Destiny

Destiny
MAKAN MALAM



Bukan Arjean namanya jika mengalah pada gadis batu, menyebalkan dan menguji kesabaran hatinya setiap saat.


Sama seperti berhadapan dengan para klien perusahaannya, hal sekecil ini tidak perlu mengeluarkan banyak kekuatan otot karena otak Arjean masih bisa berfungsi dengan baik meski seharian ini Arjean sibuk mengurus pekerjaan di Kantornya yang banyak menguras pikiran.


Bunyi gemerincing kunci cadangan membuat mata amber Joanna terbuka melotot.


Namun kelopak matanya kembali menutup, bergerak secepat kilatan cahaya.


Cklek!


Pintu kamar itu berhasil dibuka hanya dengan sekali putaran saja.


Sosok gadis yang Arjean tahu hanya berpura-pura tidur itu berakting dengan sangat baik.


"Eunghh ... Pada berisik banget, gak tau orang lagi bobo cantik apa!" gumamnya, dengan suara yang dibuat seserak mungkin, khas orang bangun tidur.


Joanna layak mendapat penghargaan sebagai artis dengan akting yang natural.


Tapi manusia itu tempatnya salah, mau sesempurna apapun, pasti ada celah dari diri orang itu.


Begitu juga dengan Joanna.


Yang membuat sudut bibir Arjean membentuk segaris tipis; tersenyum mengejek.


Ketika melihat ke arah meja sudut, ada dua bungkus makanan berwarna putih berisi jajanan yang biasa dibeli Joanna melalui delivery online.


Tergeletak di atas meja.



"Bangun!"


Satu kata yang keluar dari bibir Arjean tidak lantas membuat gadis itu lekas beranjak dari bawah selimutnya.


Joanna justru menyamankan posisi, menenggelamkan seluruh tubuhnya pada selimut bulu bermotif Elsa Frozen.


Sret!


"Apasih, Jean! Lo ganggu!"


"Bangun atau aku seret kamu ke kamar mandi sekarang."


Tidak ada respon.


"Bangun, Joanna." Nada suara Arjean terdengar semakin rendah.


Gracella dan dua Maid lainnya masih menunggu di depan pintu kamar.


Hanya berani menguping dari luar tanpa berani menginterupsi.


"Jadi kamu gak mau bangun sendiri?"


Joanna masih menunggu hal selanjutnya yang terjadi saat pergelangan kakinya terasa dicengkeram.


"Arjean, lo— ANJ! Sakit, Je!"


"Aku Suamimu dan mulai sekarang bersikap yang sopan sebelum aku bener-bener patahin kaki kamu, Joanna."


Tatapan Arjean tidak seperti biasanya.


Tajam, dingin dan menusuk.


Sampai kilatan emosi itu keluar melalui sisi kepalanya. Membentuk asap imaginer ala kartun yang sering Joanna tonton di televisi.


"I-iya, gue bangun. Tapi lepasin dulu."


Tangan besar itu semakin mencengkeram kuat pergelangan kaki Joanna.


"GUE BILANG SAKIT, JEAN!" bentak Joanna, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Arjean dengan menendang tangan pria itu.


"Aku-kamu ... Biasakan ngomong dengan panggilan aku-kamu, coba!"


"Enggak! Gue ga— AHK! I-iya, a-aku bakal c-coba."


Suara Joanna mulai terbata-bata saat jempol Arjean menekan kulit kaki Joanna hingga kuku pria itu menancap di sana.


"J-jean ..."


"Ini belum seberapa! Kamu harus patuh sama aku, Joanna. Aku Suamimu, aku yang pegang kendali atas hidupmu sekarang. Jadilah anak baik yang penurut, ngerti?"


In your dream, sialan!


Terpaksa.


Joanna mengangguk.


Daripada kaki mulus nan jenjang miliknya tergores lebih dalam dan meninggalkan bekas luka, Joanna memilih pasrah.


"Good girl! Sekarang cepet mandi karena Gracella yang bakal bantu kamu siapin semuanya." Tangan besar Arjean menepuk kepala Joanna tiga kali.


Gak sopan! Dikira gue anak anjing apa!


"Aku seneng punya Istri yang nurut kayak gini." imbuhnya, sebelum kaki panjang Arjean melangkah keluar kamar.


...••••...


Dress hitam selutut yang dikenakan Joanna terlihat pas di tubuh rampingnya tersebut.



Joanna merawat tubuhnya dengan baik meski usia Joanna terbilang masih terlalu muda namun sangat cocok jika disandingkan dengan Presiden Direktur Star Way Entertaiment yang memiliki paras bak aprodhite.


"Sempurna. Ayo!"


Arjean berjalan mendahului Joanna tanpa melihat Istrinya sedang kesusahan karena sepatu heels setinggi 12 senti itu hampir membuatnya terpeselet karena lantai yang licin atau Joanna belum terbiasa mengenakan hak runcing yang selalu dibanggakan oleh setiap wanita demi berpenampilan sempurna dengan kaki jenjang serta tinggi badan yang proposional.


"Jean, tungguin gue!"


