
Pasukan prajurit Natara berpencar ke seluruh penjuru wilayah kerajaan. Mereka mengumumkan pencarian sosok Anila Indurasmi yang mengasingkan diri. Putri Anila yang sekarang tidak tahu bagaimana keadaannya, hidup atau mati.
Natara turun langsung dalam pencarian, hal ini membuat para prajurit gentar. Mereka takut pada mantan pelayan dan anak penyihir rendahan tersebut. Mereka tidak menyangka Natara berhasil meruntuhkan kerajaan.
“Kami menerima kabar jika sosok putri Anila sempat terlihat di wilayah timur.”
Laporan tersebut langsung membawa Natara menuju wilayah timur. Semua orang ketakutan saat Natara turun dari kudanya, dia mencari ketua penduduk desa setempat untuk ditanyai.
“Putri Anila pergi setelah seminggu menetap di sini.” Ketua suku itu menjawab, jantungnya berdebar takut.
Natara menyipitkan matanya, dia mendengus. Tubuhnya berbalik untuk menaiki kuda kebanggaan pangeran Laskar. Wanita itu lalu mengintruksi kudanya untuk bergerak menjauh dari timur.
“Di mana kau Anila?” gumam Natara dengan suara lirih.
Natara memiliki tekad. Dia harus menemukan putri Anila bagaimana pun caranya. Raven cemas, ada debaran aneh dari Natara yang membuatnya khawatir.
Apa yang terjadi dengan putri Anila? Kenapa seperti Natara membenci momen ini?
Natara memilih penginapan bersama beberapa prajuritnya. Ketika mereka sampai di penginapan itu, Natara dikejutkan oleh sosok gadis dengan rambutnya yang diikat kuda sedang melayani beberapa pengunjung.
Anila Indurasmi tersenyum menyambut pendatang baru.
Natara berjalan menuju gadis itu, dia mencengkeram lengannya untuk membiarkan putri Anila melihat wajahnya.
“Nona,” panggil Natara. Tampaknya, kebiasaan dia memanggil putri Anila tidak berubah.
Putri Anila terdiam. “Lona ...?”
Penginapan ricuh, semua orang ketakutan saat para prajurit yang menyamar mengeluarkan pedang mereka. Mereka memojokkan sosok putri Anila.
Natara menarik lengan putri Anila, dia membawanya ke atas kuda. Raven ingin sekali mengontrol cengkeraman tangan Natara yang kasar. Kesal, dia tidak suka bagaimana Natara bersikap keterlaluan.
Ketika mereka sampai di Kerajaan, semua obor malam itu dibentuk di tengah aula istana. Lingkar sihir yang besar terbentang sempurna menghiasi lantai.
Putri Anila tidak mengerti, dia di dorong di tengah lingkaran itu.
“Aku memperlakukanmu dengan baik, Anila Indurasmi. Bertahun-tahun aku mengabdi palsu kepadamu!” teriak Natara. Kini emosinya membakar habis wajahnya.
“Aku berusaha menampung segala kesedihanmu meskipun aku yang paling menderita!” Napas Natara memburu. “Tapi apa? Sistem sialan itu tidak membiarkan aku bahagia setelah membuatmu pergi dari kesengsaraan ini!”
Putri Anila tentu saja tidak tahu apa-apa dengan hal yang dibicarakan oleh Natara.
“Aku mulai memikirkan ini.” Natara memelankan suaranya. “Aku punya ‘Anila' lain di kehidupan berbeda. Dia menjijikkan, selalu saja terlihat baik.”
Raven terdiam. Kehidupan apa?
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Lona.” Putri Anila akhirnya menjawab. “Tapi, jika aku ‘ada' di dunia lain yang kau sebutkan. Maka sudah pasti diriku sangat membencimu.”
Natara tertawa. “Mungkin? Sebab itu aku melakukan ini padamu. Kau tokoh utama, Anila Indurasmi. Aku bahkan hidup di sini tanpa tahu dunia apa ini.”
“Volume satu novel itu hanya menceritakan omong kosong tentang kau, sang raja paling siall!” Natara mencengkeram rambutnya, dia terlihat gila. “Sayang sekali, novel itu sampah sampai aku berhenti membaca karena tahu tokoh utama sebenarnya ada di volume dua novel itu.”
Di sisi lain, Anila yang memperhatikan kejadian itu sebagai jiwa yang transparan terkejut. Dia tidak menyangka ....
Bagaimana Natara bisa membaca novel itu dan masuk di tahun-tahun kisah putri Anila?
“Apa kau bukan ‘Lona' sebenarnya?” Putri Anika bertanya, dia cukup mengerti kali ini.
“Ya.” Natara berjongkok, dia sejajar menatap Anila yang duduk bersimpuh di lingkaran sihir. “Karena aku tidak berhasil keluar dari dunia ini, maka satu-satunya cara adalah menguasai tubuhmu dan memasukkan jiwaku dengan paksa di sana.”
