
Satu minggu kemudian ...
Joanna telah sembuh dan diizinkan pulang oleh Dokter. Dengan catatan Joanna harus menjaga pola makannya serta tidak mengkonsumsi makanan sembarangan dulu supaya asam lambungnya tidak kembali kambuh.
"Tiba-tiba kangen Papa." gumam Joanna yang masih terdengar jelas ditelinga Arjean.
Mereka sedang di ruang tamu. Menonton serial upin dan ipin kesukaan Joanna.
Ya meskipun usianya terbilang cukup tua tapi kartun dari negeri Jiran itu menarik bagi semua kalangan usia, termasuk Joanna.
"Kapan-kapan kita ke sana."
Bohong.
Arjean masih sibuk mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Soraya yang telah kabur membawa beberapa surat penting berisi warisan keluarga Ruby serta surat kuasa atas kepemilikan pabrik Wafer yang telah dipindah tangan ke orang lain.
Beruntung Arjean berhasil merebutnya kembali sehingga pabrik Wafer milik mendiang Bu Anne tak sampai jatuh ke tangan orang lain.
Semua itu berkat kekuatan uang Arjean dan sedikit ancaman juga.
"Besok ya? Aku mau ketemu Papa, Je. Gak tau, kangen aja gitu meskipun Papa udah jahat sama aku tapi Papa tetep orangtua aku." lirih Joanna, mengeratkan pelukannya pada Arjean.
Sebelum itu, Joanna sempat bermimpi tentang Ayah dan Ibunya.
Mereka terlihat mengenakan baju yang sama berwarna putih.
Dalam mimpi itu, Pak Derryant mengucapkan kata maaf dan terlihat begitu sedih.
Joanna tidak tahu apa maksud dari mimpi tersebut.
Perasaannya mendadak tidak enak.
"Gak bisa, Jo. Aku sibuk."
"Ya udah. Aku dianter Zelo atau Lian aja, gimana?"
Arjean mengusap pipi Istrinya, "Sama aku aja. Tapi gak bisa besok."
"Tapi aku maunya besok, Jean."
Mata Joanna mulai berkaca-kaca. Hal ini membuat Arjean khawatir, jika sampai Joanna tahu Pak Derryant sudah meninggal satu minggu yang lalu.
Berita kematian Pak Derryant sengaja ditutup rapat agar tidak banyak spekulasi negatif yang beredar.
"Ya udah. Besok kita ke rumah Papa ..."
Arjean menangkup wajah Joanna dan membuat kedua mata mereka saling beradu pandang, "Tapi aku mau kamu janji dulu."
"Soal apa?"
"Apapun yang terjadi, percaya sama aku kalo semua bakal baik-baik aja. Keadilan bakal tetep ada."
Joanna mengerutkan kening, "Ish! Kamu ngomong apa sih, Je? Aku gak ngerti."
"Janji dulu, Joanna."
"Iya, aku janji. Berarti besok kita ke rumah Papa?"
Arjean mengangguk. Terpaksa menuruti permintaan Joanna yang tak bisa ditunda-tunda lagi.
Siap atau tidak, besok Arjean harus menceritakan semua kejadian yang menimpa Pak Derryant.
"Je, ada telepon." kata Joanna menunjuk benda pipih di atas meja.
"Sebentar ya."
"Hm, angkat dulu."
...••••...
Soraya tertawa kecil ketika melihat gundukan tanah merah yang masih basah, bersanding dengan makam milik Bu Anne yang selalu tampak rapi.
"Mas, aku datang."
Tidak ada raut penyesalan. Soraya terlihat mengusap perutnya yang masih rata.
"Coba aja kamu gak suka mukulin aku, mungkin kejadiannya gak bakal kayak gini."
Masker dan kacamata hitam itu menutupi wajahnya dari kemungkinan seseorang yang menyadari kehadiran Soraya.
Ia tidak boleh meremehkan Arjean yang bisa saja sudah mengetahui pembunuhan yang telah Soraya lakukan.
Apalagi kediaman Ruby tampak sepi-sepi saja dan gerbangnya sudah digembok saat Soraya sengaja melewati jalan depan rumah tersebut untuk memastikan.
"Mau kemana kamu?"
Dua pria bertubuh besar menghadang jalan Soraya.
Soraya hendak kabur namun lengannya berhasil dicekal oleh salah satu pria tersebut.
"Ikut kami!"
"Enggak! Kalian gak bisa maksa aku buat ikut!"
"Banyak bcot! Seret dia!"
