
Arjean memijat pangkal hidungnya berkali-kali, guna meredakan pening yang terasa mengganggu.
Banyak hal yang dipikirkan. Selain Joanna, Arjean juga memikirkan ucapan Kalandra barusan.
Hubungan mereka sudah berakhir lama, tapi melihat Kalandra menangis sambil memohon seperti tadi, hati Arjean sedikit luluh.
Tidak, ini bukan soal cinta lagi hanya rasa kemanusiaan yang membuat Arjean sedikit merasa iba pada Kalandra, iya hanya sedikit.
Arjean cukup tahu perjalanan karir Kalandra tidak semulus yang dibayangkan orang-orang. Terlahir bukan dari keluarga berada, Kalandra yang saat itu mencoba ikut casting pun berhasil mendapat kontrak kerjasama dengan SW Entertaiment, kebetulan saat itu perusahaan milik Arjean sedang membutuhkan seorang model untuk syuting iklan dan semua kriteria itu ada pada Kalandra.
"Masuk!"
"Pak, maaf. Barusan Nona Joanna menelepon, katanya anda jadi menjemputnya atau tidak?"
Ya Tuhan, hampir lupa.
Arjean melirik jam di tangannya. Lewat 15 menit, itu artinya Arjean sudah terlambat menjemput Joanna di sekolah.
Gadis itu pasti akan marah-marah dan mengomel lagi.
"Siapkan mobil. Aku akan menjemputnya sekarang. Setelah selesai makan siang, kabari semua staff untuk ke ruang rapat, Sean."
"Oh, baik. Kalau begitu saya siapkan materi presentasinya, Pak."
"Hm, usahakan tidak ada kesalahan."
"Baik, Pak."
...••••...
Beruntung jalanan tidak terlalu macet saat siang hari. Arjean tiba sekitar setengah jam.
Terlihat Joanna sedang berdiri menyandarkan punggungnya di depan gerbang.
"Tsk! Bocah itu! Kenapa gak nunggu di dalem aja sih?"
Arjean menghampiri Joanna yang tampak kesal, berjalan mendahuluinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Brak!
Pintu mobil dibanting kasar hingga penjaga sekolah terlonjak kaget mendengar suara mobil yang ditutup keras.
Pria itu hanya menggelengkan kepala melihat mobil porsche hitam milik salah satu konglomerat di kota itu melaju kencang meninggalkan gedung sekolah.
Kembali pada Joanna yang hanya menatap datar ke arah jendela.
"Kita makan siang dulu."
"Anterin gue ke rumah Papa."
"Jo, kamu tau aku ada–"
"Anggep aja balesan dari gue karena lo telat jemput! Pegel nih kaki gue!"
Joanna menunjuk kakinya sendiri yang terasa pegal sebab terlalu lama berdiri, menunggu Suaminya yang tak kunjung datang sampai suasana sekolah sepi, Arjean baru muncul.
Tiba-tiba mobil berhenti di pinggir jalan.
"Yak! Lo mau ngapain– JEAN!"
"Katanya pegel? Ya udah sini kakinya."
Joanna sudah berpikir macam-macam saat Arjean mengangkat kedua kakinya lalu meletakkan di atas paha pria itu.
Sembari menyalakan mesin mobilnya lagi, Arjean memijit kaki Istrinya menggunakan satu tangan, sementara tangan lain ia gunakan untuk memegang kemudi.
"Bahaya, Jean! Gue gak mau mati konyol cuma gara-gara lo mijitin kaki gue."
"Enak gak?" tanya Arjean, mengalihkan topic pembicaraan supaya Joanna berhenti mengganggu konsentrasinya saat menyetir.
"Dih! Gak jelas! Tapi ... Enak sih! Jangan kenceng-kenceng, sakit!" protes Joanna ketika Arjean sengaja memijat kaki Joanna agak keras.
"Ya udah diem! Aku bukan bocil yang gak bisa ngendaliin kemudi pake satu tangan ..."
"Lihat! Bisa kan?" pamer Arjean ketika mereka melalui sebuah belokan jalan, namun Arjean tetap menggunakan satu tangannya untuk memutar kemudi, tanpa melepaskan tangan yang satunya lagi.
Dilihat-lihat, Arjean memang tampak pro sekali dalam hal menyetir. Joanna tak perlu meragukan kemampuan Suaminya lagi.
Beda cerita jika Joanna yang melakukannya.
Bukannya sampai di rumah dengan selamat, mereka justru menginap di rumah sakit, haha.
"Je, gue pengen ke rumah Papa, bentar doang, ish!"
"Gak bisa, Joanna. Kita ada rapat habis ini. Belum lagi kita harus makan siang dulu, gak usah ngeyel ya!"
"Terus motor gue gimana?"
"Udah diambil sama anak buahku."
Mobil berhenti di sebuah kedai yang menjual aneka mie.
