
Zelo sungguhan mengajak Joanna mendatangi street food yang pernah mereka kunjungi bersama Lian beberapa pekan yang lalu.
Mata Joanna terasa lebih segar dan tak sabar juga ingin membeli satu-persatu makanan itu.
Joanna sudah mempersiapkan uang serta menentukan gerobak penjual makanan mana yang harus didatangi lebih dulu.
Sepasang mata serigalanya berpendar, melihat ke kiri dan kanan.
Dari semua yang ada, jajanan telur gulung-lah yang membuat napsu makannya melonjak naik.
"Ayo, Ze!"
"Tsk! Sabar, Kak. Masih antri tuh."
"Lo jaga sini biar gue yang ke sana." tunjuk Joanna pada penjual cireng isi pedas kesukaannya juga.
"Sama risol mayo juga, beli 10 ribu deh. Kalo telur gulungnya 15 ribu dan lo gak boleh minta. Kalo pengen beli sendiri, oke?"
"Bisulan ntar lo!"
"Biarin, wle!"
Zelo menutup mulut, tak percaya dengan yang barusan ia dengar.
Bukan soal harga makanan yang dibeli melainkan jumlah porsi makanan itu lumayan banyak jika dihabiskan oleh Joanna sendirian.
Belum lagi cireng isi yang akan dibeli Joanna sebanyak 20 ribu juga.
"Kak? Lo ngidam atau gimana?"
"Berisik! Gue lagi gak mood. Makanya gue pengen isi perut buat balikin daya."
Zelo hanya menggeleng pelan.
Meminta penjual risol mayo membuatkan pesanannya dan kebetulan juga, gerobak telur gelung dan penjual risol bersebelahan.
Jadi Zelo tak perlu berjalan mondar-mandir hanya untuk mengantri pesanan Joanna.
...••••...
Dari kejauhan tampak mobil pajero sport berwarna putih sedang memantau pergerakan gadis yang sedang berdiri di depan penjual jus buah naga.
Sesekali gadis itu melakukan gerakan kecil seperti mengibaskan sebelah tangan karena udara siang yang cukup terik.
Belum lagi ia harus mengantri sekitar lima menitan, lebih.
"Makasih ya, Bu. Ambil saja kembaliannya."
Si penjual tersenyum senang pada Joanna. Mengucapkan terimakasih karena Joanna sangat baik dan mau membeli dagangannya.
Tak tanggung-tanggung, Joanna membeli 5 cup es buah naga.
2 cup untuk dirinya dan Zelo, lalu yang 3 cup lagi ia berikan pada anak-anak kecil serta tukang becak yang menunggu penumpang datang.
Kebaikan Joanna mendapat cibiran dari pria yang semenjak tadi membuntuti Joanna.
"Ck! Pencitraan sekali! Aslinya dia gak sebaik yang dikira orang-orang itu!"
"Tidak mau turun saja Pak untuk menyapa Nona Joanna langsung?" ujar sopir baru Pak Deryant.
Iya. Pria yang diam-diam mengikuti Joanna dan Zelo sampai ke tempat itu adalah Pak Deryant, Ayahnya Joanna.
Tadinya Pak Deryant ingin berkunjung ke kantor Arjean tapi saat di jalan, tidak sengaja melihat Joanna dan Zelo, lalu Pak Deryant pun mengurungkan niat awalnya.
Lebih tertarik mengawasi Joanna yang tampak semakin makmur hidupnya sejak menikah dengan Arjean.
"Kenapa kamu yang jadi ngatur saya, Pak Kun?" tegur Pak Deryant.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud lancang, maaf."
"Udah! Kamu tunggu di sini. Saya mau samperin anak saya dulu."
Pak Deryant berhenti sejenak, "Lain kali gak usah sok ngasih saran. Saya tau apa yang harus saya lakuin, paham kamu?"
Pak Kun yang mendapat teguran seperti itu hanya diam seraya menggangguk agar urusannya tidak semakin rumit.
Namun setelah melihat punggung Pak Deryant berjalan menjauh, Pak Kun kembali bergumam.
"Kasian sekali Nona Joanna. Punya Papa galak kayak Pak Deryant."
...••••...
Bugh!
"Bodoh! Masa mengikuti satu orang saja kalian gak bisa, hah?"
"Maaf, Tuan. Kami–"
Bugh!
"Apa dengan maaf, kalian bisa tau dimana Istriku dan sedang bersama siapa dia sekarang?"
Ketukan pintu menghentikan kemarahan Arjean sejenak.
"Masuk!"
Lian datang membawa kopi yang barusan diminta oleh Arjean.
"Kopi anda, Pak."
"Hm, letakkan di atas meja."
