Dirty Marriage

Dirty Marriage
16



******


"Hari ini kamu sudah boleh pulang." kata Abimana sambil menyuapi Anggita.


"Alhamdulilah akhirnya udah boleh pulang."


"Kamu senang sekali ya," ucap Abimana.


Anggita mengangguk sembari mengunyah makanan yang sedari tadi di suapkan oleh Abimana. "Aku udah disini semaleman loh Mas. Aku kan harus cek kafe juga, ngga enak aku ninggalin anak-anak sendirian."


"Kamu boleh pulang asal pulangnya di apartement saya. Dan satu lagi saya tidak menerima bantahan," ujar Abimana tegas.


"Loh Mas?" baru saja ingin melayangkan protes Abimana lebih dulu menyuapkan bubur ke dalam mulut Anggita. "Saya tidak ingin kamu langsung bekerja seperti itu Anggita. Untuk masalah kafe saya bisa meminta anak buah saya untuk memantaunya jika kamu memperbolehkan. Saya pastikan akan mengirim anak buah saya yang benar-benar kompeten dalam hal memanagement kafe kamu."


"Bukan gitu Mas, aku ngga enak kalau harus tinggal di rumah Mas. Nanti kalau ketahuan orang-orang disana Mas bawa masuk wanita lain selain istri Mas kan bahaya Mas," sambung Anggita.


"Kamu tenang saja, itu apartemen yang baru saja saya beli jadi saya pastikan semuanya aman. Memang tidak terlalu besar tapi cukup untuk kita berdua selepas ini saya belikan kamu rumah pribadi jadi kamu tidak perlu takut terlihat oleh orang lain."


Mendengar ucapan Abimana tentu saja membuat kedua bola mata Anggita membola. Bagaimana bisa laki-laki di depannya ini membeli barang-barang tersebut dengan mudahnya bagaikan membeli kacang goreng di pinggir jalan. Anggita tau Abimana memiliki sebuah perusahaan hanya saja ia tidak mengetahui bahwa sosok di depannya ini adalah pemilik dari perusahaan terkaya di negaranya tersebut.


"Mas jangan kayak gitu itu dong. Mas harus berhemat buat masa tua Mas nanti. Hari ini aku bolehin Mas beli barang mewah buat aku tapi esok ngga lagi ya Mas," kata Anggita setengah memohon.


Melihat raut wajah tidak senang yang terpancar dari wajah Anggita membuat puluhan pertanyaan muncul di kepala Abimana. Apakah kekasihnya ini tidak senang dengan barang-barang yang ia belikan? Sedari tadi Anggita terus saja berusaha menolak pemberian darinya.


"Gi, apa kamu tidak senang dengan semua yang saya belikan untukmu?" tanya Abimana yang sudah terlampau penasaran.


Anggita menggeleng, "Aku seneng kok Mas, cuma kalau buat aku ini terlalu mahal. Aku ngga pantas menerima semua ini. Mas masih bisa pakai uang yang Mas pakai buat beli barang-barang itu ke hal yang lebih berguna. Mas bisa bikin usaha dan menciptakan lapangan kerja untuk orang-orang yang pengangguran. Sisi lainnya juga Mas jadi punya cadangan jika amit-amit perusahaan Mas bangkrut atau apa, Mas punya usaha yang bisa Mas pakai di hari tua nanti," kata Anggita panjang lebar.


Sekali lagi Anggita berhasil membuat Abimana jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya. Pemikiran dewasa Anggita mampu membuat Abimana terpesona lagi dan lagi. Tak tahan karena gemasnya di raihnya kedua pipi Anggita dan di kecupnya belah bibir ceri milik Anggita. Tak ada lum*tan dan juga nafsu, hanya ada kelembutan dan kecupan kasih sayang untuk wanita yang mampu mengobrak-abrik jantung dan fikirannya.


Angita tak mampu lagi mengucapkan kata-kata. Ia hanya bisa menarik setelan jas mahal yang di kenakan oleh Abimana. Menelusupkan wajahnya memerahnya di dada Abimana. Abimana hanya terkekeh gemas melihat tingkah malu Anggita yang ada di pelukannya.


