Destiny

Destiny
GODAAN



"Honey, kenapa nyuruh aku dateng ke sini? Kangen ya?" goda Kalandra setelah memasuki ruangan Arjean tanpa mengetuk pintunya lebih dulu.


"Jaga sikapmu, Kala! Ini di kantor."


Kalandra melepaskan pelukannya di leher Arjean saat pria itu menatapnya tajam.


Beralih duduk di sofa dan sengaja menyilangkan sebelah kakinya hingga memperlihatkan paha mulusnya di depan Arjean.


Seniat itu Kalandra menggoda pria yang notabene sudah menjadi Suami wanita lain.


"Ngapain kamu dateng ke rumahku tadi pagi?"


Kening Kalandra mengerut tak suka.


"Pasti bocah itu yang mengadu."


Keberanian Kalandra patut diacungi jempol. Berkali-kali diperingatkan agar bisa menjaga sikapnya, tapi sifat keras kepala wanita itu tak akan mempan jika hanya ditegur sebatas lisan.


Butuh tindakan ekstra untuk membuat Kalandra bisa mengerti.


"Jawab aja! Ngapain?"


"Aku udah terbiasa dateng ke rumah kamu pas kita masih pacaran, Jean. Masa cuma karna bocah itu, kamu ngelarang aku buat ke sana."


"Bocah yang kamu maksud itu Istriku, Kal. Hati-hati kalo bicara."


"Aku gak peduli! Mau kamu udah nikah atau belum, bagiku ... Kamu tetep punyaku, Arjean."


Chup!


Satu kecupan yang diawali dengan gerakan sensual jemari lentik Kalandra membuat Arjean terdiam sejenak.


Membiarkan sejauh mana Kalandra berani menyentuh dirinya.


Arjean tidak membalas ciuman Kalandra. Membiarkan wanita itu tersenyum penuh kemenangan disela ciuman panas mereka.


Mendudukkan pantat berisinya di pangkuan Arjean tanpa rasa malu.


"Mmh ..."


Dan bergerak liar untuk menggoda sesuatu yang mulai menegang.


Cklek!


Sial.


Baru saja permainan mereka dimulai tapi seseorang yang berdiri di ambang pintu mengganggu kegiatan mereka.


Brugh!


Arjean mendorong kasar tubuh Kalandra sampai terjatuh dan kepalanya membentur meja yang ada di belakangnya.


"Mau kemana? Kita baru aja mulai, Honey." tahan Kalandra sambil memegangi kepalanya yang terbentur meja akibat ulah Arjean.


"Minggir!"


"Enggak! Kamu gak perlu ngejar bocah itu, Arjean. Biarin dia tau hu— ahk! Sakit!" pekiknya.


Tarikan pada surai brunette itu menambah rasa sakit yang belum mereda karena benturan tadi.


Dan Arjean tidak mau repot memikirkan hal itu.


"Jaga sikapmu, Kalandra! Aku bisa aja mutusin kontrak kerjasama kita kalo kamu masih bebal kayak gini." ancam Arjean.


Setengah berlari untuk mengejar seseorang itu yang kini sudah berada di lobby.


Mengabaikan sapaan orang-orang di sana, termasuk sahabatnya yang sudah satu minggu lebih tidak ia temui.


"JOANNA!" teriak Lian, melambaikan satu tangan sementara tangan lainnya memegang peralatan bersih-bersih.


Joanna tersenyum tipis.


Hari ini cukup menguras tenaga. Dari pagi bertemu Kalandra, di sekolah banyak tugas yang harus dikerjakan setelah Joanna cuti selama satu minggu dan terakhir— harus melihat adegan tak senonoh yang dilakukan oleh Suaminya dengan wanita yang sama, yang ditemui Joanna tadi pagi.


"Apa kabar, pengantin baru?" goda Lian.


Respon Joanna diluar dugaan.


Ia berani memeluk Lian di kantor Suaminya sendiri.


Mengundang tatapan penuh tanya karyawan di sana, soal kedekatan mereka berdua yang disaksikan oleh Arjean dari jarak dekat.


"Aku rasa udahan dulu pelukannya."


Suara berat itu menginterupsi Joanna dan Lian.


Tapi Joanna enggan melepaskan pelukannya pada Lian.


Justru semakin menenggelamkan wajahnya di dada pria jangkung itu.


"J-joanna ..."


Lian gugup sekaligus meringis takut saat melihat tatapan dingin Arjean sangat menusuk sampai menimbulkan debaran di jantungnya yang berdetak semakin cepat.


"Datang ke ruangan HRD dan minta mereka membuatkan surat peringatan untuk kamu, Lian." kata Arjean.


"Lian, kamu tuli? Ngapain masih di sini?"


"Itu—"


"Gak usah didengerin. Lo lanjut kerja aja." sela Joanna dengan nada ketus.


