Dirty Marriage

Dirty Marriage
08



*Banyak adegan dewasa dan kata-kata kasar. Harap pembaca lebih bijak.*


*****


Setelah pertemuan tersebut Anggita dan Abimana menjadi semakin dekat. Mereka sering bertukar pesan dan terkadang melakukan panggilan telepon satu sama lain.


Kini keduanya kembali di pertemukan karena kedatangan Abimana di cafe kecil milik Anggita. Melihat Anggita yang sedang melamun membuat Abimana gemas, berujung tanpa sadar ia menepuk pundak wanita yang ada di depannya itu.


"Gi."


Anggita terkesiap karena tepukan pada pundaknya. "Ah, iya?" tanyanya.


"Jadi gimana?" tanya Abimana.


Anggita tampak menimang apa yang akan ia katakan, "Mas, kalau kita kayak gitu apa bedanya kita sama mereka?" tanya Anggita.


"Kita beda, mereka berhubungan entah karena nafsu atau perasaan satu sama lain. Akan tetapi Kita berhubungan karena rasa sakit atas hubungan mereka."


Anggita kembali menimang jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Sampai dimana ia mengucapkan sebuah kalimat. "Mari sembuhkan luka kita bersama Mas." Anggita tersenyum manis ke arah Abimana.


Abimana yang tertegun karena senyum Anggita. Senyum yang entah kenapa mampu menghantarkan rasa tenang. Langkah tegapnya berjalan mendekati wanita yang baru saja ia klaim menjadi miliknya. Di usapnya pipi mulusnya Anggita dengan tatapan lembut.


"Kamu cantik sekali Gi, apakah suami mu gila sehingga menyia-nyiakan dirimu?" ucap Abimana.


Mendapat usapan lembut dari tangan kekar Abimana membuat tubuhnya meremang di tambah suara husky milik laki-laki itu, nyatanya mampu menggetarkan perasaan aneh pada hatinya.


"M - mas ...."


"I want to kiss you, tapi saya tidak akan melakukannya untuk sekarang."


" M - mas ...."


Tanpa mengindahkan ucapan Anggita. Abimana mengikis jarak antara wajahnya dan wajah Anggita. Melihat Abimana sedekat ini dengannya membuat jantung berdegup dengan sangat kencang. Terlampau gugup sampai ia tak sadar telah menutup matanya. Lama menunggu tak ada rasa apapun pada wajahnya sampai tiba tiba ia merasakan ada benda kenyal dan basah menyentuh permukaan keningnya.


"Kamu kenapa menutup mata?"


Sontak Anggita membuka mata, menatap polos pada Abimana.


"Kamu memikirkan apa Anggi?"


"Ngga ada mas."


"Kamu yakin?"


"Mas ...."


Tanpa sadar Anggita merengek pada Abimana. Dengan terburu ia menutup mulutnya sendiri, merutuki kebodohannya sendiri.


"Anu Mas, anu itu, ih ... apasih aku iihh."


Abimana yang gemas dengan tingkah lucu Anggita memilih untuk mengusap surai hitam Anggita. Perempuan manis itu langsung membeku di tempat. otaknya memproses apa yang sedang terjadi.


"Saya pulang dulu ya Gi, esok hari ada rapat yang harus saya hadiri." Abimana merogoh sesuatu yang ada di kantungnya, "Ini ada sedikit oleh-oleh yang saya beli sewaktu saya di Singapura kemarin." Abimana menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna biru berhiaskan pita emas yang sangat elegan.


"Itu apa Mas?"


"Buka saja."


Anggita membuka kotak tersebut sesuai perintah Abimana.Di dalamnya tampak sebuah kalung emas berhiaskan batu berlian. Anggita menatap Abimana dengan mata berkaca-kaca.


"M - mas ...."


"Kamu cantik sekali Anggita," ucap Abimana tak lupa di usapnya pipi halus gadis di depannya.


"Mas kamu ngapain beli ginian coba?"


"Ya buat kamu lah."


Anggita mengerutkan dahinya, "Buat aku? Iya kalau aku terima Mas, lah kalau aku tolak gimana?"


Abimana terkekeh, "Tapi buktinya kamu terima saya kan?"


"Kan seumpama Mas."


"Saya tidak ingin berandai-andai Gi. Tapi jika di tanya seandainya saya di tolak, saya akan buang kalung itu."


