
Mereka makan tanpa bersuara. Hanya dentingan sendok dan garpu saling beradu. Sampai hidangan penutup datang, mereka tetap diam. Menikmati makanan lezat itu memenuhi perut masing-masing.
Pikiran ke empat orang itu saling bertolak belakang.
Pak Deryant sibuk memikirkan cara mendapatkan suntikan dana lagi untuk pabriknya yang diambang kebangkrutan dan hutang judi yang semakin lama semakin menumpuk.
Soraya yang ingin membeli barang branded untuk menambah koleksinya serta Arjean yang masih bingung dengan perasaannya sendiri terhadap Joanna.
Di satu sisi, Arjean hanya menganggap pernikahan itu sebagai formalitas dan menjadikan Joanna sebagai ****. Dengan kata lain, Joanna itu bonekanya Arjean.
Yang harus patuh dan menurut apa saja yang diperintahkan oleh dirinya.
Lalu Joanna?
Gadis itu merindukan Ibunya. Ingin mengunjungi makam Bu Anne, menumpahkan seluruh pesakitan yang dirasakannya di pusara sang Ibu.
Semenjak menikah, Lian jarang menghubunginya dan membuat Joanna kesepian namun Joanna juga memaklumi.
Bisa jadi Lian takut dengan Arjean.
"Aku udah selesai." ucap Joanna.
Meletakkan kembali alat makannya.
"Kalo gitu kita lanjut bahas soal permintaan Papa tentang uang 30 milyar itu." kata Arjean, meniru apa yang dilakukan Joanna barusan.
Pak Deryant dan Soraya menegang di tempat.
Respon berlebihan itu dibalas senyum remeh ketika Arjean mengeluarkan selembar cek berisi angka 50 milyar yang telah dibubuhi tanda tangannya di kertas tersebut.
"Aku tau kamu kaya, tapi jangan dikasih, Jean. Mending duitnya sumbangin ke panti asuhan dan bagi-bagi ke orang yang kurang mampu ..."
Celetukan Joanna dibalas senyum kaku oleh Ayah dan Ibu Tirinya, "Kalo Papa gak sanggup kelola pabrik, aku bisa gantiin posisi Papa di kantor."
"Kalo Arjean saja bisa jadi pemimpin muda perusahaan buat dua ribu karyawannya, kenapa aku enggak bisa? Semua orang bisa asal mau belajar."
Pemikiran itu spontanitas terlintas dipikiran Joanna begitu saja.
Tidak direncanakan dan sepertinya, berhasil menyulut api amarah Soraya yang tak terima mendengar hal itu.
Bisa bahaya jika Joanna tahu kalau banyak manipulasi keuangan yang dilakukan Soraya selama ini.
"Gak bisa, Jo. Kamu belum lulus SMA. Masih harus banyak belajar dan kalau bisa kuliah dulu jurusan bisnis, baru setelah itu kamu bisa nempatin posisi Pimpinan tertinggi di pabrik."
Tiba-tiba Joanna tertawa sarkas mendengar argumentasi Soraya tentang dirinya.
"Charles Culpeper, CEO dari Coca-Cola, dia putus sekolah tapi bisa mendirikan brand ternama dunia di tahun 90-an ..."
Joanna menumpukan kedua tangannya. Tidak berhenti sampai di situ untuk mematahkan pemikiran bodoh Soraya tentang dirinya, "Lalu ada juga Ford Henry, pemilik dari Ford Motor Company. Dia bahkan gak pernah ngerasain bangku sekolah tapi bisa tuh jadi produsen mobil multinasional di Amerika ..."
Joanna semakin melebarkan seringaian ketika berhasil membuat Soraya menampilkan raut kesal di wajah sok cantiknya itu, "Satu lagi, Pete Cashmore, pendiri Mashable. Meskipun dia gak kuliah tapi gak bakal pengaruhi langkah dia buat jadi pengusaha sukses."
"Lo gak tau mereka 'kan? Iyalah! Gimana lo bisa tau, kalo kerjaan lo cuma morotin duit bokap gue." sarkas Joanna, membuat Soraya terdiam dengan tangan mengepal di bawah meja, ia tak bisa menyela lagi.
"Joanna, sopan sedikit kamu. Soraya udah jadi Mama sambung kamu. Jangan kurang ajar." sela Pak Deryant, tidak tahan melihat Istri barunya dipermalukan seperti itu.
Apalagi ada Arjean yang diam-diam juga tersenyum dalam hati. Mendengar celotehan Joanna yang cukup cerdas untuk membela diri sendiri.
"Lain kali kalo mau cari istri, yang pinter di otak juga, Pa. Jangan bisanya ngabisin duit Papa aja. Shopping gak je–"
"Papa bilang cukup Joanna! Kamu gak denger?"
