Destiny

Destiny
MALAS



"Kenapa harus buru-buru, Joanna? Kamu gak kangen Papa, hm?"


Ucapan Pak Deryant membuat kedua tangan Joanna mengepal di masing-masing sisi.


Berusaha tidak tersulut emosi yang baru saja mereda.


"Jangan harap Papa bisa dapet uang lagi, Pa."


Kening Pak Deryant mengerut, tak suka jika Joanna semakin berani padanya.


"Suamimu aja gak keberatan ngasih uang itu ke Papa, Jo. Terus ngapain kamu yang sewot?"


"Uang apa maksudnya, Kak?" sela Zelo, yang tidak tahu apa-apa perihal uang yang diberikan Arjean pada Pak Deryant.


Karena selama ini, Zelo tidak mau ikut campur urusan Kakaknya, apalagi soal perusahaan.


Namun jika dirasa kali ini Zelo perlu mengetahui sesuatu, maka Zelo tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapat jawaban yang masuk akal menurutnya.


"Kak Jo–"


"Not your business, kid!"


Sahut seseorang di belakang mereka tiba-tiba.


Arjean.


Datang bersama Lian, menginterupsi percakapan mereka yang lagi-lagi selalu membahas soal uang.


Seakan benda itu adalah segalanya, meski faktanya memang begitu.


Arjean menghampiri ketiganya yang masih terkejut melihat kedatangannya dan Lian.


Tertangkap basah saat sedang membicarakan hal yang tak perlu dibahas lagi.


Tapi tidak dengan Joanna karena gadis itu masih marah pada Arjean.


Dan memberi death glare pada Lian yang hanya menampilkan senyum tak berdosa sebab pasti Lian yang telah memberitahu Arjean tentang keberadaannya.


"Silahkan lanjutin. Aku mau pulang aja!" kata Joanna, sebelum keadaan semakin tegang.


Zelo tidak mau meninggalkan Joanna sendirian dalam kondisi seperti itu. Zelo khawatir.


Jadi ia memutuskan menyusul Joanna yang sudah berjalan lebih dulu menuju parkiran motor.


"Kak, tungguin gue!" ujar Zelo dengan setengah berteriak.


Joanna tidak mau berhenti atau sekedar menoleh ke belakang untuk mengiyakan, apa Zelo boleh tetap menemaninya atau justru saat ini, Joanna ingin sendiri dulu.


"Lian, ikuti Joanna dan Zelo ..."


"Tapi–"


"Ini perintah."


Setelah mereka pergi dan menyisakan Arjean bersama Pak Deryant yang saling menatap dengan tatapan berbeda diantara keduanya.


"Kenapa Papa masih gangguin Istri aku? Uang 50 milyar yang aku kasih kemarin kurang?"


"Apa perlu aku ambil tindakan tegas? Jadiin pabrik sebagai hak paten milik Joanna dan ngusir kalian dari sana?" lanjut Arjean, dengan tatapan tajam.


Dalam hati, Pak Deryant panik.


Ia tidak tahu kalau Arjean juga mengikuti Joanna ke tempat ini.


Lagi pula, ada yang aneh dengan sikap Arjean.


"Istri? Sejak kapan kamu menganggap gadis bar-bar itu sebagai Istrimu, Arjean?" seringaian memuakkan itu membuat Arjean terdiam sejenak.


Memikirkan kembali tujuan dirinya menikahi Joanna, tanpa landasan cinta. Hanya sebagai alat untuk melunasi hutang Ayah Joanna padanya.


"Bukannya kamu cuma pengen jadiin Joanna sebagai boneka yang bisa kamu suruh ngelakuin apa aja, hm?"


Arjean tidak mau memukul pria yang berstatus sebagai Ayah Mertuanya tersebut.


"Aku gak main-main. Kalo Papa masih gangguin Joanna ... Papa bakal tau akibatnya. Inget ini!" ancam Arjean sebelum pergi meninggalkan Pak Deryant yang tampak marah karena Arjean tidak lagi berada di pihaknya dan menjadikan Joanna sebagai alat memeras Suaminya yang sombong itu.


Semua semakin sulit.


"Sepertinya dia udah jatuh cinta beneran sama Joanna, haha."


Lalu tawa itu berubah menjadi ekspresi datar dengan rahang yang semakin mengeras.


Tidak ada yang berada dipihaknya sekarang.


...••••...


"Kak ..."


"Tungguin, astaga! Dada gue sesek banget ini, heh!"


Napas Zelo tersengal saat mencoba menyamai langkah Joanna yang begitu cepat.


Sebab Zelo jarang berjalan kaki, kalau pun Zelo jogging, langkahnya juga tidak secepat itu.


"Tunggu, tunggu!"


Akhirnya ..


Zelo berhasil meraih pergelangan tangan Joanna sebab mereka telah sampai di parkiran yang seharusnya jarak tempuhnya membutuhkan waktu sekitar 10 menit.