Bugh!
Karena terus meronta, pria itu memukul tengkuk Soraya sampai jatuh pingsan.
Dan menggendongnya menuju mobil.
...••••...
Lian duduk termenung memikirkan ucapan Arjean kemarin.
"Papa Derryant sudah meninggal satu minggu yang lalu. Dia dibunuh Soraya dengan bubuk arsenik ..."
"Lian, aku takut Joanna bakal shock pas tau Papanya meninggal meskipun selama ini hubungan mereka kurang baik."
Ia mengusak kasar wajahnya.
Pemandangan itu tak luput dari mata Zelo yang semenjak tadi memperhatikan Lian di sampingnya.
"Lo kenapa?"
Mereka sedang berada di rooftop kantor, menikmati semilir angin siang yang menyejukkan sebab saat ini sudah waktunya jam makan siang.
"Gak papa."
"Kalo ada masalah ceritain aja ke gue, meskipun gue gak bisa bantu .."
"Tapi seenggak bisa ngurangin beban lo! Jangan dipendem sendiri, Lian."
"Papanya Joanna meninggal."
Zelo terkejut mendengar kabar itu.
Ia pikir, tidak lucu jika Lian bercanda soal kematian orangtua Joanna.
"Kakak lo yang kasih tau gue kemarin dan sekarang, Jean bingung, harus ngomong gimana ke Joanna. Dia maksa buat ke rumah Papanya besok."
"Kok bisa?"
"Lo tau Ibu Tiri Joanna? Kata Jean, dia yang udah bunuh Pak Derryant, Ze."
Zelo semakin tak percaya dengan yang barusan ia dengar.
Kaget saja sebab berita sepenting ini disembunyikan dari Joanna. Gadis itu berhak mengetahui situasi yang terjadi.
Jangan sampai Joanna mengetahuinya lebih dulu dari orang lain.
...••••...
Besoknya, Arjean dan Joanna sampai di kediaman Ruby.
Alis Joanna mengkerut saat melihat rumah Ayahnya digembok dari luar.
"Kok sepi banget?"
"Dimana Papa? Apa mungkin di Pabrik ya?" gumamnya, lagi.
"Jo, sebenernya ada yang mau aku kasih tau ke kamu."
Raut wajah Arjean berubah serius. Lantas menarik Joanna kembali masuk ke dalam mobil.
"Jangan bikin aku takut, Jean."
"Jun, antar kita ke makam."
...••••...
Joanna menangis sejadi-jadinya seraya memeluk nisan bertuliskan nama Ayahnya.
"Papa!"
"Ini gak mungkin! Papa gak mungkin ninggalin aku, Jean!"
"Pa, kenapa Papa sejahat ini sama aku? Iya! Gak papa, kalau Papa mau maki Joanna tapi seenggaknya Papa jangan pergi kayak gini."
Di tengah tangis itu, Arjean menceritakan semua kejadian yang terjadi seminggu lalu dan Soraya yang telah berhasil ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara oleh Arjean.
"Aku sayang banget sama Papa. Aku ... Maafin aku, Pa. Harusnya aku gak nyerah buat nyadarin Papa kalo Soraya itu bajingan!"
"Sayang, udah ya? Ini bukan salahmu. Doain Papa biar tenang di sana."
"Enggak, Je. Kenapa harus secepet ini? Aku emang benci pas tau Papa suka kasarin Mama tapi sebencinya aku sama Papa Deryyant, dia tetep Papa yang udah ngadopsi aku, hks!"
"Iya, aku tau. Tapi semua udah terjadi. Meski kamu meratap, gak bakal bikin Papa bangun."
Tangis Joanna semakin pecah setelah mendengar ucapan Arjean yang begitu menyakiti hatinya.
Jadi maksud mimpi Joanna kemarin adalah ini.
Pak Derryant meminta maaf atas seluruh kesalahan yang dia perbuat pada Joanna.
"Ayo pulang. Kamu harus tenangin diri dulu. Bentar lagi hujan, Sayang."
"Aku mau nemenin mereka. Nemenin Papa sama Mama di sini, Je."
Joanna membiarkan airmata itu menetes membasahi wajahnya.
Memandang bergantian pada makam kedua orangtuanya yang sengaja disandingkan.
Belum kering luka atas meninggalnya Bu Anne, kini Joanna kembali menelan kenyataan pahit jika dirinya juga harus kehilangan sang Ayah untuk selama-lamanya.
Maafin Joanna, Pa, Ma.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!-