"Udah, Mas. Aku gak papa."
Sengaja sekali Soraya merendah untuk menarik simpati orang lain, terutama Menantunya yang super kaya itu.
"Lo terlalu underestimate ke gue, Sor! Ya bebas juga dong kalo gue ngatain lo bego!"
Joanna beranjak dari kursi, diikuti oleh Arjean juga.
"Ini terakhir kali Papa minta-minta uang ke Arjean. Jangan kayak pengemis, Pa. Omset bulanan pabrik udah cukup bikin Papa dan pelakor ini hidup enak kalo uangnya dikelola dengan baik."
Kemudian gadis itu pergi. Meninggalkan Arjean yang terlihat masih ingin berbicara sebentar pada Mertuanya.
"Aku peringatin ke kalian buat gak bersikap kasar ke Joanna lagi ..."
Mereka saling melirik.
"Apa maksud kamu, Nak Jean?"
Kedua tangan Pak Deryant mengepal di masing-masing sisi jahitan celana bahannya.
Ancaman dari lelaki yang dianggap bocah kemarin sore itu membuat harga dirinya terluka.
"Gak udah diladenin, Mas. Yang penting kita dapet uangnya."
"Hm, tapi aku gak bisa kasih kamu separuhnya. Aku juga butuh buat balikin modal pabrik sama bayar hutang aku, Soraya."
Soraya terdiam. Senyum yang ditampilkan penuh arti.
"20 milyar udah cukup kok, Mas."
Pak Deryant menoleh ke sebelahnya, "5 milyar! Aku cuma bisa kasih kamu segitu."
"Tapi Mas–"
"Kalo sampai bahan baku gak segera diisi, mana bisa pabrik buatin permintaan pasar? Kalo dibiarin kayak gitu terus, pabrik bakal cepet bangkrut, Soraya."
Soraya kembali terdiam dengan wajah ditekuk.
"Oke, oke! Aku tambahin jadi 7 milyar, gimana? Lagian uang sebanyak itu buat apa, hm?"
Sudah dibilang, Pak Deryant itu dibutakan nafsu sesaat sampai tidak menyadari bahwa sedikit demi sedikit hartanya yang ia miliki terkuras habis.
Berpindah tempat memenuhi rekening Soraya.
"Aku perlu shopping dan perawatan yang gak murah, Mas. Itu juga buat nyenengin kamu loh."
"Iya, iya. Maaf kalo gitu. Udah, jangan cemberut lagi."
...••••...
45 menit perjalanan, mereka sampai di rumah.
Joanna lebih banyak diam sepanjang perjalanan tadi. Ia juga mengabaikan para Maid yang telah menyambut kedatangannya di ruang utama.
"Nona ingin disiapkan air hangat?" tanya Gracella.
Joanna menggeleng.
Melepaskan seluruh pakaian dan sepatu berhak tinggi yang begitu menyiksa tumitnya.
Mengabaikan eksistensi Arjean yang baru saja masuk ke kamar dan langsung disuguhi dengan pemandangan tubuh Joanna yang hanya dibalut underware berwarna senada dengan dress yang dikenakan tadi.
Joanna tahu, Suaminya sedang menatap dirinya di belakang sana.
Tapi malam ini, Joanna sangat lelah, bukan soal fisik tapi hati dan pikirannya.
"Gue tahu lo bukan maniak yang langsung bikin belalai lo bangun cuma karna liat gue setengah telanjang."
Ucapan sarkas Joanna membuat Arjean berjalan semakin mendekat.
"Ngapain? Mau hukum gue karena udah ngomong gak sopan ke Suami sendiri?"
Dengan santai, Joanna berbalik menghadap ke Arjean dan mengusap bahu pria itu sensual, "Tapi gue mandi dulu. Gerah banget badan gue deket-deket sama lo!"
Ada luka yang berusaha ditutupi oleh Joanna, yang terlihat pada sepasang mata serigalanya yang indah tersebut.
"Apa cuma itu yang ada di otak siswi SMA kelas 3 seperti kamu?"
Dalam sekali hentak, Arjean melingkarkan lengannya dipinggul Joanna, "Aku bakal nunggu sampai kamu lulus sekolah."
"Lo yakin? Maksud gue, itu masih beberapa bulan lagi–"
Arjean menyeringai.
Merasa senang karena Joanna bisa mulai berbicara santai dengannya seperti ini.
"Gak ada **** bukan berarti kita gak bisa skinship, Joanna."
Malam itu Joanna menyesali pertanyaan yang muncul dari bibirnya sendiri.
Karena sekeras apapun Arjean menahan hasrat untuk tidak menyentuh dirinya, Arjean tetaplah pria dewasa yang normal dan perlu menyalurkan kebutuhan biologisnya juga.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!