Tapi Zelo merasa, mereka berjalan hanya 5 menit saja.


Hari mulai sore, Zelo melihat ke arah langit yang agak mendung padahal tadi siang, cuacanya cukup cerah.


"Gimana kalo besok aja pulang sekolah gue anterin lo?" Zelo berusaha mendapatkan deal dalam negosiasinya dengan Joanna.


Meskipun ekspresi Joanna tidak setuju, tapi Zelo berharap, Joanna menurut padanya.


Hanya kali ini saja.


"Oke! Lo pulang aja! Gue bisa pergi sendiri."


"Enggak! Gue–"


"Aku yang bakal anter kamu ke makam Mama Anne, Joanna."


Pria itu langsung menyeret Joanna masuk ke mobil sebelum terdengar protes dari mulut cerewetnya.


...••••...


Makam Bu Anne dirawat dengan baik.


Penjaga makam bilang, batu nisan di bagian kaki sempat roboh namun seseorang telah membayar mahal untuk membuat makam Bu Anne agar terlihat rapi dan kuat kembali.


"Ma, Joanna dateng .."


"Maaf karena baru sempet ngunjungin Mama sekarang."


Joanna berjongkok di dekat batu nisan bertuliskan nama Ibunya.


Menumpukan kepalanya di atas batu tersebut seakan itu merupakan bahu Bu Anne untuk Joanna bersandar di sana.


Arjean hanya terdiam, memperhatikan Joanna dengan posisi berdiri di belakang gadis itu.


Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana dengan perasaan yang bercampur aduk.


Separuh hatinya ingin mendekat dan meminjamkan dadanya supaya Joanna bisa menyandarkan seluruh beban dalam hidupnya tapi separuh hati Arjean menolak untuk melakukan hal itu.


Menyadarkan dirinya bahwa pernikahan yang terjadi antara mereka hanya sebuah formalitas, sebagai status yang hanya terdaftar di catatan sipil negara saja.


Without love!


Arjean tak mau terbawa perasaan dan membuat dirinya kembali menelan kekecewaan lagi seperti saat bersama Kalandra dulu.


"Ma, aku dateng sama Arjean. Dia–"


Joanna tahu ini tidak pantas diucapkan tapi demi Tuhan!


Joanna sangat kesal dengan pria itu sekarang.


"Bapak-bapak mesum yang sayangnya udah jadi Suami aku, Ma."


"Joanna."


"Kamu gak boleh kasarin aku di depan makam Mama atau Mama bakal sedih kalo tau anak kesayangannya diperlakuin kasar sama Suaminya sendiri."


Setelah dirasa cukup untuk melepas rindu, Joanna bangkit dan berpamitan pada sang Ibu untuk pulang.


"Mulai besok aku bakal sering-sering ke sini. Sendirian aja ya, Ma. Aku males kalo ditemenin sama orang yang gak tau diri ..."


"Suka ngatain aku gak sopan, tapi dianya lebih gak sopan karena gak nyapa Mama dari tadi." sindir Joanna, seraya melirik Arjean yang langsung ikut berjongkok di sebelahnya.


Mengusap batu nisan itu sebentar lalu menyapa mendiang Ibu Mertuanya tersebut.


Saya janji akan menjaga Joanna sampai akhir, Ma


Joanna mendengus kesal, melihat Arjean hanya terdiam bak manekin toko.


"Minggirin lengan lo! Hampir nyentuh dada gue soalnya .." protes Joanna.


"Percuma juga kalo cuma dielus nisannya doang tapi mulut lo sama sekali gak gerak." cibirnya lagi.


Padahal mereka sedang berada di makam namun Joanna yang sudah terlanjur marah, sangat sulit mengontrol setiap ucapan yang keluar dari bibirnya.


...••••...


Mereka baru sampai setelah hari benar-benar berubah gelap.


Memasuki pukul 8 malam.


Zelo bergegas menghampiri pasangan itu yang terlihat saling diam sejak perjalanan pulang tadi.


"Ya ampun, Kak. Gue kira kalian bakal marahan, terus saling maki, terus–"


"Gue tonjok mulut lo ya Ze kalo gak bisa diem." ancam Joanna.


Kemudian Arjean berjalan melewati mereka begitu saja, tanpa berniat membalas ucapan Adiknya tersebut.


"Dih! Kenapa sih?" tanya Zelo.


Joanna mengendikkan bahu, "Sariawan kali! Dari tadi juga gak ngajak gue ngomong pas di mobil, bagus deh!"


"Apa jangan-jangan Kak Jean ketempelan hantu makam, Kak?"


Tiba-tiba saja Zelo dibuat merinding saat suara wanita terdengar menyapa pendengarannya.


"Jean, honey ... Aku datang!"


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMENNT!