Dirty Marriage

Dirty Marriage
01



Mengandung kata kata kotor dan adegan dewasa. Pembaca harap lebih berwaspada


Pagi itu di dalam sebuah cafe, Anggita Mawardi. Seorang wanita berusia 25 tahun itu tengah di sibukkan oleh beberapa kedatangan tamu langganan di cafe yang sudah ia kelola selama 4 tahun ini.


Di balik meja kasir ia tersenyum bahagia menatap meja meja yang terisi penuh oleh tamu yang di hiasi tawa bahagia di wajah mereka.


"Bu Anggita pasti bahagia banget ya?" tanya salah satu pegawainya dengan nama tag "Dea Puspita."


Anggita nampak mengulum senyum, "Siapa yang ngga bahagia sih De melihat usaha yang dia rintis perlahan mulai maju?" ucap Anggita.


"Bu Anggita ini beruntung banget ya. Udah sukses dengan usaha cafenya. Udah gitu punya suami ganteng kayak Pak Dimas lagi," puji Dea.


Sekali lagi Anggita hanya mampu tersenyum mendengar celotehan dari karyawannya itu.


"Sudah sudah, sana kamu kembali kerja. Kalau kamu masih disini saya potong gaji kamu ya," ancam Anggita di selingi tawa.


Tak lama setelah obrolan itu, tiba tiba ponsel Anggita berdering menampilkan nama 'Mas Dimas♡' pada displaynya. Agaknya suaminya ini akan memiliki umur yang panjang. Baru saja ia di bicarakan sekarang sudah menelfon saja.


"Halo Mas Dimas," sapa Anggita saat menerima panggilan itu.


Samar-samar dari ujung sana suara Dimas mulai menyapa indra pendengar Anggita, "Sayang, kamu apa kabar?"


"Alhamdullilah Mas, Adek baik-baik aja kok," jawab gadis itu.


"Syukurlah kalau Adek baik. Mas kangen Dek. Kamu apa ngga mau nyusul Mas kesini?"


"Bukan Adek ngga mau loh Mas, tapi Mas tau Adek disini juga ngurus Cafe yang semakin rame. Lagian Mas kenapa harus ambil kontrak di Singapura sih? Kan banyak rumah sakit Indonesia yang butuh dokter kompeten seperti Mas."


Terdengar Dimas menarik nafas cukup panjang sebelum kembali berujar, "Adek, kita kan udah bicarakan ini berulang kali. Alasan Mas ambil job disini."


Anggita nampak lesu setelah mendengar jawaban dari laki laki yang ia nikahi sejak 3 tahun lalu," Iya Mas, maafin Adek ya."


"Sudah ya Mas ngga mau bahas ini lagi. Adek udah makan? Mau mas delivery dari sini ngga?"


Anggita terkekeh, "Istrimu ini pemilik cafe loh Mas, masa Mas mau pesenin makanan terus di kirim ke cafe?" Di seberang sana Dimas tidak mampu menahan tawanya atas ucapan sang istri, "Memang ada yang salah ya?"


"Ngga tau ah Mas. Nda usah di kirim makan, di tempat Adek banyak makanan," ucap Anggita menolak tawaran suaminya.


"Mas jadi kangen masakan mu Dek."


"Makanya Mas pulang dong," balas Anggita dengan nada mengejek.


"Tunggu Mas cuti ya Dek, nanti mas pulang ketemu Adek."


Mendengar ucapan sang suami hati Anggita menghangat. Ia kembali merasa bahwa suaminya sangat menyayanginya. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena dengan tergesa Dimas mematikan sambungan telfonnya setelah mengucapkan bahwa ia akan kembali ke rumah sakit.


"Sayang, Mas balik ke rumah sakit dulu ya, tiba-tiba ada panggilan darurat. Kamu jaga kesehatan disana ya, Mas sayang kamu, love you sayang, muach." Telfon pun benar-benar terputus. Anggita hanya mampu tersenyum sembari meremas ujung pakaiannya.


*****


Disisi lain Dimas tampak kesal setelah melakukan panggilan dengan istrinya beberapa menit yang lalu.


"Kamu tuh apa-apaan sih Shel? Kamu ngga lihat aku lagi ngomong sama Anggita?" tanya Dimas kesal. Matanya menatap kesal pada wanita yang tengah bergelayut manja pada lehernya.


