
*Banyak adegan dewasa dan kata-kata kasar. Harap pembaca lebih bijak.*
*****
Pembicaraan tersebut berubah menjadi sedikit santai. Tawa Anggita menemani obrolan mereka membuat Abimana nyaman dengan suasana disana.
"Kamu masih menyimpan kartu nama saya kan Gi?" tanya Abimana.
Yang di tanya mengangguk mengiyakan, "Masih Mas."
Namun si lelaki kembali bertanya, "Terus kenapa kamu ngga pernah chat saya?" Anggita tergugu, "S - saya bingung Mas mau chat apa, hehe." Jawab Anggita dengan senyum kikuk.
"Yasudah, nanti tolong di chat ya. Sekalian nanti saya kirim daftar menu tambahannya." Pinta Abimana.
"Boleh Mas, tapi kok Mas tiba-tiba mau bawa klien Mas kesini kenapa ya? Harusnya kan di bawa ke restoran mewah bintang 5," cicit Anggita. Ia merasa aneh kenapa klien seorang Abimana malah di bawa ke cafenya yang ukurannya tidak terlalu kecil tapi tidak terlalu besar itu.
Abimana mengerti atas kebingungan Anggita, pasalnya cafenya tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai. Letaknya pun agak jauh dari daerah perkantoran. Di tambah fakta bahwa mereka ini tidak terlalu dekat dan hanya pernah bertemu sekali saja.
"Awalnya saya tengah di pusingkan karena klien saya meminta untuk merayakan kerjasama kita di cafe kecil saja, sekaligus membantu perekonomian umkm kecil. Disini saya bukan menghina cafe kamu kecil bukan ya Gi, mohon maaf kalau kata-kata saya menyinggung perasaan kamu," Abimana menjeda ucapannya. Di tunggunya respon Anggita sebelum ia kembali bercerita. Setelah Anggita menganggukkan kepala barulah ia melanjutkan kembali perkataannya.
"Nah, saya bingung mencari tempat sederhana tapi dengan rasa dan pelayanan yang pantas untuk makan klien saya. Di tengah kepusingan saya Shela menelfon dan mengocehkan hal yang sangat tidak penting. Maka saya bilang ke dia kalau saya sedang pusing karena makan malam ini, dan dia menyarankan saya untuk ke cafe kamu," lanjut Abimana menjelaskan alasannya kepada sosok Anggita.
Anggita tertawa lebar hal itu tentu saja membuat Abimana mengangkat sebelah alisnya, "Ada apa?"
Anggita menggeleng, "Tidak ada apa-apa Mas. Cuma Mas sadar ngga sama satu hal?" tanyanya.
"Apa?"
"Saat Mas telfon istri Mas, sepertinya mas Dimas ada disampingnya." Kata Anggita.
Abimana masih belum mengerti arah obrolan ini. Hal itu tercetak jelas pada raut wajahnya. Dan Anggita pun mengetahui hal itu. "Gini ya Mas Bima. Saya dan Shela tidaklah dekat. Kami bukan teman, saya baru ketemu dengan Shela waktu di acara cafe yang dia datang bareng Mas. Saya ngga sespesial itu untuk bisa dia promosikan pada Mas, dan kenapa saya bisa berpikir mereka bersama karena pasti mas Dimas mendengar obrolan kalian dan ia yang menyarankan cafe istrinya untuk di datangi suami dari selingkuhannya dengan tujuan membantu cafe agar ramai," jelas Anggita.
Cukup berbelit tapi masih mampu di terima oleh Abimana, ia mengerti apa yang di maksud oleh Anggita dan ia juga baru menyadari akan hal itu.
"Apa mereka tidak takut kita akan membalas perselingkuhan mereka ya, gimana coba kalau kita berselingkuh karena pertemuan ini?" celetuk Anggita.
Mendengar hal gitu itu membuat Abimana melebarkan matanya. Ia tak mengira Anggita akan melontarkan kata-kata gila yang tak pernah ia pikirkan. Lantas ia meminta kartu nama Anggita agar ia bisa menghubungi Anggita lebih dulu karena masalah menu. Namun siapa yang tau apa yang ada di dalam benak laki-laki berusia 30 tahun itu?
Abimana berpamitan setelah ia menyelesaikan pembayaran dan pembahasannya tadi. Ia pergi meninggalkan cafe kecil itu dengan benak yang penuh hal gila. Dalam batinnya ia berkata, "Terima kasih Shela dan Dimas."
Abimana sampai di rumah pribadinya. Selepas ia menikah dengan Shela ia membeli rumah di kawasan elit yang super megah. Namun karena Shela memilih kontrak kerja di Singapura ia jadi jarang pulang ke rumah dan menyisakan beberapa maid untuk membersihkan rumah itu setiap harinya.
Di bawah guyuran shower ia memikirkan menu yang cocok untuk lidah kliennya nanti. Di tambah dengan hal gila yang tengah ia rencanakan. Tak berbeda jauh dari Abimana kini Anggita kembali di sibukkan dengan berkas berkas keuangan milik cafenya. Namun siapa sangka di tengah tengah kegiatannya itu tiba-tiba pipinya bersemu merah bak tomat masak yang siap di petik. Ia kembali mengingat perlakuan manis yang di lakukan oleh laki-laki yang baru saja ia temui.
Ia teringat bagaimana lembutnya sapuan tangan besar Abimana pada pucuk kepalanya. Hal kecil tapi begitu manis untuk Anggita, dan itu sungguh berarti untuknya. Dimas sang suami saja sangat jarang mengusap kepalanya, dia lebih sering mengusap pinggang ramping Anggita.
