
Mereka tiba di kantor tepat waktu.
Semua staff sudah menunggu kedatangan Presiden Direktur mereka serta kehadiran Istrinya membuat semua orang terkejut dalam diam.
Karena tak pernah bertatap muka secara langsung dengan si gadis muda yang berhasil memikat hati Arjean.
Ya seperti itulah anggapan orang-orang tentang pasangan yang satu ini.
Sempurna.
Padahal pernikahan mereka terpaksa terjadi atas dasar keputusan sepihak Ayah Joanna. Sebab memiliki banyak hutang dan terlalu bingung untuk meminjam kemana lagi, hingga pada akhirnya, Tuhan mempertemukan Pak Deryant dan Arjean di sebuah Kelab Elit yang ada di pinggiran kota.
Sampai Arjean memutuskan mau membantu Pak Deryant setelah ia tertarik dengan foto Joanna yang ditunjukkan oleh Pak Deryant padanya saat itu.
"Karena semua sudah hadir, silahkan dimulai rapatnya." kata Arjean.
Di sisi kanannya, Joanna duduk dengan malas. Terlihat dari jari telunjuk gadis itu yang mengetuk-ngetuk di atas meja.
Satu jam,
Dua jam,
Hingga di waktu dua jam lebih empat puluh lima menit, Joanna mulai menunjukkan rasa bosannya dengan menguap berulang kali.
"Apa masih lama? Aku ngantuk?" bisik Joanna, masih terdengar baik oleh Suaminya.
"Sebentar lagi. Tahan."
"Tsk! Tau gitu gue kabur aja."
Arjean kembali fokus pada presentasi produk iklan yang akan diluncurkan oleh salah satu brand kecantikan.
Joanna menatap malas pada tulisan power poin yang ada di layar monitor itu.
Suara tepukan tangan menjadi akhir pertemuan mereka siang ini.
"Ya Tuhan! Punggungku mau patah." keluh Joanna, seraya meregangkan kedua otot lengannya bersamaan.
"Mau pulang atau makan dulu?"
Sean yang melihat itu, langsung menginterupsi, "Pak, maaf."
"Ya, Sean?"
"Tadi Mas Jordan menanyakan soal kerjasama kita dengan Kalandra. Apa masih mau dilanjutkan, Pak?" tanya Sean dengan hati-hati. Sebab Sean mengetahui alasan Arjean memutuskan kontraknya dengan sang Mantan Kekasih.
Tidak mungkin Joanna tidak mengetahui alasan itu juga 'kan? Secara dia Istrinya Arjean dan hampir 24 jam mereka tinggal bersama.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan soal itu, Sean."
"Tidak usah bahas ini dulu. Fokus dengan projek baru kita saja." tepukan di bahu Sean menandakan jika ia tidak perlu ikut terlibat dalam persoalan pemutusan kontrak yang masih abu-abu tersebut.
Meskipun sudah ditanda tangani Arjean secara resmi, jika pria itu masih menginginkan Kalandra menjadi model di bawah naungan agensinya, Arjean bisa merekrut Kalandra lagi untuk bergabung.
"Je, lo serius mutusin kontrak lo dengan Kalandra?"
"Kenapa?" tanya Arjean, penasaran dengan reaksi Joanna yang tampak biasa saja, "Kenapa kamu gak keliatan seneng?"
"Lah? Gue masih punya hati buat gak ngancurin mata pencarian orang lain, Arjean."
"Lebay! Harusnya kamu seneng karna Kalandra gak bakal ganggu kita lagi."
Arjean fokus pada jalanan yang mulai padat akan aktifitas jam pulang kantor.
Paling malas lagi saat mobilnya harus terjebak macet yang panjang.
Itu melelahkan.
"Kita? Perasaan lo aja kali yang diganggu ..."
"Gue tegasin sekali lagi, gue gak masalah lo selingkuh sama Kalandra cuma–"
Joanna kembali mengatupkan bibirnya lagi setelah mendapat tatapan tajam dari Suaminya.
"Kita bahas ini kalo udah sampai di rumah! Kamu gak mau 'kan tiba-tiba masuk berita kalo pasangan konglomerat di kota ini mati kecelakaan karna kaget Istrinya ngomong sesuatu yang terlalu konyol buat dilakuin!" jelas Arjean. Kedua tangannya meremat kemudi dan sesekali menekan kasar klakson mobilnya berulang kali supaya kemacetan itu segera berlalu.
Atau sebagai bentuk pelampiasan atas emosinya yang berhasil disulut Joanna barusan.
Arjean tidak mengerti.
Kenapa perasaannya pada Joanna menjadi serumit itu?
"Oke, sorry." cicit Joanna. Tak ingin ucapan Arjean terealisasikan.
Ia tak mau mati muda dengan konyol hanya karena bertengkar dengan Suaminya.
...••••...
Brak!
Pintu utama didorong paksa dari luar.
