
Banyak kata-kata kasar dan adegan dewasa di dalamnya. Harap para pembaca lebih bijak
*****
Shela membopong tubuh lemas Dimas ke dalam kamar pribadi Dimas. Disana ia melepas satu persatu pakaian yang di kenakan oleh Dimas. Di mulai dari kaos yang melekat menutupi tubuh atletis laki-laki di hadapannya itu. Dimas yang masih terpengaruh oleh alkohol hanya mampu menuruti semua ucapan Shela. Niat awal yang hanya ingin menggantikan pakaian Dimas agar laki-laki itu bisa tertidur dengan nyenyak agaknya harus berubah. Hal itu terjadi karena Shela yang tak tahan melihat jejeran roti sobek yang tercetak jelas pada perut Dimas. Perlahan jari lentiknya membelai dan mengusapnya dengan gerakan sensual.
Perlahan tapi pasti Shela mendekatkan wajahnya pada leher Dimas. Terbesit ide kotor yang entah datang darimana. Ia berbisik tepat di bawah telinga Dimas, "Mas Dimas, aku kangen banget sama Mas. Malam ini aku mau sama Mas aja, boleh?" ucapnya dengan nada sensual.
Panggilan yang tidak asing di pendengaran Dimas membuatnya menatap wanita yang ada di atasnya dengan samar. Bayangan sang istri membuat pria itu tersenyum. Hasratnya tergugah melihat kecantikan paripurna selalu menyambutnya dengan hangat ketika ia pulang. Apalagi persoalan tentang ranjang yang sudah pasti tak akan ia lewat begitu saja. Secepat kilat Dimas melucuti seluruh kain yang membungkus tubuh yang ia kira adalah istrinya. Pinggang ramping itu di peluknya dengan sangat erat seakan takut jika akan terlepas.
Dimas menahan nafasnya saat mendengar bisikan wanitanya, belum selesai dengan bisik berbisik di tambah dengan gesekan pada lehernya tentu mampu membangkitkan hasratnya. Dengan mata tertutup nyatanya Dimas mampu membalik keadaan membuat wanita tersebut jatuh terlentang di bawahnya. Di belainya kedua pipi mulusnya dengan sangat lembut seolah pipi itu suatu benda yang mudah pecah saat ia terlalu kuat menyentuhnya.
"Boleh Sayang. Kamu mau Mas ngapain Baby?" tanya Dimas sambil menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Shela. Sontak Shela tersenyum puas lantas mengalungkan kedua tangannya pada leher kokoh Dimas. "Mau Mas Dimas. Mau di manja Mas, pokoknya cuma ada aku sama Mas aja."
Berawal dari sekedar kecupan pada bilah ranum Shela kini berubah menjadi kegiatan yang sangat panas dan penuh kesan menuntut . Dengan senang hati Shela membalas kecupan Dimas dengan tak kalah menggebu. Gemas dengan respon sosok di bawahnya dekapannya ini Dimas mengigit bibir bawah Shela sebelum kembali bermain dengan gundukan kembar pada dada Shela.
Entah sejak kapan kegiatan mereka bertambah panas, bahkan tampaknya mesin pendingin di ruangan itu sudah tidak berfungsi. Keringat terus saja bercucurun dari keduanya. Shela yang tengan memeluk posesif tubuh Dimas terdiam, "Lihatlah Shela, Dimas masih memanjakanmu dengan sangat lembut. Dia masih bersamamu sampai saat ini. Lalu untuk apa kamu khawatir dengan gadis kampung yang ada di Indonesia itu hah?" monolog Shela.
Belum selesai dengan monolognya Shela di kejutkan dengan pergerakan tiba-tiba yang di lakukan oleh Dimas di bawah sana. Reflek di cakarnya punggung Dimas dengan sangat kuat sembari meneriakkan nama laki-laki yang membuatnya kalang kabut itu. Namun berbeda dengannya yang melantunkan nama Dimas saat berada di puncak. Dimas justru menyebut nama sang istri, "Aahhh ... Anggita ....."
Kedua binarnya sontak membola saat mendengar sosok yang tengah memporak porandakan dirinya malah menyebutkan wanita lain disaat mereka selesai bercinta. "Awas kamu Anggita," batin Shela sebelum kantuknya menjemput. Setelah pelepasannya tubuh Dimas ambruk di atas tubuh polos Shela, keduanya menjemput mimpi bersama dan melupakan sesuatu yang masih menyatu di bawah sana.
*Beberapa jam kemudian*
Seorang laki-laki dewasa baru saja membuka kedua matanya, hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang amat sangat pusing bagai di pukul dengan palu thor. Di tambah tubuh yang merasa sangat lelah seperti baru saja melakukan kerja rodi. Di sibaknya selimut yang menutupi tubuhnya dan betapa terkejutnya ia melihat apa yang baru saja ia lihat. Sontak hal itu membuatnya menjerit terkejut.
"WUAAAAHHH!"