"Ish, jangan gita kamu Gita!! Dia itu suami orang gak boleh baper!!" Batin Anggita meneguhkan diri agar tidak terbawa perasaan.
Namun sisi lain dirinya seakan membantah dan berkata, "Gapapa Git, kan suamimu di ambil sama istrinya. Jadi kamu sah sah saja dia sebagai ganti rugi atas perselingkuhan istrinya dengan suamimu."
Sisi egois Anggita telah menyebarkan racun, kini berganti empati Anggita yang berbicara, "Tetep aja ngga boleh kayak gitu ya Gita. Satu sisi kamu ini bukan mereka, kalau kamu melakukan hal sama seperti mereka, lalu apa bedanya kamu dengan mereka? Di tambah memangnya seorang CEO besar seperti Abimana mau jadi selingkuhan kamu?"
Perdebatan itu membuat Anggita semakin bingung, "DIAM KALIAN PIKIRAN-PIKIRAN NAKAL!!" Teriaknya.
"Aaaaaaarrrrgggggghhhhh, bisa gila aku kalau gini!" batin Anggita menjerit.
*****
Seusai mandi Abimana duduk di meja kerjanya. Kini ia tampak memandangi kontak dengan mama Anggi yang baru saja ia simpan beberapa saat lalu. Ia tampak ragu untuk mengirim pesan singkat pada wanita itu.
"Astaga kenapa jadi kayak abg labil yang mau chat gebetannya gini?" batin Abimana.
Lalu tak mau banyak berfikir Abimana lantas mengirim pesan singkatnya hanya dengan menulis "Anggi." Tak perlu waktu lama pesannya pun langsung di balas oleh Anggita.
"Ya Mas Bima? Mau kasih menu ya?"
"Iya Gi, karena klien saya orang Jogja, Solo dan Bandung. Kira-kira menu apa ya yang cocok untuk mereka?"
"Jogja sama Solo biasanya lebih ke manis kan ya Mas. Nanti saya bisa buatkan gudeg, rawon, semur, atau kalau mau yang pedas nanti saya buatkan ongseng mercon. Setahu saya banyak kan ongseng mercon disana. Terus kalau buat yang Bandung saya taunya mereka lebih suka makanan hangat yang berkuah."
"Lalu kamu ada menu apa buat mereka?"
"Saya bisa buatkan semua menu itu kok Mas, tapi kalau orang Bandung ngga tau kenapa saya malah pengen bikin seblak, maaf ya Mas 🤧😭🙏🏻."
"Benda kuning kecil apa yang di pakai Anggi ini ya tuhan ... Kenapa tampak begitu menggemaskan?" batin Abimana bertanya-tanya kenapa Anggita menggunakan emoticon.
"Tidak apa, kamu siapkan saja bahannya siapa tau dia menginginkannya. Hmm ... Jika kamu mampu memasak semua menu tadi saya akan membawa mereka saat jam makan siang saja bagaimana? Atau makanan tadi bisa di santap untuk makan malam?"
"Bisa kok Mas, nanti makannya anget-anget gitu. Nanti saya siapkan dari sore hari jadi pas Mas dateng semua masih fresh dari kompor."
"Baiklah jika seperti itu, mohon bantuannya untuk esok hari ya Gi."
Entah kenapa hanya dengan bertukar pesan perihal pekerjaan mereka berdua sama-sama tersenyum dan tampak begitu menikmati obrolan mereka.
*Keesokan harinya.
Siang itu cafe Anggita tengah di repotkan dengan acara memasak menu spesial untuk kolega Abimana. Demi memastikan semuanya berjalan dengan baik. Anggita rela turun tangan sendiri dan memasak hampir seluruh menunya, tentunya dengan bantuan para karyawan.
"Bu Anggita, ini rawonnya sudah selesai tinggal Ibu icip aja," ucap Dea.
Anggita mengangguk. Ia melangkah mendekati panci yang berisi kuah coklat kehitaman dengan taburan daun bawang prei dan potongan daging sapi. Di sendoknya kuah tersebut dan di cecapnya ujung sendok tersebut.
Cukup lama terdiam membuat atmosfer menjadi tegang. Kemudian ia tersenyum, "Sudah pas dan enak ya anak-anak." Senyum Anggita merekah membuat para karyawannya bernafas lega. Rawon tadi adalah masakan terakhir yang perlu di cek dan sekarang semua menu sudah siap di hidangkan. Kini para karyawan itu berbondong-bondong berlari ke arah Anggita dan memeluknya dengan erat. Mereka menangis bahagia bisa menyelesaikan semua menu tepat waktu.
Anggita pun tersenyum mendapat pelukan dari karyawan yang sudah lama bersama dengannya. Jam sudah menunjukan pukul 7 malam dan Abimana belum juga menunjukan batang hidungnya. Anggita merasa cemas, ia takut jika dirinya hanya di permainkan oleh laki-laki yang baru saja ia kenal.
Namun semua ketakutannya sirna saat dari ujung depan muncul beberapa orang dengan setelan kantor yang sangat rapi. Tapi tidak penampilan itu tidak dapat menyembunyikan raut lelah pada wajah mereka. Melihat Abimana memimpin rombangan koleganya tanpa sadar membuat senyum Anggita merekah tanpa ia sadari.
"Mas Bima," gumamnya.
"Anggi, semua sudah siap?" tanya Abimana saat sampai di depan Anggita. Abimana mengulurkan tangannya yang langsung di sambut baik oleh Anggita. Namun gerakan yang di lakukan oleh Anggita mampu membuat semua orang yang ada disana melongo dan terkejut. Bahkan untuk Anggita sendiri.
"NGAPAIN AKU CIUM TANGAN MAS BIMA?!!" Jerit Anggita dalam batinnya*.
*****