
*Banyak adegan dewasa dan kata-kata kasar. Harap pembaca lebih bijak.*
*****
Anggita tengah mengobrol dengan ibu mertuanya saat ponsel yang ia letakan di atas meja berbunyi. "Coba kamu cek dulu Nak, siapa tau itu suamimu yang menghubungi," ujar Lisia.
Anggita mengangguk dan lekas berjalan menuju meja kerjanya. Matanya memicing saat melihat siapa yang menghubunginya. Menatap ibu mertuanya sekilas dan meminta ijin untuk memberinya waktu karena ada customer yang menghubungi. Mengambil sudut di rungan itu Anggita tampak mengotak atik dan ponselnya sekilas dan lekas kembali menemui ibu mertuanya.
"Sudah urusannya?" tanya Lisia saat Anggita duduk di hadapannya. Anggita mengangguk, "Sudah Ma, katanya dia seneng dapet bonus dari anggita kemarin," ucap Anggita.
Lisia tampa tersenyum bangga dengan prestasi menantunya tersebut, "Mama bangga sama kamu Nak." Ucapnya tak lupa di elusnya kepala menantunya, "Mama dulu ngga percaya waktu Dimas cerita kamu bangun cafe ini sendiri hasil kamu kerja part time." Lisia menatap Anggita dengan sangat tulus terpancar dari kedua matanya.
Anggita tersenyum sendu saat menerima jutaan kasih sayang yang sudah lama tidak ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Ia juga teringat perselingkuhan Dimas dengan Shela yang tidak di ketahui oleh mamanya. Berbagai ketakutan muncul di kepala mungilnya. Bagaimana jika ia bercerai dengan Dimas? Bagaimana respon mama? Bagaimana nasib dirinya? Puluhan pikiran sesat tiba-tiba muncul begitu saja.
Lisia tidak sempat melihat raut wajah panik Anggita karena ia tengah menatap jam yang ada di kantor menantunya itu, lalu ia mengatakan ingin pulang karena sudah ada janji makan siang dengan temannya, "Sayang, mama pamit pulang dulu ya. Mama ada janji dengan bestie mama," pamit wanita parubaya itu.
Anggita nampak terkejut sepersekian detik, "Loh? Mama ngga mau makan siang dulu?" tanya Anggita saat menatap ibu mertuanya tengah bersiap-siap meninggalkan cafenya.
"Engga dulu ya sayang, mama mau makan siang bareng teman mama dulu. Kapan-kapan kita makan bersama ya, kamu jangan lembur terus sekali-kali kamu juga harus me time jangan kok kerjaan terus yang kamu urus mentang-mentang suamimu ngga ada disini," pesan Lisia kepada menantunya.
Mendengar pesan sang mertua Anggita hanya mampu tertawa kecil. Sungguh ia sangat menyayangi wanita itu. Ia sudah menganggap ibu dari suaminya itu seperti ibunya sendiri.
Setelah di rasa ibu mertuanya sudah benar benar pergi Anggita langsung menyambar kembali ponselnya mencari kontak yang tadi menghubunginya. Menekan tombol hijau guna melakukan panggilan dengan entah siapa disana.
"Halo Elisa, ada kabar apa?" tanya Anggita begitu mengetahui panggilannya tersambung.
Elisa teman masa kecil Anggita yang kebetulan sedang mengejar S2 di Singapura dan bertempat tinggal pada satu apartemen dengan apartemen yang di sewa oleh Dimas dan Anggita.
Awalnya sekitar 3 bulan yang lalu Elisa melihat Dimas memasuki unit yang terletak beberapa meter dari unitnya bersama seorang wanita. Ia pikir wanita itu adalah Anggita saat ingin di sapa ternyata ia terlambat Dimas sudah lebih dulu melangkahkan kakinya ke dalam unit itu.
Pagi harinya saat ingin membuang sampah ia melihat wanita yang semalam bersama Dimas keluar dari sana. Tersentak dan membeku saat di lihatnya wanita itu bukan sahabat kecilnya. Tidak sampai disana, wanita itu dengan tidak tau malunya mencumbu bibir Dimas dengan mesra di depan unitnya. Sungguh tidak tau malu. Dengan berbekal handphone yang bukan berlogo apel tergigit Elisa memfoto mereka berdua dan mengirimkannya pada Anggita. Beruntung ia dan Anggita masih menjalin hubungan baik.
