
Joanna menatap pantulan dirinya di depan cermin. Memeriksa leher, tulang selangka dan bagian lain pada tubuhnya.
Ada bekas merah keunguan di sekitar leher serta dada.
Dengan telaten Joanna mengaplikasikan concealer untuk menutupi bekas tersebut.
Iya. Bekas kissmark yang dibuat Arjean semalam terlalu banyak sampai Joanna berkali-kali mengumpati nama Arjean pagi ini.
"Udah tau gue masuk sekolah hari ini tapi masih aja kayak Alpha, suka ninggalin jejak sembarangan .."
"Bego, ish! Gue bisa terlambat masuk kalo kelamaan ngolesin ini."
Joanna tidak perlu bantuan Gracella atau Maid lain untuk yang satu ini.
Karena menurutnya, soal hubungan Suami-Istri cukup Joanna dan Arjean saja yang tahu.
Meski tidak sampai ke tahap inti, tapi Joanna takut Arjean kelepasan.
"Nona, sarapan sudah siap."
"Hm, aku turun sekarang."
Setelah cuti satu minggu dari sekolah, Joanna kembali melanjutkan aktifitasnya lagi.
Kali ini Joanna harus berangkat dengan sopir, begitu juga saat pulang. Pak Aben sudah ditugaskan Arjean untuk ikut kemana pun Joanna pergi.
Kecuali belajar di kelas dan ke toilet, tentunya.
Itu tidak penting.
Joanna berjalan menuju ruang makan.
Banyak hidangan yang tersaji rapi di atas meja.
5 orang Maid— termasuk Gracella, berjejer di samping dekat meja panjang itu.
Kebiasaan mereka memang wajib menunggu Majikannya sampai selesai makan.
"Lobster bakar pesenanku semalem belum mateng, Gracella?"
"Sudah, Nona. Alena, bawa lobsternya keluar." perintah Gracella.
Joanna tak sabar ingin memakan lobster bakar kesukaannya.
Hampir tak pernah absen memakan itu saat mendiang Bu Anne masih hidup, dulu.
"Tolong yang dua simpen buat bekal aku di sekolah. Makasih, Gracella."
"Baik, sama-sama Nona."
Jangan tanya dimana Arjean.
Karena pria itu ada rapat pagi dengan investor Timur Tengah hingga melewatkan sarapannya.
Hanya meminum kopi dan sandwich sebagai pengisi perut pagi ini.
"Selamat pagi .." sapa seseorang pada mereka.
Joanna melirik sekilas dan enggan menanggapi. Mulutnya sibuk mengunyah lobster buatan Alena yang terasa enak, meskipun tidak sama persis dengan buatan Ibunya tapi Joanna tetap menghargai itu.
Memakan apapun yang disajikan dengan lahap karena Joanna termasuk gadis pemakan segalanya.
Herannya lagi, tubuh Joanna tetap langsing meski banyak makan.
Dengan tidak tahu malu, seseorang yang diabaikan itu menarik kursi yang biasa diduduki oleh Arjean.
Brak!
Jarak kursi Joanna dan kursi itu berdekat. Memudahkan kaki jenjang Joanna bergerak maju dan menendang kursi tersebut sampai terjungkal ke belakang.
"Masih mending kursinya yang gue tendang."
Kalandra.
Tersenyum tipis dan berusaha tidak tersulut emosi dengan kelakuan Joanna yang memuakkan di matanya.
Menarik kursi lain, duduk berhadapan dengan Joanna dengan raut datar.
"Ada lobster. Kebetulan aku juga suka–"
Prang!
Piring yang dipegang Kalandra ditepis oleh Joanna sampai jatuh membentur piring di bawahnya.
"Kamu tahu artinya sabar?"
"Selama berhadapan sama manusia kayak lo, gue udah lupa sama kata sabar!"
Joanna sengaja melempar bekas gigitan lobster yang menyisakan ekornya ke arah Kalandra.
"Mau lobster 'kan? Makan tuh! Bekas gue tapian."
Brak!
"Jadi gini sifat istri Presiden Direktur Arjean Bintang Baskara itu? Bener-bener minus banget kelakukannya." bentak Kalandra, mulai terbawa emosi yang sempat ditahan semenjak tadi.
Brak!
"Iya! Kenapa? Lo gak suka sama sikap gue?" Joanna menantang.
"Kamu bener-bener gak bisa dibaikin ya, bocah!"
Gracella dan Maid lain panik.
Mulai melerai pertengkaran keduanya.
"Nona, lebih baik Nona Joanna berangkat ke sekolah saja. Biar saya yang urus Nona Kalandra."
Joanna menatap tajam pada Gracella yang langsung menundukkan wajah.