Anggita terkejut mendengar ucapan dari sosok di depannya. Bagaimana ia bisa membuang kalung dengan hiasan berlian yang bisa ia tebak harganya puluhan atau mungkin ratusan juta.


"Gi, saya pulang dulu ya. Saya masih harus menyiapkan berkas untuk rapat esok hari." Ucap Abimana membuyarkan lamunannya.


"Eh, loh? Mas Bima ngga mau makan disini dulu?" tanya Anggita.


Abimana menggelengkan kepalanya, "Lain kali saja ya Cantik. Lain kali saya akan luangkan waktu agar kita bisa makan malam bersama. Atau mungkin kamu ada tempat yang ingin di kunjungi? Tolong katakan pada saya ya, agar saya bisa menyiapkan kendaraan untuk kamu."


"Mas ... Aku ngga perlu apa-apa, ini aja udah lebih dari cukup buat aku." Kata Anggita sambil mengelus kalung yang bertengger cantik di leher jenjangnya.


"Baiklah jika begitu saya pulang dulu ya,"


Anggita mengangguk pelan, "Mas hati-hati di jalan ya. Jangan tidur terlalu larut karena menyiapkan berkasnya." Ujar gadis itu.


Sungguh Abimana berani bersumpah bahwa ia sedang kegemasan melihat Anggita yang ada di depannya. Sejujurnya menyiapkan sebuah berkas adalah sebuah kebohongan. Laki-laki itu hanya takut ia lepas kendali dan malah 'memakan' wanita yang baru saja menyandang status sebagai selingkuhannya.


Setelah berpamitan Abimana lantas bergegas meninggalkan cafe milik Anggita dan pulang ke rumahnya. Hatinya sedang di penuhi oleh ratusan bahkan ribuan bunga bunga cantik. Bahkan ia tidak sadar bahwa sepanjang jalan ia tengah tersenyum bak anak remaja yang baru saja mengenal cinta.


******


Di sisi lain Shella dengan Dimas tengah bertengkar hebat. Shella bahkan berteriak-teriak tanpa memperdulikan suaranya akan di dengan oleh penghuni lain apartemen tersebut.


"Dimas! Kamu gila ya? Kenapa kamu ngga bilang ke aku dulu?!" teriak Shella tepat di depan wajah Dimas.


Dimas yang sedang memakai bajunya merasa tidak terima ada orang yang berani membentaknya. Di tatapnya Shella dengan tatapan membunuh. Perlahan tapi pasti ia mendekati Shella yang tak jauh darinya. "Memangnya lo siapa sampai gue harus ngomong semua soal gue di elo?" tanya Dimas jangan lupakan intonasi tajamnya.


Shella memang sering melihat Dimas marah. Namun tampaknya kali ini sudah di luar kendali Shella. Dimasnya tampak sangat murka. Ah, maksudnya selingkuhannya itu tampak murka. Terlihat jelas dari wajahnya yang meemerah padam. Dengan langkah besar Dimas meninggalkan Shella sendirian di dalam apartemennya.


"F*ck, kenapa perasaan gue ngga enak terus?" batin Dimas. Entah kenapa ia terus terbanyang wajah manis istrinya yang tengah menunggunya pulang.


"Gue kangen Anggita kali ya, makanya terbayang dia terus." Di rogohnya saku celannya guna mencari pinsel; pinter kepunyaannya. Dia mendial nomer telfon Anggita, namun yang di dapatkan adalah sang istri tengah berada dalam panggilan lain. Semakin gusarlah hatinya.


"Loh? Gita kemana ya? Tumben dia ngga angkat telfon gue?" Dimas kembali bertanya-tanya kemana kah sang istri.


Kini sampailah dia di parkiran bawah tanah. Disana ia bergegas pergi menghampiri mobilnnya dan bergegas pergi sebelum Shella menyusulnya. Sejujurnya ia sudah tidak tahan menjalin hubungan simbiosis mutualis dengan Shella. Hal itu terjadi karena Shella akhir-akhir ini selalu melewati batas yang telah mereka tentukan sendiri dan itu jelas membuat Dimas marah dan kesal. Mungkin bisa saja ia mengakhiri hubungan itu saat ini juga.


Namun hal itu tentu saja tidak mungkin ia lakukan. Bagaimana nasib juniornya jika ia berhenti berhubungan dengan Shella? Bisa-bisa si mini piton berkarat, berjamur atau mungkin penuh dengan semak belukar, haha.


*******