
*Banyak adegan dewasa dan kata-kata kasar. Harap pembaca lebih bijak.*
******
"Baiklah kalau kamu memang ingin lepas dari aku," kata Shela.
Dimas terkejut dengan jawaban Shela, ia merasa tak yakin dengan apa yang ia dengar. "Shel? beneran lo bakal lepasin gue?" tanya Dimas memastikan perkataan Shela.
Shela mengangguk. "Ya, mungkin kita emang udah harus berhenti bersenang-senang bersama."
Dimas akhirnya menarik tubuh Shela ke dalam pelukannya. Ia merasa sangat bahagia dengan apa yang ia dengar, sungguh rasanya ia amat bahagia hingga tanpa sadar ia mencium kedua pipi Shela.
"Shela terima kasih banyak. Terima kasih banyak ya Shela sudah mau lepasin gue. Terima kasih juga karena lo udah mau biarin gue bahagia sama kehidupan gue."
"Tapi Dim, aku ada ada satu permintaan."
"Permintaan?" mendadak perasaan Dimas tidak enak. Ia menjadi was-was atas apa yang akan di minta oleh Shela.
Melihat raut wajah Dimas yang tampak berubah Shela lantas menenangkan sosk di depannya itu.
"Tenang aja aku ngga bakal minta yang aneh-aneh kok."
"Lo mau minta apa?"
"Aku mau minta selama kamu belum balik ke Indonesia, boleh ngga kita bareng-bareng terus? Aku mau menghabiskan sisa-sisa waktu kamu disini. Biar aku ngga ganggu kamu lagi nantinya."
Dimas tampak memikirkan permintaan Shela. Ia tak bisa langsung menolak atau mengiyakan permintaan itu. Namun bukan Dimas jika tidak luluh hanya karena bujuk rayu yang di katakan oleh Shela. Wanita itu memang cocok di sebut sebagai wanita ular karena tipu muslihatnya. Tampaknya kancil saja kalah cerdas dengannya.
"Oke, gue bakal turutin permintaan lo yang satu ini."
"Terima kasih Dimas."
Shela pun kembali memeluk tubuh Dimas dengan sangat erat. Karena keduanya kembali mengingat bahwa kini mereka masih ada di rumah sakit maka baik Dimas maupun Shela kompak melepaskan pelukannya. Dengan senyum malu-malu Shela bertanya pada Dimas, "Jam kerjamu sudah selesai?" tanyanya.
Dimas mengangguk, "Seharusnya sudah selesai beberapa menit yang lalu." ucap Dimas sambil mengecek jam tangan mewah yang bertengger di tangan kirinya.
"Pulang bareng yuk, aku juga udah selesai," kata Shela.
Keduanya pun akhirnya berjalan beriringan di barengi tawa bahagia dari masing-masing. Hal itu menuai berbagai pandangan dari rekan kerjanya itu.Ada beberapa orang yang menatap iri pada Shela dan Dimas. Ada pula pandangan tidak suka karena banyak dari mereka yang mengetahui bahwa Dimas sudah menikah dan memiliki istri di Indonesia.
"Dasar wanita gatal," kata Yasmine.
"Kau kenapa pula? Iri kah kau dengan Dimas dan Shela?" tanya Rose teman Yasmine.
Yasmine pun memicingkan kedua matanya, "Apa katamu? Aku iri dengan kedekatan mereka? Aku tidak segal itu untuk mendekati suami orang," kata Yasmine.
"Yas? dokter Dimas sudah menikah?" tanya Flo.
Nb : dialog dengan huruf italic di atas anggap aja mereka ngomong pakek bahasa Inggris ya, soalnya aku ngga pandai pakai bahasa Inggris takut salah, hehe.
Kedua perawat itu ternganga mendengar penuturan dari Yasmine. Selama ini mereka mengira Dimas dan Shela sama-sama manusia lajang yang menemukan cinta dalam pekerjaannya. Namun angan-angan mereka harus di patahkan oleh ucapan dari Yasmine.
Disisi lain Dimas melajukan mobilnya menembus jalanan Singapura yang tidak terlampau ramai itu. Di dalam mobill ia terus saja menggenggam tangan Shela. Bak dua remaja yang sedang di mabuk cinta keduanya menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan dan nongkrong di kafe yang biasanya menjadi tujuan para muda mudi memadu kasih. Seperti saat ini, setelah puas bermain di taman keduanya tengah duduk berhadapan di temani oleh semangkuk es krim dan beberapa dessert yang tampak menggoda sekali.
