Destiny

Destiny
KALENG SODA



Tadinya Kalandra tidak mau keluar dari ruangan Arjean, namun karena ancaman pria itu, Kalandra yang keras kepala akhirnya mengalah dan pergi dengan hati yang dongkol.


Terlebih, Arjean tampak berpihak pada bocah ingusan yang baru dinikahinya beberapa minggu yang lalu.


Arjean menggeser posisi duduknya, menjadi lebih dekat dengan Joanna.


"Berani lo nyentuh gue maka gue ga bakal mikir dua kali buat nendang kantung testis lo sampai pecah." ancam Joanna.


Ia jijik sebab Suaminya telah bermain gila di belakangnya.


Cemburu?


Sakit hati?


Belum ada di kamus hidup Joanna tentang dua kata itu.


Sejak awal, Joanna tidak pernah menginginkan pernikahan ini terjadi jika dirinya tidak diancam.


Joanna menjadi satu-satunya orang yang paling keras menentang soal perjodohan itu, yang membuat Joanna harus terjebak oleh permainan Arjean yang ingin menjadikan Joanna sebagai submisif, yang harus tunduk dan patuh pada setiap perintahnya.


"Aku Suamimu, Joanna. Aku berhak menyentuhmu ..."


Arjean melempar tatapan tajam. Kilatan emosi yang tertahan tidak membuat nyali Joanna menciut, "Bahkan aku bisa saja merobek selaput darahmu saat ini juga kalo aku mau!" ancam Arjean dengan serius.


"Oh ya?"


Joanna tersenyum remeh. Berdiri seraya berkacak pinggang dan melepas dua kancing teratas seragam sekolahnya.


Menantang Arjean yang berusaha sabar menghadapi sifat Istrinya yang masih anak-anak itu, menurut sebagian orang.


"Ayo lakuin! Tapi gue pastiin lo bakal di penjara atas tuduhan pelecehan seksual pada bocah di bawah umur ... Ya meskipun gue udah 17 tahun tapi tetep aja, usia segitu ga seharusnya nikah sama bapak-bapak mesum kayak lo!" tunjuknya dengan tak sopan di depan wajah Arjean.


Prang!


Arjean melempar vas bunga yang ada di atas meja itu ke arah dinding.


Berusaha memperingatkan Joanna agar tidak melebihi batasnya karena Arjean tidak sesabar itu untuk menghadapi sifat Joanna yang dirasa semakin berani padanya.


"Jangan lupa kalo Pabrik Wafer itu bisa sewaktu-waktu aku hancurin kalo kamu masih kekanakan kayak gini, Joanna."


Lagi-lagi Joanna tertawa sarkas. Meremehkan ucapan Arjean yang selalu mengancam dirinya padahal Joanna begini juga karena Arjean bersikap kurang ajar di belakangnya.


Berciuman dengan wanita lain dan dilihat langsung oleh Istrinya.


Bukankah itu termasuk perselingkuhan juga?


"Terserah! Terserah lo mau ngancurin pabrik kek, mau ngebuldoser sekalian rumah Papa gue, terserah!"


"Gue capek dan mau pulang! Percuma lo nyuruh gue dateng cuma buat berantem sama lo, gue capek, Arjean!"


Srek!


Langkah Joanna tertahan saat Arjean mencengkeram lengannya.


"Apa? Mau mukul gue? Sama kayak yang dilakuin Papa ke gue, gitu? Silahkan!"


"Aku bilang, jaga sikapmu, Joanna."


Cengkeraman itu terasa meremukkan tulang Joanna.


Tapi Joanna yang terbiasa mendapat perlakuan kasar dari orang yang dianggap sebagai keluarga— tidak akan menyerah begitu saja.


Dugh!


Arjean mengerang kesakitan saat Joanna menendang tulang keringnya.


Cengkeraman tadi berhasil terlepas.


Joanna mendesis melihat guratan merah menghiasi kulitnya yang putih.


"Lo minta gue jaga sikap tapi lo sendiri kurang ajar, Arjean!"


"Dasar egois! Lo sama Papa, sama aja! Sama-sama brengsek!" umpatnya.


Sambil berjalan ke arah pintu keluar. Mengabaikan rintihan kesakitan Arjean sebab tendangan Joanna barusan menggunakan kekuatan tenaga dalam.


Tanpa memikirkan tindakan apa yang akan dilakukan oleh Arjean saat mereka sudah di rumah nanti.


...••••...


"Enggak! Gue gak cemburu!"


"Meskipun pernikahan ini cuma tertulis di atas kertas tapi ya gak gitu juga kali!"


"Mentang-mentang gak cinta bukan berarti dia bisa bebas selingkuh juga–"


Tak!


"ANJG! WOI! SIAPA YANG LEMPAR KALENG BEKAS SEMBARANGAN? KENA PALA GUE NIH!"


Joanna mendelik kaget ketika mendengar teriakan dari balik semak-semak itu.


Dengan langkah tergopoh, Joanna menghampiri korban yang terkena lemparan kaleng soda bekas minumannya tadi untuk memastikan seseorang itu tidak terluka parah.


