Destiny

Destiny
ANCAMAN



Joanna baru turun dari kamar saat jam menunjukkan pukul sebelas siang.


Entah apa yang dilakukan oleh gadis— ah! Rasanya lebih cocok menyebut Joanna seorang wanita karena status barunya sebagai Istri Arjean.


Ya, walau mereka belum melakukan hubungan layaknya suami-istri tapi cepat atau lambat, mereka pasti akan melakukan itu.


Untuk hari ini, Joanna ingin menikmati waktu santainya di hari libur sekolah.


Sengaja.


Arjean meminta izin cuti satu minggu ke pihak sekolah Joanna, tentu saja dengan kekuatan uang serta reputasi yang dimiliki Arjean, bukan hal sulit bagi Joanna mendapat izin dari Kepala Sekolahnya.


"Eh, maaf, Tuan. Nona Joanna baru saja keluar dari kamar dan sedang menuju ruang makan."


"Pastikan dia makan dengan baik, Gracella. Sepertinya aku akan pulang cepat hari ini ..."


Ada jeda di seberang sana.


"Tidak usah memasak. Malam ini aku dan Joanna akan makan malam di luar."


"Baik, Tuan."


Sambungan itu berakhir. Gracella segera menghampiri Nyonya Barunya di dapur.


Dan menanyakan Joanna ingin dimasakkan apa oleh para Maid.


"Nona tidak perlu memasak. Biar kami yang melakukan itu."


"Apa sih! Aku cuma goreng nugget do— ahk! Panas, panas!"


"Astaga! Tangan Nona Joanna terluka."


Mendengar keributan kecil di counter dapur, Gracella mempercepat langkahnya.


Dengan raut cemas, Gracella melihat Joanna berdiri di depan westafel. Mengguyur tiga jarinya dengan air mengalir.


"Aduh, bagaimana ini? Tuan Arjean pasti akan memecat kami."


"Iya. Kami sudah membuat Nona Joanna terluka."


Kedua Maid itu sampai berkaca-kaca dan meremat ujung apron yang dikenakan.


"Tsk! Lebay! Aku gak papa. Tuh! Cuma merah dikit doang, ish." ujar Joanna, menunjukkan tiga jarinya sekaligus yang tampak memerah akibat tidak sengaja menyentuh wajah panas.


"Kalian ceroboh sekali! Kenapa membiarkan Nona Joanna memasak sendiri, hah? Kalian digaji besar di rumah ini untuk melayani Keluarga Baskara! Bukan malah membuat salah satu anggota keluarga terluka." omel Gracella, lalu mengambil kotak obat yang selalu disimpan di atas rak paling atas.


Mengoleskan salep luka bakar di jemari Joanna yang memerah.


Joanna terkejut dengan kedatangan Gracella yang tiba-tiba memarahi dua Maid yang tak bersalah itu.


"Aku gak papa. Gak perlu menghukum mereka, Gracella."


"Maaf, Nona. Sudah menjadi aturan di rumah ini jika ada salah satu Maid yang membuat kesalahan, maka dia harus mendapat hukuman ..."


Gracella meminta Joanna agar menunggu di meja makan. Karena dapur tempat yang berbahaya bagi Joanna yang tidak pernah memasak.


Nugget hasil gorengan Joanna tidak layak dimakan, sebab ada banyak yang gosong karena Joanna terlalu lama menggorengnya dan api yang dinyalakan juga terlalu besar.


Dulu saat di panti asuhan, Joanna juga tidak pernah membantu Ibu panti di dapur. Tugasnya hanya menyiapkan saja, tidak dengan memasak.


"Anda bisa tunggu di ruang makan. Biar saya siapkan. Mau berapa nugget?"


Joanna mengerutkan alis.


Tidak suka dengan aturan yang merugikan para pekerja itu.


Toh, Joanna terluka bukan karena kedua Maid tersebut. Joanna saja yang terlalu ceroboh dan tidak hati-hati saat menggoreng.


"Mulai hari ini aturannya berubah! Jangan hukum mereka karena ini murni kesalahanku, Gracella."


"Tapi Tuan akan marah kalau melihat anda terluka."


"Aku udah bilang gak papa. Ini cuman luka kecil, Gracella."


Joanna melangkah pergi.


Meninggalkan Gracella dan dua Maid itu yang menghela napas, lega.


"Kali ini saya maafkan. Jangan diulangi lagi."


"Iya, Gracella."


"Hm, siapkan makanan untuk Nona Joanna."


"Baik, Gracella."


...••••...


Mr. Pervert


Nanti malem ikut aku!


Mr. Pervert


Papa ngajakin kita buat dinner di Restauran.


Mr. Pervert


Sekalian kita bahas omongan Papa soal uang 30 milyar itu.


Mr. Pervert


Bales chat aku atau tau sendiri akibatnya ntar malem


read.


Berkali-kali Joanna mendengus kesal membaca pesan yang dikirim oleh Suaminya.


Selalu ada kalimat ancaman untuk membuat Joanna menuruti ucapan pria itu.


"Ada apa?"


Tidak ada sapaan manis yang terdengar sebagai pembuka percakapan panggilan mereka.


Arjean bukan tipikal pria romantis yang bisa diajak basa-basi, seperti Arzelo.


"Gue masih marah sama lo ya, Jean!"


"Hm, aku udah minta Gracella buat siapin baju buat nanti malem."


"Jean, lo budek? Gue masih marah sama lo soal tadi pagi, jadi gue gak bakal mau pergi buat ntar malem, males!" sahut Joanna, seraya mengisyaratkan Gracella menambahkan saos mayonais ke piring nuggetnya.


Tidak ada sahutan, cukup lama hingga suara Arjean kembali terdengar.


"Kayaknya kamu emang nungguin hukuman dari aku ya? Mau dibuat gak bisa jalan berapa hari, hm?"


Ada kekehan ringan yang terdengar, tapi berhasil membuat Joanna menelan kasar nugget yang baru saja ia suapkan ke dalam mulutnya.


"Bajingan mesum!" desis Joanna.


Lalu menutup panggilan itu secara sepihak.


Tidak peduli Suaminya marah, itu akan dipikirkan nanti oleh Joanna. Karena urusan mengisi perut jauh lebih penting sekarang.


...••••...


Lian dan Zelo tengah duduk lemas di sofa, setelah hari ini mereka sibuk membersihkan Apartemen milik Arjean yang jarang ditempati.


Suasana horor begitu terasa di sana, bahkan beberapa kali Lian sempat melihat sekelebat bayangan putih berdiri di balkon.


"Arjean ngusir lo atau gimana sih? Sampai lo harus repot-repot nginep di sini?"


Zelo yang sudah tidak memiliki tenaga hanya membalas ucapan Lian dengan mengendikkan bahu.


"Apa karna Arjean gak mau malpernya sama Joanna diganggu?"


"Berisik lo!" tunjuk Zelo dengan muka sebal.


Zelo capek tapi pria di sebelahnya tidak berhenti menginterogasi dirinya dengan pertanyaan aneh.


Padahal kalau pun benar Arjean dan Joanna ingin melakukan itu, tidak perlu sampai menyuruh Zelo menginap di Apartemen itu selama satu minggu.


Selain karena suasananya yang horor, tidak ada yang menemani Zelo jika Lian sudah pulang nanti.


"Mau minum gak?"


"Hm, jus lemon kayaknya enak, Lian."


Jika tak ingat siapa Zelo, maka Lian tidak segan menonyor kepala pemuda itu, "Giliran soal perut aja lo cepet banget, Ze."


"Ngeluh mulu kayak cewek lo! Buruan bikinin, ntar gue suruh Kak Jean kasih lo bonus."


Mendengar kata bonus, Lian pun bergegas menuju dapur dan membuatkan segelas air lemon untuk Tuan Muda Baskara yang sangat menyebalkan menurut Lian.


"Gak apa-apa, meski disuruh ngebabu kalo ada uangnya gue jadi semangat."


"Sekalian sama snacknya juga, ambilin di kulkas, Lian."


Seketika senyum di wajah pria berkebangsaan Cina itu luntur saat mendengar suara teriakan Zelo.


"Ngelunjak!"


...••••...


Pukul 6 malam.


Gracella berkali-kali mengetuk pintu kamar Joanna tapi tak direspon oleh si pemiliknya.


Sepertinya Joanna sengaja melakukan itu karena menolak ajakan makan malam bersama Arjean.


"Ada apa, Gracella? Pintunya dikunci?"


Gracella panik melihat Arjean sudah pulang kerja.


"Maaf, Tuan. Hampir satu jam lebih saya mengetuknya, tapi Nona Joanna tidak mau membuka pintu."


Dari dalam, Joanna bisa mendengar suara obrolan mereka.


Ia juga terlihat panik dan langsung menarik selimutnya sebatas dada.


Tak lupa, mematikan lampu utama kamar itu dan hanya menyisakan lampu tidur di nakas.


Berpura-pura tidur adalah jalan ninjanya meskipun Joanna tak yakin, Suaminya bisa percaya.


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!