Destiny

Destiny
SAUS



"Jean, Honey ... Aku datang!"


Karena sudah malam dan Joanna butuh mengistirahatkan setiap saraf yang terlanjur tegang hari ini pun— bergegas memasuki kamar dan mengabaikan eksistensi seseorang yang baru saja datang.


"Gak sopan banget bocah-bocah itu. Ada tamu malah ditinggal pergi." gerutunya.


Zelo yang baru beranjak dari kursi, terpaksa harus menghentikan langkahnya lagi setelah mendengar gumaman Kalandra barusan, si pelakor rumahtangga Kakaknya.


Ya, kira-kira begitulah Joanna melabeli wanita itu.


"Lo gak liat jam? Kita semua capek! Mau tidur!"


"Adik Ipar gak boleh galak-galak. Lagian masih sore, ngapain tidur coba?"


"Siapa yang lo panggil adik ipar? Cih! Bangun, woi!" kata Zelo, seraya melambaikan satu tangan di depan wajah wanita itu.


Kalandra meremat ujung dress yang ia kenakan.


"Udah mulai ketularan kurang ajar kamu ya! Sama kayak si Joanna nih!" cibir Kalandra, tak kalah pedasnya.


"Terserah lo! Gue capek, mau tidur!"


"Zel–"


"Ngapain kamu ke sini, Kalandra?" tanya Arjean yang baru saja menuruni anak tangga.


Penampilan Arjean membuat Kalandra semakin geram.


Pasalnya pria itu hanya menggunakan bawahan tanpa baju alias shirtless. Kalandra jadi berpikiran macam-macam, mengingat Arjean sudah menikah dan tidur di kamar yang sama dengan Joanna.


"Ketemu kamu. Jean, kenapa gak pake baju?"


"Apa gak pake baju itu melanggar hukum?"


"Enggak gitu, maksudku–"


"Harus berapa kali aku bilang, gak usah ke sini. Kamu tuli?"


Kalandra mengikuti langkah Arjean yang mengambil kaleng beer di kulkas, "Kayaknya aku emang harus tegas sama kamu."


"Je, aku gak mau putus." lirihnya.


Arjean tidak peduli. Melewati Kalandra begitu saja setelah melihat siluet Joanna yang juga turun ke bawah.


"Mau apa?"


Diam.


Joanna mengabaikan pertanyaan Arjean dan menatap datar pada sosok Kalandra yang hampir menangis.


Entah kali ini drama apalagi yang sedang dimainkan pelakor yang satu ini.


"Nona Joanna, mau makan sesuatu?"


"Gracella dimana, Bik? Aku pengen dimasakin Gracella aja."


"Maaf, Gracella sedang–"


"Dia cuti 3 hari. Besok baru pulang. Kamu laper?" tanya Arjean, sekali lagi.


Dan lagi-lagi, Joanna mengacuhkan ucapan Arjean.


Sret!


Lengan Joanna dicekal oleh Arjean yang tidak tahan diabaikan oleh Joanna, apalagi di depan banyak orang.


Ralat, hanya 2 orang.


"Kalo laper bilang aja mau makan apa? Kasian Bik Arum, Joanna."


"Istri macem apa yang ngelawan ucapan Suaminya itu, cih!" Kalandra ikut nyerocos dan hampir menonyor kepala Joanna.


Namun ditepis oleh Arjean.


"Pergi sebelum aku manggil satpam buat ngusir kamu, Kala!"


"Enggak, aku mau nginep, Arjean."


"Keluar!" bentak Arjean.


"Biarin aja sih kalo selingkuhan lo mau nginep. Toh mau kalian ngapain juga gue bodo amat!"


"Dan gak usah sok peduli kalo nyatanya lo brengsek, Arjean!" tunjuk Joanna, seraya menghempaskan tangan Arjean yang mencekal lengannya.


Anggap saja, Joanna denial dengan perasaan cemburunya.


"Bik, tolong gorengin frozen food aja terus anter ke kamar ya? Jangan lupa, mayonaisnya yang banyak. Makasih!"


Tak lupa, Joanna sengaja menabrak bahu Kalandra sampai tubuh Kalandra terdorong mundur.


"Bocah tengik!" umpat Kalandra, merasa kesakitan hanya karena bersenggolan dengan bahu Joanna.


"Besok surat pemutusan kontrak kerja kamu bakal aku kasih ke Managermu ..."


Arjean mengisyaratkan dua satpamnya untuk segera menyeret Kalandra keluar, "Ini terakhir kalinya aku ngeliat kamu malem ini. Ingat-ingat wajah dia kalo kalian masih pengen kerja di sini, paham?"


"Baik, Tuan."


"Ayo, Nona. Ikut kami keluar!"


