Destiny

Destiny
ARSENIK



Sejak Joanna sakit, Arjean tidak pernah sekalipun meninggalkan Joann sendirian. Bahkan pria itu menghandle semua pekerjaannya di Rumah Sakit.


Hubungan mereka semakin membaik dan sering berkomunikasi layaknya pasangan Suami-Istri pada umumnya.


"Kamu bisa pergi kerja, Jean. Aku gak papa sendirian. Ada suster."


Iya. Gaya bicara Joanna berubah. Lebih sopan dan mulai menyadari perhatian Arjean yang begitu tulus padanya.


Joanna juga ingin membuka hati untuk pria itu.


Terlepas dari niat awal mereka menikah hanya karena sebuah hutang, mereka telah sepakat untuk melupakan masalah itu dan memulai hidup baru, menjalani pernikahan yang sebenarnya.


"Aku bosnya, Sayang. Kamu lupa?"


Ah, panggilan itu!


Sejak dua hari terakhir, Arjean selalu memanggil Joanna dengan panggilan semanis itu.


"Iya, iya. Aku tau! Tapi kamu ntar repot sendiri, Je."


Cklek!


Dua perusuh datang.


Membawa banyak kantong makanan kesukaan Joanna pastinya.


"Halo, Kakak Ipar! Gimana keadaan lo? Nih, telur gulung kesukaan lo!"


Zelo menyodorkan satu kantong kecil berisi 20 tusuk telur gulung.


"Gue juga bawain boba sama cireng isi."


Melihat makanan yang dibawa tidak sehat, Arjean menatap tajam pada kedua pemuda tersebut.


"Joanna baru recovery. Kalian udah kasih jajanan yang aneh-aneh." Lalu merebut kantong itu dari tangan Zelo dan Lian sebelum Joanna berhasil mengambilnya.


"Ish! Balikin, Jean! Mau makan itu." rengek Joanna.


"Enggak, Sayang. Kamu baru aja sembuh, masa udah makan mecin-mecinan gini. Gak ada!"


"Dih, posesif amat lo, Kak!" cibir Zelo.


Tengkuk Zelo langsung digeplak oleh Arjean.


"Aku bakal marah kalo kamu gak kasih makanan itu, Jean."


Arjean menghela napas, terpaksa memberikan jajanan itu pada Istrinya.


"Kali ini aku biarin tapi jangan banyak-banyak. Bagi buat Zelo sama Lian juga."


Drtt! Drrtt! Drrtt!


Ponsel Arjean berdering.


Ia mengangkat panggilan tersebut setelah menjauh dari keberisikan yang disebabkan dua makhluk tidak tahu diri itu; Zelo dan Lian.


"Hm, kenapa?"


"........"


"Jangan bercanda." Arjean melirik sekilas ke arah Joanna yang sedang menatapnya juga.


"Oke! Aku ke sana sekarang. Jangan ada media yang meliput soal ini, John!"


"........."


Panggilan ditutup.


Arjean kembali berjalan menghampiri Istrinya yang terlihat ingin bertanya.


"Aku harus pergi. Kamu di sini sama mereka ya?" tangan besar itu mengusap pucuk kepala Joanna.


"Kemana?"


"Urusan kantor. Pulangnya mau dibawain apa?"


"Capcay seafood sama udang saus manis."


Arjean mengecup kening Joanna sebagai perpisahan, "Ya udah. Aku pergi dulu. Inget! Jangan makan banyak-banyak."


"Iya, iya, ish! Cerewet!"


"Gak sopan banget! Mesra-mesraan di depan jomblo." sindir Zelo dan Lian yang memperhatikan interaksi keduanya bak remaja yang dimabuk cinta.


"Makanya punya pacar!" Arjean pergi setelah mengatai Zelo demikian.


Mumpung Arjean tidak ada, Lian bisa bebas bertanya pada Joanna.


Tentang kedekatan mereka akhir-akhir ini.


"Lo kok bisa sih terima cinta Jean?"


"Gak tau. Mungkin tinggal bareng dia selama sebulan ini bikin gue sadar kalo sebenernya dia itu tulus sama gue, Li. Buktinya, waktu kemarin gue nyuruh dia selingkuh sama Kalandra, dia marah banget dan karna itu, gue jadi kena hukuman."


Sebab Lian dan Zelo kemarin sempat mengintip ke kamar Joanna dan Arjean sebentar meskipun belum sampai ke adegan inti.


"Bisik-bisik apa nih? Kayak tetangga aja." mulut Zelo sudah dipenuhi makanan masih saja ikut menyahut.