Shela seorang dokter di rumah sakit yang sama dengan tempat Dimas bekerja selama ini. Shella wanita dengan bibir mungil, rambut bergelombang sebatas bahu. Ia jugalah wanita yang selama ini menjadi penghangat ranjang Dimas selama satu tahun ini.


"Loh? Salah ku dimana? Aku cuma lagi enakin kamu loh?" jawab Shella dengan senyuman nakalnya.


"Apa kurang aku buat kamu menjerit semalam? Kamu bahkan sampai memohon ampun tadi malam, apa itu masih kurang?" tanya Dimas dengan rahang mengeras.


Shela menjilat bibirnya sendiri guna memberi kesan menggoda lawan jenis yang ada di depannya ini, "Kamu tau kan, aku ngga pernah puas sebelum kamu hancurin aku sampai titik maksimal," jawabnya dengan nada sensual. Tak lupa tangan si cantik itu perlahan mulai merabah area selatan Dimas.


Mendapat perlakuan seperti itu ia hanya mampu memejamkan mata dan menyambar bilah bibir yang ada di depannya. Setelahnya hanya mereka yang tau apa yang sudah mereka lakukan.


*******, geraman dan keringat yang menetes menjadi teman kegiatan panas keduanya. Di sela sela kegiatan panas itu ponsel Shela berdering, tanpa melihat display ia langsung mengangkat panggilan itu.


"Shela, kamu ada di apartemen? Saya sedang ada perjalanan dinas di Singapura selama seminggu jadi saya ingin mampir ke unit kamu," suara husky dari seberang sana seketika membuat bulu kuduk Sheila meremang.


"A-abimana sayang, akh ..." Shela langsung membungkam mulutnya kalau merasakan sesuatu yang hangat menyapanya di bawah sana.


"Shela? Kamu kenapa?" tanya sosok yang di panggil Abimana tadi.


Shela mendelik ke arah Dimas yang acuh dan terus berjalan menuju kamar mandi tanpa memakai pakaian sedikit pun.


"Baby, aku gapapa kok. Kamu kok ngga bilang kalau ada disini kan aku bisa jemput kamu di bandara." jawab Shela setelah mengatur nafas beberapa saat.


"Tidak perlu menjemput saya. Saya tanya kamu dimana?"


"Aku di luar Sayang, sedang hang out dengan teman-teman mumpung hari ini aku ngga ke rumah sakit." kilah Shela yang ternyata sedang bersenang-senang dengan rekan kerjanya. "Sayang kalau mau datang langsung ke unit aku aja, pinnya hari pernikahan kita."


"Baiklah, selamat bersenang-senang ya ISTRIKU." sahut Abimana dengan menekankan kata istri di akhir kalimatnya.


Wanita itu tampak bahagia saat mengetahui suami tengah berada di negara yang sama dengannya. Ia pun bergegas menyusul Dimas yang tengah membasuh diri. Dengan langkah terseok wanita itu akhirnya sampai di kamar mandi.


"Suami mu menyusul kemari?" tanya Dimas yang masih setia berada di bawah guyuran shower,


Shela mengangguk, "Ya, katanya dia ada perjalanan bisnis disini seminggu makanya mampir ke unit aku." Gadis itu menenggelamkan tubuhnya dalam bath up yang sudah di siapkan oleh Dimas.


"Kalian bakal tinggal barengkan? Jadi aku ngga perlu nanggepin nafsu setan kamu itu selama seminggu," tanya Dimas.


Shela berdecak pelan, "Ck, ngga ada jaminan kita bakal tinggal bareng. Biasanya dia bakal milih tidur di hotel dekat tempat yang perlu datengin." Dimas hanya mengangguk.


"Lagian kamu gaya banget bilang nafsu setan, padahal kamu selama ini selalu menikmati permainan aku. Apalagi kalau aku pakai lidah aku ini." Setelah mengucapkan kata kata tidak senonoh itu Sheila menjulurkan lidahnya ke arah Dimas. Namun yang di goda malah memalingkan wajah.


Butuh waktu 30 menit untuk Shela menyelesaikan ritual mandinya. Kini ia tengah duduk di depan meja riasnya. Jari lentiknya tengah mengoleskan berbagai skincare di wajahnya.


"Ck, kamu apa -apaan sih Dim?" tanya Shela dengan raut wajah yang menunjukan raut tidak suka.


Dimas mengangkat sebelah alisnya sebelum bertanya, "Aku ngapain?"


Shela membalik badannya, "Kamu ngapain keluar kamar mandi kayak gitu bikin orang pengen aja." Shela menatap lapar ke arah Dimas.


Mendengar ucapan Shela yang tak tau malu itu membuat kedua bola mata Dimas membola, "Jangan gila kamu Shel. Kita baru saja melakukannya 30 menit yang lalu." Tegas Dimas.


Shela berdecak dan kembali menghadap pada cermin yang tadi ia acuhkan.


"Ya ya ya, ngga sekarang. Semoga malam ini kita ngga ada jadwal operasi biar kita bisa main di toilet rumah sakit lagi," kata Shela santai.


"Dasar sinting." gerutu Dimas.


Setelah selesai memoles wajahnya Shela berjalan menyambar tas jinjing yang ia letakkan di atas ranjang bersama pakaian Dimas yang masih berserakan. Wanita itu berjalan menghampiri Dimas yang tengah menatap ke luar jendela, bergelayut manja layaknya sepasang muda mudi yang tengah di mabuk asmara.


"Sayang, aku pulang dulu ya. Aku harus temui suami tersayang ku dulu mumpung dia ada disini. Kamu disini baik-baiknya nanti kita ketemu lagi di rumah sakit." Shela menyambar bibir Dimas hanya sebuah kecupan karena sang lawan tak kunjung melakukan pergerakan.


"Yaudahlah, aku pergi dulu. Hati-hati jangan tegang aku ngga ada disini." Wanita itu lantas pergi meninggalkan Dimas sendirian di dalam lamunannya.


"Maafkan Mas ya, Anggita." Batin Dimas meminta maaf pada sang istri.


*****


Shela melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia tak sabar untuk melihat wajah tampan milik suaminya. Laki-laki yang sudah 6 bulan ini tidak ia temui dan hanya berkabar melalui sambungan telfon.


Mobil mewah dengan warna putih itu perlahan memasuki area parkir apartemennya. Dengan tergesa ia turun dari mobil dan lantas berlari kecil memasuki lobi. Berjalan dengan sedikit cepat sembari membalas sapaan dari penghuni apartemen yang lain.


Menekan tombol pintu lift dan mengarahkannya pada lantai 6 tempat unitnya berada. Selama lift berjalan naik menuju lantai yang ia tuju beberapa kali wanita itu menghentakkan kakinya berharap lift itu berjalan lebih cepat.


"Ayo cepat, suami ku sedang menunggu buat aku puasin disana." Gerutu Shela.


Namun saat sampai di unitnya Shela di buat kembali berdecak kesal. Pasalnya sang suami tidak ada disana, jangankan sosok suaminya. Barang barang atau koper saja tidak ada. Bahkan aroma parfumnya saja tidak dapat ia bau.


"Abimana! Kenapa kamu mempermainkan aku?!" Teriak Shela di dalam unitnya. Beruntung tempat tinggalnya itu kedap suara sehingga tetangganya tidak perlu merasa bising akibat teriakannya tadi.


Ia lantas mencari ponselnya di dalam tas dan menggulir layarnya dengan tergesa. Mencari kontak sang suami dan langsung melakukan panggilan. Harga dirinya tercoreng, ia merasa tengah di permainkan oleh suaminya.


"Ya Shela? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Abimana dari ujung sana.


Pertanyaan Abimana membuat Shela semakin ingin mengamuk. Ia menganggap bagaimana mungkin Abimana masih bisa sesantai ini.


"Abimana kamu dimana?" tanya Shela dengan nada yang sangat ketus.


"Ada apa Shela? Saya ada di hotel sedang makan siang, tadi di pesawat saya tidak sempat makan."


Shela menghentakkan kakinya, "Abimana! Kamu sadar ngga sih kamu udah mainin aku!" Tak dapat menahan amarahnya Shella lantas menaikan nada bicaranya.