Suara berisik sepatu dan lantai saling beradu. Menimbulkan ketukan khas yang menegangkan.
Termasuk oleh Zelo dan Lian— yang kebetulan diajak ke rumah Arjean untuk menjenguk Sahabatnya, Joanna.
"Wah, pengantin baru! Pulangnya barengan terus ya, ciee!!"
Mendengar celotehan Zelo, Joanna langsung mengisyaratkan pemuda itu untuk diam.
Tak lupa, Joanna juga menyapa Lian melalui gestur bibirnya "Nanti gue ceritain!"
Kemudian lanjut berjalan, mengekori Arjean yang sudah menaiki tangga lebih dulu.
Brak!
Dan pelaku yang melakukannya pun masih sama, yaitu Arjean.
"Lo boleh marah tapi please! Jangan kekanakan, Arjean! Gue bisa jantungan kalo lo banting–"
Srek!
Bugh!
Tubuh Joanna berhasil ditarik ke atas ranjang dengan kedua tangannya di kunci pada masing-masing sisi kepalanya.
"L-lo jangan macem-macem, Arjean!" gugup. Joanna menelan ludahnya kasar ketika Arjean hanya menatapnya dengan posisi ambigu.
"Je–"
"Bilang sekali lagi, kenapa kamu nyuruh aku buat selingkuh sama wanita itu, Joanna Cecilia Ruby?"
"Jawab!" bentak Arjean.
Membuat Joanna langsung memejamkan mata, takut.
"Itu .. Gue–"
"Ngomong yang bener, Joanna!"
Arjean menyentak kasar kedua pergelangan tangan Joanna menjadi di atas kepala.
Kemudian tanpa persetujuan Joanna, ia langsung mencium kasar bibir gadis itu.
Dan selanjutnya sudah pasti Joanna dibuat kelimpungan di bawah dominasi Arjean yang luar biasa tersebut.
"Tutup lagi, bodoh! Kalo Arjean tau, bisa digampar kita."
"Sst! Berisik banget lo, Lian! Ganggu orang lagi ngintip."
Iya. Kedua pasangan itu lupa mengunci pintu dan berakhir dengan dua makhluk lain mengintip kegiatan mereka.
...••••...
Di kediaman Ruby ...
Tidak pernah sepi dengan pertengkaran.
Selalu ada adu mulut dan saling menyalahkan atas kondisi keuangan pabrik yang semakin lama, semakin sulit.
Banyak bahan baku yang belum didatangkan dan para pegawai mengajukan kenaikan gaji.
Padahal ini belum pergantian tahun.
"Aku gak mau tau! Pokoknya bulan depan aku mau kita pergi liburan, Mas!"
"Liburan, liburan, liburan terus yang ada di kepalamu itu, Soraya! Pernah gak kamu mikirin soal pabrik yang hampir bangkrut?"
Soraya tertawa sarkas, mentertawakan keluhan sang Suami yang disebabkan oleh ulahnya sendiri.
"Itu salahmu! Kamu aja gak becus ngurus pabrik. Uang 50 milyar itu kemana? Pasti buat judi dan main perempuan 'kan?"
Plak!
Kedua kalinya Soraya harus merasakan tamparan dari tangan besar Pak Deryant.
Untuk yang pertama, Soraya bisa memaklumi karena saat itu, Pak Deryant dalam kondisi mabuk.
Namun kali ini, situasinya berbeda. Pria itu menamparnya dalam kondisi sadar.
Dan tidak sengaja disaksikan langsung oleh Bik Karin yang sedang menyiapkan makan malam.
"Permisi, Pak, Bu ... Makan malamnya sudah siap."
"Aku gak napsu makan! Mending kalo Bibi mau, makan aja berdua sama Suami saya!" kata Soraya, pergi meninggalkan meja makan.
"Tetap duduk di tempatmu, Soraya."
Soraya menahan gerakannya yang ingin berdiri.
"Kamu tuli? Aku bilang duduk itu berarti kamu harus duduk!" bentak Pak Deryant, mendorong Soraya agar kembali duduk.
"Makan! Gak usah ngebantah ucapan Suami."
"Suami kayak kamu gak pantes diturutin ucapannya, Mas." lirihnya.
Soraya masih waras untuk tidak membalas perlakuan kasar Suaminya. Ada nyawa lain yang harus ia jaga dengan baik.
"Kamu bilang apa barusan?"
"Bik Karin masaknya kebanyakan. Udah? Katanya nyuruh makan."
"Ya, makan yang banyak biar anak kita sehat."
Dih! Gak nyadar! Ngomongnya sok padahal baru aja nampar aku!
"Makan, Soraya. Jangan ngelamun.
"Iya, iya."
Bedanya jika Bu Anne akan menangis setelah mendapat kekerasan dari Pak Deryant, tidak berlaku bagi Soraya yang bisa membalas pria itu dengan bermain cantik.
Lihat saja!
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!