Destiny

Destiny
PERASAAN MEREKA



Joanna terbangun dalam kondisi yang cukup berantakan. Bekas kissmark dimana-mana serta penampilannya yang acak-acakan menjadi pemandangan pertama yang terlihat dalam pantulan kaca rias yang ada di seberang ranjangnya.


Arjean brengsek!


Ia mendesis saat merasakan perih pada bagian selatannya.


Bercak darah itu!


Joanna tidak sedang mabuk saat melakukan itu dengan pria yang telah berstatus sebagai Suaminya tersebut.


Arjean benar-benar brutal hingga membuat Joanna pingsan di bawah dominasinya.


Tapi bukankah itu berarti Arjean sudah melanggar janjinya sendiri untuk tidak menyentuh Joanna sebelum lulus sekolah?


Sudahlah!


Semakin Joanna pikirkan, semakin dadanya terasa sesak. Tak masalah jika mereka memang harus melakukan hubungan layaknya pasangan Suami dan Istri. Mereka sudah sah secara agama dan hukum.


Cklek!


"Nona Joanna sudah bangun?"


"Ada apa, Gracella?"


"Tuan menyuruh saya membawakan makan malam."


"Taruh aja di meja. Aku mau mandi dulu."


Joanna merasakan ngilu sekaligus perih saat ia berusaha berdiri.


"Ssh, ahk!"


"Nona, ada apa? Pasti masih sakit ya?" tanya Gracella ketika melihat sesuatu mengintip dari balik selimut yang dijadikan Joanna untuk menutupi tubuhnya.


"Iya. Perih banget! Dia bener-bener kayak orang kesetanan."


Gracella tersenyum tipis, memaklumi bahwa usia Joanna terlalu muda untuk diajak berhubungan.


"Nanti juga Nona akan terbiasa. Mari saya bantu."


"I-iya, makasih, Gracella."


Joanna tentu saja malu setelah keceplosan mengatai Suaminya seperti itu di depan Gracella.


"Nona bisa duduk di closet dulu, saya isi bath up dengan air hangat supaya lebih rileks."


Joanna hanya mengangguk. Mengeratkan selimut sebatas dada sebab pertama kalinya berpenampilan seperti ini di depan orang lain.


Ya walau pun Gracella perempuan, tetap saja, Joanna risih dan malu.


"Sudah selesai .."


Gracella juga menambahkan aromaterapi vanila supaya tubuh Joanna benar-benar terasa dimanjakan, "Untuk area privasi Nona, sebisa mungkin dibilas pelan-pelan ya! Pakai air hangat saja biar tidak terlalu perih."


"I-iya, Gracella. Makasih. Kamu bisa keluar sekarang."


"Baik, Nona. Permisi."


Joanna membuka satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya. Menenggelamkan diri hingga yang tersisa hanya wajahnya saja yang menyembul ke permukaan.


"Gue udah gak suci lagi .."


"Ya Tuhan! Punya Suami napsunya gede banget!"


Karena terlalu nyaman berendam, Joanna lupa mengunci pintu setelah Gracella pergi.


Hingga seseorang berhasil memasuki kamar mandi tersebut dan membuat Joanna reflek berteriak


"YAK! KELUAR DARI SINI, ARJEAN!"


Kedua tangan Joanna menyilang di depan dada. Ia menatap marah dan malu pada Arjean yang justru begitu santai menanggalkan seluruh pakaiannya.


Kemudian ikut masuk ke dalam bath up hingga air di dalamnya menjadi tumpah.


"A-arjean ..."


Joanna bisa merasakan sesuatu mengganjal di belakang sana.


"Jangan banyak gerak. Aku cuma pengen berendam sama kamu."


"Lo baj–"


"Berani kamu ngomong kasar, aku gak bakal ragu buat ngajak kamu bercinta lagi." ancam Arjean.


Seketika membuat bibir Joanna kembali terkatup rapat. Sebab ia benar-benar takut jika Arjean akan melakukan itu lagi padanya.


"Lo baper sama gue?"


Pertanyaan Joanna yang tiba-tiba itu tak mendapat respon yang berarti.


Arjean justru menyentuh bahu mulus Joanna begitu seduktif.


"Lo budek? Gue barusan nanya, Jean."


"Kamu berharap aku jawab apa?"


"Dih! Ditanya malah balik nanya."


Joanna risih, ingin berdiri namun terlalu malu karena Arjean berada tepat di belakangnya.


"Gue gak tau kalo lo seberingas itu!"


"Nanti kamu juga bakal terbiasa."


