
Hari paling Joanna benci pun terjadi.
Tidak sesuai permintaannya, Arjean mengundang seribu orang untuk datang ke acara pernikahan mereka.
Selesai mengucap janji suci pernikahan, mereka berdiri di pelaminan. Menyalami satu-persatu para tamu yang ingin melihat lebih dekat kedua mempelai.
Banyak kalangan dari model hingga artis yang datang ke acara tersebut.
Kebanyakan para model yang bernaung di bawah Star Way Entertaiment datang bukan untuk menemui Joanna, namun untuk menggoda pria yang telah resmi menjadi Suami Joanna itu.
"Pak Arjean, selamat atas pernikahan kalian."
"Saya harus panggil apa nih ke Istrinya, Bapak?"
"Iya, mana masih muda." sindir salah satu dari wanita itu.
Diantara mereka, hanya satu orang yang begitu mencolok.
Secara penampilan tidak ada yang aneh.
Tapi lihat pada bagian belahan dadanya yang terlalu rendah.
"Gue mau ambil minum!"
Arjean hanya berdehem. Tak mungkin mengikuti Joanna turun dan membuat para tamu kebingungan karena kedua pengantin tidak ada di pelaminan.
"Gue benci sama lo, Jean!"
"Harusnya lo malu! Udah nikahin bocah di bawah umur!"
"Meskipun gue udah tujuh belas tahun tapi usia ideal buat perempuan siap nikah itu dua puluh dua!"
Joanna tak berhenti mengomel dan mengundang tatapan heran semua orang sebab setahunya, Joanna adalah mempelai wanitanya di sini.
Tapi mengapa raut wajah gadis itu tidak bahagia?
"Bu Joanna mau minum apa? Biar saya ambilkan." tanya salah satu pelayan yang bertugas.
"Emang muka gue— ekhem! Memangnya saya setua itu sampai kamu panggil saya Ibu?"
"Eh? Maaf! Kalau begitu ... Nona mau minum apa?"
"Air gula anget! Perut saya begah banget soalnya. Pasti gara-gara gaunnya yang terlalu terbuka."
Arjean sialan emang.
"Baik, Nona. Silahkan duduk dulu, takut Nona capek."
Tidak perlu menunggu terlalu lama, pelayan tadi membawa segelas air gula hangat untuk Joanna.
"Makasih."
"Sama-sama. Ada lagi, Nona?"
Joanna menggeleng. Menyuruh pelayan itu pergi.
Asyik menikmati hidangan yang ada di meja, Joanna tidak sadar jika dirinya mengundang perhatian semua tamu.
Terutama tamu wanita.
"Kayaknya mereka nikah karena dijodohin deh."
"Iya, ya! Coba aja liat! Mana ada pengantin yang berjauhan?"
"Suaminya sibuk nyapa tamu, eh Istrinya enak-enakan duduk. Gak tau diri banget!"
Mendengar bisikan itu, Joanna kembali beranjak pergi.
Gaun yang dikenakan tidak terlalu menyulitkan Joanna saat berjalan sebab Joanna sendiri yang memilih modelnya meski desain itu Arjean yang membuatnya.
"Jangan buat Papa malu, Joanna."
"Aku udah bilang, gak usah muncul di depanku, Pa. Pergi!"
Di tengah kemeriahan pesta, Pak Deryant tidak malu bersikap kasar pada Joanna.
"Kalo dengan nyakitin Joanna bisa bikin Papa puas, patahin aja sekalian lengan Joanna ..."
Cengkeraman Pak Deryant mengendur.
Amber Joanna beradu pandang dengan sepasang mata hitam Suaminya yang berdiri tak jauh dari tempat pelaminan, "Tapi aku pastiin, Arjean gak bakal tinggal diem. Kayaknya dia baper beneran sama aku."
Terakhir, Joanna mengulas senyum tipis, lebih tepatnya gadis itu menyeringai ke arah Arjean yang tidak mengalihkan pandangannya dari Joanna.
Ingin berjalan menghampiri tapi tidak mungkin Arjean membiarkan kursi pelaminan kosong saat para tamu tak juga berhenti bersalaman dengannya.
...••••...
Semua orang di rumah itu mendadak menghilang setelah pesta berakhir.
Meninggalkan Joanna yang hampir tidak sanggup berjalan sendirian menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kayaknya gue mau panggil tukang urut besok! Kebangetan banget si mesum itu! Ngundang orang gak kira-kira!" gumamnya sendiri.
Sambil memegangi gaunnya dengan satu tangan sementara tangan kirinya berpegangan pada besi tangga.
Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menyelipkan kedua tangannya di antara leher dan paha Joanna.
Joanna memekik, "ASTAGA JEAN!"
"Diem, Joanna."
"Turunin! Gue bisa jalan sendiri."
Kamar Joanna berada tak jauh dari tangga tapi setelah sampai di depan pintu kamarnya, Arjean tidak juga berhenti.
Justru pria itu melewati kamar Joanna begitu saja lalu masuk ke dalam kamar pribadinya.
"Kamu lupa kalo kita udah resmi jadi Suami-Istri?"
"Gue inget tapi please! Jangan sekarang! Gue belum siap!"
Arjean tersenyum tipis. Yang jarang ia perlihatkan pada semua orang, termasuk Joanna.
"Apanya yang lucu?"
"Kita udah sampai."
Bukan sesuatu yang mengejutkan melihat kamar Arjean seluas ini.
Sebab Arjean juga memberikan kamar yang sama luasnya pada Joanna, hanya saja tidak segelap kamar pria itu.
"Gue gak bisa tidur kalo cahayanya remang-remang kayak gini!"
"Takut gak bisa napas." lanjut Joanna.
Begitu diturunkan, Joanna mengunci diri di dalam kamar mandi.
Tak lupa ia juga menghapus make up yang menempel di wajahnya menggunakan micellar yang ada di westafel.
Selang 30 menit kemudian, Joanna baru keluar.
Melihat Suaminya yang duduk di sofa dengan memangku laptop.
"Gue udah selesai."
Seperti sebuah kode untuk mengajak tidur bersama, Arjean menutup kembali laptopnya dan bergegas menaiki ranjang setelah melepas jas dan ikatan dasinya.
Menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka.
"Jangan sekarang, Jean. Gue capek!"
"Aku juga capek. Malem ini kita tidur biasa."
"Hm, terserah. Pokoknya jangan diapa-apain pas gue tidur. Soalnya gue kalo tidur kayak kebo, gak gampang kebangun kecuali keadaan darurat!"
Tak lama suara dengkuran halus mulai terdengar.
Pertama kalinya dalam hidup Arjean tidur di ranjang bersama seorang wanita tanpa melakukan apapun.
Biasanya?
Jangan ditanya lagi!
**** itu kebutuhan setiap orang dewasa. Arjean termasuk orang yang cukup terbuka soal itu.
Cukup lama Arjean melamun, sampai kelopak matanya mulai memberat dan terlelap dengan posisi memeluk pinggang ramping Istrinya dari belakang.
Mempersiapkan tenaga untuk menjalani hari esok dengan peran barunya sebagai Suami Joanna.
...••••...
"ARGHHH! ARJEAN, BGST!"
Teriakan Joanna terdengar sampai ke ruang makan.
"Maaf, Tuan. Itu .. Nona Joanna, kenapa berteriak?" tanya Gracella.
Arjean hanya tersenyum sangat tipis hingga mengundang tanya para Maid yang berjejer rapi di dekat meja dan mereka saling bersenggolan.
Karena pertama kalinya, sikap Arjean bisa sehangat ini.
Mungkin efek pernikahannya dengan Joanna.
"Biarkan saja! Hari ini aku pergi ke kantor. Tolong siapkan keperluan Istriku, Gracella."
Di kamar Arjean ...
Joanna berlari mengunci pintu kamar itu dari dalam. Ia terkejut saat memeriksa tubuhnya setengah naked.
Belum lagi tanda kemerahan di sekitar leher serta dadanya.
"Nona, buka pintunya. Saya mau antar makanan."
"Bawa balik aja, Gracella! Ntar aku turun sendiri."
Gracella menyuruh 2 maid itu membawa turun nampan berisi makanan.
Gracella merupakan kepala maid di rumah itu. Tidak heran jika dirinya cukup disegani di sana.
"Kalau Nona butuh sesuatu, panggil saya ya?"
"Hm, iya, Gracella."
...••••...
Benar ungkapan tentang; tidak ada tempat ternyaman kecuali rumah sendiri.
Jika bukan atas perintah Arjean, ia tidak mau repot-repot tidur mengungsi di Apartemen yang sudah lama tak dihuni itu.
"Tsk! Pengap banget, mana suasananya horor lagi."
Tiba-tiba bulu kuduk Zelo merinding saat memasuki ruangan yang menjadi kamar Arjean saat menginap.
"Apa gue telpon Lian aja minta buat temenin gue? Toh dia kerja juga digaji sama Kak Jean."
...••••...
TOUCH VOTE LIKE AND COMMENT!