo anj*ng. Dia disini." Keanu sedikit meninggikan suaranya berharap Abimana mampu mendengar ucapannya karena terlalu bising.
Abimana sontak membuka kedua matanya, "Apa maksudmu?"
Keanu berjalan lebih dekat ke arah Shela, istri dari teman masa kecilnya itu. "Sumpah Bim. Ini bini lo ada disini. Gue ada di klub yang biasa gue datengin kalo ke singapur. Gue kirim video ke whatsapp lo nanti lo cek coba." Keanu lantas memutuskan telfonnya.
Membuka aplikasi kamera dan lakukan video dengan tergesa dan mengarahkan bidikan kameranya pada wanita yang tengah asik menggoyangkan tubuhnya.
"Lo harus lihat ini Bim."
Begitulah pesan yang di kirim oleh Keanu pada teman sekaligus atasannya itu. Tidak lupa dengan video yang baru saja ia ambil.
Disisi lain Abimana tengah mencuci wajahnya dan berganti pakaian lebih santai. Mendengar notifikasi dari ponselnya membuat ia menghentikan aktifitasnya dan melihat apa pesan yang baru saja masuk.
Ternyata pesan dari keanu baru saja ia terima, ia hanya mampu tersenyum remeh melihat video yang baru saja ia tonton. Dengan cepat menyambar kunci mobilnya dan keluar dari hotelnya menuju tempat yang penghilang penat yang baru saja di kirim oleh Keanu.
keanu di kagetkan oleh tepukan pada pundaknya. Hampir saja ia memukul siapapun itu. Namun niatnya urung saat dilihat ternyata sosok itu adalah Abimana. Ia sampai disana setelah memacu mobilnya selama 18 menit.
"Dimana dia?" tanya Abimana tanpa basa basi.
Keanu lantas mengarahkan jari telunjuknya pada gerombolan laki-laki dan wanita yang tengah bergerak layaknya cacing kepanasan. Tepat di atas panggung dansa tiang Shela tengah bercumb* dengan seorang pria bule.
Keanu terkejut bukan main. Ia tidak mengira bahwa wanita itu akan seberani ini. Di depan umum bercumbu dengan pria lain yang bukan suaminya.
"... Bim." Panggil Keanu ragu-ragu. Ia takut sahabatnya itu akan mengamuk dan menghancurkan usaha seseorang.
"Tenang saja, saya sudah menduga hal ini akan terjadi. Jika seseorang akan tumbang saat alkohol menguasai tubuhnya, Namun hal itu tidak berlaku pada Shela, karena dia akan merasa h*rny disaat alkohol menguasainya," Abimana menghentikan ucapannya menyesap minuman yang baru saja datang sebelum kembali berujar, "Lihat saja, sebentar lagi pasti ia akan di bungkus oleh laki-laki itu."
Keanu menatap sahabatnya itu. Tak ada amarah disana, hanya ada ketenangan, ketengan sebelum badai. Pasalnya kedua mata elang itu tak lepas dari kegiatan panas istrinya. Tak lama Keanu melihat smrik yang tercipta di wajah Abimana. Lantas ia mengarahkan tatapannya kearah yang dengan tatapan Abimana.
Dan ternyata ucapan Abimana benar. Kedua manusia bejat yang di kuasai alkohol itu perlahan berjalan menaiki tangga menuju ruangan yang di sediakan oleh pihak klub untuk para pelanggan bercinta sampai matahari menjemput waktunya.
"Benarkan ucapan saya, Keanu?" Abimana menatap keanu dengan sebelah alis terangkat pongah.
******
Halo, Lynn disini. Jangan lupa like, koment, dan share ya biar Lynn makin semangat updatenya. Happy reading semuanya, salam cinta dari Lynn.