"Gracella juga bilang kayak gitu tapi sorry! Lo udah ingkar janji! Lo nyentuh gue sebelum gue lulus dan— ARJEAN!" pekik Joanna ketika pria itu menggigit pundaknya.


"Joanna, aku ini Suamimu. Dimana-mana, gak ada satu pun perempuan yang rela liat Suaminya berselingkuh apalagi kamu nyuruh aku secara terang-terangan kayak tadi, aku gak suka!"


Tadinya setelah bercinta, suasana hati Arjean mulai membaik. Ia juga menyesal karena sudah kelepasan dan berakhir membuat Joanna pingsan.


Namun sikap Joanna yang seperti ini membuat hati Arjean terasa aneh.


Ada kekecewaan yang terselip ketika Joanna mengatakan hal itu.


"Makanya gue tanya, lo pasti udah baper 'kan sama gue? Ngaku aja!"


"Kalo iya, kamu mau apa?"


Deg!


Joanna mematung.


Kelopak matanya berkedip lambat saat ia merasakan sebuah tangan mengusap perutnya.


Kemudian Joanna merasakan deru napas Arjean menerpa sekitar lehernya.


Pria itu menumpukan dagunya di atas bahu sempit Joanna.


"Aku gak tau ini cinta atau bukan, tapi tolong jangan minta aku buat ngelakuin hal rendahan kayak gitu lagi, Joanna."


"Hubunganku sama Kalandra udah selesai. Aku minta maaf soal waktu itu, pas kamu dateng ke Kantor dan ... Dan kamu liat aku sama Kalandra berciuman, itu bukan aku yang mulai tapi Kalandra."


"Aku minta maaf." suara Arjean terdengar memelan di akhir kalimat.


Terdengar begitu dalam dan tulus hingga Joanna bisa merasakan hatinya sedikit bergetar ketika Arjean mengecup singkat pipinya dari belakang.


"Kenapa diem aja, Joan?"


"Lo terlalu banyak ngomong kayak pendongeng. Gue jadi ngantuk."


Bohong.


Padahal Joanna sedang menahan debaran di dadanya akibat kata-kata Arjean yang menurutnya hanya sebuah— bualan?


"Ya udah. Ayo mandi bareng. Aku gak mau kamu masuk angin karena terlalu lama berendam."


Kayaknya Arjean salah minum obat deh? Perasaan kemarin-kemarin gak kayak gini.


"Joanna?"


"G-antian aja, Jean."


Arjean mengerutkan kening, "Kenapa?"


"Malu. Keluar dulu, Je!"


Joanna berusaha menepis tangan Arjean yang masih betah mengusap perut ratanya.


"Aku udah liat semuanya. Ngapain harus malu, hm?"


"Gak tau, ish! Orang malu juga! Keluar dulu, Jean. Dingin nih!"


Kali ini Joanna tidak berbohong. Ia tampak menggigil kedinginan sebab mereka berendam saat waktu menunjukkan pukul 8 malam.


Bahkan ujung jari-jari Joanna sudah memutih karena terlalu lama berendam di dalam air.


"Ya udah. Aku keluar dulu."


...••••...


Keesokan harinya, Joanna benar-benar merasakan hawa dingin itu menusuk kulitnya.


Ia mengeratkan selimut bulu berwarna biru sampai menutup kepala.


"Joanna, bangun."


Tak mendapat respon, Arjean pun membuka selimut yang menutupi tubuh sang Istri.


"Sshh! Dingin, Jean."


Telapak tangan Arjean menyentuh kening Joanna.


"Ya Tuhan! Kamu demam."


Tak perlu menunggu, Arjean segera melepas dasinya lagi. Menggulung kemejanya sebatas siku dan membuka dua kancing teratas kemejanya.


"L-lo mau n-ngapain?" suara Joanna terdengar sangat parau.


Hidungnya juga memerah.


"Pajamamu basah karena keringet. Bangun dulu buat ganti baju, Joanna."


"Enggak mau. Dingin." keluhnya.


Arjean segera memanggil Gracella dan yang lain untuk membuatkan bubur dan menyiapkan keperluan Joanna.


Ia juga mengambil baju ganti supaya Joanna lebih nyaman tidurnya.


"Jean, l-lo nyari k-kesempatan banget." desis Joanna dengan mata setengah terpejam.


Gadis itu tidak kuat hanya untuk sekedar duduk menyandarkan punggungnya di headboard.


"Jun, kita ke Rumah Sakit sekarang."


"Baik, Tuan."


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT