
Revan merasakan seluruh jiwanya tenggalam di dalam sesuatu yang kosong. Rasanya damai saat dirinya pecah entah menjadi apa. Ketika dia membuka matanya, seorang suster rumah sakit tersenyum lebar, wajahnya sedikit panik dan segera memanggil dokter.
Suster? Dokter? Raven mengerutkan kening. Sejenak dalam kepanikan dua suster, sekarang Revan mengerti. Dia masuk ke dalam raga seorang putra mahkota dan menyatukan ingatan dengannya. Revan tidak ingat lagi siapa dirinya dan darimana dia berasal, karena orang yang diarasuki lebih mendominasi jiwanya.
Keesokan harinya, seorang pria paruh baya menjenguknya.
“Selamat siang, Pak.”
Itu ayah Anila. Raven menegakkan punggungnya. Kenapa ayah istrinya ada di sini?
“Saya bersyukur pasien yang senasib dengan putri saya juga akhirnya membuka mata.” Ayah Anila membawa keranjang buah. Dia meletakkannya di nakas.
Revan ingin berbicara, namun dia tidak tahu harus merespon apa.
“Apa yang terjadi pada kalian sebenarnya?” tanya ayah Anila akhirnya berbicara serius.
Raven menunduk, dia sudah memikirkan ini sejak bangun kemarin. Bagaimana dia bisa masuk ke dalam cerita itu.
Malam ketika Anila tertidur di perpustakaan, Revan berkunjung ke sana karena salah satu karyawan mengatakan jika Anila terlihat menuju ke sana. Setelah menyelesaikan berkasnya, Raven menyusul posisi Anila untuk meminta maaf atas tindakannya yang gegabah.
Revan memasuki jalan kecil itu dan sampai pada pintu perpustakaan. Revan mengusap tangannya, tidak penjaga di meja. Pria itu melihat ke sekeliling, dia menangkap punggung Anila sedang tertidur di atas meja baca.
Revan duduk di sampingnya, dia meneliti wajah wanita itu yang damai dalam tidurnya. Pria itu kemudian mengambil buku Anila yang terbuka, membaca judulnya dan membuka halaman pertama.
“Ah, cerita kerajaan.” Revan mengangguk. Dia meletakkan buku itu kembali, tanpa tahu buku itu terbuka sendiri kembali. Anila waktu itu sudah jelas berpindah dunia, Revan yang khawatir memilih untuk menggendongnya dan memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya.
Mobil berdesing dan melaju menuju rumah Anila. Tidak sampai di depan pagar, Revan sekarang memapah Anila memakai topi. Untungnya, dia menyusul Anila menggunakan baju biasa, Laskar pun membuka pintu.
“Kakak?!” Ayah Anila tergopoh-gopogh datang saat mendengar suara si bungsu.
“Dia tertidur.” Revan mengucapkan itu. “Taksi sudah dibayar.”
Ayah Anila mengangguk dan mengucapkan terima kasih tanpa bisa melihat wajah bos anaknya lah yang sedang dia ajak berbicara.
Revan pulang ke rumahnya. Dia mandi dan makan malam sendirian seperti biasanya. Pria itu mengeringkan rambutnya dengan handuk, sebelum melihat buku ada di depan pintu rumahnya seperti terjatuh entah dari mana.
“Kenapa aku terbawa ini?” batin Revan tanpa curiga.
Dia meletakkan buku itu di meja kerja dan bersiap untuk tidur di kamarnya.
Ketika dia membuka matanya, dia sudah hidup sebagai putra mahkota. Lupa siapa dirinya. Melihat surat di meja, nama Anila terasa sangat familiar hingga dia menerima penjualan diri wanita itu tanpa berpikri panjang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anila mendengarkan cerita Revan yang langsung pada intinya.
“Itu pengalaman tergila seumur hidupku.” Revan terkekeh, mereka duduk bersebelahan di sofa sambil menikmati teh hangat.
“Di mana buku itu sekarang, Rav?”
“Menghilang. benar-benar tidak ada. Penjaga perpustakaan juga seperti tidak memiliki ingatan tentang dirimu yang mampir ke sana. Semuanya terasa mimpi.” Revan menjawab.
Anila menghela napas.
“Tapi, Amara dan Kanath ada di dunia ini.”
Anila hampir terjatuh. Benar, kedua tokoh utama itu. “Apa? Di mana mereka sekarang?”
“Mereka akan muncul di hari pernikahan kita.” Revan tersenyum singkat. “Apa kau melakukan sesuatu dengan sistem?”
Anila berusah mengingat. “Aku ... merevisi tokoh utamanya ....”
“Karena mereka bukan tokoh utama lagi, jiwa mereka menjadi ‘orang nyata’ mereka berpindah ke dunia ini dengan cara yang sama seperti kita.”
