Dirty Marriage

Dirty Marriage
15



Keanu menatap garang ke arah Abimana yang tengah menyeruput kopi panas yang ia pesan beberapa menit yang lalu. "Kamu kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Abimana.


"Lo kenapa kasih nomer gue ke anaknya tuan Nakashini? kan dia minta nomer lo bukan nomer gue," jawab Keanu yang kembali melempar pertanyaan Abimana dengan pertanyaan lainnya.


"Saya hanya malas meladeni dia."


Keanu nampak bingung atas jawaban yang ia terima dari Abimana. "Maksudnya?"


"Kamu lihat bagaimana dia memandang saya selama rapat? dari cara ia memandang saya saja sudah mampu membuat saya risih dan tidak nyaman."


"Kalau itu iya sih gue sadar. Dia kayak lupa cara kedip gimana pas lihatin lo tadi."


"Maka dari itu saya enggan memberikan nomor ponsel saya padanya. Saya tidak yakin ia akan benar-benar membahas pekerjaan saat memiliki nomor ponsel saya."


Keanu mengangguk mengerti akan apa yang di katakan oleh Abimana. Memang benar apa yang di katakan sosok di depannya itu. Selama rapat dengan tuan Nakashini bersama asisten dan putrinya itu ia melihat dengan jelas bahwa Yumiko beberapa kali memandang Abimana dengan kedua pipi yang bersemu malu. layaknya remaja yang tengah menemukan pangeran berkuda putri impiannya.


"Lo mau kemana?" tanya Keanu saat melihat Abimana beranjak dari kursi kebanggaannya.


"Menemui Anggita."


"Ceilah baru berapa jam lo pisah dari dia udah kangen lagi aja lo."


"Tutup mulutmu itu sebelum saya deportasi kamu ke kantor cabang."


Setelah mengatakan kata-kata pedasnya Abimana pun meninggalkan Keanu yang tergugu di tempatnya. Keanu mendengus kesal atas perlakuan yang di terimanya beberapa saat tadi.


"Dasar bucin."


Keanu pun menyusul pergi meninggalkan ruangan Abimana untuk kembali ke ruangan pribadinya. Tak lama saat ia sampai di ruangannya tiba-tiba ponselnya berdenting. Tanda bahwa baru saja sebuah pesan masuk.


"Siapa neh?" monolognya.


Nampaknya semesta memang senang bermain-main dengan Keanu. Buktinya, baru beberapa hari yang lalu ia di buat terkejut tentang hubungan Abimana dengan Anggita. Kini ia harus kembali di buat terkejut oleh pesan yang ia terima. Isi pesannya adalah "Tuan Abimana ini saya Yumiko."


Ingin rasanya Keanu mengumpat tepat di depan wajah Abimana kawan bangs*tnya itu. Namun ia masih ingat bagaimana ia bisa hidup dengan layak atas bantuan Abimana di masalalu.


"Maaf nona Yumiko, tuan Abimana sedang di luar. Ini saya Keanu, asisten tuan Abimana."


"Oh tuan Keanu ya. Tapi maaf Tuan, kenapa anda membuka ponsel atasan anda seperti ini? Bukan kah ini tidak sopan Tuan?"


"Eh eh eh si bangs*t nih. Kau tak taukan kalau ini nomor ku dasar paok," gerutu Keanu.


"Baik nona Yumiko, tapi disini anda mengirim pesan di nomor kantor jadi saya bisa membalasnya tanpa mengganggu privasi atasan saya."


"Ah ternyata seperti itu. Jika seperti itu saya minta nomor pribadi tuan Abimana ya tuan Keanu. Ada beberapa hal yang ingin saya bahas dengan tuan Abimana secara pribadi."


"Dih, sape lo minta minta nomor si Abim. Kagak bakal gue biarin wanita gatal sepertimu mendekati teman ku," ujar Keanu penuh amarah sambil memelototi ponsel yang ia genggam.


"Mampus!!" ucapnya senang.