Putri Anila menatap tajam pada Natara. Dia mendesis, “Kau mempelajari ilmu berbahaya, Lona.”
“Aku tahu itu! Tapi bagaimana, bukankah kita manusia memang rakus? “ Natara terkekeh. “Cerita ini bisa sampai pada epilog jika aku masuk ke dalam tubuhmu dan menjadi raja sebagai Anila.”
“Dasar gila!” teriak putri Anila.
Natara mengangkat tangannya, dia mulai merapalkan mantra. Istana beguncang seperti gempa bumi.
Ketika jiwa Natara mulai tersalur pada tubuh Anila, putri Anila berhasil menolaknya. Cahaya putih yang suci mengalir dari tubuh gadis itu. Tak ada rasa gentar untuk melawan Natara, putri Anila harus bertahan hidup.
Pria paruh baya menunduk, dia paham apa yang ingin Natara pinta kepadanya.
Anila sedang merapalkan sihir reinkarnasi. Itu juga merupakan salah satu sihir terlarang, Natara tidak tahu sejak kapan putri Anila mempelajari hal itu.
Natara berusaha menyentuh Anila, namun aura sihir membatasi mereka. Anila terus fokus merapalkan kalimat demi kalimat. Penasihat pria itu juga berusaha menghancurkan penghalang.
Dalam hitungan detik, putri Anila menatap penasihat itu. Natara tidak tahu apa yang Anila ucapkan pada bawahannya itu, namun Penasihat terdiam. Dia berdiri membeku.
Batas dinding pecah. Tubuh putri Anila jatuh, membujur kaku. Jantungnya berhenti berdetak, napasnya tidak teratur.
Anila berhasil membunuh jiwanya sendiri dan menempatkannya pada hatinya. Sehingga mustahil untuk Natara menguasai tubuh itu sebelum kelahiran Anila yang baru.
“Persetan!” Natara mengguncang tubuh gadis itu. Dia berteriak marah.
Di bawah kendali emosinya, Natara tidak menyadari penasihat membuka sel penjara keluarga Nabastala. Keempat remaja Nabastala mengepung Natara yang kehilangan hampir seluruh energi sihirnya.
Raven bisa melihat layar biru akhirnya kembali muncul.
[Kematian Tokoh Utama]
[Hakmu dicabut sebagai penyihir]
Raven bisa merasakan sakit di tubuh Natara karena kehilangan seluruh kekuatannya.
Dengan tubuh yang semakin melemahkan, penasihat melihat pada Natara. Dia berbicara, “Apa dosaku, Yang Mulia? Kenapa dia memilih lahir dari garis keturunanku?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anila tersentak dari pingsannya. Dia memegang kepalanya yang sakit. Kilas balik kehidupanya.
“Anila!” Ayah penyihirnya memeluk dengan erat. “Kau baik-baik saja.”
Anila terdiam sesaat. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia bingung bagaimana caranya menerima semua ini.
“Ayah, apakah kau ‘penasihat' itu?” tanya Anila pada akhirnya.
Ayah menatapnya dalam. “Itu kehidupanmu yang menyakitkan, Nak.”
“Biarkan aku berpikir.” Anila membalasnya. Dia termenung. Apakah kehidupan di dunia modern itu adalah kehidupan keduanya? Apakah dia koma di sana dan ini adalah kehidupan ketiganya?
Tunggu ... bukan itu yang harus Anila pikirkan.
“Ayah!” Anila mulai menyadari kepingan cerita kosong ini. “Di mana jasad Anila Indurasmi?”
“Di ruang bawah tanah. Masih utuh. Membutuhkan kunci.”
“Siapa yang meletakkannya di sana?” tanya Anila cemas.
“Lona sendiri. Dia juga yang menguncinya sebelum melarikan diri dari penjara.”
Anila mengepalkan tangannya. “Ayah, kupikir Raven memegang kunci ‘itu'”
“Itulah alasannya. Dia masih memiliki tekad untuk menguasai jasad Anila Indurasmi setelah dia tahu aku hadir di dunia ini! Jiwa Anila hidup bersamaku, jiwa yang ada di dalam hati Indurasmi sudah kosong!”
“Raven ...,” panggil Anila lirih. Dia khawatir sekarang.
“Ayah, aku memiliki kehidupan kedua, tapi bukan di dunia ini. Aku hidup di tempat berbeda. Ada ayah di sana, ada Laskar.” Anila berbicara. “Ayah, ini bukan duniaku. Di sana, aku masih hidup.”
“Nak, apakah kau ingin hidup di sana?”
“Itu berarti aku meninggalkan Raven.” Anila tersenyum lelah. “Aku tidak bisa.”
[Cintai putra mahkota: selesai.]
Ayahnya terdiam. “Sepertinya, Ayah tahu bagaimana kau bisa menyelamatkan Raven yang tidak tahu di mana. Kita pakai cara yang sama, pemasukan jiwa.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...