Mendengar teriakan yang amat memekakkan telinga terpaksa membuatnya Shela membuka matanya. Ia bertanya-tanya apa yang sudah terjadi sampai seseorang mampu berteriak seperti seorang yang baru saja kesetanan. Samar-samar ia melihat Dimas yang tengah terheran-heran di sampingnya. "Kamu apa-apaan deh Dim, berisik tau ngga sih?' tanya Shela dengan mata yang masih terpejam.
"Lo ngapain disini anjg?"
Shela mengusap kedua matanya lalu menatap ke arah Dimas, "Kamu lupa?" Shela menjeda ucapannya. "Kalaupun kamu lupa harusya kamu tau kita habis ngapain secara itu." Shela kembali menjeda ucapannya dan melirik sesuatu yang ada di bawah sana, "Tapi harusnya itu udah bisa bikin kamu inget kita habis ngapain aja." Dengan cepat Dimas menarik diri dan menjauhi Shela membuat apa yang tertaut di bawah sana menjadi terlepas begitu saja.
Suara setan itu keluar begitu saja dari mulut Shela saat keduanya terpisah.
"Kenapa lo ada disini Shel?"
"Kamu yang telfon aku mohon-mohon buat aku dateng kesini. Jadi ya, seperti yang kamu lihat aku dateng kesini dan kita melakukan itu," jawab Shela dengan santai seolah tidak ada beban dalam hidupnya.
"Nggak mungkin! Gue udah bertekad buat lepas dari lo dan balik ke istri gue. Lo pergi dari apartement gue!"
Shela mencebik, "Kamu itu ngga akan bisa lepas dari aku Dim," katanya.
"Persetan! Pokoknya mulai saat ini gue udah ngga ada hubungan apapun sama lo."
"Apa maksudmu Dim? Seenaknya kamu mutusin aku pas kita baru aja berhubungan badan? Kamu pikir aku wanita bayaran?"
"Memangnya bukan? Lo bahkan nyerahin tubuh lo gitu aja tanpa gue bayar."
Shela bersmirk, "Coba aja putusin aku kalau kamu pengen video kita selama ini aku kirim ke istri kampunganmu itu." Shela mengeluarkan ponselnya dan melepas benda pipih itu di depan Dimas.
Dengan keadaan masih bingung Dimas pun meraih ponsel keluaran terbaru dari salah satu brand ternama itu. Netranya lantas membulat saat melihat deretan folder yang ada di ponsel pintar tersebut. "Ngga usah coba-coba buat hapus data itu karena itu cuma salinannya aja. Aku sengaja rekam semua kegiatan bercinta kita karena aku butuh itu saat kamu ngga ada."
Shela berangsur mendekati tubuh gagah Dimas dan membelai rahan tegas sosok di depannya itu, "Jangan main-main sama aku Dim. Kamu udah bikin aku sayang sama kamu jadi kamu harus tanggung jawab," ucap Shela dengan nada lembut.
Mendengar ucapan Shela membuat Dimas naik pitam. Di tepisnya kedua tangan nakal yang membelainya tanpa ijin "Lo ngga seharusnya sayang sama gue. Hubungan kita hanya sekedar simbiosis mutualisme bukan romantisme inget itu," tegas Dimas. Ia menentang ucapan Shela dengan sangat keras. Bukannya mengalah Shela malah semakin berani pada Dimas.
"Yakin kamu selama ini ngga sayang sama aku? kamu yakin ngga ada perasaan sama aku Dim?" tanya Shela.
Dimas pun memalingkan wajahnya dan kembali membantah ucapan Shela, "Ngga! Gue ngga pernah ada perasaan sama lo."
"Gotcha." batin Shela.
"Pandang mataku Dim, coba kamu jawab sambil natap mataku." Shela pun kembali memegang rahang Dimas. Memutarnya agar mereka saling berhadapan, "Kamu ngga sayang aku Dim? Beneran ngga sayang aku? Hubungan kita hanya sekedar partner s*x buat kamu bener?" tanya Shela. Jika biasanya Shela akan menggebu-gebu entah setan apa yang merasukinya sehingga kini ia malah bertutur kata dengan sangat lembut. Hal itulah yang membuat Dimas luluh. Ia bahkan tak mampu mengucapkan sepatah katapun saat kedua netranya bertemu dengan netra Shela. Kali ini Shela kembali menang melawan Dimas. Melihat lawannya tak berkutik membuat Shela tersenyum senang, di peluknya tubuh Dimas dengan sangat erat. Tanpa di sadari oleh Dimas, kini wanita ular itu tengah tersenyum penuh kemenangan.
******
BRAK!!
Suara gebrakan meja menggelegar memenuhi ruang rapat yang berasal dari tangan Abimana. Laki-laki tampan itu tampak kesal dengan materi yang di sampaikan saat ini. Dari raut wajahnya saja dapat di pastikan ia tengah menahan amarahnya. Urat-urat di lehernya bahkan sudah tercetak dengan sangat jelas. Ruangan yang semula sunyi kini semakin sunyi hanya ada denting jam dinding dan helaan nafas yang keluar dari indra pernafasan Abimana.