Lian yang takut sesuatu yang buruk terjadi pada Joanna hanya menggeleng cepat.


"Kalo lo gak patuh sama omongan gue, bukan cuma SP doang yang bakal lo dapet, Li ..."


"Tapi langsung surat pemecatan! Gue Nyonya Baskara di perusahaan ini. Gue juga punya hak sebagai Bos lo .. Benarkan, Bapak Arjean Bintang Baskara?" seringaian muncul disudut bibir cherry itu.


"Pergi, Lian. Gue tonjok nih!" ancam Joanna dengan gestur pura-pura mengepalkan tangan, ingin meninju Lian.


Lian yang tak punya kuasa apa-apa hanya bisa berjalan gontai, meninggalkan pasangan pengantin baru itu yang terlibat perang dingin.


"Ke ruanganku sekarang."


"Apa di sana masih ada Kalandra? Kalo iya, mending lo lanjutin aja kegiatan yang tadi, Je." ujar Joanna santai.


"Jangan menguji kesabaranku, Joanna."


Joanna tersenyum mengejek, "Gak kebalik? Harusnya gue yang bilang gitu, Pak Arjean Bintang Baskara."


Terdengar sangat mengejek dari nada bicara itu.


Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Arjean tetap harus menjaga wibawanya di depan para karyawan Star Way Entertaiment.


Tanpa babibu lagi, Arjean menarik tangan Joanna. Menautkan kedua jemari tangan mereka hingga rasanya terasa pas dan hangat.


Tapi Joanna bukan tipikal gadis yang mudah terbawa perasaan akan hal romantis yang dilakukan pria itu.


"Lepas! Gak usah pegang-pegang."


Joanna berjalan mendahului Arjean yang hanya menghela napas, melihat kelakuan Istrinya tersebut.


Maklum saja.


Usia Joanna terlalu muda dan masih suka labil saat menghadapi masalah yang terjadi.


"Wah, siapa ini yang balik lagi?" sindir Kalandra.


Masih duduk di sofa sembari mentouch-up bedak dan lipstik yang agak berantakan setelah kegiatan tadi.


"Lo pikir gue cemburu liat kalian ciuman tadi?"


"Gak! Lo salah! Gue pergi karena gue enek aja gitu liat orang yang berbuat mesum gak pada tempatnya, cih!" ejek Joanna, tak kalah pedasnya dari ucapan Kalandra.


Kalandra bangun dari duduknya, berdiri ingin menyerang Joanna tapi bahunya ditahan oleh Arjean.


"Gak ada kekerasan, duduk, Kalandra!"


Menurut.


Mereka duduk saling berhadapan dengan posisi Arjean ditengah-tengah Joanna dan Kalandra.


"Mending ngomong sekarang deh. PR sekolah gue masih banyak soalnya."


"Masih sekolah udah mau-mau aja nikah, tsk! Gatel banget!"


Joanna merotasikan malas kedua matanya, "Iya nih lagi gatel, garukin, Kal!" tantang Joanna, merasa jengah dengan setiap perkataan yang keluar dari bibir domble Kalandra.


Iya. Bibir Kalandra tebal atas-bawah, menurut Joanna.


Terlalu banyak filler atau entah apalah itu namanya, Joanna tidak paham dengan treatment kecantikan wanita-wanita dewasa karena Joanna tidak suka mengikuti trend ala Kim Kadarshian.


"Jean, dengerin tuh! Istri kamu kurang ajar banget."


"Ngaca, anj! Sikap gue tergantung lo juga kali. Baperan amat jadi orang."


"Cukup! Gak usah berantem kayak anak kecil ..."


"Aku minta kamu gak usah dateng ke rumahku lagi Kal dan kamu Joanna ... Mulai besok biar aku yang anter kamu ke sekolah."


Joanna ingin protes karena sopir sebelumnya lumayan menyenangkan orangnya dan bisa dijadikan teman mengobrol selama diperjalanan.


Jadi tak ada kata bosan selama Joanna berada di dalam mobil.


"Enggak! Gue tetep sama sopir yang kemarin."


"Lagian aneh banget lo, tiba-tiba menawarkan diri buat nganterin. Curiga gue."


Kalandra mendengar perdebatan itu berusaha mengompori Arjean agar hubungannya dengan Joanna semakin memanas.


"Ngebantah mulu. Kamu harus nurut apa kata Suami, Joanna."


"Gak usah sok ikut campur. Gue patahin juga rahang lo yang hasil bentukan Dokter Bedah Plastik itu." ancam Joanna.


Hingga wajah Kalandra memerah padam sebab malu mendengar fakta jika kecantikan sempurna yang Kalandra miliki tak luput dari campur tangan seorang Dokter seperti ucapan Joanna barusan.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!