Arjean menoleh dan menatap Joanna tajam, "Bisa ganti sneakers aja gak? Pegel nih!"


"Jangan nguji kesabaranku, Joanna."


"Aku cuma bilang pegel tapi responmu kayak gini?"


Joanna menyadari gaya bicaranya dan langsung merubahnya cepat.


"Pikir sendiri. Pantes gitu dengan outfit kamu yang udah anggun terus mau pake sneakers? Malu-maluin aja."


Mata Joanna berotasi malas. Padahal niat awalnya Joanna hanya ingin minta dipegangi saja supaya tidak jatuh, cuma Joanna gengsi mengatakan itu secara terang-terangan.


Dan soal permintaannya yang ingin mengganti alas kaki, hanya sekedar bualan belaka.


Ya kali gue bego soal fashion. Bisa jomplanglah! Udah pake dress syantik eh bawahnya sneakers masa!


Sebetulnya dress dan sneakers cocok saja jika dipadukan tapi mereka tidak sedang nongkrong ala anak muda di Cafe.


Acara makan malam lebih ke formal dinner.


"Kita jalan sekarang, Jun." perintah Arjean.


Jari dan tangannya fokus menatap ke layar tablet. Memeriksa grafik saham perusahaan yang akhir-akhir ini terus meroket naik.


"Aku ngantuk, mau tidur dulu!"


Ucapan Joanna hanya sebatas angin lewat. Diabaikan oleh Arjean yang tak bergeming, tetap fokus memainkan layar tabletnya.


Tak ingin ambil pusing, Joanna menyandarkan kepalanya di jendela kaca. Mulai memejamkan mata karena Joanna sungguhan mengantuk.


Padahal ia belum makan malam.


...••••...


Meja yang dipesan untuk empat orang telah disiapkan. Pelayan menuntun Arjean dan Joanna menuju lantai dua, ruangan khusus yang berpredikat Very Very Important Person— sudah diisi dua pasangan lain yang sengaja datang lebih awal, sepuluh menit sebelum pengantin baru itu sampai.


"Silahkan duduk. Makanan dan minuman akan diantar lima menit lagi." jelas pelayan itu.


"Ya, terimakasih."


Joanna memalingkan wajah, merasakan mata ambernya mulai memanas ketika melihat wanita yang duduk di hadapannya mengenakan satu set perhiasan milik mendiang Ibunya, yang seingat Joanna, akan diwariskan pada Joanna kelak saat dirinya sudah menikah.


Tapi sekali lagi, semua berubah.


Pak Deryant memberikan secara asal perhiasan itu pada wanita yang dilabeli Joanna sebagai pelakor murahan.


Ini bukan soal nominal harga dari perhiasan tersebut melainkan makna turun-temurun yang digariskan untuk anak dan cucu Bu Anne dari buyut terdahulu meskipun Joanna bukan keturunan asli Bu Anne tapi wanita itu sangat menyayangi Joanna, seperti anak kandungnya sendiri.


"Joanna, Papa senang bisa ketemu sama kamu lagi." ujar Pak Deryant, memasang senyum seramah mungkin di depan Anak dan Menantunya.


"Dan senang juga bisa ketemu sama kamu, Nak Jean. Akhirnya ... Kita bisa makan bersama sebagai keluarga."


Entah mengapa, kata keluarga yang diucapkan Pak Deryant terdengar sangat memuakkan dan tidak tulus sama sekali.


"Aku juga senang karena bisa memanggil anda dengan sebutan Papa ..." Mereka terdiam sejenak saat dua pelayan menyajikan hidangan di atas meja, "Selamat juga atas pernikahan kalian kemarin. Maaf. Aku dan Joanna gak bisa dateng, Pa."


Kekehan pria tua itu terdengar renyah. Memaklumi kesibukan Arjean sebagai pemimpin perusahaan, kecuali— Pak Deryant tidak yakin jika Joanna juga sibuk.


"Berarti Arjean sekarang anak tiriku ya, Mas?" Nada suara Soraya terdengar menggelikan sekali. Dibuat semanja mungkin.


Apa pelakor itu sengaja mengeluarkan suara menjijikkan untuk menggoda Suami Joanna juga?


Prang!


Joanna tidak perlu menjaga image di depan siapa pun saat hanya ada 3 orang yang paling ia benci, duduk di meja yang sama dengannya.


"Joanna." peringat Arjean, menggenggam erat jemari Joanna di bawah meja.


Tapi semakin lama, genggaman tangan Arjean terasa seperti ingin meremukkan tulang-tulang jarinya.


"Maaf semua! Kata Mama Anne, kalo lagi makan gak boleh banyak omong. Ntar setannya juga ikut makan ..."


Mata amber Joanna mendelik ke arah Arjean, "Lepasin! ini tempat umum, gue bisa teriak kapan aja kalo lo masih bersikap kasar gini, Jean."


"Dan lo bakal malu saat orang-orang tau sikap asli lo kayak gimana perlakuin Istrinya sendiri." bisik Joanna, yang terdengar samar di telinga Pak Deryant dan Soraya yang berusaha tersenyum sambil menguping.


Gue bener-bener benci mereka sampai ke ubun-ubun.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!