Sejak saat itu Anggita meminta tolong pada Elisa untuk melaporkan padanya setiap kali melihat Dimas bersama dengan wanita lain. Hal itu kini terulang kembali, Elisa yang berniat keluar karena ingin mengambil paket kiriman sambel trasi dan jengkol balado dari Ibundanya kembali memergoki Dimas yang membawa tubuh terseok Shela. Jarak di antara ketiganya cukup jauh. Namun Elisa masih bisa mencium aroma alkohol yang sangat menyengat dari tubuh keduanya.
"Manusia-manusia kurang ajar, beraninya kamu nyakitin sahabat baik ku," geram. Elisa sangat geram mengetahui bahwa sahabat baiknya di selingkuhi oleh manusia gatal di depannya itu. "Beruntung waktu kamu sama Anggita nikahan kamu ngga sempet lihat aku Dim, coba kamu lihat aku, mana bisa aku jadi spy saat ini," gerutu Elisa.
Tidak mendapatkan balasan dari sosok di seberang sana membuat Anggita khawatir, ia kembali memanggil Elisa berharap ia mendapatkan jawaban, "Elisa, kamu masih disana kan?"
Elisa yang mendengar namanya di panggil oleh Anggita dari seberang sana nampak terkesiap kewarasannya kembali dengan cepat, "Eh iya Git. Aku mau laporan sama kamu Git," ujar Elisa bersemangat.
Elisa kembali menceritakan pertemuannya pagi tadi dengan Dimas dan wanita gatal tersebut. Anggita yang mendengar kabar tersebut hanya mampu menghembuskan nafasnya. "Terus tadi aku denger si wanita uler keket itu jerit jerit di dalam sana. Aku ngga tau dia di apain sama suamimu yang pasti mereka pasti lagi nananina." Elisa terdiam. Ia baru saja menyadari bahwa ia telah salah memilih kata dalam memberikan informasi pada Anggita.
"Git, maafin aku ya. Aku salah ngomong, maksudku ngga gitu kok Git," ucap Elisa dengan air mata yang siap keluar kapan saja. Ia merasa sesak dan panik saat mendengar isak tangis dari sahabatnya di seberang sana.
"Anggita jangan nangis, aku ngga suka kamu nangis Git. Ihh, Git jawab dong. Kalau kamu ngga jawab aku ajak ngelesbi loh," ucap Elisa.
"Ngawur kamu Lis," Anggita sedikit terkekeh mendengar penuturan temannya itu. "Aku gapapa kok kamu tenang aja ya. Aku percaya mas Dimas lagi khilaf aja, bentar lagi mas Dimas sadar kok," jawab Anggita menenangkan sahabatnya.
Elisa tak habis pikir dengan jawaban yang diberikan oleh Anggita. Bagaimana bisa ia dengan lapang dada menerima semua ini? Sungguh ingin rasanya ia berlari pulang ke Indonesia hanya untuk memeluk sahabat seperpopokannya itu.
"Git, gara-gara kamu ngomong gitu sambel trasi ibuku jadi hambar." Dan tawa Anggita pun pecah. Sahabat karib itu akhirnya melanjutkan obrolannya dengan canda dan tawa melupakan lara yang semakin dalam pada hati Anggita.
*Seminggu kemudian*
Sudah seminggu Abimana berada di Singapura akan tetapi tak sekali pun ia menengok keberadaan istrinya. Berulang kali Shela merengek meminta agar ia di perbolehkan menemui dirinya di kantor namun tentu saja permintaan itu di tolak mentah-mentah olehnya. Ia malas berurusan dengan wanita yang hanya memikirkan s*x, s*x, dan s*x. Terkadang ia bingung bagaimana istrinya itu bisa menjadi seorang dokter syaraf saat syarafnya sendiri tengah bermasalah? Mungkinkah ini yang dimaksud sukses karena jalur orang dalam?
Saat ini dirinya tengah membereskan barang-barang dan lekas kembali ke Indonesia. Baru seminggu di Negera orang tapi ia sudah rindu dengan kediamannya. Rindu masakan Bunda dan juga rindu suara cerewet adiknya. Ia juga sudah membeli beberapa oleh-oleh untuk seluruh anggota keluarganya termasuk untuk ayah tirinya.
"Bim, pesawat lo flight 2 jam lagi ya. Ini udah semua kan?" Keanu datang entah darimana sambil menenteng beberapa bungkus roti dan kopi instan. "Nih makan roti dulu." Abimana lantas menerima roti yang di ulurkan oleh Keanu.
"Terima kasih."
Keanu hanya bergehem sebagai jawaban, mulutnya penuh oleh roti yang ia gigit beberapa detik yang lalu. Dengan susah payah ia telan roti yang ada di mulutnya, "Lo kenapa ngga mau pakek pesawat pribadi lo sih Bim?" tanya Keanu. Laki-laki itu bingung kenapa Abimana memilih menggunakan pesawat komersil daripada pesawat pribadinya.
"Tidak ada, hanya rindu dengan suasana ramai dalam pesawat." Keanu tak mampu berkata-kata lagi. Sungguh aneh sekali si Abimana ini di matanya. Bagaimana tidak? ia hanya menerima semua dengan tenang, seakan-akan ia tengah pasrah oleh keadaan termasuk perselingkuhan istrinya.
"Hendra pernah bilang lo waktu itu ke apartemen dia ya?" tanya Keanu.
Abimana mengangguk sebagai jawaban.
"Terus, lo dapet apa dari sana?" Keanu kembali bertanya.
Abimana meraih botol kopi instan yang tadi di berikan oleh Keanu dan langsung menenggaknya, "Kamu berharap saya menemukan apa Kean? Sudah jelas sama menemukan dua suara hewan yang sedang berkembang biak." Sontak Keanu menyemburkan roti yang sedari tadi ia kunyah agar mudah di telannya.
Tidak di sangka waktu 2 jam berjalan dengan cukup cepat. Kini Abimana di temani oleh Keanu sudah duduk di dalam pesawat dalam golongan vvip dengan pelayanan paling mewah. Selama perjalanan Keanu menghabiskan waktunya untuk menutup mata dan pergi menjemput dunia mimpinya.
Setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam akhirnya keduanya sampai di Indonesia. Tanah air tercinta dengan keanekaragaman budaya dan karakter, jangan lupakan penduduk dengan kekonyolan yang tiada tanding.
"Mau langsung pulang atau mampir makan dulu?" tanya Keanu begitu menapakkan kakinya di bandara.
Abimana tampak berpikir sebelum memutuskan pada akhirnya ia memilih langsung pulang, "Kita langsung pulang saja, saya ingin makan masakan bunda."
"Oh, yasudah. Ngga gue anter?" tanya Keanu sekali lagi.
Abimana menatap heran ke arah asistennya itu, "Kamu juga rindu masakan bunda kan?" Keanu yang di tanya seperti itu oleh Abimana hanya mampu menampakkan senyum tanpa dosanya dan Abimana hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di rumah Abimana langsung di sambut oleh teriakan melengking oleh adik kecilnya siapa lagi kalo bukan Marsha. Gadis kecil berusia 4 tahun itu berlari berhamburan masuk dalam pelukan kakak sambungnya. Marsha Rechiver adalah adik sambung Abimana. Gadis kecil dengan mata biru dan lesung pipi pada kedua pipinya adalah hasil pernikahan ibunya dengan laki-laki bule bernama Fedrick Rechiver. Sebenarnya ia masih memiliki seorang kakak tiri bernama Tenya Rechiver yang jarang sekali ada di rumah.
"Hai little angel, did you miss me?" tanya Abimana sembari mengusap rambut Marsha.
Marsha mengangguk, "Rindu, rindu kakak sama kakak kecil," jawab gadis kecil itu.
Abimana mengangkat alisnya saat mendengar jawaban sang adik, "who's little brother?"
Marsha menunjuk ke arah Keanu, "Kakak kecil." katanya.
Sontak membuat Abimana tertawa lebar, "Yeah, dia memang kecil." dan perkataan itu di sambut anggukan oleh Marsha. Namun berbeda halnya dengan Keanu ia tentu saja tersungkut-sungut mendengar ucapan kakak dan adik itu.
"Iya, bully aja gue. Ngga adik ngga kakak sama aja pada body shaming," sarkas Keanu dengan wajah cemberut. Namun hal itu tak berlangsung lama karena ia melihat seorang wanita cantik baru saja keluar dari dapur, "Ada apa ini? Baru sampai kok sudah bertengkar, hm?" tegur Minah sembari membawa nampan penuh gorengan.