"Aku bahagia banget hari ini Dim."
Dimas pun mengangguk sembari menyeruput segelas americano dengan nikmat.
"Gue juga seneng banget hari ini," kata Dimas. "Gue seneng karena bentar lagi gue bakal lepas dari cewek gila kayak lo," batin Dimas.
"Kamu nanti kalau di Indonesia kira-kira bakal kangen aku ngga ya? Mungkin ngga sih Dim pas kamu lagi anuan sama istrimu tapi yang kamu inget itu aku?" tanya Shela dengan mata berbinar.
Uhuk ... Uhuk .. Uhuk ....
Dimas pun tersedak saat ia mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Shela. Bagaimana mungkin gadis itu menanyakan hal seperti itu di depan umum seperti ini? Beruntung mereka sedang ada di negeri orang lain jadi mereka tidak paham dengan obrolan keduanya.
"Lo gila ya Shel? Bisa-bisanya lo nanya hal kayak gituan disini. Nanti kalau ada yang denger gimana?" protes Dimas.
"Ya udah sih kalau mereka denger. Toh mereka ngga mungkin paham kita ngomong."
"Gimana kalau di antara puluhan orang ini ada yang orang Indonesia? Terus dia paham sama apa yang lo omongin Shel? Apa lo ngga malu kalau sampai di sebut pelakor?"
Shela hanya mampu mengantupkan kedua bilah bibirnya. Jika Dimas sudah memberinya wejangan seperti ini ia tidak akan berani mengeluarkan sepatah kata oun atau hubungan mereka akan kembali merenggang seperti hari-hari yang lalu.
"Ingat Shel, sekarang jaman udah canggih. Lo bayangin aja seandainya pas lo tanya tadi ternyata meja sebelah kita bisa bahasa Indonesia dan denger obrolan kita gimana? Iya kalau dia diem aja, gimana kalau di rekam? Dimas menjeda ucapannya. "Terus nanti di masukan ke tiktok dan lo bakal di cap sama warga Indonesia bahkan dunia sebagai pelakor. Terus suami kaya raya lo itu tau kalau istrinya ini ternyata wanita hyper s*x yang doyan main sama cowok lain di belakang suaminya? Katanya lo ngga mau cerai sama suami lo gara gara harta dia banyak bisa lo porotin buat kehidupan hedon lo."
Shela mengangguk membenarkan ucapan Dimas. "Kamu tau, aku harus mohon-mohon sama orang tua aku biar bisa di jodohin sama Abiman tau."
Dimas mengangkat sebelah alisnya, "Jadian lo nikah sama suami lo itu hasil perjodohan?"
Shela mengangguk, "Iya. Soalnya aku deketin dia ngga bisa. Ada beberapa kesempatan dimana kita ketemu di acara pesta koleganya papa dan disana ada Abimana. Aku coba kan deketin dia, mulai dari cara yang lembut sampai cara yang gatal ngga pernah di lirik sama dia, malah om-om perut buncit yang godain aku."
"Tapi lo mau kan?"
"Beberapa ada yang booking aku, tapi asal kamu tau ya," Shela menjeda kata-katanya. "Hampir dari mereka semua yang pernah tidur sama aku pasti itunya kecil. Kalau di bandingin sama si Jamal mu itu punya mereka ngga akan ada apa-apanya."
Mata Dimas sontak membulat. Lagi dan lagi ia di buat terkejut oleh kejujuran dan kalimat frontal yang lebih ke perkataan Shela itu. Di depan umum Shela berkata dengan gamblang seperti itu membuat Dimas merasa ketar-ketir. Ia sungguh takut jika seseorang mendengar dan mengerti akan pembicaraan mereka. Tak ingin berlama-lama di kafe tersebut Dimas memilih menarik tangan Shela keluar dari kafe setelah meletakkan uang pembayaran dan juga tips di atas meja.
Hanya saja mereka tidak tau bahwa ada sosok yang diam-diam tersenyum miring saat pergi meninggalkan kafe tersebut. Siapakah dia? saya sendiri tidak tau, hehe.
******