Lian pun menaruhnya dengan hati-hati. Atmosfer ketegangan begitu terasa hanya dengan melihat wajah marah Arjean.
"Keluar dari ruanganku!" perintah Arjean.
Namun baru dua langkah Lian beranjak dari tempatnya, suara Arjean kembali menginterupsi.
"B-baik, Bos."
Mereka berempat tergopoh meninggalkan ruangan tersebut, sebab takut akan mendapat amukan lebih dari itu dari Arjean.
Mereka yang tidak mengenal sisi lain Arjean saat sedang marah, pasti tidak akan menyangka jika Arjean bisa melukai siapa pun yang berusaha mengusik miliknya.
"Lian, kamu tau dimana Joanna sekarang?"
"Maaf, Pak?"
"Ck! Saya gak ngulang omongan saya kedua kalinya. Dimana Joanna?"
"Saya gak tau, Pak. Bukannya terakhir Joanna pergi sama Bapak ya?"
Arjean mendengus kesal. Berjalan ke arah meja untuk menyesap kopi hitam yang kepulan asapnya begitu menggoda ingin segera diminum.
"Kalo saya tau, gak mungkin saya tanya kamu ..."
Arjean memeriksa ponselnya, berharap Joanna mengaktifkan nomornya lagi. Karena hanya itu satu-satunya cara supaya Arjean bisa melacak keberadaan Joanna melalui aplikasi sadap yang diam-diam telah Arjean pasang di ponsel Joanna.
"Coba pikirin lagi. Kalo Joanna marah, dia biasanya pergi kemana?"
Lian tampak berpikir, "Pulang ke rumah gak mungkin. Ke makam Bu Anne kali, Pak."
"Coba anda ke sana, sekalian berziarah ke makam Mama Mertua, Pak." sindir Lian halus.
"Opsi lain?" tanya Arjean lagi.
Seolah ia yakin, Joanna tidak pergi ke tempat itu kali ini.
Lian yang didesak pun akhirnya menyerah.
Ada satu tempat terakhir yang pasti dikunjungi oleh Joanna ketika gadis itu sedang tidak mood.
"Joanna suka jajan, Pak. Apalagi kalo moodnya lagi kacau, dia biasanya bakal puas-puasin isi perutnya sampai penuh."
Tidak perlu bertanya lagi. Arjean sudah paham dengan ucapan Lian barusan.
"Antar saya ke tempat itu, Lian."
"Siap, Pak!"
...••••...
Sudah dibilang, Joanna itu pemakan segalanya.
Empat risol mayo sudah habis dimakan.
Lalu telur gulung?
Tidak usah ditanya, Joanna menghabiskan tiga tusuk sekaligus dalam sekali makan.
Sampai Zelo yang duduk di sebelahnya meneguk ludahnya sendiri, sebab tidak pernah melihat ada gadis bar-bar saat makan seperti Joanna ini.
Doyan makan tapi tidak gendut.
"Uhuk, uhuk, uhuk!"
Joanna tersedak karena cireng isi yang dimakan terlalu pedas.
"Makanya pelan-pelan. Gue gak minta kok." Zelo terkekeh.
Satu tangan Zelo sibuk menepuk-nepuk punggung Joanna sementara tangan satu lagi menyodorkan minuman untuk Joanna.
"Udah?"
Joanna mengangguk. Mengatur napas sembari mengelap airmata dan ingus di hidungnya yang tak sengaja keluar.
Sial!
Joanna baru saja dikejutkan dengan seseorang yang berdiri di depannya.
"Sayang, kamu kenapa? Pasti tersedak ya?"
Pak Deryant berjongkok. Menyamai posisi Joanna dan Zelo yang duduk lesehan di atas tanah berumput.
"Padahal Papa gak lagi ghibahin kamu loh, Jo ..."
"Kok bisa ya kamu tersedak gitu? Pasti sakit." ucap Pak Deryant lagi.
"Aku gak ngerti Papa lagi bahas apa!" ketus Joanna.
"Om Dery buntutin Kak Joanna lagi?" tanya Zelo.
Seraya menarik tangan Joanna agar ikut berdiri di belakang tubuhnya.
Zelo pintar membaca situasi buruk jika berhadapan dengan Pak Deryant.
Sinyal tidak baik terlihat dari wajah tua pria itu.
Menyebalkan sekali.
"Tuan Muda ini sangat memperhatikan saya rupanya." sindir Pak Deryant, disertai seringaian di sudut bibirnya.
Joanna tertawa sumbang.
Mendorong pelan bahu Zelo ke samping agar memberi jalan Joanna untuk berdiri dan saling berhadapan dengan sang Ayah.
"Gak usah ladenin dia, Zelo. Mending kita pergi aja."
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!