
Sesuai ucapan Arjean kemarin, ia sendiri yang akan mengantar Joanna pergi ke sekolah.
Itu pun harus melewati perdebatan seperti biasa.
"Gue gak mau. Mending sopir kemarin aja suruh nganterin gue."
Mereka sedang sarapan bersama.
Arjean tetap makan dengan tenang dan tak mendengarkan rengekan kekanakan Istrinya tersebut.
Lalu Zelo?
Hanya diam. Memperhatikan persoalan rumahtangga Kakaknya yang sangat rumit, menurutnya.
Zelo jadi takut menikah setelah melihat kehidupan pernikahan Arjean dan Joanna yang tak pernah akur dan begitu problematik.
Padahal dulu, Zelo punya cita-cita ingin menikah muda. Tapi sepertinya, Zelo harus memikirkan ulang soal itu.
"Gue selesai. Kak, jangan lupa transferin uangnya ya? Udah awal bulan nih."
Senyum pemuda itu mengembang, mengingat nanti malam ia akan berpesta bersama teman-temannya di villa yang ada di puncak.
Tentu menggunakan uang jajan pemberian Arjean.
"Hm, hati-hati berangkatnya. Gak usah ngebut."
"Siap, bos!"
Zelo menatap Joanna sejenak, "Kakak Ipar, mau bareng gue se–"
"Zelo." peringat Arjean.
"Sorry, sorry! Gue cuma iseng nawarin. Galak amat lo, Kak."
Zelo pun meneguk susunya sampai habis lalu bergegas pergi karena tidak ingin terlambat untuk menyalin contekan ulangan harian di jam pertama nanti.
Meninggalkan Joanna yang sudah merengut kesal sebab tak ingin diantar oleh Arjean.
"Aku tunggu di mobil."
"Gak perlu! Langsung berangkat aja!"
Biasanya Joanna bebas berangkat dan pulang sendirian menggunakan kendaraan pribadi.
Ah, Joanna jadi rindu Gorjess– motor ninja kesayangannya.
Pasti tidak ada yang merawatnya di garasi rumah.
"Je, pulang sekolah nanti mampir ke rumah ya?" mulai Joanna membuka topic pembicaraan.
Arjean tersenyum tipis.
Menyenangkan saja jika Joanna bisa berbicara selembut itu padanya.
"Tumben?"
"Gue mau liat gorjess."
"Gorjess? Siapa dia?"
Joanna tertawa kecil, "Motor ninja gue. Boleh ya? Gue pengen bawa itu ke rumah kita. Percuma kalo di rumah Papa, gak ada yang ngurus.
Rumah kita?
Apa Joanna mulai terbawa perasaan juga sekarang hingga pagi ini, menjadi momen langka karena Joanna bisa bersikap semanis itu pada Suaminya.
"Je? Boleh ya?" ulang Joanna.
"Aku ada rapat setelah jemput kamu, Joanna."
"Oh ya udah, gue bisa pesen taksi on–"
"Gak! Aku tetep jemput kamu. Soal motor, biar orangku yang ngambil .."
Mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Arjean melepas seatbeltnya dan menatap Joanna penuh arti, "Sekalian nanti temenin aku rapat. Cuma sama staff kantor aja kok."
"Dih! Gak mau! Gue alergi sama urusan yang berbau formal kayak gitu."
"Katanya mau gantiin posisi Papa Deryant di Pabrik?" sebelah alis Arjean terangkat.
"Apa maksud lo ngomong kayak gitu?"
Mata Joanna memicing, "Lo gak lagi ngerencanain hal buruk ke pabrik Mama gue kan? Jawab, Jean!"
"Enggak, Joanna. Suka banget nuduh astaga."
"Terus ngapain tiba-tiba minta gue ikut rapat? Secara lo kan breng— ekhem! Sorry!"
"Ayo aku anter masuk sampai ke dalem gerbang."
Joanna mulai panik saat Arjean ikut membuka pintu.
Bukannya apa-apa tapi Joanna belum siap dan malu kalau sampai teman-temannya bertemu Arjean secara langsung.
Memang berita pernikahan mereka sudah tersebar luas di kota ini tapi menikah saat masih berstatus sebagai pelajar sekolah, kurang menyenangkan bagi Joanna.
"Kamu gak usah ikut turun. Sampe sini aja."
Lagi.
Joanna bersikap aneh.
"Udah sih! Kamu berangkat ke kantor. Takut telat!"
"Aku Bosnya, kamu lupa?"
Joanna menggeleng dan tersenyum manis. Masih berusaha merayu Arjean.
"Je, aku lagi dalam mode baik nih. Mending kamu pergi aja deh." ujar Joanna lalu segera keluar dari mobil Arjean.
Dan menyuruhnya cepat pergi melalui kibasan kedua tangannya.
Di dalam mobil, Arjean hanya menghela napas, mengalah lalu menyalakan kembali mesinnya dan pergi, sesuai permintaan Joanna.
Niat Arjean itu baik.
Ia ingin mulai banyak berkomunikasi dengan Joanna.
Hampir 1 bulan tinggal bersama, Arjean merasa hidupnya yang sekarang sedikitnya lebih banyak berubah.
Arjean jadi punya alasan untuk pulang kerja lebih cepat atau setidaknya merasa betah berada di rumah ketika akhir pekan tiba.
Biasanya?
Kelab malam selalu menjadi tujuan Arjean kalau sedang suntuk. Tidak sampai melakukan ONS karena kebutuhan Arjean secara biologis selalu dipenuhi oleh Kalandra, dulu.
Wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Arjean selama 3 tahun.
Jika ditanya alasan mereka berpisah, itu karena Kalandra lebih memilih karirnya di Amerika sebagai pemain film dengan rate 21 dan beralasan ingin mengembangkan karirnya lebih dari model.
Padahal jika Kalandra mau, Star Way Entertaiment bisa mempromosikan Kalandra sebagai bintang film juga, tanpa harus menerima tawaran itu, yang kebanyakan adegannya mengandung unsur dewasa.
Tentu saja Arjean keberatan, jika tubuh Kekasihnya terlalu diumbar ke publik. Masa bodoh soal profesionalitas, Arjean tidak suka miliknya disentuh orang lain dan menjadi konsumsi publik.
"Pak, rapat hari ini akan dimulai pukul 11." kata Sean, memberikan berkas yang siap dijadikan bahan presentasi.
"Undur 2 jam lagi. Istri saya mau ikut rapat soalnya. Dia baru keluar dari sekolah pukul 12.30."
"Baik, saya akan beritahu yang lain. Permisi."
Setelah Sean keluar, pintu ruangan itu kembali diketuk.
Kali ini sosok Jordan Sergio— Manager Kalandra, datang dengan raut marah.
Sepertinya surat pemutusan kontrak itu telah diterima oleh pihak mereka.
Brak!
"Jelaskan apa maksud lo, Jean?"
"Lo buta? Udah jelas di situ tertulis kalo SWE udah gak mau nerusin kerjasama bareng model lo!" Arjean menjawab tak kalah kesalnya.
"Gak bisa gitu dong! Lo gak bisa seenaknya mutusin sepihak tanpa bicarain masalah ini dulu ke gue!"
"Lo takut gak bisa dapet penghasilan lagi kalo Kalandra gak ada job?" tanya Arjean, menumpukan kedua sikunya di atas meja.
"Diem lo berarti gue anggep iya. Lo takut gak punya kerjaan lagi kan?"
"Tetep aja lo gak bisa mutusin Kalandra secara sepihak gitu aja dari agensi lo, lo–"
"Dia aja bisa mutusin hubungan kita dan milih karirnya di Amerika ketimbang tetep stay di sini, kenapa gue gak bisa ngelakuin sebaliknya?"
"Kok lo jadi bawa-bawa urusan pribadi sih, Je? Gak profesional banget!"
Arjean berdiri tepat di hadapan Jordan, pria yang menjadi rekan kerjanya sekaligus teman Arjean selama 3 tahun, sejak Arjean mengenal Kalandra.
Meski mereka tidak terlalu dekat, tapi hubungan pertemanan mereka cukup baik.
"Sebelum lo ngomong gitu, ada baiknya lo tanya ke Kalandra. Siapa yang ngusik duluan!?"
Lalu tak lama, Kalandra datang dengan menangis tersedu-sedu.
Ia juga memohon agar Arjean tidak memutuskan kontrak kerjasama mereka. Karena satu-satunya sumber penghasilan terbesar Kalandra hanya di Agensi Arjean.
Selebihnya, honor di tempat lain yang didapatkan tidak mencukupi kebutuhan Kalandra yang cukup hedon, mengingat cirlce pertemanan Kalandra sangat high class.
"Aku mohon, Arjean. Pertimbangin lagi soal ini ..."
"Oke, gak papa, kamu gak mau kita balikan lagi tapi seenggaknya biarin aku tetap jadi model di Agensi kamu, please!"
Bagaimana pun, mereka pernah terlibat hubungan secara emosional, berbagi keringat dan menghangatkan ranjang bersama, tentu kenangan itu masih membekas dalam ingatan Arjean yang pernah tulus mencintai Kalandra sebelum akhirnya mereka berpisah.
"Jor, mending lo bawa dia keluar dulu! Gue butuh waktu buat mikir." ujar Arjean, menunjuk pintu keluar agar mereka pergi dari hadapannya sekarang.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!