"Maaf, maaf. Saya gak— Zelo?"


Zelo menoleh sembari memegangi kepala belakangnya yang sakit akibat ulah Joanna.


"Lo boleh kesel tapi liat-liat juga dong, Kakak Ipar."


Bukannya minta maaf, Joanna justru mendorong tubuh Zelo sampai jatuh tersungkur.


Menendang bokong pemuda itu dengan sepatunya.


"Heh, anj! Sakit, astaga! Lo kenapa sih, Kak? Ada masalah sama Kak Jean?"


"Iya! Gue ada masalah sama Kakak lo tapi gue pengen lampiasinnya ke lo!"


Mereka yang sama-sama baru pulang sekolah, terlihat seperti 2 siswa yang sedang terlibat perkelahian tunggal.


Ketika Joanna memukuli Zelo menggunakan tas ranselnya.


Sementara Zelo tak mungkin melawan juga.


Disatu sisi, Joanna itu perempuan. Bisa turun harga diri Zelo kalau sampai bersikap kasar pada seorang gadis.


Namun di sisi lain, Zelo juga takut jika sampai Joanna terluka, maka orang yang selanjutnya akan dihadapi adalah Arjean.


Kemarahan pria itu jauh lebih menyeramkan daripada sekedar bertemu dengan hantu.


"Gue benci lo, Jean!"


"Lo kasar!"


"Lo juga brengsek! Suka maksa gue!"


"Bapak-bapak tukang selingkuh–"


Untuk kalimat terakhir, Zelo langsung menyela ucapan Joanna dan menahan tangan gadis itu ke atas.


"Selingkuh?"


Joanna memalingkan wajah dan mendorong mundur tubuh Zelo.


Duduk di bawah pohon yang ada di belakangnya.


Menyandarkan punggung rapuh itu dengan pandangan kosong, menatap lurus ke depan.


Berusaha mengingat kembali kenangan 5 tahun yang begitu indah saat mendiang Ibu Angkatnya masih hidup.


"Gue mergoki Kakak lo lagi ciuman sama si Kalajengking di Ruangannya. Menurut lo, apa itu gak termasuk perselingkuhan, huh?"


Seandainya Bu Anne masih ada, mungkin Joanna bisa lebih kuat dari sekarang. Melawan tindakan sang Ayah yang selalu menindas Bu Anne karena terus membela pelakor murahan Soraya.


Yang membuat Pak Deryant berubah menjadi pria tempramental, suka melakukan kekerasan terhadap keluarganya sendiri.


Joanna juga memendam sakit hati pada pria itu sebab belum bisa menyuarakan keadilan atas meninggalnya sang Ibu.


"Maaf." Zelo menundukkan wajah.


Bisa merasakan betapa sakitnya Joanna melihat semua itu.


"Buat apa?"


"Maaf atas sikap Kakak gue ke lo, Kak."


"Kak Jean itu setia orangnya. Gue gak tau ini bener apa enggak ..." Zelo menatap Joanna begitu dalam, "Kayaknya Kak Jean udah mulai baper sama lo. Cuma ketutup gengsinya aja yang gede."


Joanna terkekeh. Mengangguk setuju dengan pendapat Zelo yang satu ini.


"Gue udah tau, Ze."


Zelo terkejut, tapi berhasil menyembunyikannya dengan baik.


"Terus?" tanya Zelo, lagi.


"Apanya?"


"Perasaan lo sendiri gimana, Kak? Lo udah jatuh cinta sama–"


"Pernikahan kita dimulai atas dasar paksaan. Cuma tertulis di atas kertas, sesuai perjanjian yang mereka buat ..."


"Kalo lo nanya apa gue cinta sama Arjean atau justru sebaliknya, hati orang siapa yang tau, Ze? Gue cuma berusaha ngejalanin yang ada. Meskipun berat dan hampir tiap hari gue selalu berantem sama Kakak lo, tapi kadang Jean juga baik, tapi kadang juga brengsek! Tau deh! Jangan bahas dia lagi, bikin gak mood!"


Zelo terdiam.


Mendengarkan semua keluhan Joanna supaya perasaan gadis itu merasa lebih baik.


Setidaknya meski Zelo tidak bisa berbuat apa-apa, tapi ia berjanji akan selalu ada untuk Joanna saat dibutuhkan.


Zelo tersenyum seraya menarik tangan Joanna agar ikut berdiri.


"Heh, mau kemana?"


"Jajan telur gulung. Lo kan doyan jajanan kaki lima, ayo!"


"Tunggu— ZELO, ANJG!" pekik Joanna.


Ketika Zelo menarik tubuhnya tanpa melihat ke belakang jika kaki Joanna tersandung batu di depannya.


"Hehehe, sorry, sorry! Jangan marah-marah mulu, Kak. Ntar cantik lo ilang."


"Lo bener-bener ya, Ze."


Mereka tidak tahu jika 20 meter dari tempat mereka duduk, seseorang telah mengawasi pergerakan mereka dari jarak jauh.


"Ikuti mereka!"


"Baik, Pak."


...••••...


TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!