Di tunggunya balasan dari lawannya bertukar pesan tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Yumiko namun apa yang ia tunggu tak kunjung membalas. Ia tertawa menyeringai sambil memandang foto profil Yumiko lamat-lamat sampai akhirnya ia berkata.


"Masih cantikan Anggita kemana-mana."


******


Abimana baru saja memasuki ruang rawat Anggita saat wanitanya itu tengah melakukan panggilan telfon dengan Dimas di samping jendela. Posisi mereka saat ini adalah Anggita yang tengah memunggungi dirinya. Hal itu membuat sedikit banyak perasaanya memburuk karena melihat Anggita yang asik menelfon dengan suaminya. Apalagi Anggita berbicara dengan sangat lembut sama seperti saat Anggita berbicara dengannya. Anggita yang menyadari keberadaan Abimana lantas segera memutuskan panggilan tersebut.


"Sudah dulu ya Mas, aku mau makan dulu udah waktunya aku minum obat."


Panggilan pun berakhir dengan Anggit yang kembali memutuskan seperti beberapa waktu akhir-akhir ini. Selepas memutuskan panggilan telfonnya Anggita berjalan menghampiri Abimana yang memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Mas kapan datangnya?"


"Baru saja datang saat kamu memutuskan panggilan telfonmu bersama suami mu itu."


Anggita mengangguk paham, tak ingin bertanya lebih jauh lagi Anggita pun melirik ke arah tangan Abimana yang penuh dengan kantung belanjaan. "Mas bawa apa itu?" tanya Anggita.


Abimana pun ikut memandang bungkusan yang ia pegang. Di taruhnya barang-barang tersebut di atas meja di ikuti oleh Anggita di belakangnya.


"Saya tadi beli sup ayam dan beberapa buah yang bisa kamu makan. Kamu pasti tidak mau makan makanan rumah sakit kan? Ada sarang wallet juga di dalam sana."


Abimana mengeluarkan seluruh isi kantung belanjaannya. Anggita menatap Abimana sambil memicingkan mata.


"Mas ngga salah?"


Di palingkan wajah Abimana menatap Anggita. "Maksud kamu apa Git?"


"Ini." Anggita menunjuk sebuah bungkusan merah mewah yang di duga adalah sarang wallet.


"Ini barang mahal loh Mas. Kenapa Mas beli barang ini sih? Uangnya bisa di pakek buat beli yang lain loh. Mas ini kok ya boros banget." Anggita mengomel di depan Abimana.


Bukannya marah Abimana hanya terkekeh pelan merasa gemas karena respon yang  di berikan. Sungguh berbeda dengan Shela yang akan meminta di belikan ini itu oleh Abimana. Shela bahkan tidak ragu untuk menghabiskan ratusan juta dalam satu hari hanya untuk membeli barang-barang yang tidak penting. Namun kali ini rasanya berbeda. Ia merasa senang saat Anggita mengomel dan mengatakan bahwa ia terlalu boros dalam membelanjakan uangnya. Tak tahan dengan sosok di depannya ia lantas mengusap pucuk kepala Anggita karena gemas.


"Tidak apa saya senang menghabiskan uang saya untuk kamu."


"Ngga bisa gitu dong Mas." Anggita menghempaskan tangan Abimana yang bertengger apik di atas kepalanya. "Mas tuh ngga selamanya kaya. Mas juga harus bikin persiapan kalau kalau nanti Mas punya anak dong."


Abimana hanya mengangguk, "Kamu tenang saja, kekayaan saya tidak akan habis bahkan jika saya memiliki belasan anak." Abimana menjeda ucapannya, "Tapi saya hanya mau anak yang kamu berikan bukan dari orang lain," sambungnya.


Mendengar ucapan gamblang Abimana membuat pipi Anggita memerah padam. Ia merasa malu akan ucapan yang sudah di lontarkan oleh Abimana. Ia pun lantas berlari menuju kamar mandi meninggalkan Abimana sendirian.


*******