“Apa aku boleh memanggilmu Rav?” tanya Anila.
Revan meliriknya. “Tentu saja. Sebaiknya kita juga cepat menikah agar panggilan ‘Istriku’ bisa kembali digunakan.”
Anila menepuk bahu pria itu pelan.
Dia lega. Ternyata, Anila benar-benar dibuat jatuh cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anila dengan gaun putih, Revan dengan pakaian hitam-putihnya Mereka tampak bersinar saat berdansa di tengah ruangan yang ramai. Banyak orang bertanya-tanya, kenapa mereka bisa berpikir untuk mengadakan acara pernikahan dengan tema seperti di negeri dongeng?
Jawabannya, Anila dan Raven ingin mengabadikan banyak foto bernuansa kerajaan yang tidak pernah bisa mereka dapatkan saat berada di Surya dan Nabastala. Itu bagian dari hidup mereka.
Setelah selesai berdansa, para tamu undangan memberi selamat pada mereka, termasuk Maya. Maya adalah teman kantornya yang selalu mengeluh. dia memandang Revan dan Anila dengan rahang terbuka.
“Apa aku bermimpi?”
“Kau tidak bermimpi.” Natara yang menjadi tamu undangan membalas ketus pada Maya.
Malam itu ramai, cerah, dan membuat siapa saja menginginkan pernikahan seperti ini. Memang mewah, hanya saja nuansa yang melekat dalam ingatan kedua mempelai adalah alasan utamanya. Gedung dihias sebagaimana kerajaan Nabastala terlihat dari dalam.
“Ini tempat tinggalku selama di sana, Ayah.” Anila tersenyum.
“Ini ... hebat.” Ayah Anila bergumam sembari menggandeng Laskar yang masih terkagum dengan dekorasi gedung.
Anila hendak membalas ucapan ayahnya, namun tubuhnya dipeluk erat oleh seseorang. “Anila!” serunya.
Anila mengenal suara ini. “Mara?”
Amara mengendurkan pelukannya, ada Kanath di belakangnya dengan jas hitam.
“Kau pasti bertanya-tanya.” Amara terkekeh. “Aku dan Kanath bekerja dengan Raven sekarang, di kantor cabangnya.”
Anila menoleh pada Revan yang membuang muka. Amara tertawa. “Dia tidak memberitahumu?”
Itu pertemuan yang dirindukan Anila, walaupun dia tidak bisa bertemu Wira dan Thalita. Apa yang terjadi dengan dunia itu?
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, acara itu selesai di tengah malam.
Kini, yang tersisa hanya Revan dan Anila.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seharusnya di tahun keenam pernikahan mereka, Anila dan Revan hidup damai dengan anak mereka yang manis. Hanya saja ....
“Anak Nyonya dan Tuan kabur melalui balkon.”
Anila dan Revan menggeleng kecil secara bersamaan. Benar, putra mereka yang satu itu sangat aktif. Pelayan yang berada di rumah mereka sudah berjaga ketat namun entah bagaimana anak itu kabur.
“Papa!” Suara anak itu akhirnya muncul saat pintu rumah terbuka. Seorang anak laki-laki dengan rambut hitam dan mata biru itu melompat cepat pada Revan dengan tubuh penuh goresan.
“Kau dari mana saja, Arvan?” Anila berkacak pinggang.
Arvan tidak menjawab, dia menjulurkan lidah pada Anila dan bersembunyi di leher ayahnya. Revan tertawa sambil menepuk punggung putranya.
“Kau sangat berat, Ar.” Revan mengulum senyum.
“Ayah diam!” sungut Arvan. Pria itu tertawa melihat wajah masam putranya.
“Fine,boys. Ayo kita makan malam.” Anila menghela napas. Mereka menuju dapur.
“Mama tahu kau berkelahi, Arvan. Jangan bilang kau terjatuh dan yang lainnya.” Anila berbicara terang-terangan.
Arvan memeluk kaki ayahnya. “Besok tidak lagi, kok.”
“Besok tidak, tapi lusa. Itu maksudmu ‘kan?” Anila sudah hafal dengan tabiat putranya.
Revan mengacak rambut putranya. “Lebih baik kita makan dulu. Sudah ya Mama, jangan marah pada Arvan.”
“Kau membelanya terus.” Anila mendengus, dia tidak marah.
Revan tersenyum. Di kehidupan ini, Revan berjanji tidak akan membiarkan apapun melukai orang-orang yang dia cintai. Hidup sebagai Raven membuatnya menderita karena penyesalan. Maka Revan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama itu. Revan harus menjaga Anila.
Dia hanya ingin Anila ada di sepanjang hidupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ--END--ΩΩΩΩΩΩΩΩ...