"Aku tau, kamu lebih suka makan di tempat-tempat kayak gini ketimbang di Restauran mewah .."
Baru kali ini Joanna merasa tersentuh atas perhatian kecil yang diberikan orang lain, selain perhatian dari mendiang Ibunya.
Dulu, sebelum Pak Deryant berselingkuh, mereka adalah satu keluarga sempurna yang dipenuhi dengan kebahagiaan.
Sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan dan mengunjungi tempat-tempat jajanan yang ada di pinggir jalan sebab Joanna itu gemar sekali memakan apapun.
"Joanna?" panggil Arjean, setelah ia menoleh ke belakang dan Joanna masih berdiri mematung di tempatnya dengan tatapan sendu.
"Kamu terharu cuma karena aku ajak ke tempat ini?"
"Gak usah GR! Mata gue cuma kelilipan."
Tak ingin semakin salah tingkah, Joanna berjalan masuk tanpa menunggu Suaminya yang sibuk tersenyum melihat tingkah Joanna yang kadang lucu kadang juga menyebalkan.
"Selamat datang, silahkan duduk di sebelah sana."
Seorang pramusaji mengantar mereka di meja paling sudut dekat jendela.
Tempat itu lesehan. Hanya beralaskan karpet dan meja bundar sebagai tempat menaruh makanan.
Begitu sederhana namun Joanna senang. Karena suasannya yang hangat, mengingatkan Joanna akan panti asuhan yang ada di desa.
"Saya pesan menu yang paling best seller di sini, Kak." ujar Arjean.
Ia tidak berniat menawari Joanna untuk mencoba menu lain sebab mereka diburu waktu. Harus segera kembali ke kantor.
"Baik. Untuk Adeknya Kakak, mau pesan apa?"
Mendengar ucapan si pramusaji, kedua alis Joanna langsung menukik tajam, "Saya bukan Adeknya ya, Kak! Lain kali langsung catet pesenan kita aja." omel Joanna.
Sementara Arjean berusaha keras menahan senyum.
Secara tidak langsung, Joanna tidak malu menganggap Arjean sebagai Suaminya di depan orang lain.
"Eh, maaf, maaf. Saya pikir Kakak ini adeknya. Abis kalian ... Ekhem! Seperti adek-kakak."
"Saya Istrinya, Kak. Udah, pesenannya samain aja sama punya Suami saya." jelas Joanna.
Moodnya seketika langsung buruk karena ucapan pramusaji tersebut.
Berbeda dengan Arjean yang tersenyum tipis ketika keduanya bersitatap.
"Apa? Harusnya lo malu! Pramusaji itu aja bilang kita lebih cocok Adek-Kakakan ketimbang jadi pasutri ..."
Ada welcome drink ala restauran cepat saji. Tanpa permisi, Joanna meneguk segelas es teh manis yang disajikan dalam gelas kecil.
"Dasar bapak-bapak mesum!"
"Nih, abisin sekalian punyaku."
Napas Joanna terengah ketika dirinya tak berhenti mengomel dan mengambil alih minuman Arjean yang belum disentuh.
"Makasih! Tapi serius, gue itu moodian, jadi lo harus hati-hati kalo ngomong sama gue, takutnya gue tersinggung."
"Jadi siapa yang gampang baperan, hm?" goda Arjean.
"Dih! Bego!"
Sepertinya menggoda Joanna akan menjadi kebiasaan baru yang akan dilakukan Arjean untuk melihat wajah menggemaskan Joanna saat mengomel seperti anak kecil.
...••••...
"Pokoknya Mas Dery gak boleh kasih warisannya ke bocah tengil itu!"
"Aku gak rela kalo sampai anakku gak dapet harta dari Papanya. Masa Joanna yang anak pungut dapet bagian lebih banyak!"
Sejak tadi Soraya tidak berhenti marah-marah. Mengomel tentang pembagian warisan yang bahkan itu baru sebuah wacana yang sempat dibahas oleh Pak Deryant kemarin.
Ceklek!
Pak Deryant masuk dengan mata memerah dan tercium bau alkohol yang menyengat dari mulutnya.
"Ini lagi! Udah tua masih aja doyan mabok!"
"Berisik!" bentak Pak Deryant.
"Mas, aku gak suka ya kamu kayak gini. Aku ini lagi hamil, harusnya kamu jagain aku di rumah! Bukannya sibuk dateng ke tempat hiburan yang gak jelas itu."
Iya. Soraya sedang hamil muda.
Usia kandungannya baru berjalan 2 bulan dan selama Soraya hamil, kelakuan Pak Deryant semakin menjadi-jadi.
Pria itu bahkan pernah sekali tidak pulang karena kelelahan setelah melakukan ONS bersama seorang gadis bayaran di Kelab malam.
"Apa aku cekik aja sekalian biar si tua bangka ini cepet nyusul Istrinya itu?"
...•••• ...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!