"Ada apa, hm?" tanya Abimana sambil mengusap punggung Anggita.


"Mas diem atau aku gigit!" ancam Anggita. Maka tawa Abimana pun menggema memenuhi ruang rawat vvip tersebut.


*****


Belakangan ini Dimas dan Shela di buat sangat sibuk oleh pekerjaan mereka.Dimas yang harus membuat beberapa laporan jurnal begitu juga dengan Shela. Hal tersebut membuat keduanya sama-sama tidak memiliki waktu untuk bertemu satu sama lain. Namun walau mereka sudah tinggal bersama nyatanya mereka malah tidak bisa puas bertemu dan bermesraan seperti dulu. Bagaimana tidak biasanya saat Shela sampai rumah Dimas harus pergi ke rumah sakit, begitu juga sebaliknya saat Dimas sampai di apartment dia sudah dalam keadaan yang sangat lelah bahkan saat itu tak jarang dia sampai apartment dengan Shela yang sudah sudah tertidur sehingga ia enggan untuk membangunkannya.


Hari ini adalah hari berlangsungnya rapat bulanan yang di adakan oleh pihak rumah sakit. Maka di sinilah keduanya kembali bertemu setelah berhari-hari tidak bisa bertemu dengan waktu yang lama. Shela memandang Dimas yang duduk tepat di depannya. Gadis itu tidak menyia-nyiakan kesempatan yang di belikan oleh Tuhan untuk menggoda kekasih gelapnya itu. Di lepaskannya sepatu ia pakai, secara perlahan kaki jenjangnya itu menyentuh betis Dimas yang tengah fokus memperhatikan presentasi yang di bacakan oleh dokter senior. Dimas pun terkejut akan apa yang di lakukan oleh Shela. Ia pun mendelik menatap tajam kearah sosok yang ada di depannya, sosok yang tengah memamerkan deretan gigi rapinya. Ia berharap Shela bisa menghentikan kegilaannya tersebut, tapi agaknya harapan hanyalah sebuah harapan. Bukannya berhenti Shela malah semakin berani.


HUK!! UHUK ... UHUK ... UHUK


Semua mata berpaling menatap suara yang mengintrupsi kegiataan rapat kala itu. Siapa sumbernya? Dimas lah asal muasal suara bantuk yang mengagetkan peserta rapat.


"Kamu baik-baik saja Dimas?" tanya dokter yang sedang presentasi.


Dimas mengangguk sambil menutup mulutnya, "Saya baik-baik saja Dok. Silakan lanjutkan materi anda."


Dimas kembali menatap nanar ke arah Shela. Namun lagi-lagi Shela hanya menampilkan wajah tersenyumnya tanpa dosa. Bagaimana Dimas tidak tersedak ludahnya sendiri saat daerah privasinya di tekan dengan kurang ajarnya oleh Shela. Tidak sampai disana Shela bahkan menggesek-gesekan ibu jari kakinya di atas benda privasi Dimas dengan tujuan menggoda laki-laki itu.


Rapat yang berlangsung hampir 3 jam itu menjadi sangat lama untuk Dimas yang tengah menahan sesuatu yang tegak tapi bukan kebenaran di balik celananya. Beberapa kali ia harus menahan erangan karena stimulasi dari Shela yang tiada henti. Beberapa orang menatapnya dengan khawatir karena keringat dingin yang terus keluar dari kening Dimas. Namun ia berkali-kali meyakinkan teman -temannya agar mereka tak perlu khawatir dengan keadaannya. Setelah keluar dari ruang rapat ia langsung menarik Shela masuk ke dalam ruang pribadi Dimas dan di kunci dengan rapat. Disana ia langsung mendorong tubuh Shela dan memintanya untuk menunduk, di tahannya bahu gadis itu di depannya. Tanpa banyak omong Dimas lantas melepas celananya memamerkan benda kebanggannya.


"S*ck it sl*t." perintah Dimas dengan pandangan yang tertutup oleh kabut nafsu. Dan Shela pun melakukannya dengan senang hati. Sore itu Dimas dan Shela kembali melakukan hubungan saling menguntungkannya itu di rumah sakit tempat keduanya bekerja.


*****