Destiny

Destiny
END



Follow me on :


IG ; @galaksindromeda61


FB ; @andromedagalaksi


Selamat membaca!


...••••...


1 tahun kemudian ...


Berkat bimbingan dari Arjean, Joanna berhasil memulihkan keuangan Pabrik seperti dulu.


Bahkan Joanna juga menaikkan gaji para karyawan Pabrik dan memberi bonus tunjangan bagi karyawan yang telah bekerja di Pabriknya selama 3 tahun ke lebih.


"Bu Joanna, untuk bahan baku isian cokelat sudah hampir habis. Apa tidak sebaiknya kita minta dikirim Supplier lagi untuk restok di Gudang?" tanya supervisor bagian pengadaan bahan baku Gudang.


"Boleh. Anda ajukan permintaan barang ke divisi terkait lalu berikan laporan itu secepatnya pada saya supaya bisa segera di Acc."


"Baik. Besok pagi laporannya sudah ada di meja kerja Ibu, saya permisi."


Joanna memanggil staff itu, "Pak Alex."


"Ya, Bu?"


Joanna beranjak dari kursi kemudian memberikan sebuah amplop putih yang sempat ia ambil di dalam laci tadi, "Saya dengar dari karyawan lain, istri anda akan melahirkan bulan depan?"


"Iya, Bu. Perkiraan Dokter begitu. Maaf, kenapa?"


Pak Alex membuka amplop berisi lembaran uang pecahan seratus ribuan.


"Bu Joanna, ini–"


"Untuk biaya persalinan. Anggap saja ini bonus karena anda sudah bekerja di Pabrik ini selama 7 tahun. Oh ya ..."


Joanna memberikan sebuah kartu nama pada Pak Alex, "Istri anda bisa melahirkan di Rumah Sakit itu. Milik teman Suami saya, Pak. Nanti mereka akan membantu anda dan Istri selama di sini. Semua fasilitasnya gratis."


Mendapat bantuan yang bertubi-tubi, Pak Alex tidak mampu menahan tangis haru atas kebaikan hati Bosnya tersebut.


Berbeda dengan gaya kepimimpinan Pak Deryyant dan Soraya, Joanna adalah figur sosok Bos yang sangat baik dan rendah hati.


Ia juga tidak segan terjun ke lapangan secara langsung, mengecek bagian produksi wafer yang tempatnya sangat panas dan berisik sebab banyak mesin-mesin yang beroperasi untuk memproduksi barang.


"Loyalitas anda terhadap perusahaan jauh lebih berharga dari nominal uang itu, Pak."


"Bu, terimakasih. Terimakasih banyak."


Joanna ikut merasakan tangis haru hingga matanya berkaca-kaca, "Sama-sama. Saya harap anda selalu semangat dalam bekerja ya setelah ini." kata Joanna.


"Iya, Bu Joanna. Pasti. Anda baik sekali, semoga anda dan Pak Baskara selalu bahagia dan rezekinya berlimpah, aamiin."


Doa baik dan tulus dari orang-orang seperti inilah yang membuat hati Joanna diliputi ketenangan serta kebahagiaan sebab bisa membantu meringankan beban sesama.


"Iya, Bu Joanna. Sekali lagi, terimakasih banyak. Saya permisi kembali kerja."


"Iya, Pak."


...••••...


Hari demi hari telah berlalu dengan cepat.


Kenangan manis dan pahit sudah dilewati. Joanna menatap bingkai foto yang memperlihatkan potret kebersamaan dirinya dan kedua orangtua angkatnya saat pertama kali mereka resmi menjadi keluarga kecil yang bahagia.


"Papa, Mama ... Joanna rindu."


Dalam bingkai foto berukuran besar tersebut, senyum bahagia Joanna mengembang.


Itu pertama kalinya Joanna bisa merasakan memiliki keluarga yang lengkap dan sempurna.


Namun kebahagiaan itu dihancurkan ketika Pak Deryyant berselingkuh dengan Sekretarisnya sendiri, Soraya.


Ngomong-ngomong, wanita itu tidak mendapat keringanan hukuman meskipun sedang dalam kondisi hamil sebab Arjean sudah menyewa pengacara handal untuk memenangkan kasus tersebut dan pengadilan memutuskan jika Soraya dihukum 30 tahun penjara atas semua kejahatan yang telah dilakukan, termasuk melakukan money loundry perusahaan serta mencuri dokumen penting milik keluarga Ruby diluar kasus pembunuhan berencana terhadap Pak Derryant.


"Kenapa di sini?"


Sebuah lengan melingkari perut Joanna. Rasanya begitu hangat.


"Aku kangen mereka, Je."


Arjean menumpukan dagunya di atas pundak sang Istri. Mencuri satu kecupan di pipi tirus Joanna yang mulai berisi.


"Mereka udah tenang di sana. Aku yakin, Papa dan Mama bahagia saat melihat kamu juga bahagia."


Joanna tak menyahut.


Membalikkan tubuhnya menghadap pada Arjean yang tampak selalu tampan di matanya.


"Maaf buat awal pertemuan kita yang buruk. Aku udah bicara gak sopan sama kamu dan terimakasih ... Terimakasih udah banyak bantuin aku selama ini ..."


Joanna berjinjit untuk memeluk tubuh jangkung Arjean, "Aku mencintaimu. Ayo kita mulai semuanya dari awal, menjadi keluarga kecil yang sebenernya. Kamu mau 'kan?"


Pandangan mereka saling bertemu, lalu sedetik kemudian, Arjean mempertemukan belahan basah keduanya.


Chup!


"Apa aku bisa nolak permintaan itu?" tanya Arjean balik.


Mata Joanna berkedip lambat.


"Eum ... I think no."


Keduanya terkekeh dan terlarut dalam pagutan yang begitu hangat dan memabukkan. Melupakan jika si biang rusuh bisa saja melihatnya dengan banyak cibiran.


"Tsk! Mereka bener-bener gak tau tempat!"


Zelo memutar arah setelah melihat adegan drama picisan antara Kakaknya dan si gadis mungil Joanna yang sempat ia temui pertama kalinya di jembatan layang bersama Lian.


Dulu Zelo mengira, Joanna hendak bunuh diri untuk itu, Zelo meneriaki Joanna dan menyebutnya sinting.


Ingat?


...••••...


8 tahun kemudian ...


"Arkilla, kenapa tempat makan Aruna bisa ada di atas meja makan?"


"Arkilla! Jangan bawa Aruna mandi di toilet kamarmu!"


"Arkilla!"


"Arkilla Johanna Baskara!"


"Arkill—"


Teriakan demi teriakan Joanna selalu menggema disetiap paginya.


Arkilla Johanna Baskara— gadis mungil berusia enam dan suka dikuncir ekor kuda itu selalu bisa membuat Joanna kewalahan menghadapi sikapnya yang kelewat aktif, kadang juga menggemaskan untuk anak seusianya.


"Ish! Mami! Jangan teriak-teriak terus! Killa pusing!"


Kedua tangan mungilnya menggendong Aruna; angsa putih, yang menjadi peliharaan Arkilla sejak dua bulan yang lalu.


"Heh! Siapa yang nyuruh bawa Aruna masuk?"


"Kill mau mandi bareng Aruna, Mami. Boleh ya?"


Lalu Arjean dan Zelo datang.


Mereka baru saja pulang bekerja.


"Ada apa ini ribut-ribut? Princess Papi, kemari! Papi mau peluk."


Melihat Zelo berdiri di samping Ayahnya, Arkilla pun memberikan Aruna pada Zelo, "Om, jagain anakku ya, hihi!" ujar Arkilla yang langsung merentangkan kedua tangannya pada sang Ayah.


"Ih! Bau!" Arjean berpura-pura menutup hidung setelah mencium ketiak si kecil.


"Hehe, Kill belum mandi, Pi."


"Heh bocil! Jangan masukin angsa sembarang ke dalam rumah! Bau! Kotor!" tegur Zelo, memberikan Aruna pada salah satu Maid agar dimasukkan ke dalam kandangnya lagi.


"Om Ze yang bau! Kill sama anak Kill mau mandi. Awas!"


Arkilla mendorong tubuh Zelo yang ukuran berkali-kali lipat dari tubunya, "Yak! Kakak Ipar! Liat anakmu ini! Masih bocil udah main anak-anakan, ckckck!"


"Gak tau! Aku juga pusing!"


Joanna melanjutkan kegiatan sorenya dengan membantu para Maid menyiapkan makan malam.


"Je, lepasin! Masih banyak orang."


"Biarin aja. Joanna, aku kangen."


Joanna terlalu hafal dengan kalimat itu.


"Hm, ntar malem maen." ucap Joanna seraya tersenyum penuh arti.


"Tapi pake pengaman! Aku gak mau ya Arkilla punya adik dulu. Ribet, Jean." lanjut Joanna sebelum Arjean memprotes.


"Yahh ..."


"Apa? Mau protes? Ya udah, gak–"


"Enggak, ish! Siapa juga yang mau protes. Tapi sampai pagi ya, Sayang."


Joanna mendengus sebal.


Pikirnya, jika Arjean sudah mengatakan demikian itu berarti Joanna harus siap-siap kesulitan berjalan sebab Arjean adalah pria yang kelebihan hormon dan tidak akan puas jika hanya melakukannya sekali.


Terlepas dari semua itu, Joanna bersyukur karena Tuhan memberinya anugerah berupa keluarga kecil yang dipenuhi dengan kasih sayang dan cinta yang begitu tulus di hidupnya.


Tak lupa, Joanna juga sering mengajak Suami dan Anaknya untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya.


Celotehan dan tingkah si kecil Arkilla pun menjadi warna baru di kehidupan Arjean dan Joanna.


Pernikahan yang berawal dari sebuah perjodohan paksa untuk melunasi hutang-hutang mendiang Pak Derryant berakhir membawa Joanna dan Arjean menuju kebahagiaan yang tak terhingga sampai akhir.


Semoga!


...*END*...


...••••...



...Akan ada banyak orang luar yang datang dan pergi di hidup kita namun keluarga tetap akan selalu berada di sisi kita sampai akhir nanti....


...-Joanna Cecilia Ruby-...



...Sekeras apapun hati jika Tuhan telah menggariskan takdir-Nya untuk kita bersatu, maka batu yang keras sekali pun akan hancur jika terkena tetesan air. Begitu juga dengan perasaan yang kita miliki....


...-Arjean Bintang Baskara-...


...•...


...•...


Finally, akhirnya work ini selesai juga! Makasih buat yg udah support Destiny sampe akhir, BIG LOVE YOU GUYS💙


Tunggu new story Andromeda61 ya! See you\~


*cr pict: on pinterest


^^^Andromeda61^^^


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!