"Wah ada gorengan!" Siapa lagi kalau bukan Keanu yang heboh melihat gorengan di atas meja. Marsha yang melihat adanya bahaya untuk makanan kesukaannya itu lantas menarik nampan tersebut dan menyembunyikannya.
"No no no Kakak kecil, ini punya Marsha!" dengan alis menukik dan tatapan garang. Gadis itu berusaha membuat takut Keanu. Akan tetapi harapannya itu terpaksa pupus karena bukannya takut Keanu justru kegemasan.
"Biar apa alisnya nukik-nukik gitu?" tanya Keanu sambil menggenggam tangannya sendiri
"Biar sama kayak kakak Abim, kakak Abim kalau marah alisnya jadi mirip angry bird." Mendengar ucapan adik kecilnya membuat Abimana tertawa lebar. Bisa-bisanya ia di samakan dengan angry bird kartun kesukaan dia.
"Sudah-sudah, Marsha sayang ayo siniin gorengannya kasihan kakak Keanu tuh udah ngiler nanti ngga tinggi-tinggi kakaknya karena ileran," ucap Minah menengahi pembicaraan putranya. Atas perintah Bundanya dengan berat hati Marsha mengembalikan gorengan tersebut kehadapan Keanu, "Makan yang banyak ya Kakak kecil biar tumbuh tinggi kayak Kakak Abim." ucap dengan wajah sendu.
"Bunda ini sama aja ternyata, Marsha awas loh nanti kakak cubit kalau habis makan." Keanu dengan keisengannya kembali menggoda gadis kecil di hadapannya tersebut. Tentu saja ia langsung mendapatkan balasan berubah pelototan mata oleh si kecil.
"Gimana bisnis kamu di Singapura kemarin?" tanya bunda Minah pada Abimana.
Abimana mengangguk sebelum menelan makanan yang ada di dalam mulutnya, "Lancar Bun, makanya sekarang Abimana udah disini." Ucapnya setelah menelan makanannya.
"Syukurlah kalau begitu, habis ini istirahat ya nak. Kamu pasti capek, oh iya. Kamu disana ketemu istri mu kan?" Itu adalah pertanyaan yang paling dihindari oleh Abimana.
Namun mau mengelak seperti apapun buatnya tidak ada gunanya, "Engga Bunda, Abim tidur di hotel bareng Keanu," jawab Abimana dengan jujur.
Bunda yang memang seorang ibu tentu saja mengetahui ada yang tidak beres dengan pernikahan putranya itu. Ingin hati bertanya lebih jauh namun ia juga tak ingin mengusik kenyamanan sang buah hati. Jadi wanita itu hanya mengangguk dan lanjut makan.
Setelah puas makan dan bermain dengan Marsha, Abimana dan Keanu pamit pulang karena masih ada kegiatan esok hari. Awal sang ibu meminta mereka berdua untuk menginap saja tetapi tawaran itu di tolaknya. Tak ingin berargumen dengan anak-anak jadi ia biarkan buah hati bersama teman kecil yang sudah di anggapnya seperti putranya sendiri itu pulang ke rumah masing-masing.
Namun mobil Abimana bukan ya berjalan menuju ke rumah tapi malah berbelok di sebuah cafe yang cukup ramai pengunjungnya. Cafe dengan banyak hiasan bunga dimana-mana itu tampak asri dan menyejukkan. Cocok di gunakan untuk melepas penat setelah seharian bekerja.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya sang kasir.
Terlalu fokus ia memandang cafe tersebut membuat Abimana terkejut saat mendengar sapaan dari krang lain, "Ah, ya. Saya ingin bertemu dengan Anggita." jawabnya.
"Sudah buat janji Tuan?" Abimana hanya mengangguk sebagai Jawaban.
Dea yang hari ini menggantikan Anggita berjaga di kasih hanya menatap bingung pada laki-laki tampan yang sedang ia antar menuju kantor bosnya itu.
"Silakan masuk Tuan." Dea akhirnya meninggalkan Abimana di depan kantor Anggita setelah mempersilahkan untuk masuk.
Demi sopan santun Abimana mengetuk pintu ruangan Anggita sebanyak 3x dan baru memasukinya.
"Anggita," ucapnya.
Mendengar namanya di panggil Anggita lantas mendongakkan kepalanya menatap siapa yang baru saja memanggil namanya dengan suara yang begitu berat.
"Mas!"
*****