Sikap dan ucapan Joanna tergantung siapa lawan yang mengajaknya bicara.
Selama ini Joanna selalu bersikap baik pada para pekerja di rumah Arjean. Tidak mengumpati mereka atau berbicara dengan sopan pada Gracella dan yang lain.
Namun kali ini, Joanna marah mendengar Gracella memanggil Kalandra dengan sebutan yang sama dengan dirinya.
"Bilang apa kamu barusan, Gracella?"
"Maaf, Nona."
Tatapan Joanna melunak.
"Cuma aku yang boleh dipanggil Nona di rumah ini ..."
"Kalian denger gak?"
Mereka mengangguk bersamaan.
Sosok Gracella yang lima tahun lebih tua dari Joanna merupakan sosok yang baik, layaknya teman dan Kakak perempuan bagi Joanna yang hanya hidup sebatang kara.
Joanna bisa merasakan perhatian tulus Gracella padanya selama tinggal di sini. Jarang mengeluh dan selalu mengurus Joanna dengan baik.
"Cih! Jangan ngerasa sok di rumah ini, Joanna! Kamu gak sespesial itu, apalagi dimata Arjean ... Kamu itu NOTHING!"
"Terus? Gue harus nangis sambil gulung-gulung kayak telur gulung gitu?"
Kalandra masih berusaha melepaskan cekalan tangan dua Maid di lengannya.
"Kamu emang kurang ajar banget kalo ngomong. Sini kamu, Joanna! Aku pengen nampar mulut kurang ajarmu itu."
Jika saja Joanna tidak menghargai sebuah makanan dan siapa orang yang telah bekerja keras memasak hidangan itu, pasti mangkok berisi sup panas di depannya sudah habis, mengguyur kepala Kalandra agar sadar dan tidak menjadi pelakor di rumah tangganya bersama Arjean.
Meski gue gak cinta sama Arjean ...
Meski gue terpaksa menikah sama Arjean ...
Meski pernikahan ini cuma formalitas doang dan hanya tertulis di atas kertas ...
Tapi gue benci sama adanya orang ketiga yang berpeluang nambahin beban di hidup gue, kayak yang udah dilakuin Soraya ke Mama Anne.
"Sayangnya gue gak punya waktu buat ladenin lo sekarang."
"JOANNA! JOANNA! GADIS KURANG AJAR KAMU!" teriakan Kalandra dibalas dengan acungan jari tengah yang diangkat ke atas oleh Joanna.
Berjalan santai keluar rumah tanpa menoleh pada Kalandra yang mati-matian menahan diri untuk tidak menjambak rambut Joanna sampai habis.
...•••• ...
"Pagi ini Nona Joanna bangun dan sarapan seperti biasanya Pak, tapi–"
Tangan Arjean berhenti bergerak membalik lembaran kertas dokumen itu.
"Nona Joanna sempat bertengkar dengan Kalandra."
Satu nama yang disebut, cukup membuat Arjean bisa membayangkan sekacau apa kondisi di rumahnya tadi.
"Tapi anda tidak perlu khawatir, Pak. Gracella dan para Maid berhasil menangani itu dengan baik."
"Oke, kamu bisa kembali ke ruanganmu lagi, Sean."
Arjean mengambil ponsel yang tergeletak di atas mejanya.
Baru jam 9.
Ia tidak mungkin menelepon Joanna saat jam pelajaran berlangsung.
Bisa disita ponsel Istrinya jika ketahuan guru pengajar.
...JOANNA...
Arjean
Pulang sekolah langsung ke Kantorku.
Arjean terlihat kembali mengetikkan satu pesan lagi untuk kontak lain.
B!tch
Datang ke ruanganku, sekarang!
...••••...
Pelajaran Ekonomi membuat kepala Joanna terasa pecah.
Otaknya tidak bisa diajak kompromi jika disuruh melihat deretan angka yang harus dijumlahkan ini dan itunya.
Drtt! Drtt!
Posisi duduk Joanna yang strategis, jauh dari pengawasan guru pengajar, membuatnya lebih leluasa bermain ponsel saat materi pelajaran sedang berlangsung.
Notifikasi pop up itu menampilkan nama seseorang yang menyebalkan di mata Joanna.
Amber Joanna sempat menyipit sebelum akhirnya mendengus sebal karena nama kontak seseorang itu telah diubah.
...SUAMI GANTENGKU💙...
Suami Gantengku💙
Pulang sekolah langsung ke Kantorku.
Joanna bingung, kenapa hidupnya yang sekarang harus dikelilingi oleh orang-orang yang ia benci, yang haus akan memerintah orang lain seenaknya.
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!