"Berisik! Elap dulu tuh coklat yang ngiler di sudut bibir lo." Lian menonyor kepala Zelo dengan kernyitan jijik.


"Sialan! Gak sopan banget! Bikin gue jadi bego aja." protes Zelo, seraya mengusap bekas tonyoran Lian cukup pelan.


Hanya saja Zelo orangnya suka mendrama.


"Kita lagi ngomongin Kakak lo ..."


"Akhirnya, Joanna sama Arjean gencatan senjata. Mereka bisa akur dan saling mencintai, terus punya anak, terus hidup bahagia, terus–"


Bugh!


"Yak! Lo kok nimpuk gue sih, Jo?" protes Lian, mengambil bantal yang dilempar ke arahnya.


"Jangan sembarangan! Gue masih terlalu muda buat jadi Mama!"


"Tau nih, Liantong! Nganu mulu otak lo!" Zelo mengompori.


Mereka pun banyak berbincang mengenai isi surat perjanjian antara Arjean, Joanna dan Pak Derryant.


Yang mana, surat aslinya dipegang oleh Arjean sementara Joanna dan Ayahnya memegang salinannya.


...•••• ...


Rumah itu telah dijaga ketat oleh sekelompok pria berjas hitam.


4 diantara ada di gerbang utama sementara 4 lain di depan pintu masuk.


Lalu 4 sisanya berjalan di belakang Arjean, melindungi Bos Besar mereka.


Seorang wanita terduduk dengan raut ketakutan.


Kedua tangannya saling memilin saat melihat kedatangan Arjean dan anak buahnya.


Wanita itu takut dituduh dan dibawa ke Kantor Polisi.


"Tuan, saya t-tidak bersalah. T-tolong jangan t-tangkap saya."


Arjean memberi gestur pada 2 anak buahnya untuk memeriksa kondisi mayat yang tergeletak di lantai kamar dengan mulut berbusa.


"Bos, itu— Arsenik." ujar salah satu diantara mereka.


Setelah menghirup bekas gelas minum yang dipakai oleh mayat itu.


"Suruh yang lain untuk bawa dia. Lakukan prosesi pemakaman secara tertutup dan cari keberadaan wanita itu sampai ketemu." perintah Arjean.


Tatapan Arjean mengarah pada sosok wanita yang berlutut di kakinya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Jelaskan padaku awal kejadiannya."


Wanita itu— Bik Karin, Maid yang bekerja di rumah Pak Deryyant mulai menceritaka kronologi saat dirinya diminta membuatkan secangkir teh untuk Pak Derryant.


Kemudian Soraya datang ke Dapur dan memberinya bungkusan kecil berisi bubuk putih.


Soraya juga meminta Bik Karin mencampurkan serbuk putih itu ke dalam minumannya Pak Derryant kemudian tak lama setelah itu, terdengar suara teriakan Soraya, diiringi kepanikan Bik Karin saat melihat Majikannya sudah tergeletak dengan mulut berbusa.


Soraya berhasil meracuni Pak Derryant sampai meninggal.


Jahat sekali bukan?


"Tolong jangan tangkap saya, Tuan Baskara. Saya tidak tahu kalau itu serbuk beracun, maafkan saya, tolong jangan tangkap saya."


Bik Karin menangis tersedu-sedu.


Arjean sudah mengetahui rencana Soraya sejak lama.


Saat Arjean menyuruh salah seorang anak buahnya untuk mengambil motor ninja Joanna sekaligus memasang cctv pengawas di beberapa sudut rumah tersebut.


Tanpa memberitahu Joanna sebab entah mengapa, Arjean merasa jika Soraya memiliki niat buruk pada pabrik milik mendiang Ibunya Joanna tersebut.


Dugaan Arjean benar sekali.


Kekerasan yang terjadi di rumah itu sering dilihat Arjean melalui cctv telah ia pasang sebeluknya.


Bagaimana saat Soraya ditampar namun tak ada perlawanan hingga membuat wanita itu menjadi gelap mata atau sejak awal, dirinya tidak mencintai Pak Derryant dan hanya ingin uangnya saja.


"Saya tau, Bik Karin boleh pergi dari rumah ini. Orang saya yang akan mengantar tapi inget! Masalah ini jangan sampai ada yang tahu, apalagi Joanna. Dia belum tahu kalau Papanya meninggal."


Dengan rasa syukur, Bik Karin mengucapkan terimakasih berkali-kali pada Arjean yang juga telah memberinya uang pesangon cukup banyak untuk kehidupannya setelah ini di desa.


"S-saya siap-siap dulu, Tuan."


"Hm, kalau bisa cepet ya, Bik! Kosongkan rumah ini biar Bibik gak terlibat."


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!