"Materi apa yang kamu sajikan di hadapan saya ini? SAMPAH!" Di lemparnya setumpuk makalah di tengah meja panjang yang ada di depannya.
"Hasil evaluasi tidak sesuai dengan hasil akhir. Rincian macam apa ini? TIDAK JELAS!" Ia kembali melempar dokumen yang entah apa isinya.
"Saya sudah katakan saya ingin melihat hasil yang nyata. Sesuatu yang lebih jelas dari rapat seminggu yang lalu. Saya lihat kalian ini sangat amat senang saat saya tidak ada disini."
Hening.
Tidak ada satu orang pun yang berani bersuara. Keanu yang biasanya tidak memiliki rasa takut dan canggung pada Abimana kini nyalinya harus di kupas habis melebur dan menguap disaat bersamaan. Pasalnya Abimana disaat marah bagai sosok iblis yang sangat sulit di hadapi. Seolah-olah ia siap menyiksa siapa pun yang berani mengganggunya untuk saat ini. Ia tidak ingin kembali hidup susah di Afrika hanya karena menambah kerusakan pada mood bossnya itu.
"KELUAR KALIAN SEMUA!!"
Serempak semua orang keluar meninggalkan ruang rapat tersebut dengan tergopoh-gopoh. Mereka takut menjadi sasaran empuk oleh tuannya yang pemarah itu. Bisa bisa mereka di pindahkan di cabang afrika dan hidup susah seperti Keanu 2 minggu yang lalu. Saat Keanu ingin keluar ruangan langkahnya terhenti karena panggilan dari Abimana.
"Keanu."
"Y-ya Boss?" dengan tergagap Keanu berusaha menjawab panggilan dari Abimana.
"Siapkan mobil saya."
"Boss mau keluar?"
"Saya ingin bermain bom bom car," ucap Abimana yang terjeda." "Tentu saja saya ingin keluar Keanu. Saya ingin mencari udara sebentar. Rapat hari ini membuat saya muak. Tolong kamu kosongkan jadwal saya selama 3 jam ke depan." Abimana pun berjalan keluar ruangan meninggalkan Keanu yang tengah terheran-heran oleh keadaan Abimana. Biasanya Abimana akan memintanya membuat jadwal sepadat mungkin bahkan terkesan memaksakan dirinya sendiri. Namun kali ini apa yang terjadi? Seorang Abimana meminta jadwalnya di kosongkan? Sungguh suatu keajaiban. Sebelum Abimana kembali mengamuknya ia dengan cepat menghubungi sopir pribadi Abimana untuk menyiapkan mobil atasannya itu dengan segera.
Abimana berjalan menuju lift khusus untuk dirinya. Di dalam lift ia merogoh ponselnya dan menekan nomor Anggita.
"Halo, Assalamu'alaikum Mas Bima?" jawab Anggita dengan suara yang serak.
"Gi, kamu baik-baik saja kan? Suaramu sedikit berbeda."
"Engga Mas, saya kurang enak badan jadi mungkin agak sorean ke kafenya."
"Kirim alamat kamu Gi."
"Untuk apa Mas?"
"Kirimkan saja Gi."
"Anu Mas, tuuuut .... tuuuut ... tuuuut." Sambungan telfon terputus sebelum Anggita sempat mengucapkan alamat tempat tinggalnya.
Abimana yang cemas dengan keadaan Anggita kini kembali menekan lantai atas pada tombol liftnya. Ia melangkah dengan cepat menuju meja Keanu melemparkan ponselnya dan berdiri tepat di hadapan assisten pribadinya itu. "Lacak nomor ini, temukan keberadaannya secepatnya. Jangan lupa kirimkan pada saya dimana posisinya rincinya."
Walau bingung tapi Keanu tetap saja menjalankan perintah Abimana dengan cepat, Abimana sendiri malah sibuk mondar mandir karena paniknya. Lucu sekali laki-laki berusia 30 tahun itu tampak seperti remaja ABG yang baru merasakan jatuh cinta. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Keanu mendapatkan apa yang di inginkan oleh majikannya.
"Sudah dapat Boss!" teriak Keanu kegirangan karena ia merasa berhasil mengerjakan tugas dari bossnya dengan cepat.
"Kirimkan kepada saya posisi rincinya dan kirim juga dokter keluarga Bramantyo ke alamat tersebut," perintah Abimana.
Keanu yang merasa asing dengan alamat yang baru saja ia periksa lantas dengan memberanikan diri bertanya pada Abimana, "Maaf Boss tapi ini alamat siapa ya? Perasaan keluarga Bramantyo ngga ada yang tinggal di perumahan ini."
"Itu untuk selingkuhan saya." ucap Abimana sembari berlalu meninggalkan Keanu.
"Oh ... buat selingkuhan tho," ucap Keanu sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
Namun ia merasa ada yang salah, ia pun kembali mencermati ucapan yang di lontarkan oleh Bossnya itu. "Tunggu dulu. Apa katanya tadi? Selingkuhan? HAH?!" Baru saja ingin melayangkan protes, tapi tampaknya ia sedikit terlambat karena Abimana sudah menghilang dari hadapannya.
******