"Saya mempermainkan kamu di bagian mana?" Tanya Satria.


"Gara gara kamu bilang mau mampir aku langsung pulang ninggalin kesibukan aku, cuma demi kamu. Demi kamu Abimana!" Jelas Shella menggebu-gebu.


Di ujung sana Abimana berujar dengan acuh, "Apa saya meminta kamu untuk meninggalkan semuanya lalu pergi menemui saya?"


Shela membeku, pikirnya "benar juga, dia ngga minta gue pulang." Namun egonya memilih untuk tetap melambung, "Tapi kan aku kangen kamu makanya aku buru-buru pulang Abimana. Apa kamu ngga kangen aku?" Tanya Shela dengan intonasi yang sama seperti tadi.


"Saya rindu, jika saya tidak rindu untuk apa saya menyempatkan diri untuk mampir ke unit kamu?"


"Ya, tapi kan-" instruksi dari Abimana membuat Shela enggan melanjutkan ucapannya.


"Sudah dulu ya Shel klien saya sudah tiba." Satria lantas memutuskan panggilan itu.


Shela yang melihat itu tentu saja merasa sakit hati karena harga dirinya benar-benar di coreng oleh laki-laki yang telah menjadi suaminya selama hampir 3,5 tahun itu.


*****


Abimana, laki-laki berusia 30 tahun. Pewaris tunggal dari keluarga kaya raya. Laki-laki dengan paras yang sangat memukau. Hanya dengan senyum saja mampu memikat banyak sekali lawan jenis. Hanya saja, laki-laki itu sangat amat dingin.


Abimana yang tengah duduk bersantai di sebuah cafe dalam hotel berbintang 4 dengan seorang laki-laki di hadapannya.


"Mau sampai kapan lo diem aja Bro?" tanya sosok di depannya.


Satria menyeruput secangkir kopi yang mulai mendingin. Ia tampak acuh dengan ucapan dari Keanu. Keanu kembali berujar, "Abimana, lo denger gue ngga sih?"


Abimana nampak sedikit tersenyum, "Ken, saya sudah bilang saya kesini hanya untuk mengurus masalah pekerjaan. Dan kamu sebagai asisten saya tolong fokus. Masalah di luar pekerjaan kita bahas nanti saja." ujar Abimana memberi teguran.


Pada akhirnya Abimana dan Keanu kembali fokus dengan materi rapat yang aan mereka adakan esok hari. Selama kurang lebih 3 jam mereka habiskan untuk membahas proyek akhirnya kedua laki-laki dewasa itu menutup laptopnya. Ken merenggangkan tubuhnya merasa penat karena terlalu lama duduk dan fokus pada pekerjaannya membuat leher belakangnya kaku.


"Udah bisa santai nih kita?" tanya Ken pada Satria.


Satria tertawa sumbang, "Kamu ingin membicarakan apa Ken?" tanya Satria tenang. Lalki-laki itu sungguh tenang. Tak ada raut marah atau kesal disana.


Ken kembali duduk di atas di depan teman sekaligus atasannya ini. "Gue bingung sama lo deh, lo ini kelewat sabar atau bagaimana?"tanya Ken.Pemuda itu nampaknya bingung akan ketenangan yang di tunjukan oleh teman seperpopokannya.


"Saya tidak sesabar itu kamu tau kan Ken. Sabarnya orang pemarah itu adalah sebuah bom waktu yang mampu meledak kapan saja."


Mendengar kalimat yang sulit di cerna oleh otaknya Ken hanya mampu mengangkat sebelah alisnya. Berbeda dengan Ken yang nampak bingung, Satria malah tampak semakin tenang dengan menampilkan smriknya secara samar membuat kerutan di kening Ken semakin bertambah.


"Ini bukan lagi hanya permainanmu saja karena saya akan turut serta dalam permainan ini." Batin Abimana. Jangan lupakan senyum yang ia simpan rapat rapat.


******


Halo apa kabar semua? Lama ngga bertegur sapa ya sama aku. Sekarang Chiplux hadir dengan nuansa yang berbeda. kali ini Chiplux sudah berubah menjadi Braelynn panggil aja Lynn. Enjoy sama karya baru aku ya. jangan lupa like, komen, dan share. Terima kasih semuanya.