"Enggak! Jean! Kamu gak bisa kayak gini ke aku! Jean— lepas, brengsek!"


"Maaf. Jangan persulit tugas kami, Nona. Ayo!"


Sebelum kembali ke kamar, Arjean menyempatkan diri menghampiri Bik Arum di dapur.


Aroma sedap nugget dan sosis panggang untuk Joanna begitu menggugah selera Arjean dan ingin dimasakkan juga.


Perut Arjean jadi ikut berbunyi karena ia juga belum makan malam sepulang dari makam tadi.


"Eh, Tuan! Anda butuh sesuatu?"


"Kenapa dipanggang, Bik?"


"Nona Joanna tidak terlalu suka kalau digoreng, Tuan."


Arjean hanya ber-oh ria lalu meminta Bik Arum memasak lebih, sekalian untuk Arjean juga.


"Tolong sama salad sayurnya ya, Bik? Saya gak mau istri saya cuma makan begituan."


"Baik, Tuan. Ada lagi?"


"Susu rasa coklat, jangan lupa. Makasih."


"Baik, Tuan."


...••••...


Ternyata Joanna sedang selonjoran di atas karpet sambil menonton film.


Tidak perlu menoleh untuk memastikan siapa yang baru saja masuk ke kamar.


Itu pasti Arjean.


"Bentar lagi makan malemmu dianter."


"Hm."


"Joanna, bisa gak kamu biasakan ngomong yang sopan sama aku?"


"Enggak."


Rasanya Arjean harus memiliki banyak stok kesabaran menghadapi Istrinya.


"Kalau gak mau aku kasarin, kamu harus nurut, Jo. Aku Suamimu."


"Status Suami cuma di atas kertas. Lo lupa?" ketus Joanna.


Menaikkan volume film itu supaya tidak mendengar ocehan Arjean lagi.


"Gue gak tau rencana busuk apa yang lo buat di belakang gue .."


"Kalau Papa kan udah jelas! Dia ngejual gue demi ngelunasin hutang dia dan jadiin gue alat buat meras lo, Arjean. Dan lo sendiri? Dengan bodohnya, mau-mau aja ngasih duit segitu banyaknya ke Papa sama pelakornya. Je, gue tau lo kaya tapi gak perlu sampe segitunya."


Ketukan pintu menghentikan obrolan mereka.


Bik Arum mendorong trolly berisi full makanan.


Ada sosis, nugget, salad, susu, air putih dan 2 telur mata sapi setengah matang.


"Bik, aku kan cuma minta dimasakin nugget sama sosis aja?"


"Maaf, tapi ini perintah Tuan Arjean. Permisi, Nona, Tuan."


Joanna langsung melahap satu-persatu makanan itu tanpa memprotes lagi.


Perutnya sudah lapar dan tidak mau banyak bicara dulu sebelum benar-benar terisi.


"Lo gak ikut makan juga, Je?"


Karena sejak tadi, Arjean hanya memperhatikan Joanna makan.


Itu terlihat menggemaskan sebab lelehan saus mayonaisnya menempel di sudut bibir gadis itu.


"Ada sesuatu di bibir kamu."


"Eum?"


Chup!


Satu kecupan dan sedikit jilatan untuk membersihkan saus yang menempel di bibir Joanna.


Dalam sekon terakhir, Joanna tertegun dengan sikap Arjean yang tiba-tiba.


Wajahnya memerah, antara malu dan—marah.


Prang!


Joanna membanting garpunya di atas meja. Mengambil tisu lalu menghapus bekas ciuman tadi.


"Lo emang bener-bener mesum."


Mendadak Joanna jadi salah tingkah saat Arjean kembali mendekatkan wajahnya.


"J-jangan kurang ajar— ARJEAN!"


Tangan Joanna berusaha menahan dada Arjean agar tidak semakin merapatkan dirinya dan menghimpit tubuh Joanna di sofa.


"J-jean, gue gak suka kalo lo k-kayak gini."


Gugup.


Arjean itu definisi pria tampan yang pernah Joanna temui, bahkan ketampanan Zelo dan Lian tidak bisa menandingi pesona Arjean Bintang Baskara.


Dia bisa seksi dan cool di waktu bersamaan. Joanna akui itu.


Arjean yang melihat Joanna salah tingkah karena dirinya, hanya terkekeh gemas dan mencubit hidung mancung itu agak kencang.


"Aku cuma mau bilang ..."


"Ada cabe di gigimu, Joanna."


Sialan sekali.


Joanna sudah berpikir akan mendapat hukuman karena sikap kurang ajarnya barusan.


Ternyata Arjean justru membuat Joanna semakin malu dan segera berlari ke kamar mandi untuk memastikan itu.


Bisa-bisanya jantung gue deg-degan, anj!


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!